Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Rahasia Hanum


__ADS_3

"Bagaimana? Apa kamu berhasil mendapatkan Arsen kembali? pasti sudah kan?" tanya Dimas, begitu bertemu dengan Hanum. Pria itu terlihat begitu yakin wanita di depannya itu, berhasil mendapatkan Arsen kakak sepupunya. Karena begitu yakinnya, dia sudah menyiapkan rencana berikutnya, untuk mendapatkan surat-surat penting perusahaan dan aset-aset yang dimiliki oleh Arsen.


Hanum tidak menjawab sama sekali. Wanita itu hanya menggelengkan kepala, dan memasang wajah sendu.


"Apa? Tidak mungkin kamu tidak bisa mendapatkan dia lagi. Bukannya dia sangat mencintaimu?" Dimas memasang wajah kagetnya.


"Ya, bagaimana bisa aku tahu? nyatanya dia memintaku untuk tidak menggangu rumah tangganya," Hanum terlihat tidak begitu bersemangat.


"Ahh, dasar kamu tidak becus. Kamu benar-benar tidak berguna! Hal seperti itu juga kamu tidak bisa. Kamu kan bisa memasang wajahmu sesedih mungkin, seakan kamu benar-benar menderita selama ini. Masa, hal seperti itu saja kamu tidak bisa?" Dimas berbicara dengan sangat berapi-api, penuh amarah.


"Kamu pikir aku tidak benar-benar sedih, hah? Aku tidak perlu berpura-pura memasang wajah sedih, karena aku memang sudah sedih. Kamu tahu jelas kalau aku sangat mencintainya Arsen, bagaimana mungkin aku tidak sedih melihat dia yang sudah mencintai istrinya, hah?" pekik Hanum yang sepertinya sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya


"Dan satu lagi, tanpa berpura-pura terlihat menderita, aku memang sudah menderita selama ini dan itu gara-gara kamu dan papamu itu. Kalau bukan karena ancaman kalian yang akan mencelakai papa dan adikku, aku tidak akan mungkin berpisah dengan Arsen. Kalian sudah menghancurkan hidupku, Bajingan!" lanjut Hanum lagi dengan suara yang semakin meninggi.


"Hei, berani sekali kamu membentakku, Hah! Kamu sudah bosan hidup ya?" kali ini suara Dimas juga ikut meninggi. Bahkan tanga pria itu sudah mencengkram dagu mantan kekasih sepupunya itu.


"Sa-sakit! Lepaskan, Dim!" rintih Hanum dengan wajah memelas.


Dimas menyentak dengan kasar saat melepaskan cengkramannya, hingga membuat Hanum kembali meringis kesakitan.


"Makanya, kalau tidak mau merasakan sakit, kamu jangan berani-berani meninggikan suara di depanku!" cetus Dimas, memasang wajah bengisnya.

__ADS_1


Hanum tidak berani lagi membuka suara. Wanita itu kini hanya bisa menangis sesunggukan.


"Sekarang aku mau tanya, apa kamu tidak mengatakan alasan seperti yang sudah aku dan papaku jelaskan?"


"Sudah, Dim. Aku sudah mengatakannya, tapi dia tidak percaya, dan mengatakan alasan yang aku katakan tidak benar. Arsen juga bilang kalaupun yang aku katakan benar, Aozora tidak ada kaitannya dengan itu, dan Aozora juga korban ketamakan orang tuanya. Dia bilang, kalau dia tidak akan meninggalkan Aozora," terang Hanum, di sela-sela isak tangisnya


"Sial! Ternyata pesona Aozora begitu kuat, sampai Arsen bisa cepat melupakan perasaan cintanya padamu!" Dimas mengusap wajahnya dengan kasar.


"Pokoknya aku nggak mau tahu, kamu harus kembali berusaha untuk mendekati Arsen. Aku yakin kalau kamu terus-menerus datang dan memasang wajah sedihmu dan menunjukkan kalau kamu juga adalah korban keegoisan orang tua Aozora, dia pasti akan luluh kembali. Pokoknya, kamu harus cari cara agar perasaan cinta Arsen kembali padamu! Kalau tidak, bisa aku pastikan kalau aku akan meminta orangku,untuk melenyapkan papa dan adikmu. Kamu juga harus bersiap untuk membayar hutang-hutang papamu dulu. Kamu tidak lupa kan, kalau papamu banyak korupsi di perusahan papaku dulu, sampai bangkrut? Bagaimanapun papamu harus tanggung jawab dengan semua yang dia lakukan," Dimas kembali mengulangi ancaman yang selalu dia lontarkan pada Hanum.


Ya, alasan Hanum memutuskan hubungan dengan Arsen dulu, itu karena ancaman Dimas dan Damian papanya. Ayah dan anak itu, selalu membawa-bawa perbuatan papanya Hanum yang melakukan korupsi di perusahan papanya Dimas, sebelum perusahaan itu bangkrut. Padahal sebenarnya penyebab utama perusahaan itu hancur, adalah Damian yang kurang kompeten dalam mengelola perusahaan seperti almarhum kakaknya yaitu papanya Arsen.


Agar papanya tidak di penjara dan disuruh membayar semua utang-utangnya, Hanum akhirnya bersedia mengikuti permintaan dua pria berbeda usia itu.


Mereka memang terlihat seperti pasangan kekasih yang saling mencintai di depan orang-orang, tapi pada kenyataannya tidak sama sekali. Arsen hanya memberikannya kesempatan pada Hanum, untuk bisa membuat pria itu jatuh cinta padanya. Namun, ternyata sangat sulit, karena pria itu memiliki wanita yang sangat dicintainya, yaitu wanita di masa kecilnya yang selalu dia cari.


"Hei, kenapa kamu diam! Kamu dengar kan apa yang aku katakan tadi?" bentak Dimas, geram melihat Hanum yang hanya diam saja.


"I-iya, aku dengar dan aku aku akan berusaha!" sahut Hanum yang dari ucapannya terselip keraguan.


"Bagaimana aku bisa membujuk Arsen lagi? jelas-jelas selama ini dia sama sekali tidak pernah mencintaiku. Dan kalian lah yang membuat Arsen gagal mencintaiku, padahal setahun belakangan ini dia hampir saja membuka hatinya dan belajar untuk mencintaiku," ucap Hanum yang tentunya hanya berani dia ucapkan dalam hati.

__ADS_1


"Apa aku jujur saja ya, supaya aku tidak dimanfaatkan lagi. Tapi, kalau aku jujur mereka akan memintaku untuk membayarkan uang yang sudah dikorupsi papa dulu. Dari mana aku bisa cari uangnya? Ahh, lebih baik aku diam saja deh," Hanum kembali berbicara dalam hati.


"Apa aku coba memohon pada Aozora untuk meninggalkan Arsen ya? Wanita itu pasti akan tidak tega padaku kalau aku memelas padanya," Hanum mulai tersenyum licik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu mau pergi kemana?" tanya Arsen dengan kening berkerut melihat Aozora yang tampak rapi, seperti siap hendak pergi keluar.


"Aku mau ke rumah mamaku. Aku hanya ingin memastikan mereka tidak membawa satupun barang milik mendiang mamaku," sahut Aozora seraya meraih tasnya.


"Aku ikut!" Arsen berdiri dari tempat duduknya.


"Untuk apa, Mas? Kamu di sini saja, aku bisa pergi sendiri!" tolak Aozora.


Arsen terlihat menggeram, tidak suka dengan penolakan dari sang istri.


"Kalau aku bilang aku mau ikut ya ikut. Kamu tidak boleh menolaknya! Kamu ke sana mau menyerahkan nyawamu ya? Kamu tahu sendiri kalau mama tirimu itu licik dan dia sudah tahu kamu akan ke sana. Apa kamu tidak berpikir kalau dia akan melakukan sesuatu yang jahat padamu nanti kalau kamu pergi sendiri?" ucap Arsen.


Aozora bergeming. Dia tidak membantah karena yang dikatakan oleh suaminya itu benar adanya.


"Ayo, jalan! Kenapa kamu diam di sana?" Arsen kembali bersuara, menyadarkan Aozora dari lamunannya.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2