
Sementara itu di ruangan lain, Tsania dari tadi tidak berhenti meringis kesakitan.
"Ya Tuhan, Sebenarnya aku sangat menginginkan suamiku ada di sini. Menemaniku saat akan melahirkan anak kami. Tapi, aku rasa itu sangat mustahil. Aku mohon ya Tuhan, walaupun suamiku tidak ada menemaniku, tolong permudah proses persalinanku. Aku mohon juga mudah-mudahan kak Aozora dan bayinya baik-baik saja." Di sela-sela rasa sakitnya yang semakin menjadi-jadi, Tsania masih sempat untuk memanjatkan doanya.
"Tsania, bagaimana keadaanmu?" tiba-tiba seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah Meta muncul dengan raut wajah panik.
"Ma, sakit!" rintih Tsania dengan wajah meringis kesakitan. Dari mata wanita itu juga dari tadi sudah mengalir deras air mata.
"Kamu kuat, Nak. Kamu kuat!" ucap Meta, sembari menggenggam erat tangan menantunya itu.
Seorang dokter datang dan memeriksa pembukaan Tsania. "Sepertinya pembukaannya belum sempurna. Kita harus menunggu sebentar lagi. Karena rasa sakitnya yang terus-menerus tak terjeda, pembukaan ibu Tsania pasti akan cepat," terang dokter itu dengan sangat sabar.
"Tapi, Kalau boleh tahu, di mana suaminya? Mungkin kalau ada suaminya, ibu Tsania akan semakin semangat," tanya dokter itu lagi.
"Emm, a-nak saya, sedang bekerja di luar kota, Dok. HPL nya harusnya seminggu lagi, dan besok suaminya rencananya akan pulang. Ini semua benar-benar di luar prediksi," sahut Meta, terpaksa berbohong.
Brakk
Tiba-tiba pintu terbuka, membuat semua yang berada di ruangan itu tersentak kaget dan secara bersamaan menoleh ke arah pintu.
"Sayang, aku di sini!" Hal yang tidak disangka-sangka, Dimas tiba-tiba muncul dan menghambur ke arah brankar tempat Tsania terbaring.
"K-Kak Dimas? K-Kamu?" suara Tsania terdengar lirih. Namun, senyum di bibirnya tidak bisa berbohong kalau dirinya begitu bahagia melihat kehadiran Dimas, sang suami.
"Apa anda suaminya?" tanya dokter.
Dimas menganggukkan kepala mengiyakan.
"Baguslah! Mudah-mudahan dengan hadirnya Bapak, tenaga istri anda saat melahirkan nanti bisa semakin bertambah. Kalau begitu aku keluar sebentar, menunggu pembukaannya sempurna," Dokter itu melangkah keluar.
"Dim, bagaimana kamu bisa ke sini? Kamu tidak kabur dari penjara kan?" tanya Meta.
"Tidak Ma. Tadi Niko datang menjemputku. Katanya dia disuruh oleh Arsen. Katanya aku dikasih waktu untuk mendampingi Tsania melahirkan," ucap Dimas dengan tangan yang masih menggenggam erat tangan Tsania. Wanita itu sekarang tengah mencengkram lengan suaminya itu dengan sangat kencang, karena rasa sakitnya semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
"Sayang, sakit ya! Maaf aku tidak bisa mendampingimu saat-saat kehamilanmu. Di saat kamu pengen sesuatu aku tidak bisa memenuhinya. Aku janji setelah keluar dari penjara, aku akan jadi suami dan ayah yang baik, dan akan selalu mencintai kalian. Kamu yang kuat ya, Sayang!" bisik Dimas, membuat perut Tsania semakin terasa sakit. Sepertinya bayi di dalam sana bisa mendengar suara papanya yang sangat jarang dia dengar.
"Nak, jangan menyusahkan mama! Ayo lahir! beri kemudahan untuk mama ya. Mama sudah cukup menderita, jadi tolong kerja sama dengan Papa!" Dimas berbisik ke perut Tsania.
Rasa sakit di perut Tsania semakin bertambah. Air mata wanita itu semakin deras keluar. "Sakit, Kak! Rasanya semakin sakit! Aku sudah tidak kuat!" pekik Tsania.
Meta yang menyadari kalau sudah saatnya menantunya akan melahirkan cucunya, langsung berlari keluar untuk memanggil dokter. Beruntungnya dokter yang tadinya sedang izin keluar sebentar sudah ada tepat di depan pintu.
"Tolong, menantu saya, Dok. Sepertinya dia sudah siap untuk melahirkan!" pekik Meta dengan wajah panik.
Dokter itu menghampiri Tsania dan melakukan pemeriksaan.
"Baiklah, pembukaan sudah sempurna. Ibu tolong keluar dulu. Biarkan di dalam sini hanya suaminya saja!" titah dokter itu pada Meta.
"IbuTsania bersiap ya! Kalau aku kasih aba-aba ibu harus lakukan dengan baik. Ingat jangan berpikir yang macam-macam!" Dokter itu kemudian memberikan instruksi.
"Sayang, kamu kuat! Aku yakin itu. Sekarang bayangkan saja, kalau sebentar lagi kita akan bertemu dengan anak kita. I Love you, Sayang!" bisik Dimas, lalu mengecup kening Tsania guna memberikan kekuatan pada istrinya itu. Dimas terlihat tenang, tapi tidak dengan hatinya. Sumpah demi apapun jauh di dalam hatinya, pria itu merasakan ketakutan yang amat sangat dan bahkan kalau bisa, dia ingin menggantikan rasa sakit yang dirasakan oleh istrinya itu sekarang.
Tidak perlu menunggu lama lagi dan setelah Tsania berteriak cukup panjang, terdengar tangisan bayi berjenis kelamin perempuan yang sangat nyaring. Dimas sudah tidak bisa lagi untuk menahan agar air matanya tidak keluar. Cairan bening kini sudah membasahi pipinya saat melihat bayi mungil yang merupakan darah dagingnya sudah lahir ke dunia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di lain tempat tepatnya di depan sebuah ruangan operasi, Tampak keluarga Arsen sedang gelisah menunggu hasil operasi. Terlebih Arsen yang dari tadi bahkan tidak ada duduk sama sekali.
"Nak, kamu dari tadi mondar-mandir. Kamu tenang saja, Aozora wanita yang kuat, anakmu juga. Kamu duduk dulu ya!" ucap Amber, berpura-pura untuk tenang. Padahal jauh di dalam hatinya, wanita paruh baya itu sama khawatirnya dengan putranya itu.
"Bagaimana aku bisa tenang, Ma. Istriku lagi berjuang di dalam sana. Aku takut, Ma, aku takut sekali. Aku tidak akan kehilangan Raraku lagi kan, Ma?" untuk pertama kalinya, pria itu terlihat lemah bahkan sampai mengeluarkan air mata.
Hanum yang juga sudah berada di tempat itu, melihat itu merasa terharu, karena selama 7 tahun dia bersama dengan pria itu, baru kali ini dia melihat pria itu sangat rapuh.
"Kamu jangan berpikir macam-macam! Yakinlah Aozora dan anakmu akan baik-baik saja!" ucap Amber lagi.
"Iya, Sen, kamu harus tenang! Ucap Samudra yang baru saja datang, setelah memastikan Tsania sudah melahirkan dengan selamat.
__ADS_1
15 menit kemudian, terdengar suara tangisan bayi yang tidak terlalu kencang dari dalam sana. Pertanda anak Arsen sudah berhasil dikeluarkan dari perut Aozora.
"A-anakku sudah lahir," ucap Arsen dengan suara lirih. "Tapi bagaimana dengan Aozora?" sepertinya pria itu belum tenang, sebelum tahu kondisi sang istri.
Sekitar 10 menit menunggu, pintu ruangan operasi terbuka. Arsen beserta yang lainnya langsung menghambur ke arah dokter.
"Dok, bagaimana istriku? Dia baik-baik saja kan?" tanya Arsen tanpa basa-basi.
"Operasi berjalan lancar dan putra Pak Arsen lahir dengan selamat. Tapi sekarang masih perlu dimasukkan ke inkubator,"
"Aku tanya, istriku! Bagaimana dengan istriku?" tanya Arsen tidak sabar. Bahkan suara pria itu sudah meninggi.
"Emm, Ibu Aozora kehilangan banyak darah dan memerlukan donor darah golongan A resus negatif sebanyak 4 kantong. Sementara stok di rumah sakit tinggal dua kantong saja, jadi kita butuh dua kantong lagi," terang dokter itu membuat Jantung Arsen seakan berhenti berdetak untuk beberapa saat.
"A resus negatif, Dok? Bagaimana ini? Aku Kakaknya, tapi golongan darah kami tidak sama. Golongan darahku B resus negatif," ucap Samudra, frustasi.
"Mungkin golongan darah anda ikut ke ibu anda dan adik anda ke papanya," ucap Dokter itu.
"Aku bisa mendonorkan darahku! Aku juga A resus negatif," tiba-tiba Tsania muncul menggunakan kursi roda sembari didorong oleh Dimas. Wanita itu memaksa untuk melihat kondisi kakaknya, walaupun tadi diminta untuk istirahat. Namun dia tidak bisa tenang, sebelum tahu kondisi kakaknya.
"Maaf, anda sepertinya tidak bisa mendonorkan darah untuk saat ini, karena anda juga baru mengeluarkan banyak darah pasca melahirkan. Kalau anda memaksa untuk mendonorkan darah anda, itu akan mengancam nyawa anda," tolak dokter itu.
"Sialan! Brengsek! Rumah sakit apa rumah sakit mu ini, Daren! Masa stok darah bisa kosong? Aku tidak mau tahu, darah itu harus secepatnya ada. Kalau tidak, aku akan hancurkan rumah sakit ini!" Suara Arsen benar-benar sangat tinggi. Pria itu terlihat sangat murka saking frustasinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Samudra berjalan gontai. Wajah pria itu terlihat sangat kusut, merasa gagal menjadi seorang Kakak yang tidak bisa berbuat apapun.
"Nak Samudra!" Samudra tiba-tiba menghentikan langkahnya, karena tiba-tiba mendengar suara yang sangat familiar memanggilnya.
Samudra berbalik untuk mengetahui pemilik suara itu. Dan sesuai tebakannya, pemilik suara itu adalah Aditya papanya.
"Nak, Papa tadi dari jauh sudah melihat semuanya. Papa selama ini diam-diam tetap memperhatikan kalian dari jauh. Papa tahu apa yang sudah menimpa adikmu. Papa mau mendonorkan darah Papa, karena Papa juga A resus negatif. Tapi, Papa minta jangan kasih tahu adik kamu, ya. Takutnya dia menolak darah Papa, kalau tahu yang mendonorkan darah padanya pria yang dia benci," ucap Aditya, dengan wajah memelas.
__ADS_1
Tbc