Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Apa yang harus aku lakukan


__ADS_3

Sementara itu, Aditya yang merasa harga dirinya direndahkan, memutuskan untuk pulang ke rumah. Setelah keluar dari mobil, ia pun melangkah dengan gontai masuk ke dalam rumah.


Tampak di atas sofa, Dona sang istri sedang asik tiduran sembari fokus melihat ke layar ponselnya.


"Lho, Pa, jam segini kenapa sudah pulang?" Dona melirik ke arah jam yang masih menunjukkan pukul 11 pagi menjelang siang.


Aditya tidak menjawab sama sekali. Pria itu malah menghempaskan tubuhnya ke sofa. Wajah pria itu terlihat sangat kusut membuat kening Dona berkerut, bingung.


"Pa, kamu kenapa? Ada masalah ya di perusahaan? Semuanya baik-baik saja kan? Perusahaan tidak goyah kan seperti dulu?" cecar Dona, tidak sabaran.


Aditya masih tetap membisu. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar dan mengembuskan napas dengan sekali hentakan dan berat.


"Pa, kenapa diam sih? jawab dong! Dan bagaimana dengan jatah bulananku? Kamu sudah tanya kenapa belum juga di transfer?" cecar Dona membuat kepala Aditya mau pecah.


"Kamu bisa berhenti bertanya nggak sih? Pikiranmu hanya uang, uang dan uang! aku muak mendengarnya!" Aditya sepertinya sudah tidak bisa menahan diri lagi. Suara pria paruh baya itu kini terdengar meninggi membuat Dona kaget, bahkan sampai termundur beberapa langkah.


"Pa, kenapa kamu membentakku? Aku kan hanya bertanya? Apa pertanyaanku salah? Kan aku bertanya tentang hak ku, jadi pantas dong!" ujar Dona, ketika sudah bisa keluar dari rasa kagetnya.


"Hak apa yang kamu bicarakan, hah! Semuanya sudah hancur!" suara Aditya semakin meninggi.


"Hancur? Hancur bagaimana?" perasaan Dona mulai tidak tenang. Dia takut kalau perusahaan kembali goyah. "Pa, jangan bilang kalau perusahaan kita kembali goyang! Atau Aozora kembali menarik investasi? Iya?" Dona bertanya beruntun, tidak sabaran.


"Aozora tidak menarik kembali investasi, tapi lebih dari itu," ucap Aditya, ambigu.


"Lebih dari itu? Maksudnya?" Dona mengernyitkan dahinya semakin bingung.

__ADS_1


"Semua aset, mulai dari perusahaan, rumah dan harta lainnya sudah kembali ke tangannya. Dan sekarang aku sudah tidak jadi pemimpin lagi tapi staf biasa," terang Aditya dengan wajah kusut. Pria itu bahkan sampai menggusak rambutnya dengan kasar, hingga rambutnya yang tadi rapi kini sudah berantakan.


"Apa!" pekik Dona, dengan mata yang membesar. "Papah tidak lagi bercanda kan? Ini benar-benar tidak lucu, Pah," Dona berdecak seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya.


"Emangnya aku terlihat sedang bercanda? Tidak sama sekali. Aku serius dan ini memang yang terjadi. Jadi, kita harus segera meninggalkan rumah ini. Kita hanya dikasih kesempatan seminggu saja," jelas Aditya lagi.


"Tidak! Aku tidak mau! Papa bagaimana sih? Kenapa ini bisa terjadi, hah!"


"Surat perjanjian kerja sama yang aku dan Tsania tanda tangani ternyata surat persetujuan pengalihan hak milik, Mah. Aozora sudah memanipulasi semuanya," Aditya menjelaskan, sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


"Arghhh, Papa kenapa bisa menandatangani tanpa membaca isinya dulu sih? Kenapa papah bisa sebodoh ini?" suara Dona, mulai meninggi.


"Hei, sialan! Kamu bisa diam nggak? ini semua karena desakanmu, yang selalu meminta untuk Aozora mengembalikan investasi ke perusahaan itu, tolol! Makanya ketika dia memita untuk secepatnya menandatangani, karena dia tidak punya waktu banyak, aku langsung tanda tangan, karena tidak menyangka kalau dia bisa berbuat licik seperti itu. Dan ini juga kesalahanmu yang mau saja diperdaya si Danuar bajingan itu!" murka Aditya, tidak mau disalahkan.


"Hei, kenapa kamu jadi menyalahkanku? Dan apa hubungannya dengan Danuar?" Dona memicingkan matanya.


"Kamu benar bodoh atau pura-pura bodoh? Masa kamu tidak tahu apa hubungannya? Kamu kan yang memberikan surat-surat berharga itu ke Danuar?"


"Itu karena dia bilang kalau ada sesuatu yang kurang dan harus diperbaiki, makanya aku percaya," pekik Dona tidak mau disalahkan.


"Tapi, masalahnya dia berbohong, Mah. Dia yang sudah mengubah nama-nama kepemilikan menjadi atas nama Aozora. Sekarang kalau kita mengancam dia, sudah tidak bisa lagi, karena kita sudah tidak punya kemy untuk hal itu lagi. Hancur, semuanya hancur!" Aditya berbicara seraya menendang meja.


"Apa yang hancur, Pa, Ma?" tiba-tiba dari arah pintu Tsania muncul. Raut wajah wanita itu terlihat kusut bercampur bingung.


Dona dan Aditya tidak menjawab sama sekali. Mereka berdua hanya bersandar lemas di sandaran sofa.

__ADS_1


"Ma, Pa? Kenapa diam? Apanya yang hancur?" Tsania mengulang pertanyaannya.


Dengan suara lirih dan lemas, Dona akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa?!" bak mendengar suara petir yang sangat keras, mata Tsania membesar, kaget. Ia pun langsung menghampiri papanya.


"Pa, bilang ini tidak benar! Ini tidak benar kan, Pa?" Tsania menguncang-guncang pundak Aditya.


"Apa yang dikatakan mamamu benar, Nia. Sekarang kita harus bersiap-siap untuk meninggalkan rumah ini. Papa akan mencari rumah yang bisa mama dan papa tinggali. Tapi, aku mau katakan kalau rumahnya tidak akan mungkin sebesar ini,"tutur Aditya, membantu Tsania tersungkur lemas.


"Bagaimana ini? kenapa jadinya begini sih? Kalau aku cerai dengan kak Dimas, itu berarti aku akan hidup miskin. Tidak, aku tidak mau itu terjadi," Tsania membatin sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tsania, kamu kenapa? Seharusnya kamu tidak perlu ikut se-stres kami kan? Kamu kan masih ada Dimas. Dia punya penghasilan yang besar dari perusahaan Arsen," Tsania tidak menjawab sama sekali. Wanita itu mematung, terlihat seperti orang bodoh.


"Oh ya, kamu nanti tidak akan lupa ke mama kan? mama nanti akan tetap dapat jatah bulanan dari kamu kan? kamu tidak lupa kan, kalau mama yang membantu kamu bisa menikah dengan Dimas? Emmm, iya Mama ingat! Mama harus menghubungi Dimas dan menagih janjinya untuk mendapatkan perusahaan Arsen secepatnya. Masa sampai sekarang, dia belum berhasil juga. Kalau sudah berhasil, kita kan bisa menyingkirkan Zora dan membuat perusahaan mamanya itu bangkrut," Dona mulai mengoceh sendiri.


"Kak Dimas, selingkuh, Ma!" ucap Tsania, lirih, membuat Dona yang tadinya masih mengoceh, terdiam seketika.


"Apa! Selingkuh!" pekik Dona dan Aditya bersamaan.


Tsania menganggukkan kepalanya, mengiyakan dengan tatapan kosong.Cairan bening juga kini sudah membasahi pipinya.


"Dia selingkuh dengan karyawan baru di perusahaan. Kak Dimas bilang kalau aku istri yang tidak berguna. Aku mau mengadu ke mama mertuaku, tapi Dia mengancam akan menceraikanku kalau sampai mama mertuaku tahu dan kalau aku mencelakai selingkuhannya itu. Sekarang, aku harus bagaimana, Ma, Pa? Aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi," Tsania mulai terisak-isak.


"Brengsek! Ini tidak akan aku biarkan. Aku harus meminta penjelasan padanya!" Dona berdiri dari tempat duduknya dengan mata yang berkilat-kilat penuh amarah. Sementara Aditya hanya terdiam seribu bahasa dengan tatapan yang menerawang. Entah apa yang ada dipikiran pria itu sekarang.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2