
"Nak__" desis Aditya, dengan wajah sendu.
"Jangan panggil aku seperti itu! apa anda lupa apa yang aku katakan dulu? anda sudah menjualku, itu berarti kita sudah tidak punya hubungan apapun lagi!" potong Aozora dengan tegas. Sepertinya wanita itu masih belum bisa melupakan rasa sakit hatinya, walaupun memang pada akhirnya pernikahannya mendatangkan keberkahan atau keberuntungan untuknya. Tapi, ini bukan tentang keberkahan, melain ada hal lain yang membuat rasa sakitnya sulit untuk sembuh bahkan mungkin tidak akan pernah sembuh, hanya Tuhanlah yang tahu.
Yang membuat rasa sakit itu sangat membekas sampai sekarang yakni, mengingat bagaimana teganya pria yang dia panggil papanya memaksanya menikah dengan pria yang kondisinya sedang koma dan lumpuh, tanpa memikirkan bagaimana nasib putrinya nanti. Pria itu sama sekali tidak peduli apakah putrinya akan bahagia nantinya, atau tidak. Aozora sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya seandainya pria yang jadi suaminya itu bukanlah Arsen.
"Nak, tolong jangan bicara seperti itu. Papa tahu kalau kesalahan Papa sudah sangat mustahil untuk bisa kamu maafkan. Tapi, apakah salah kalau Papa masih berharap kamu bisa memaafkan, Papa? Papa benar-benar menyesal, Nak. Kalau kamu memintaku untuk berlutut baru kamu mau memaafkan, Papa, aku akan akan lakukan." mohon Aditya, dengan mata yang sudah berembun.
Aozora mendengkus lalu berdecih. "Anda mau merangkak sekalipun aku tidak akan memaafkan anda. Aku akan memaafkan anda, kalau anda bisa menghidupkan mamaku lagi, dan mengganti semua waktu yang hilang antara aku dan kakakku,"
"Tapi, itu sangat tidak mungkin, Nak. Mama kamu tidak mungkin__"
"Kalau tidak bisa, itu berarti jangan pernah berharap mendapatkan maaf dariku!" potong Zora dengan cepat.
"Mas, tolong jauhkan mereka dari sini. Aku muak benar-benar muak!" Aozora kini menatap Arsen, menatap suaminya itu dengan mata yang sudah penuh dengan cairan bening yang sudah siap untuk ditumpahkan.
Arsen mengembuskan napasnya lalu menganggukkan kepalanya. Pria itu sangat mengerti apa yang dirasakan oleh istrinya itu sekarang.
"Niko, suruh polisi itu masuk sekarang!" titah Arsen.
Niko menganggukkan kepalanya, lalu melangkah ke luar.
"Tidak! Aku tidak mau di penjara!" Raung Dona. Wanita itu menghambur ke arah Aditya minta pertolongan.
"Mas, tolong minta sama mereka agar membebaskanku. Bagaimanapun aku melakukan itu semua karena kamu!" Dona mengguncang tubuh Aditya berkali-kali.
"Maaf, aku tidak bisa! Kamu memang pantas untuk mendapatkan hukuman atas semua perbuatanmu. Bahkan untuk menghabiskan waktu seumur di penjara kamu juga sangat pantas," ucap Aditya tanpa menatap ke arah Dona.
"Jangan egois, Mas. Ini semua gara-gara kamu!"
__ADS_1
"Stop bawa-bawa aku! Aku tidak pernah memintamu melakukan hal gila seperti itu. Itu murni keinginan kamu sendiri. Jadi, kamu harus siap menerima resikonya," Aditya menepis tangan Dona yang ada di lengannya dengan kencang.
Di saat bersamaan, beberapa pria berseragam polisi yang sudah cukup lama menunggu di luar, berjalan masuk. Kedatangan polisi-polisi itu sontak saja membuat Dona semakin panik.
Wanita paruh baya itu pun menghambur ke arah Aozora, hendak berlutut di depan putri tirinya itu.
Arsen yang selalu siap siaga, begitu melihat pergerakan istri kedua dari Aditya itu, dengan cepat langsung berdiri di depan sang istri. Bagaimanapun, istrinya itu sedang hamil, dan Arsen tidak mau sesuatu terjadi nantinya. Bisa saja, Dona marah, tidak terima lalu mendorong Aozora, kalau permohonannya tidak diindahkan oleh istrinya.
"Ada mau apa?" tanya Arsen dengan sorot mata tajam.
"Arsen, aku hanya mau memohon pada kalian, agar mau memaafkanku. Tolong jangan jebloskan aku ke penjara. Aku janji tidak akan melakukan hal aneh-aneh lagi, dan akan pergi jauh!" wanita paruh baya itu sudah tidak bisa terlihat sombong lagi. Wajah angkuh yang biasa dia pertontonkan, menguap entah kemana.
"Maaf, aku tidak bisa memaafkan anda! Pak, tolong bawa dia!" titah Aozora dari belakang punggung Arsen.
Tiga orang polisi menarik tangan Dona, berusaha untuk membuat wanita itu berdiri.
Karena Dona terus saja berontak, mau tidak mau, akhirnya ketiga polisi itu menyeret paksa wanita paruh baya itu ke luar.
Dona terus saja berteriak memohon, namun Aozora dan yang lainnya mencoba untuk menutup telinga.
Setelah tidak terdengar lagi teriakan dari wanita ketiga di rumah tangga mama dan papanya itu, tatapan Aozora kini beralih ke arah Samudra. Tampak mata Aozora mulai berlinang. Tatapan wanita itu juga terlihat penuh kerinduan.
Sementara Samudra tersenyum dan merentangkan kedua tangannya. Aozora pun langsung menghambur ke pelukan sang kakak. Hal yang sangat ingin dia lakukan dari tadi, begitu dirinya mengetahui kalau pria yang selama ini melindunginya itu ternyata kakak kandung yang dia anggap sudah meninggal.
"Kakak sudah tahu, tapi kenapa tidak bicara?" Isak tangis mulai keluar dari mulut Aozora.
"Silakan kamu tanya sendiri ke suamimu, kenapa tidak mengizinkanku untuk kasih tahu kamu," Samudra mengelus-elus punggung Aozora yang ada di pelukannya.
Aozora kemudian melerai pelukannya dan menoleh ke arah Arsen meminta penjelasan
__ADS_1
Arsen menyunggingkan senyuman dan melangkah menghampiri istrinya.
"Intinya karena aku tidak mau rencanaku gagal. Aku selama ini masih mencari pasangan suami-istri itu yang tempat tinggal mereka berpindah-pindah. Aku juga tidak tahu di mana kampung halaman bidan Desi, sehingga aku sulit untuk menemukannya. Aku mencari mereka sebagai saksi atas perbuatan Tante Dona di masa lalu. Jadi, selama aku masih mencari mereka, aku memilih untuk tetap menutupi dari kamu. Aku takut nantinya kamu tidak sabar dan langsung mendatangi ibu tirimu itu. Kalau sudah begitu, rencanaku untuk membuat dia tidak bisa berkutik akan gagal," terang Arsen yang mengerti makna tatapan sang istri.
Mata Aozora kembali berembun dan langsung memeluk Arsen suaminya itu.
"Terima kasih, Mas. Terima kasih sudah berusaha untuk membongkar ini semua," ucap Aozora menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
"Berterima kasihlah pada mama. Dia yang sengaja sudah merencanakan pernikahan kita. Karena awalnya aku juga tidak tahu kalau kamu adalah wanita yang aku cari selama ini," Arsen mendaratkan kecupan singkat di puncak kepala Aozora.
"Ketika aku tahu, aku menceritakan pada mama tentang kamu, akhirnya mama juga menceritakan semuanya tentangmu, membuat aku berinisiatif untuk membongkar semuanya dengan bantuan Niko. Aku sengaja meminta Samudra ke sini untuk menjagamu sekaligus untuk membangun kedekatan kalian berdua, dan aku yakin sebagai kakak dia juga pasti akan tulus melindungimu ketika aku tidak di sampingmu," sambung Arsen lagi, membuat Aozora semakin terisak menangis.
"Nak, Apa kalian benar-benar tidak mau memaafkan Papa lagi?" Aditya kembali bersuara. Sedari tadi dia juga sangat ingin bergabung saat kedua anaknya berpelukan.
"Kenapa anda masih di sini? Bukannya aku sudah memintamu untuk meninggalkan tempat ini dari tadi?" cetus Aozora dengan tatapan penuh kebencian.
"Tapi, Nak ...." Aditya memasang wajah yang sangat memelas..
"Tolong pergi dari sini!" ucap Aozora lagi yang kali ini memilih untuk tidak menatap ke arah papanya.
Aditya mengembuskan napas berat, embusan napas yang terdengar putus asa. Pria paruh baya itu mengalihkan pandangannya dari Aozora ke arah Samudra.
"Jangan minta maaf padaku! Jawabanku pun sama dengan Zora." belum sempat Aditya buka mulut, Samudra sudah lebih dulu buka suara, seakan tahu kalau pria paruh baya itu, akan mengatakan sesuatu padanya.
"Walaupun aku tidak terlalu banyak mendapatkan penderitaan darimu seperti yang dialami Zora, tapi aku benci ketika membayangkan hidup wanita yang sudah melahirkanku, selama hidup denganmu. Aku benci dengan semua yang kamu lakukan pada Zora darah dagingmu sendiri. Jadi, selama Zora tidak memaafkanmu, aku juga tidak akan memaafkanmu. Aku harap kamu jangan muncul dulu di depan kami. Manfaatkan uang yang aku kasih ke kamu kemarin," pungkas Samudra dengan tegas.
Aditya menundukkan kepalanya. Ia pun berbalik dan beranjak pergi. Harapannya untuk mendapatkan maaf dari kedua anaknya, kini sudah sirna.Kebencian kedua anaknya itu sudah terlalu Dalam, terlebih Aozora.
Tbc
__ADS_1