
"Kamu mau mengatakan apa? Katakan sekarang juga!" ucap Arsen tanpa basa-basi begitu sudah masuk ke dalam ruangannya.
"Apa kamu tidak mempersilakan aku duduk dulu, Sen?" Hanum berucap dengan nada suara yang sangat lembut.
"Kalau kamu mau duduk ya tinggal duduk saja, tidak perlu dipersilakan!" Arsen masiv saja bersikap dingin.
"Iya, ya. Seperti dulu, setiap aku datang ke sini, aku kan memang langsung duduk ya! Aku pikir akan ada yang berubah, ternyata tidak sama sekali," Hanum dengan sengaja menyunggingkan senyum termanisnya dengan ekor matanya melirik ke arah Aozora. Sepertinya wanita itu sengaja ingin menunjukkan pada Aozora seberapa dekatnya dirinya dengan Arsen dulu, betapa seringnya dia dulu mengunjungi Arsen, dan betapa dia tidak perlu sungkan-sungkan kalau berada di ruangan pria itu. Ia yakin kalau sekarang Aozora pasti berpikir kalau Arsen sangat mencintainya.
"Tidak perlu basa-basi, Num! Sekarang kamu katakan apa yang ingin kamu katakan. Kalau tidak ada yang penting, dengan sangat berat hati, aku memintamu untuk keluar karena ada banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan, mengingat aku sudah cukup lama tidak masuk kantor!" cetus Arsen dengan tegas dan dingin.
"Sayang, kenapa kamu masih berdiri di sana? Ayo kamu duduk di sini!" Arsen menoleh ke arah Aozora, memanggil wanita itu untuk duduk di pangkuannya.
"Sayang? Dia memanggilku Sayang? Aku tidak salah dengar kan?" Aozora mengerjab-erjab matanya bahkan seperti sulit untuk bergerak mendengar suaminya itu memanggil dia dengan sebutan sayang.
"Jangan terlena, Zora. Dia pasti tidak serius memanggil kamu Sayang. Dia itu sengaja memanggilmu sayang karena hanya ingin membuat Hanum sakit hati saja. Egonya masih terluka karena Hanum sempat meninggalkannya. Dan yakinlah kemarahannya pada Hanum pasti tidak akan bertahan lama karena rasa cintanya lebih besar dari rasa bencinya," monolog Aozora, mengingatkan dirinya sendiri.
"Sayang, kenapa kamu masih berdiri di sana? Apa kamu mau, aku datang dan menggendongmu ke sini!" Arsen kembali buka suara, menatap Aozora dengan tatapan yang sukar untuk Aozora baca.
Sementara itu, dari sejak Arsen memanggil Aozora dengan sebutan sayang, senyum yang tadinya bertengger indah di bibir Hanum seketika menyurut bagai bunga yang tadinya mekar tiba-tiba layu seketika.
"Ti-tidak perlu! Aku bisa jalan sendiri!" Aozora mengayunkan kakinya melangkah menghampiri sang suami.
"Sini duduk!" Arsen menepuk-nepuk pahanya.
"Mas, bisa tidak aku duduk di sofa saja? Kalau aku kamu pangku, kakimu mungkin belum terlalu kuat untuk menahan bebanku," Aozora mencobanya untuk menolak.
"Aku minta kamu duduk ya duduk! Jangan banyak bicara!" Arsen menarik tangan Aozora , mendudukkan wanita itu di pahanya.
__ADS_1
"Dasar pemaksa!" umpat Aozora seraya mengerucutkan bibirnya.
Ingin rasanya Hanum lenyap dari ruangan itu, karena tidak kuat melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh pasangan suami istri itu. Namun dia berusaha untuk menahan diri untuk tetap kuat melihat interaksi pasangan dua orang itu.
"Ehem, ehem. Arsen, Zora ... bisakah sekarang aku bicara?" Hanum mulai buka suara.
"Silakan!" nada bicara Arsen seketika berubah dingin dari yang lembut waktu bicara ke Aozora.
"Sen, aku dengar kamu membutuhkan seorang sekretaris. Apakah aku kamu bisa menjadikanku sekretarismu?" tanya Hanum dengan sangat hati-hati dan jantung yang berdetak kencang, takut mendapatkan penolakan.
Arsen memicingkan matanya, curiga. "Sekretarisku? Kenapa kamu tiba-tiba memintaku untuk menjadikanmu sekretarisku?" Tanya Arsen.
"Karena aku memang sangat butuh pekerjaan, Sen. Kamu tahu kalau papaku sakit-sakitan dan adikku juga butuh biaya untuk sekolahnya. Jadi, aku mohon, Sen. Tolong terima aku bekerja di perusahaan kamu ini. Walaupun kamu bukan kekasihku lagi, tapi apakah aku masih bisa berharap agar kamu bisa berempati padaku?" suara Hanum terdengar memelas.
"Maaf, Mbak Hanum, bukannya tidak berempati, tapi sepertinya suamiku tidak butuh seorang sekretaris, karena aku sendiri yang akan jadi sekretaris suamiku," Aozora buka suara dan dengan sengaja membuat penekanan di kata 'suamiku'.
Sementara itu, Hanum kembali menggerutu dalam hati, mengumpati Aozora yang menurutnya menyebalkan.
"Aozora, apa sih yang kamu harapkan lagi? Kamu sudah punya segalanya. Kamu sudah punya Arsen dan kamu tidak akan kekurangan sama sekali. Apa yang kamu inginkan, kamu dengan mudah bisa mendapatkannya. Tapi, kenapa kamu tidak punya hati memberikan kesempatan padaku yang memang benar-benar membutuhkan pekerjaan? Apa kamu takut aku akan mengambil kesempatan ini untuk merebut Arsen darimu? Kenapa kamu sampai bisa berpikiran sepicik itu? Asal kamu tahu, aku tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku murni hanya butuh pekerjaan, itu saja," ucap Hanum panjang lebar tanpa jeda.
"Hanum, kamu jangan sampai keterlaluan berbicara seperti itu pada istriku! Memang itu sudah menjadi pembicaraan kami, kalau Aozora sendiri yang akan menjadi sekretarisku. Jadi tidak ada yang salah dengan ucapan istriku!" Aura Arsen semakin dingin. Tatapan pria itu terlihat begitu tajam, karena tidak suka dengan apa yang dikatakan Hanum barusan yang seakan sedang menyudutkan istrinya.
"Maaf, Sen! kalau ucapanku tadi terkesan kurang ajar, tapi__"
"Bukan terkesan kurang ajar tapi memang kurang ajar!" potong Arsen dengan cepat. "Kamu jangan minta maaf ke aku, tapi seharusnya kamu minta maaf ke istriku!" imbuhnya, masih dengan tatapan tajamnya.
Hanum menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya. Kemudiaan Wanita itu menatap ke arah Aozora.
__ADS_1
"Maafkan aku, Zora!" ucap Hanum dengan suara lirih.
Aozora tidak menjawab sama sekali. Namun ia menganggukkan kepala, mengiyakan. Karena posisi ia sendiri tidak menyangka kalau suaminya mengiyakan ucapannya tadi. Padahal jelas-jelas mereka berdua tidak pernah ada membuat kesepakatan kalau dirinya akan menjadi sekretaris dari suaminya itu. Tadi dia hanya asal ucap saja.
"Terima kasih!" desis Hanum lirih. "Baiklah, kalau memang tidak bisa, sepertinya aku harus pergi dari sini. Aku permisi ya!" Hanum berbalik lalu beranjak pergi.
"Tunggu!" Hanum yang nyaris mencapai pintu, menghentikan langkahnya begitu mendengar suara Arsen yang memanggilnya.
"Emm, ada apa, Sen? Apa kamu berubah pikiran?" tanya Hanum penuh harap.
"Aku tidak berubah pikiran. Aku hanya ingin memberikan kamu pekerjaan, tapi dengan berat hati bukan menjadi sekretarisku karena aku tidak mau ada rumor negatif yang timbul. Kamu bisa bekerja di sini tapi di bagian HRD. Karena HRD yang lama aku dengar akan menikah dan ikut suaminya pindah ke luar negri. Kamu bisa menggantikannya," pungkas Arsen.
Aozora sontak menatap Arsen, dengan tatapan keberatan.Namun, wanita itu tidak mengungkapkannya karena merasa tidak punya hak untuk membantah keputusan suaminya itu. "Kenapa harus diterima sih?" batin Aozora.
Sementara itu Hanum juga menggerutu dalam hati.
"Aku kan maunya sekretarisnya biar bisa berhubungan terus walaupun bukan pasangan. Setidaknya aku punya kesempatan untuk mendekati Arsen lagi. Dan apa aku menolak posisi ini? kalau aku menolak, Arsen pasti akan curiga. Padahal jelas-jelas tadi aku mengatakan sangat butuh pekerjaan. Kalau aku terima posisi HRD nya, Dimas pasti akan marah, karena memang dia memintaku untuk menjadi sekretaris Arsen. Lagian dua wanita yang tadi berbicara tentangku itu kan ada di bagain itu? Aku harus bagaimana sekarang?" bisik Hanum pas dirinya sendiri.
"Bagaimana Hanum? Apa kamu mau?"tanya Arsen lagi.
"Ba-baiklah. Aku mau!" pungkas Hanum akhirnya.
"Baiklah. Kalau begitu kamu boleh pergi dan mulai bekerja besok!" pungkas Arsen, tak terbantahkan.
Hanum membuka pintu dan keluar dari ruangan Arsen dengan wajah ditekuk.
Tbc
__ADS_1
Mohon like, komen, vote dan rate-nya dong Guys. Kasih hadiah juga boleh 😁🥰🙏🙏🙏