Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Acara Ulang tahun, Arsen


__ADS_3

Hari yang ditentukan akhirnya datang juga. Kediaman Arsen sudah terlihat ramai oleh para undangan. Banyak kolega sekaligus karyawan-karyawati pria itu. Dan seperti yang sudah diinformasikan sebelumnya, tidak ada satupun dari para karyawan itu yang membawa hadiah.


"Zora, tamu sudah banyak yang datang, apa kamu masih lama?" teriak Arsen seraya mengencangkan dasinya.


"Aku sudah siap, Mas!" Aozora keluar dari dalam walking closet.


Arsen sontak mematung dengan mata yang tidak berkedip saat melihat penampilan Aozora yang menurutnya sangat cantik malam ini.


"Mas, kamu kenapa?" Aozora mengibaskan-ngibaskan tangannya tepat di wajah Arsen.


"Eh, ti-tidak apa-apa!" sahut Arsen dengan gugup.


"Sial, bisa-bisanya aku gugup, hanya melihat penampilannya," umpat Arsenio dalam hati.


"Bagaimana penampilanku, Mas? Aku cantik kan?" tanya Aozora, mencoba untuk meminta pendapat. Karena sejujurnya, wanita itu kurang percaya diri, mengingat ini pertama kalinya dia mendampingi pria itu di sebuah acara.


"Biasa saja!" sahut Arsen, sok cuek.


"Oh, biasa aja ya?" raut wajah Aozora seketika berubah kecewa.


"Kalau begitu, aku ganti dulu ya?" Aozora berbalik hendak masuk kembali ke dalam walking closet.


"Eh, gak usah. Kamu pakai itu saja!" cegah Arsen dengan cepat.


"Tapi, Mas ... kamu bilang ini biasa saja. Jadi, dari pada aku malu-maluin kamu, lebih baik aku ganti,"


"Aku bilang biasa saja, bukan bilang jelek. Jadi, aku rasa tidak perlu diganti. Ayo, kita turun. Nungguin kamu ganti, kelamaan!" Arsen meraih tangan Aozora dengan cepat. Pria itu takut kalau Istrinya itu benar-benar mengganti gaun yang dia pakai. Ia pun melangkah dan keluar dari kamar.


"Mas, lepasin tanganku bisa gak? Aku mau ganti gaunku. Aku tidak percaya diri tampil dengan penampilan biasa seperti ini!" Aozora berusaha melepaskan tangan Arsen dari tangannya.


"Wah, kamu cantik sekali, Zora!" Aozora berhenti meronta ketika mendengar suara seorang pria yang memujinya. Siapa lagi pemilik suara itu kalau bukan Daren.


"Cantik? Tapi kata mas Arsen, penampilanku biasa saja," Aozora mengernyitkan keningnya.


"Hah, penampilan bidadari seperti kamu dibilang biasa saja?" Daren berdecak seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian pria itu menoleh ke arah Arsen yang sedang menatap tajam ke arahnya.

__ADS_1


"Sepertinya kamu memang perlu ke dokter mata, Sen! Matamu sepertinya parah dan butuh penanganan cepat," bukannya tidak mengerti tatapan tajam sahabatnya itu, namun bukan Daren namanya kalau takut.


"Sialan kamu! Pergi sana, sebelum aku lupa kalau kamu itu sahabatku!" bentak Arsen.


"Dasar, kerjaan kamu marah-marah saja. Cepat tua, tahu rasa kamu! Masa istri masih terlihat muda, suami sudah seperti lanjut usia, kan gak lucu!"


"DAREN! AKU MINTA KAMU PERGI YA PERGI!" suara Arsen menggelegar. Sahabatnya itu benar-benar memancing kesabarannya.


"Iya, iya aku pergi!" pungkas Daren akhirnya.


"Zora, kamu ke bawah saja denganku, kalau dia bilang penampilan kamu biasa saja. Ayo ...." sebelum pergi, Daren menyempatkan diri untuk menggoda Arsen dengan mengulurkan tangannya ke arah Aozora, bak seorang kekasih yang ingin menggandeng wanita yang dia cintai.


"DAAARENNN!"


Mendengar teriakan Arsen, Daren pun berlari turun sembari tertawa.


"Jadi, aku benaran cantik, Mas?" tanya Aozora, memastikan. Sepertinya wanita itu belum sepenuhnya percaya sebelum mendengar pembenaran suaminya itu sendiri.


"Hmm," sahut Arsen singkat.


"Iya, Zora, Iya!" pungkas Arsen akhirnya.


"Jadi, kena tadi kamu bilang kalau aku __"


"Ayo kita turun sekarang! Jangan banyak tanya lagi! Kalau meladeni pertanyaanmu, tidak akan ada habisnya!" Arsen kembali mengandeng tangan Aozora dan melanjutkan langkahnya. Wajah pria itu terlihat masam sekarang. Bukan karena pertanyaan-pertanyaan Aozora yang mengganggu, melainkan karena mengingat Daren yang memuji kecantikan istrinya itu.


"Brengsek! Bisa-bisanya dia memuji kecantikan Aozora lebih dulu dibandingkan aku!" sungut pria itu pada dirinya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setengah rundown acara sudah berjalan dengan lancar. Para tamu menikmati hidangan makanan yang disediakan oleh tuan rumah. Di antara para tamu, hanya satu orang yang terlihat tidak bahagia. Yang tidak lain adalah Hanum. Seperti yang sudah dia duga di awal, hatinya pasti terasa sakit melihat Aozora yang mendampingi pria yang dicintainya.


Di lain sisi terlihat Dimas, Damian dan Meta sedang duduk bersama Arsen, Amber dan Aozora di meja khusus keluarga besar. Moment itu juga dimanfaatkan oleh Meta untuk meminta maaf secara langsung pada Aozora.


Tanpa ada yang menyadari, Dimas melirik ke arah Hanum, dan memberikan isyarat pada wanita itu untuk langsung beraksi.

__ADS_1


"Dimas, di mana wanita yang bernama Bella itu?" bisik Meta. Sumpah demi apapun, wanita itu benar-benar penasaran ingin mengenal wanita yang membuat putranya itu tergila-gila.


Wanita itu memang sudah melampiaskan kemarahannya pada Dimas di hari itu, tapi sebagai seorang ibu, tentu saja dia tidak bisa berlama-lama marah, walaupun sampai sekarang rasa kecewanya masih sangat besar.


"Emm, aku tidak tahu, Ma. Mungkin, ada di antara para tamu," Dimas balas berbisik.


"Mama mau ngapain? Mama mau melabraknya ya? Please jangan ya, Ma. Yakinlah, Ma dia itu wanita baik," lanjut Dimas lagi, masih mode berbisik.


"Tidak ada wanita baik yang mau merusak kebahagiaan wanita lain," bisik Meta lagi.


"Sudahlah, Ma. Kita jangan berdebat lagi! Hal seperti itu jangan dibahas di sini. Gak enak dilihat kalau kita berbisik-bisik seperti ini,"


Meta akhirnya terdiam, tidak membantah ucapan putranya itu, karena menurutnya memang benar adanya.


"Aku juga bahkan lagi bingung sekarang, Ma. Sudah dua hari ini, aku tidak melihat Bella di kantor. panggilan dan pesanku juga tidak mendapatkan respon," ucap Dimas pelan. Lebih tepatnya dia berbisik pada dirinya sendiri.


Sementara itu, Hanum kini sudah berhasil dengan mudah masuk ke dalam kamar Arsen. Wanita itu langsung ke arah nakas dan menarik lacinya. Tampak ada beberapa map di dalamnya. Ia pun langsung menarik keluar dan memeriksanya.


"Emm, aku sudah menemukan apa yang kucari," Hanum, langsung memasukkan map-map itu ke dalam sebuah paper bag bekas belanja. Kemudian ia pun keluar.


Setelah itu, seperti rencana ia pun meraih ponselnya hendak mengirimkan pesan ke Dimas.


"Apa yang kamu minta sudah ada di tanganku. Tugasku selesai!" setelah selesai mengetik pesannya, ia pun menekan tombol kirim.


Kembali ke tempat Dimas, pria itu terlihat tersenyum ketika membaca pesan Hanum. Ia pun menganggukkan kepala ke arah Damian papanya untuk memberikan tanda kalau rencana mereka berhasil.


Dimas pun langsung mengirimkan pesan ke anak buahnya yang berada di lokasi pabrik untuk melakukan rencana berikutnya.


Tidak menunggu lama, ponsel Dimas kembali berbunyi pertanda ada pesan. Rahang Dimas sontak mengeras, wajahnya memerah, begitu membaca balasan pesan yang baru saja dikirimkan oleh anak buahnya. Sepertinya pria itu sedang marah.


"Maaf, Tuan. Kami gagal karena kami keburu ketahuan! Kami sekarang sedang ditahan oleh 4 orang laki-laki yang tubuhnya lebih besar dari kami," ternyata isi pesan inilah yang membuat Dimas, marah.


"Sial, kenapa mereka bisa ketahuan sih? Sial! Ini gawat kalau nanti mereka sampai mengaku, memberitahukan kalau aku dan papa yang menyuruh mereka," Dimas melirik ke arah Arsen yang sekarang juga tengah menatapnya, dengan senyum tipis dan tatapan misterius.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2