
Di lain sisi, Dimas melirik ke arah jam di dinding.. Wajah pria itu seketika terlihat lesu, karena merasa sudah waktunya dia kembali ke penjara.
"Maaf, semuanya. Sepertinya aku harus segera kembali ke penjara. Sekali lagi Selamat ya kak Arsen. Dan terima kasih banyak atas kesempatan yang kamu berikan hari ini, sehingga aku bisa menemani persalinan Tsania," ucap Dimas dengan tulus.
Kemudian pria itu berlutut di depan Tsania yang terlihat mulai meneteskan air mata.
"Sayang, aku kembali ke penjara ya. Kamu jangan menangis. Tolong jangan membuatku sedih. Tolong jaga diri kamu dan anak kita. Maaf, aku belum bisa menjaga kalian berdua," ucap Dimas seraya menarik tangan Tsania, lalu mencium punggung tangan istrinya itu.
Dimas berdiri dan memeluk Tsania, lalu meninggalkan kecupan singkat di puncak kepala istrinya itu.Sulit baginya untuk melepaskan pelukannya, tapi dia memang harus melakukannya.
"Aku pamit dulu semuanya!" Dimas memutar tubuhnya dan hendak berlalu pergi.
"Dimas, tunggu!" Dimas yang nyaris mencapai pintu, mau tidak mau harus mengurungkan langkahnya, mendengar panggilan Arsen barusan. Ia pun berbalik dan menatap penasaran ke arah kakak sepupunya itu.
"Kamu tidak perlu kembali lagi ke penjara, karena aku sudah menarik laporanku. Aku rasa dengan kamu merasa bersalah karena tidak bisa mendampingi Tsania saat hamil anakmu sudah merupakan hukuman yang sudah membuatmu begitu tersiksa. Jadi, aku sudah meminta hukumanmu dan paman Damian mendapatkan remisi. Kalian sekarang bebas. Tapi, aku harap kamu dan Paman Damian jangan pernah mengulangi perbuatan kalian," ucap Arsen panjang lebar tanpa jeda.
Dimas tercenung untuk beberapa saat. Kemudian mata pria itu seketika mengeluarkan air mata. Ia pun tidak segan-segan langsung menghambur ke arah Arsen dan memeluk kakak sepupunya itu.
"Terima kasih, Kak. Terima kasih! betapa bodohnya aku dulu, sampai bisa berpikiran untuk menghancurkanmu dulu," ucap Dimas yang memang benar-benar sudah sangat menyesali perbuatannya dulu.
"Jangan hanya berterima kasih padaku.Tapi, berterima kasih jugalah pada Aozora. Dia yang meminta padaku agar membebaskanmu dan Paman dari penjara," terang Arsen.
Dimas menatap ke arah Aozora, wanita yang pernah dia sakiti. "Zora, aku ..."
"Sudahlah, kamu tidak perlu berterima kasih! Aku melakukannya karena. Tsania adalah adikku. Di saat jadi ibu baru seperti ini, dia sangat butuh dukungan seorang suami. Jadi, aku harap kamu jangan membuat kami menyesal sudah membebaskanmu dari penjara," ucap Aozora yang langsung menyambar tanpa menunggu pria yang merupakan mantan kekasihnya itu selesai bicara.
Tsania kembali terisak-isak mendengar ucapan Aozora kakaknya yang ternyata sangat memikirkan kondisinya. Sementara itu ia memberikan sebuah isyarat dengan matanya pada Niko.
Niko yang mengerti dengan isyarat itu, sontak melangkah menghampiri Arsen dan memberikan sebuah map ke tangan sahabatnya itu.
"Suruh mereka membawa Paman Damian masuk!" titah Arsen dan Niko menganggukkan kepalanya.
Sementara itu Kening Dimas semakin berkerut begitu mendengar kalau tenyata papanya juga berada di tempat itu. "Ada apa ini sebenarnya? Kenapa Papa bisa berada di tempat ini juga?" bisik Dimas, pada dirinya sendiri. Namun, sang hati tidak memberikan jawaban sama sekali.
__ADS_1
Tidak perlu menunggu lama, Niko kembali masuk ke dalam ruangan disusul oleh Damian dari belakang.
"Papa! Kenapa Papa bisa ada di sini?" tanya Dimas.
Damian tidak memberi jawaban. Pria paruh baya itu hanya menggelengkan kepalanya, pertanda kalau dia juga tidak tahu.
Arsen tersenyum melihat ekspresi dua pria itu. Ia tiba-tiba mengulurkan map yang ada di tangannya ke arah Dimas.
"Oh ya, ini aku kembalikan surat-surat perusahaan kalian yang dulu. Aku harap kamu bisa mengelolanya dengan baik. Jangan sampai bangkrut lagi!" Arsen memindahkan map yang ada di tangannya ke tangan Dimas.
"I-ini maksudnya apa, Kak?" tanya Dimas, belum sepenuhnya paham dengan tindakan Arsen.
"Sebenarnya aku sudah merebut kembali perusahaan yang kalian kelola dari orang yang membeli perusahaan itu. Karena bagaimanapun perusahaan itu peninggalan kakek kita. Tidak terhitung jumlah peluh dan waktu serta kerja keras almarhum Kakek kita untuk membangun perusahaan itu dulu. Tapi, aku tidak langsung memberikan pada kalian, dan malah memperkejakan kalian di perusahaanku, untuk melatih dan melihat bagaimana sikap kalian ketika jadi karyawan," Arsen berhenti sejenak untuk mengantarkan jeda.
"Dulu aku melihat kalian belum mampu, karena masih terbuai dengan kemewahan. Makanya aku tidak memberikan perusahaan itu untuk kalian kelola kembali. Tapi, aku meminta orang lain mengelolanya untuk sementara. Tapi, sekarang sepertinya kamu sudah berubah dan sudah lebih bertanggung jawab. Jadi aku percaya kamu dan Paman Damian, bisa dengan bijaksana dalam mengelola perusahaan dan memajukannya kembali," lanjut Arsen lagi.
Tangan Dimas bergetar saat dokumen yang diberikan Arsen sudah ada di tangannya. Lagi-lagi perasaan bersalah atas perbuatannya dengan papanya yang ingin melenyapkan Arsen, kembali menghinggapi hatinya.
"Kenapa kamu masih baik pada kami, Arsen?Padahal kami sudah hampir melenyapkan nyawamu." Damian buka suara. Mata pria paruh baya itu juga kini terlihat berembun karena sedang menahan tangis.
Damian tercenung dan tanpa basa-basi langsung memeluk pria yang merupakan keponakannya itu. Ia benar-benar tidak menyangka kalau keponakannya itu bisa sebijaksana itu.
Dimas juga tidak mau ketinggalan. Ia juga kembali memeluk Arsen. Air mata pria yang baru saja menjadi seorang ayah itu kembali mengalir.
"Terima kasih, Kak Arsen, Kak Zora. Kalian sudah memberikan kesempatan dan memaafkan Kak Dimas. Hati kalian benar-benar mulia," kali ini Tsani yang buka suara.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Meta. Wanita paruh baya itu tidak mau ketinggalan untuk berterima kasih.
"Aku berharap mulai dari hari ini, jangan sampai karena harta hubungan keluarga kita hancur!" pungkas Arsen, tegas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suasana haru di ruangan Aozora yang berkali-kali terjadi, kini sudah selesai. Suasana haru itu kini sudah penuh dengan tawa.
__ADS_1
"Oh ya, Kalian belum memberitahukan nama anak kalian pada kami. Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk ke dua cucu kami itu?" celetuk Aditya tiba-tiba, yang langsung mendapat dukungan dari yang lainnya.
"Tentu sudah dong, Pa. Tadi aku sudah mencari namanya. Mudah-mudahan Aozora setuju," Arsen tersenyum bangga.
"Kapan kamu mencari namanya, Mas?" tanya Aozora dengan alis bertaut.
"Tadi, sewaktu kalian sibuk bercanda," Arsen kembali tersenyum. "Aku mau kasih nama putra kita. Arkana Rafandra Pramana. Arkana artinya berhati terang, Rafandra , tampan dan jantan. Sedangkan Pramana nama nama keluarga. Aku ingin hatinya terang seperti kamu dan, tampan serta jantan seperti papanya. Bagaimana, kamu suka nggak?" senyum di bibir Arsen tidak pernah tanggal.
Aozora tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Wah nama yang sangat bagus. Aku suka sekali, Mas," ucap Aozora tersenyum.
"Nama yang sangat bagus dan penuh makna, Arsen. Kamu, pintar cari nama," puji Aditya, yang juga langsung mendapat dukungan dari yang lainnya.
"Bagaimana dengan putri kalian Dimas?" kali ini Damian buka suara.
"Aku menyerahkan semuanya pada Tsania. Bukan karena aku tidak mau memberikan nama, tapi aku rasa Tsania sudah menyiapkan nama untuk putri kami jauh-jauh hari," sahut Dimas, tersenyum ke arah Tsania.
"Terima kasih, Kak. Kamu benar, aku memang sudah menyiapkan nama anak kita jauh-jauh hari. Mudah-mudahan kamu suka. Aku mau kasih nama anak kita, Danisa Fredella Pramana. Danisa artinya penuh ampunan, sedangkan Fredella , pembawa kedamaian. Karena bagaimana pun Danisa ada dan kamu jug masib bersama kami karena adanya sebuah kata ampunan dan kehadiran dia membawa kedamaian untuk kita," sahut Tsania.
Semua orang yang ada di ruangan itu memuji nama yang diberikan oleh Tsania pada putrinya. Semuanya setuju.
"Aku jadi tidak sabar untuk menunggu anak kami lahir. Aku juga mau kasih nama yang bagus dan penuh arti. Iya kan Sayang?" celetuk Samudra sembari merangkul lengan Dinda istrinya.
"Aku pun Sama. Aku tidak sabar mau membuat Bella hamil," timpal Niko.
"Lalu setelah lahir, kamu akan kasih nama unlove. Artinya anak yang dibuat tanpa cinta," cetus Bella, dengan sinis. Bagaimana tidak, sudah menikah dua bulan, pria yang sudah suaminya itu belum mengatakan kalau dia sudah cinta atau belum.
Niko menggaruk-garuk kepalanya yang gatal dan nyengir kuda, menampakan deretan gigi yang putih.
"Tentu tidak dong, Sayang. Siapa bilang aku tidak mencintaimu. Sejujurnya aku sudah jatuh cinta padamu. Aku hanya pura-pura menolak saat itu, agar tidak terkesan murahan. Aku kan bukan laki-laki murahan seperti Arsen dan Daren," ucap Niko yang sontak mendapat tinju dari dua orang pria yang dia sebut namanya.
Ruangan itu kini kembali penuh dengan tawa. Kebahagiaan benar-benar terpancar dari wajah mereka semua.
Lepaskan dan hempaskan semua kebencian serta dendam di dalam hati. Karena dengan Masih tetap menanamnya, hidup kita tidak akan pernah damai. Dan kebahagiaan kita yang terlihat orang lain, hanyalah kamuflase.
__ADS_1
*Tamat*
Akhirnya tamat juga. Terima kasih atas dukungan kalian selama ini. Baik dari like, vote, komen dan hadiah. Tanpa dukungan kalian karya ini tidak akan bisa sampai sejauh ini. Maaf juga kalau masih banyak kurangnya, karena aku juga manusia biasa yang tidak sempurna. Semoga kalian semua diberikan kesehatan dan rejeki yang bertambah. Amin 🙏🙏🥰🥰🥰