Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Aku tidak suka!


__ADS_3

Begitu masuk ke dalam kamar, Aozora langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Pikirannya masih tentang ucapan Hanum, tentang keluarganya.


"Apa yang dia katakan tadi benar-benar janggal. Penyebab Mas Arsen celaka katanya karena diputusin sama Hanum, dan saat itu Mas Arsen belum bisa diprediksi, koma ataupun mati. Tapi, kenapa dia mengatakan kalau dia meminta putus karena ancaman keluargaku karena ingin memanfaatkan kondisi Mas Arsen yang koma, Bukannya saat Hanum meminta putus, Mas Arsen belum koma ya? Benar-benar tidak masuk akal," batin Aozora, seraya menggaruk-garuk dagunya yang tidak gatal sama sekali.


"Untuk lebih pastinya, biarlah kali ini aku hubungi pria itu dulu," Aozora sepertinya benar-benar tidak ingin menyebut Aditya papanya. Dia memanggil papanya dengan sebutan pria itu.


"Halo, Zora! Papa baru mau menghubungimu, karena ingin menanyakan apa benar kamu mengusir kami dari rumah ini, hari ini juga?" belum sempat Aozora mengucapkan sepatah katapun, pria di ujung sana sudah lebih dulu mengoceh.


"Bisa kita bicarakan hal itu nanti, Tuan Aditya? Ada hal yang lebih penting yang ingin aku tanyakan pada anda," sahut Aozora, seperti biasa memanggil papanya dengan sebutan sangat formal, layaknya orang yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya.


Terdengar helaan napas berat dari pria di ujung sana. "Baiklah, apa yang ingin kamu tanyakan, Nak?" meskipun Aozora memperlakukannya seperti orang lain, Aditya masih tetap berbicara lembut layaknya seorang papa pada putrinya. Entah itu benar-benar dari hatinya atau hanya kamuflase, hanya dialah yang tahu.


"Apa anda mengenal wanita bernama Hanum?" tanya Aozora langsung pada topik.


"Hanum? Siapa dia? Papa sama sekali tidak kenal Hanum, emangnya dia siapa?" tanya Aditya balik.


"Apa anda benar-benar tidak tahu, atau pura-pura lupa siapa dia?" tanya Aozora,menyelidik


"Papa benar-benar bersumpah, kalau Papa sama sekali tidak mengenal wanita yang kamu maksud," nada bicara Aditya begitu meyakinkan.


"Yakin? Coba anda ingat siapa gadis yang pernah kalian ancam untuk memutuskan kekasihnya, kalau tidak papanya akan kalian lenyapkan?" Aozora sengaja tidak mengatakan kalau wanita itu adalah mantan kekasih Arsen karena Aozora punya pertimbangan sendiri.


"Sumpah demi apapun, Zora, Papa tidak mengerti dengan apa yang kamu maksud. Papa sama sekali tidak mengenal yang namanya Hanum, apalagi sampai mengancamnya. Sangat tidak mungkin, mengancam orang yang sama sekali tidak kita kenal. Emangnya ada apa sih?"


"Tidak ada apa-apa, lupakan! Aku hanya bertanya saja. Oh ya, untuk masalah pertanyaan anda di awal tadi, iya itu benar. Kalian harus meninggalkan rumah itu sekarang juga!" ucap Aozora dengan tegas.

__ADS_1


"Tapi, kenapa? Bukannya kamu sudah memberikan kami waktu seminggu? Kenapa tiba-tiba berubah?" tanya Aditya.


"Untuk masalah itu, silakan tanya pada istri dan anakmu tercinta apa yang hampir saja mereka lakukan padaku. Mereka benar-benar tidak layak untuk dikasih hati. Pokoknya, aku mau malam ini juga rumah itu harus kalian tinggalkan. Sebentar lagi aku akan ke sana untuk memastikan kalian tidak membawa satu pun barang-barang peninggalan mamaku," tanpa menunggu tanggapan dari pria di ujung sana, Aozora langsung memutuskan panggilan secara sepihak.


"Hmm, benar dugaanku. Ada yang tidak masuk akal dan tidak beres dengan pengakuan Hanum tadi. Entah kenapa aku yakin, kalau Hanum sedang berbohong. Tapi, kenapa dia harus berbohong? Apa ini cara dia agar Mas Arsen membenciku dan dia bisa kembali bersama Mas Arsen? Apa Mas Arsen tadi percaya dan akan membuangku demi bisa kembali dengan Hanum?" pikiran Aozora kembali tidak tenang.


Brakk


Aozora tersentak kaget, langsung tersadar dari lamunannya, karena mendengar pintu yang dibuka dengan kencang.


"Mas, bisa tidak buka pintu itu pelan-pelan? Kalau aku punya penyakit jantung, bisa-bisa aku sudah langsung mati," protes Aozora seraya mengelus-elus dadanya.


"Kenapa kamu langsung pergi tadi? Bukannya aku memintamu untuk menungguku, hah?" Arsen sama sekali tidak memperdulikan protes yang dilayangkan sang istri padanya. Tatapan pria begitu tajam seperti seekor singa yang siap menerkam mangsanya.


"Kamu coba kasih alasan padaku, apa gunanya aku di sana menunggumu? Kamu mau mempertontonkan padaku, bagaimana kalian melepaskan rindu setelah lebih dari 3 bulan tidak bertemu ya? Kamu jadi kesal karena kamu gagal mempertontonkannya di depanku?" tukas Aozora yang sama sekali tidak merasa takut dengan tatapan Arsen.


Aozora berdecih, kemudian mendengkus. Wanita itu memasang wajah tidak percaya.


"Cih, masih saja mau mengelak. Tidak melepaskan rindu, tapi sampai dipeluk begitu kamu sama sekali tidak menolak, malah menikmatinya," Aozora mengerucutkan bibirnya.


Kedua sudut bibir Arsen sontak melengkung, membentuk sebuah senyuman. Pria itu begitu gemas melihat ekspresi wajah Aozora sekarang.


"Kamu cemburu ya?" tukas pria itu, seraya mengerlingkan matanya.


"Enak saja! Si-siapa yang cemburu? Aku sama sekali nggak cemburu!" sangkal Aozora dengan suara yang bergetar karena gugup. Wanita itu bahkan dengan cepat memalingkan wajahnya, karena dia yakin kalau pipinya sekarang pasti sudah memerah bak kepiting rebus.

__ADS_1


"Sudahlah, kamu jangan mengelak lagi. Bilang saja kamu cemburu. Iya kan?" desak Arsen.


"Aku bilang aku tidak cemburu ya tidak cemburu! Kenapa maksa sih? Aku hanya membicarakan fakta, kalau kamu dan Mbak Hanum, pasti sedang melepas rindu. Kamu tidak perlu berbohong, Mas. Mau bicarakan apa sama Mbak Hanum, sampai aku tidak boleh dengar? Pasti kamu mau bilang kalau kamu sangat merindukannya kan? Kamu sengaja memintaku menjauh, agar aku tidak sakit hati. Kamu seharusnya tidak perlu seperti itu, Mas. Bukannya aku sudah bilang kalau aku sudah siap, kalau seandainya kamu__" Aozora tiba-tiba berhenti bicara, berganti dengan matanya yang membesar sempurna. Bagaimana tidak, Arsen tiba-tiba membungkam mulutnya dengan membenamkan bibirnya ke bibir Aozora.


Aozora tidak menyangka kalau suaminya itu akan menciumnya tiba-tiba.


Arsen yang awalnya hanya ingin membuat Aozora berhenti bicara, terjebak dengan perbuatannya sendiri. Bibir yang awalnya hanya ingin dia tempelkan saja, ternyata berubah menjadi ciuman yang menuntut.


Aozora yang sudah tersadar dari rasa kagetnya, mendorong tubuh Arsen.


"Kenapa kamu menciumku?" bentak Aozora dengan wajah memerah.


"Aku akan menciummu lagi kalau kamu masih banyak bicara. Apalagi bicara hal yang sama sekali tidak benar tentang apa yang aku lakukan dan Hanum tadi!" sahut Arsen seraya mengusap bibirnya yang basah.


"Kamu tidak perlu melakukannya kalau kamu hanya ingin membungkamku saja, apalagi dengan jelas kamu tidak menginginkannya!"


"Aku melakukannya, justru karena aku menginginkannya," ucap Arsen, membuat Aozora tercenung, gagal paham.


"Emm, bibirmu ternyata manis juga ya!" lanjut Arsen lagi, seraya tersenyum penuh makna.


"Sialan kamu!" Aozora melemparkan bantal sofa ke arah Arsen, yang tentu saja dengan mudah ditangkis oleh pria itu.


"Oh ya, aku mau ingatkan kamu, jangan terlalu dekat dengan Daren, aku tidak suka!" Arsen yang tadi melemparkan senyuman kini berganti melemparkan tatapan tajam.


"Satu lagi ... Kalau dia panggil kamu Ra jangan menyahut, aku juga tidak suka!" sambung Arsen lagi seraya melangkah masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


"Dasar orang aneh!" umpat Aozora.


Tbc


__ADS_2