
"Kamu sudah dua kali menciumku!" ucap Aozora, setelah ciuman mereka terlepas.
"Mulai dari sekarang, kamu harus terbiasa dengan itu," sahut Arsen, santai disertai dengan senyum smirknya.
"Apaan sih? Kalau kamu tidak menginginkannya, tolong jangan lakukan!" protes Aozora dengan bibir yang mengerucut.
Mendengar ucapan Aozora, Arsen sontak menatap wanita itu dengan tatapan yang sukar untuk dibaca. "Aku bukan tipe pria yang mencium seseorang, kalau tidak ingin. Kalau aku menciummu, itu berarti aku menginginkannya," sahut Arsen.
Aozora diam seribu bahasa, berusaha memahami makna perkataan suaminya.
"Kenapa diam? kamu tidak jadi mandi? Atau kamu menginginkannya lagi?" Arsen mengerlingkan matanya, menggoda.
"Ti-tidak! Aku mandi sekarang!" Aozora memutar tubuhnya, beranjak pergi.
"Tunggu! Ada yang ketinggalan!" baru dua langkah Aozora berjalan, tiba-tiba Arsen kembali bersuara, membuat wanita itu menghentikan langkahnya, lalu kembali menoleh ke arah Arsen.
"Emm, apa yang ketinggalan?" Aozora mengernyitkan keningnya.
Dua sudut bibir Arsenio, melengkung membentuk senyum misterius. Pria itu berdiri dari tempat duduknya dan mengayunkan kaki melangkah menghampiri Aozora.
Aozora terlihat kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri, melihat tatapan sang suami yang bisa dimaknai Aozora, seakan sedang menginginkannya.
"Aku yang ketinggalan," ucap Arsen seraya meraih pinggang Aozora ke arahnya, hingga tubuh wanita itu menempel ke tubuhnya.
"M-Mas, to-tolong ...." belum selesai Aozora berbicara, bibir Arsenio sudah kembali mendarat di bibirnya.
Awalnya yang hanya menempel saja, lambat laun berubah menjadi ciu*man yang menuntut. Aozora awalnya tidak membalas, namun akhirnya wanita itu terbuai dan mulai membalas.
Di saat sedang panas, Aozora tersadar dan mendorong tubuh Arsen.
"Kamu kenapa mendorongku?" Arsen mendelik tidak suka.
"Apa sekarang kamu sadar melakukannya dengan siapa? Lihat jelas-jelas ...aku ini Aozora bukan Hanum!" ternyata Aozora mengira kalau suaminya itu sekarang sedang memikirkan Hanum, karena pertemuan mereka tadi sore. Ia mengira kalau Arsen sedang melihat diri Hanum sekarang di dirinya.
__ADS_1
"Arghhh!" Arsen menggeram, seraya menggusak rambutnya dengan kasar.
"Emangnya yang mengatakan kamu itu Hanum, siapa? Aku tahu kalau kamu itu Aozora dan kamu istriku. Jadi, aku melakukannya pada istriku," sahut Arsen, dengan nada suara yang sedikit meninggi. Pria itu benar-benar membuat gai*rahnya yang tadi mulai memanas, menguap seketika.
Aozora kembali tercenung, tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu dari sang suami. Apa yang dia pikirkan ternyata tidak sesuai dengan pemikirannya.
"Tapi kan seharusnya kamu tidak seperti itu. Kamu tidak mencintaiku sama sekali. Jadi, apa yang kamu lakukan itu sama sekali tidak pantas," ucap Aozora
"Apa yang tidak pantas? Kamu istriku, jadi aku pantas melakukannya, bahkan lebih dari itu juga tidak masalah. Justru yang tidak pantas itu, kalau aku melakukannya dengan Hanum," nada bicara Arsen terdengar ketus.
"Bukannya waktu kamu masih bersama dengan Hanum, kamu sering melakukannya? Tidak mungkinkan 7 tahun kalian tidak ngapa-ngapain," tukas Aozora, sinis.
"Tahu dari mana kamu aku sering melakukannya dengan dia. Jangankan mencium bibirnya, pipinya saja tidak pernah,"
Mata Aozora membesar, tercengang dengan pengakuan Arsen yang menurutnya di luar nalar
"Atau jangan-jangan kamu yang sering melakukannya dengan Dimas dulu!" kini gantian Arsen yang menuduh. Bayangan Dimas yang melakukan adegan ciuman seperti yang dia lakukan tadi dengan Aozora, sontak membuat wajah pria itu memerah, karena marah.
"Jadi, ciuman pertamamu, itu denganku?" Arsen mengerlingkan matanya. Bibirnya yang tadi merengut kini menyunggingkan senyuman.
"Nggak juga sih! Ciuman pertamaku ya dengan Dimas!"
Mata Arsen kembali berkilat-kilat penuh amarah mendengar jawaban yang baru saja terlontar dari mulut istrinya itu. Dadanya begitu bergemuruh, hingga terlihat turun naik.
"Berarti kamu tadi berbohong! Tadi kamu bilang kalau kalian berdua tidak pernah ciuman, tapi kenapa sekarang kamu mengatakan kalau ciuman pertamamu, Dimas, hah!" suara Arsen menggelegar memenuhi ruangan kamar mereka.
Aozora tersentak kaget, dan sampai tersurut dua langkah ke belakang. "Maksud aku, dia hanya cium pipiku, bukan bibirku," ujar Aozora di sela-sela rasa takutnya.
"Dan kamu membalasnya kan?"
"Apa salahnya membalas kalau hanya cium pipi? Kamu benar-benar aneh Mas. Kamu bertingkah seperti orang yang sedang cemburu, seakan-akan kamu ini mencintaiku. Sudahlah, aku mau mandi dulu. Kalau tetap di sini, perdebatan kita tidak akan pernah selesai," Aozora kembali berbalik dan hendak beranjak pergi. Namun, lagi-lagi Arsenio menahannya dengan mencengkram pergelangan tangannya dengan erat.
Pria itu kembali menarik tubuh Aozora hingga menempel ke tubuhnya.
__ADS_1
"Aku tidak peduli. Mau dia cium kamu di pipi dan kamu membalasnya, aku tetap tidak suka. Paham kamu! Sekarang aku akan membersihkan bekas ciumannya dari pipimu," ucap Aozora seraya mencium pipi Aozora berkali-kali. Kemudian, sasaran terakhirnya apa lagi kalau bukan bibir sang istri yang sudah membuatnya candu.
"Ma-Mas jangan begini!" Aozora melepaskan diri dari Kungkungan Arsen.
"Aku menginginkanmu sekarang. Sudah cukup aku tersiksa selama ini menahan diri untuk tidak menyentuhmu," ucap Arsen dengan tatapan yang sekarang terlihat sendu.
"Ta-tapi, bagaimana kamu bisa melakukannya kalau kamu sendiri tidak mencin__" belum selesai Aozora berbicara, Arsen kembali membenamkan bibirnya ke bibir sang istri.
Ciuman yang awalnya lembut kini mulai panas dan menuntut lebih.
Aozora ingin kembali meronta, tapi tubuhnya tidak bisa berbohong kalau dia pun menginginkannya.
Tidak menunggu lama, tidak terlihat lagi sehelai benangpun di tubuh pasangan suami-istri itu.
Aozora sontak menutup matanya menggunakan kedua tangannya, saat melihat keseluruhan tubuh suaminya yang polos.
"Kenapa kamu menutup matamu, Hem?" bisik Arsen seraya berusaha menyingkirkan tangan Aozora.
"A-aku, malu, Mas!" sahut Aozora dengan suara lirih.
"Kenapa kamu harus malu? Bukannya dulu kamu sudah terbiasa melihatnya saat membersihkan tubuhku dulu pasca aku masih koma?" Arsen tersenyum meledek.
Mendengar ucapan suaminya, Aozora sontak menurunkan tangannya dan menatap Arsen dengan tatapan curiga.
"Bagaimana kamu bisa tahu? Bukannya kamu saat itu kami masih koma?" sudut alis Aozora sedikit terangkat ke atas, menyelidik l.
"Kamu tidak perlu tahu, aku tahu dari mana. Nanti saja kita bahas tentang itu. Aku tidak mau kita berdebat lagi," tanpa memberikan Aozora kesempatan untuk berbicara lagi, Arsen kembali menyerang tubuh Aozora.
Tidak perlu menunggu lama, pasangan suami istri pun sudah menyatu, melakukan hal yang memang pantas dilakukan pasangan yang sudah menikah. Aozora terlihat benar-benar pasrah, memberikan hal berharga yang dia jaga selama ini pada pria yang memang pantas mendapatkannya karena pria itu adalah suaminya.
"Mudah-mudahan ini yang terbaik," batin Aozora dengan cairan bening yang menetes dari kedua sudut matanya.
Tbc
__ADS_1