
Aozora kini sudah mendapatkan vitamin dan asam folat yang diresepkan oleh dokter kandungan tadi. Dengan wajah berbinar, wanita itu berjalan, hendak keluar dari rumah sakit. Wanita itu memutuskan buat tidak jadi ke perusahaan almarhum mamanya. Zora berniat mempersiapkan kejutan untuk Arsen tentang kehamilannya.
Ketika dirinya hampir keluar dari pintu keluar rumah sakit, mata wanita itu memicing saat melihat sosok wanita yang sangat dia kenal sedang mengepel lantai yang baru saja diinjak oleh pengunjung.
"Itu Hanum kan?" Aozora semakin memicingkan matanya untuk memastikan.
"Tapi, tidak mungkin dia Hanum. Hanum kan tidak mungkin bekerja jadi cleaning service," Aozora menepis dugaannya dan berniat hendak keluar. Namun, lagi-lagi wanita itu ragu. Dia pun mengurungkan niatnya dan kembali menoleh ke arah Hanum.
"Iya, itu benaran Hanum. Aku tidak salah lagi. Tapi kenapa dia jadi cleaning service di sini?" gumam Aozora.
"Mbak, bisa minggir sedikit? Aku mau keluar!". Aozora dikagetkan dengan suara seorang wanita yang hendak keluar.
"Aduh, maaf, Mbak, maaf!" Aozora sontak pindah ke samping dan memberikan jalan untuk wanita itu.
Karena insiden itu, hampir semua mata yang ada di tempat itu tak terkecuali Hanum, menatap ke arah Aozora. Di saat bersamaan, Aozora juga menatap ke arah wanita, bekas rivalnya itu.
Aozora tiba-tiba tersenyum dan melangkah mendekati Hanum.
"Hai," sapa Aozora.
"Hmm," sahut Hanum singkat.
"Kenapa kamu bisa bekerja jadi cleaning service, Num?" tanya Aozora.
"Kenapa? kamu mau menertawakanku? Kalau iya, silakan!" ucap Hanum, seraya berpindah dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Aozora menghela napasnya dan kembali menghampiri Hanum.
"Apa kamu berpikir kalau aku seburuk itu?" tanya Aozora lagi, tidak peduli dengan sikap Hanum yang seakan tidak acuh padanya.
Hanum sontak menghentikan kegiatannya seraya menghela napasnya. Kemudian, wanita itu menoleh ke arah Aozora dan tersenyum kecut.
"Tidak! Kamu tidak buruk. Justru aku lah yang buruk," sahut Hanum. "Oh ya, mumpung kamu ada di sini, aku mau minta maaf padamu, atas niat buruk dimana aku berusaha untuk mendapatkan hati Arsen dan merebut dia darimu. Tapi, itu aku lakukan karena aku merasa tidak adil untukku, yang berjuang mendapatkan hatinya selama 7 tahun, tapi tidak pernah bisa. Sedangkan kamu, tidak butuh waktu lama, tapi sudah bisa menguasai hatinya. Aku iri padamu, Zora," lanjut Hanum lagi. Wanita itu berhenti sejenak untuk mengambil jeda sekaligus untuk kembali menghirup oksigen.
"Niatku ingin merebutnya dulu, itu karena aku tidak tahu kalau ternyata kamu adalah perempuan yang dia cari selama ini. Kalau sekarang, begitu aku mengetahuinya, aku sudah benar-benar mundur, karena itu janjiku dulu. Di saat Arsen sudah menemukan wanita yang dia cintai dari kecil, aku pastikan aku akan mundur. Jadi, kamu tenang saja, ya!" ucap Hanum, berusaha untuk tersenyum. Senyum yang dia buat selebar mungkin, tapi tetap saja tidak bisa menyembunyikan luka yang terpancar di senyum itu.
Aozora terpaku untuk beberapa saat, mencerna kalimat demikian kalimat yang terlontar dari mulut wanita yang dia yakin masih mencintai suaminya itu.
"Oh ya, aku lihat-lihat kamu baik-baik saja. Tapi, kenapa kamu ada di sini? Apa Tante Amber sakit?" Hanum kembali buka suara, menyadarkan Aozora dari lamunannya.
"Oh, ti-tidak ada yang sakit. Aku ke sini karena merasa ada sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhku. Ternyata, aku sedang hamil," sahut Aozora dengan wajah yang kembali berbinar.
Deg ... Dada Hanum tiba-tiba merasakan sakit, seperti ada yang mencubit.
Sumpah demi apapun, walaupun dirinya sudah ikhlas merelakan Arsen, dirinya tidak bisa memungkiri kalau ada rasa sakit yang dia rasakan, mendengar kabar kehamilan Aozora.
"Selamat ya!" suara Hanum terdengar lirih. Wanita itu berusaha untuk tersenyum di tengah matanya yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Terima kasih, Hanum! Semoga kamu juga secepatnya akan mendapatkan pria yang benar-benar mencintaimu," ucap Aozora dengan tulus.
"Semoga saja," sahut Hanum lirih. "Terima kasih untuk doanya," imbuhnya.
"Oh ya, tadi aku mendekatimu bukan untuk menertawakanmu. Aku hanya merasa heran kenapa kamu bisa jadi cleaning service di rumah sakit milik keluarga Daren, sementara aku tahu kalau kamu keahlian kamu itu di bisa accounting," Aozora mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Rumah sakit ini milik keluarga Daren?" Hanum mengernyitkan keningnya.
"Lho, apa kamu tidak tahu kalau rumah sakit ini milik keluarga Daren? Bahkan Daren dokter di rumah sakit ini. Apa kamu tidak pernah melihatnya?" alis Aozora bertaut, bingung.
"Rumah sakit ini sangat besar dan luas, Zora. Aku baru satu bulan bekerja di sini. Bahkan semua karyawan di sini hanya sebagian yang aku kenal. Lagian pekerjaanku hanya bersih-bersih, jadi aku tidak mungkin punya waktu untuk memperhatikan dokter-dokter yang ada di sini," Hanum berdecak seraya memutar matanya.
Aozora terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. "Oh ya, apa kamu mau, aku menghubungi Daren sekarang? Aku akan meminta dia untuk menempatkanmu sesuai dengan bidangmu," Aozora merogoh tasnya, lalu mengeluarkan ponselnya.
Hanum langsung menahan tangan Aozora untuk mencegah wanita itu menghubungi Daren.
"Tidak perlu, Zora. Aku tidak masalah bekerja jadi cleaning service. Toh, gajinya juga masih cukup memanusiakan. Lagian, posisi yang kamu maksud itu pasti sudah diisi oleh seseorang. Aku tidak mau, karena aku orang itu kehilangan pekerjaannya atau diturunkan Jabatannya," ucap Hanum, bijak.
Aozora terdiam, tidak membantah karena yang di katakan wanita manis itu memang benar adanya.
"Atau, kamu bisa jadi admin di rumah sakit ini," Aozora memberikan saran lagi.
Hanum tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak usah. Karena aku yakin admin juga sudah ada. Terima kasih sudah peduli padaku. Tapi benaran, aku tidak masalah jadi cleaning service," ucap Hanum dengan raut wajah meyakinkan.
"Oh, seperti itu. Baiklah kalau memang kamu maunya seperti itu. Tapi nanti aku akan coba melihat di perusahaanku, apa ada posisi kosong yang cocok untukmu. Kalau ada, aku akan menghubungimu," pungkas Aozora akhirnya.
"Tidak, Hanum. Kamu tidak bisa menolak kali ini!" ucap Aozora tegas.
"Aku pulang dulu ya! nanti aku akan menghubungimu. Bye Hanum!" Aozora berbalik dan melangkah setelah Hanum menganggukkan kepalanya.
"Zora, tunggu!" Aozora yang sudah hampir mencapai pintu, kembali menghentikan langkahnya dan berbalik begitu mendengar panggilan Hanum.
Istri dari Arsen itu melihat Hanum yang menghampirinya dengan sedikit berlari.
"Ada apa, Num? " Aozora mengernyitkan keningnya.
" Zora, aku cuma mau mengatakan agar kamu hati-hati. Tadi, mama tirimu datang ke sini. Dia tahu kamu ada di sini. Tadi dia sempat mengajakku untuk bekerja sama, mencelakaimu dan aku menolaknya. Saranku sebaiknya kamu naik taksi online, atau minta Arsen menjemputmu. Karena aku takut kalau mobilmu disabotase," ucap Hanum panjang lebar, tanpa jeda.
"Kamu serius?" tanya Aozora memastikan dan Hanum menganggukkan kepala mengiyakan.
"Emm, terima kasih untuk infonya. Tapi, supirku ada di mobil kok, jadi tidak mungkin wanita licik itu bisa menyabotase mobilku," sahut Aozora.
"Tapi untuk lebih aman, sebaiknya kamu hubungi dulu supir kamu itu. Takut tadi, supirmu sempat meninggalkan mobil, entah ke toilet atau beli minuman. Dan di saat dia pergi, mama tirimu itu pun bereaksi,"
Aozora terdiam sejenak, mempertimbangkan saran yang diberikan oleh Hanum. Wanita itu pun kemudian kembali mengeluarkan ponselnya dari tas dan menghubungi supirnya.
"Pak, di mana?" tanya Zora tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Di mobil, Non,"
"Tadi, apa Bapak ada meninggalkan mobil?" tanya Aozora lagi.
"Tidak sama sekali, Non. Dari Non Aozora keluar dari mobil aku sama sekali tidak beranjak pergi," sahut supir itu meyakinkan.
"Bapak tidak bohong kan?" tanya Aozora memastikan.
"Sumpah, Non, aku tidak bohong. Emangnya kenapa, Non?"
Aozora kemudian menceritakan apa yang dia dengar dari Hanum.
"Coba bapak periksa dulu, apa mobil kita aman-aman saja atau tidak?"
"Baik, Bu!"
Aozora sama sekali tidak mematikan panggilan. Dia dengan sabar menunggu supirnya untuk melakukan pemeriksaan pada mobilnya.
"Non!" terdengar suara supirnya dari ujung telepon.
"Iya, Pak. Bagaimana? Apa ada sesuatu yang mencurigakan? Remnya diputus mungkin," tanya Aozora, antusias.
"Semuanya aman, Bu. Tidak ada apapun yang terjadi," sahut supir itu.
"Oh, oke baiklah. Sekarang Bapak tunggu aku di sana. Aku ke sana sekarang!" ucap Aozora sembari memutuskan panggilan.
"Semuanya aman, Num!" ucap Aozora tersenyum.
"Oh, syukurlah! Ya udah kamu pulang saja sekarang. Walaupun aman, kamu harus tetap hati-hati," ucap Hanum.
Aozora menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi. Sementara Hanum, kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Ah, kenapa perasaanku tidak tenang ya. Sebaiknya aku pastikan dulu, Aozora sudah masuk ke dalam mobilnya atau tidak," batin Hanum sembari berjalan ke luar.
Mata wanita itu sontak membesar, terkesiap kaget ketika melihat ada seorang pria yang membekap mulut Aozora dan memaksa wanita itu masuk ke dalam mobil berwarna hitam.
"Aozora!" pekik Hanum berusaha mengejar mobil yang sudah melaju kencang itu
Hanum yang sudah tidak bisa berpikir lagi, langsung menghampiri beberapa tukang ojek online yang sedang mangkal dekat area rumah sakit itu.
"Pak, tolong kejar mobil itu Pak, temanku diculik di dalam mobil itu!" pekik Hanum dengan wajah panik.
"Ayo, Nona, naik!" begitu Hanum naik, motor itu pun langsung melaju kencang mengejar mobil yang membawa Aozora pergi.
Sementara di dalam mobil hitam yang membawa Aozora, tampak seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah Dona, menyeringai sinis melihat Aozora yang tidak sadarkan diri.
"Kali ini aku tidak boleh gagal lagi. Aku tidak mau, usahaku menjual semua sisa perhiasan dan barang-barang mewahku dulu untuk bisa membayar preman-preman ini sia-sia. Dengan Aozora ada di tanganku, aku akan bisa meminta uang tebusan yang sangat besar, dan aku bisa membeli kembali perhiasan dan barang-barang mewahku itu," batin Dona, seraya tersenyum licik.
__ADS_1
Tbc