Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Bab 105


__ADS_3

Baiklah kalau itu mau kamu. Aku transfer sekarang!" ucap Arsen.


"Oh, kamu kira aku bodoh Arsen? Aku tidak mau di transfer. Aku maunya tunai, karena bisa saja begitu Aozora aku kembalikan padamu, kamu membekukan rekeningku,"


"Apa kamu gila? Uang 100 miliar itu sangat banyak, butuh koper besar untuk uang sebanyak itu. Tapi, baiklah aku akan tetap mengabulkannya. Dan aku bisa pastikan kalau dalam setengah jam uang yang jamu minta itu akan ada. Sekarang kamu di mana? Aku akan ke sana untuk mengantarkan uangnya," ucap Arsen.


"Tidak perlu! Kita bertemu di tempat lain saja. Sampai aku mendapatkan uangnya, baru aku memberi tahu di mana Aozora," Dona menyeringai sinis, dan tersenyum puas merasa kalau dirinya sudah sangat pintar bisa membodohi seorang Arsen.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


30 menit kemudian, Arsen mengabarkan kalau uang yang diminta oleh Dona sudah ada. Dona pun tersenyum puas dengan binar di wajahnya, membayangkan uang yang akan dia dapat.


Dona kemudian menghubungi Arsen dan menyebutkan tempat di mana mereka akan bertemu.


"Kamu pergi saja Tante. Aku akan di sini menjaga Aozora," ucap Hanum ketika tatapan wanita paruh baya itu mengarah padanya setelah panggilannya dengan Arsen tadi selesai.


"Apa kamu memang bisa dipercaya?" tanya Dona, yang sepenuhnya belum terlalu percaya pada Hanum.


"Kamu bisanya percaya padaku. Kalau Tante tidak percaya, biarkan anak buat Tante satu tetap di sini bersamaku. Lagian, bukannya tujuanku ingin melenyapkan Aozora? Jadi, setelah Tante mendapat uangnya, Tante langsung kabari saya dan aku akan langsung mengekkusi rencanaku," sahut Hanum, dengan raut wajah meyakinkan.


Dona memicingkan mata kembali untuk sejenak, berusaha untuk membaca ekspresi wajah Hanum. "Baiklah, aku percaya padamu. Sekarang aku pergi dulu," Dona melangkah pergi bersama salah satu orang suruhannya, sementara yang satu lagi dia perintahkan untuk tetap tinggal bersama Hanum.


Sepeninggal Dona, Hanum berpura-pura berdiri di belakang Aozora dan secara perlahan membuka ikatan di tangan Aozora.


"Aku mau buah air kecil dulu. Aku sudah tidak kuat menahannya. Kamu awasi dia!" Hanum tersentak kaget mendengar suara pria yang bersamanya . Saking kagetnya wanita itu terjatuh.

__ADS_1


"Hei, apa yang kamu lakukan? Kamu mencoba melepaskannya ya! Dasar wanita tidak tahu diri! bentak pria itu.


Wajah Hanum sontak berubah pucat dan takut. Wajah pria berotot di depannya terlihat sangat sangar membuat tubuhnya bergetar ketakutan.


Pria itu melangkah menghampiri Hanum. Tatapannya yang tadinya sangar kini berubah tatapan penuh nap*su.


Hanum merengsek mundur dengan raut wajah ketakutan terlebih melihat seringaian penuh nap*su dari pria itu.


Sementara itu, Aozora yang ikatan tangannya sudah terlepas, dengan gerakan cepat langsung membuka ikatan di kakinya. Setelah terlepas, Aozora berdiri. Dan seperti biasa wanita itu akan merasa pusing. Namun, wanita itu berusaha menahan rasa pusingnya demi bisa menyelamatkan Hanum.


Dengan sisa tenaga yang dia miliki, wanita itu mengangkat kursi yang tadi dia duduki, lalu menghampiri pria yang semakin dekat dengan Hanum.


Begitu dekat, dengan sekuat tenaga Aozora memukulkan kursi itu ke kepala Pria itu.


Pria itu sontak terhuyung lalu tersungkur jatuh disertai dengan teriakan kesakitan.


"Ayo, Num!" Aozora meraih tangan Hanun yang masih gemetaran. Kedua wanita itu pun melangkah ke luar meninggalkan pria yang masih menggeliat kesakitan itu.


Namun ketika mereka baru saja mencapai pintu, pria tadi kembali bangun dan sembari memegang ulu hatinya, ia menghambur ke arah Aozora dan Hanum. Namun belum sempat pria itu bisa menggapai Aozora dan Hanum, pria itu tiba-tiba terpental karena kemunculan dua orang pria bertubuh tinggi yang tidak lain adalah pengawal Aozora.


Pria tadi pun sudah tidak bisa bangun lagi dan mengerang kesakitan.


Di saat bersamaan, Daren datang dengan berlari. "Kalian tidak apa-apa?" tanya pria itu dengan ekspresi khawatir.


Aozora dan Hanum dengan kompak menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Syukurlah. Sekarang kita harus meninggalkan tempat ini! Aku akan mengantarkan kalian pulang!" ucap Daren tanpa sadar menuntun Hanum.


"Daren, aku bisa berjalan sendiri!" Dengan pelan, Hanum menepis tangan Daren.


"Kamu bantu Aozora saja. Dan tolong kita bawa dia ke rumah sakit untuk memastikan kandungannya baik-baik saja atau tidak," lanjut wanita lagi.


"Oh, ma-maaf, aku lupa! Aku kirain tadi kamu itu Aozora," ucap Daren, gugup.


Kemudian pria itu mengalihkan tatapannya pada Aozora. " Ayo, Zora," ucap Daren seraya meraih tangan wanita itu.


"Daren aku bisa jalan sendiri. Aku tidak apa-apa. Ayo kita jalan!" tolak Aozora seraya berjalan mendahului.


"Hei, kenapa kamu masih berdiri mematung di sana?" tiba-tiba Aozora kembali berbalik dan menegur Daren yang memang berdiri mematung di tempat dia berdiri.


Daren mengangkat bahunya, lalu mengembuskan napas dengan keras dan sekali hentakan. Kemudian, pria itu menyusul dua wanita itu.


"Yang satu, mantan pacar Arsen. Yang satu lagi istrinya. Dan sekarang dua-duanya akur dan saling menyelamatkan. Benar-benar pemandangan indah. Dua wanita yang mencintai pria yang sama, akur!" gumam Daren seraya melangkah, menyusul dua wanita itu.


Sementara itu, di tempat lain tepatnya di tempat di mana Arsen dan Dona berjanji untuk bertemu, tampak pria tampan itu tersenyum bahagia begitu mendengar kabar dari anak buahnya yang sudah memastikan kalau istrinya baik-baik saja dan sekarang sedang bersama Daren.


"Sekarang, tinggal bagianmu, Wanita sialan! Keserakahanmu akan berakhir akhir ini!" ucap Arsen dengan senyum smirknya.


Sementara tidak jauh dari Arsen berdiri tepatnya di tempat yang sedikit tersembunyi tampak Samudra dan si sampingnya berdiri Aditya. Bersama dengan dua pria itu, tampak juga Amber dan Niko. Sementara polisi yang diminta oleh Arsen untuk didatangkan belum terlihat. Sepertinya para polisi masih di dalam perjalanan. Semua wajah tampak tegang. Hanya wajah Aditya yang terlihat penasaran karena masih bingung dengan ucapan Samudra saat mengatakan Arsen akan membongkar kejahatan Dona di masa lalu.


Ponsel Samudra berbunyi pertanda ada pesan yang masuk. Pria itu pun langsung membuka pesan yang ternyata dari Arsen.

__ADS_1


"Aozora dan Hanum sekarang sudah aman bersama Daren. Kalian jangan khawatir lagi. Tolong sampaikan juga kabar ini pada Mama." Samudra mengembuskan napas lega setelah membaca pesan Arsen itu. Hal yang sama juga dirasakan oleh Amber ketika Samudra menunjukkan pesan Arsen


Tbc


__ADS_2