
Hari yang ditunggu oleh Damian dan Dimas kini sudah tiba. Mereka berdua kini terlihat mengemudikan mobil menuju rumah yang mereka ketahui merupakan kediaman seorang pengacara, bernama Danuar. Pengacara yang mereka ketahui, sekarang merupakan pengacara yang sudah dijadikan Arsen sebagai pengacara keluarga.
Dimas dan Damian sengaja mengajukan cuti untuk hari ini demi bisa mempercepat urusan proses pengurusan dokumen pengalihan nama perusahaan dan aset-aset milik Arsenio ke atas nama Dimas.
Mobil yang dikemudikan oleh Dimas akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar yang tidak lain adalah kediaman Danuar. Dari belakang mobil pria itu juga menyusul sebuah mobil berwarna hitam dan dari mobil itu keluar 4 pria berbadan besar yang tidak lain adalah orang suruhan Dimas yang berhasil kabur sewaktu ketahuan hendak membakar pabrik.
"Kalian semua ikut masuk dan langsung tahan istri pengacara itu. Kalau ada anaknya, kalian juga melakukan hal yang sama, paham kalian!" titah Dimas sebelum melangkah masuk ke kediaman Danuar.
"Baik, Tuan!" sahut empat pria itu hampir bersamaan.
Damian dan Dimas saling silang pandang untuk beberapa saat, dan saling melemparkan senyum licik mereka. Bayangan mereka akan mudah mendapatkan perusahaan Arsen dan menguasai aset-aset pria itu sudah membayang di depan mata mereka.
Kemudian kedua pria berbeda usia itu melangkah bersama menuju pintu masuk rumah di depan mereka. Sementara Ke empat pria suruhan Dimas, itu mengekor dari belakang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Halo Pak Danuar!" sapa Dimas begitu masuk ke dalam rumah.
"Dimas? kamu ...." mata Danuar memicing saat melihat kemunculan Dimas, pria yang dia kenal merupakan mantan kekasih Aozora itu. Detik berikutnya, mata yang tadinya memicing kini membesar sempurna, begitu melihat kemunculan Damian dan 4 pria bertubuh besar di belakang pria paruh baya itu.
"Wah, tenyata Pak Danuar masih mengingatku," ucap Dimas dengan sudut bibir yang membentuk senyuman sinis.
"Tentu saja aku mengingatmu. Ada tujuan apa kamu datang ke sini dan kenapa kamu membawa mereka?" Danuar menunjuk ke arah empat pria berpakaian hitam-hitam itu. Pria paruh baya terlihat tegang.
"Oh, Pak Danuar jangan tegang begitu dong. Santai saja, Pak. Kedatanganku dan papaku ke sini hanya untuk meminta pak Danuar melakukan sesuatu. Dan permintaan kami tidak sulit," ucap Dimas ambigu.
"Jangan banyak basa-basi! Kalian mau minta apa?"sorot mata Danuar kini terlihat sangat tajam.
__ADS_1
"Sepertinya Pak Danuar tidak mau mengobrol-ngobrol santai dulu dengan kami. Baiklah kalau memang itu yang Bapak mau. Aku juga tidak mau berlama-lama lagi. tujuan kami ke sini hanya ingin Pak Danuar mengalihkan nama kepemilikan atas perusahaan dan aset-aset Arsen atas namaku. Itu saja, gampang kan?"sahut Dimas seraya melemparkan map-map berisi surat-surat berharga milik Arsenio itu ke atas meja, tepat di depan Danuar.
"Atas dasar apa kamu memintaku melakukannya? dan bagaimana mungkin kamu begitu percaya diri kalau aku akan melakukan apa yang kamu minta," sahut Danuar seraya tersenyum sinis.
Dimas tersenyum smirk dan tanpa menunggu dipersilakan, pria itu pun langsung duduk lalu mengangkat kakinya ke atas meja dengan angkuhnya.
"Hei yang sopan kamu! Turunkan kakimu!" titah Daniar dengan suara yang meninggi.
Dimas lagi-lagi tersenyum smirk, dan sama sekali tidak mengindahkan perintah pengacara itu.
"Pak Danuar, jangan marah-marah dong! Santai saja. Sekarang, aku dan papaku hanya ingin Pak Danuar selaku pengacara Arsen, mau membantu kami melakukan pemindahan nama dari nama Arsen menjadi namaku, pada surat-surat perusahaan dan aset-aset Arsen lainnya!" ucap Dimas dengan santai dan angkuh.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" tantang Danuar menatap Dimas dengan sinis.
"Oh, kalau anda tidak mau, kami punya cara membuat anda mau," kali ini Damian yang buka suara.
"Tadi anda bertanya bagaimana aku bisa percaya diri kalau anda akan bersedia melakukan apa yang aku mau bukan? Tentu saja aku sangat percaya diri Pak Danuar. Apa anda mau melihat bagaimana caraku?" Dimas kembali buka suara, menimpali ucapan papanya.
"Sepertinya anda memang ingin aku melakukan pemaksaan, Pak Danuar. Baiklah kalau itu yang anda mau!" ucap Dimas seraya memberi isyarat pada anak buahnya, melalui matanya.
Dua orang pria berbadan besar itu segera bergerak menaiki tangga.
"Hei kalian mau kemana? Jangan macam-macam!" Danuar terlihat mulai panik. Pria itu hendak berlalu untuk mengejar dua pria tadi. Namun, dua pria yang tersisa langsung bergerak menahan tubuh pengacara itu.
"Hei, brengsek kalian semua! Lepaskan istriku!" pekik Danuar merasa khawatir ketika melihat dua pria tadi membawa istrinya yang masih belum pulih turun ke bawah. Terlihat jelas kalau wajah sang istri sangat pucat dan berada di bawah ancaman dua pria itu.
"Kami akan melepaskan istrimu, Pak Danuar. Tapi, seperti yang kami kaya tadi, kamu harus mau melakukan apa yang kami mau," ujar Damian, dengan sudut bibir yang ditarik ke atas membentuk senyuman licik.
__ADS_1
"Baiklah, aku bersedia. Tapi lepaskan istriku dulu!" ucap Danuar.
"Tidak Pa! Jangan mau melakukan perintah mereka!" tiba-tiba istri dari Danuar berteriak seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Diam!" bentak Dimas dengan wajah memerah dan tatapan tajam.
"Jangan bentak istriku, brengsek!" Danuar terlihat begitu marah, tidak terima istrinya dibentak.
"Berani sekali anda membentakku! sekarang kalau mau istri anda kami lepaskan cepat lakukan apa yang aku minta. CEPAT!" titah Dimas.
"Kalian kira semudah itu. Butuh waktu untuk melakukan itu semua. Sekarang, kalian lepaskan dulu istriku. Aku pastikan akan melakukan yang kalian minta," ucap Danuar dengan tegas.
Dimas tersenyum smirk dan menurunkan kakinya dai atas meja. Kini pria itu menyilangkan kakinya dan bersedekap.
"Anda kira kami ini orang bodoh Pak Danuar? Kami bawa istrimu dulu sebagai tahanan. Kami akan melepaskannya setelah anda selesai melakukan apa yang kami minta, termasuk bisa mendapatkan tanda tangan Arsen. Kalau anda sudah selesai, kami akan melepaskan istrimu, " ucap Dimas tanpa menanggalkan senyum sinisnya
"Jangan apa-apakan istriku. Tolong biarkan dia tetap di rumah ini! Dia itu sedang sakit, Dimas. Aku janji akan benar-benar melakukan apapun yang kalian minta," kali ini Danuar sudah terlihat lemah. Ya, kelemahan Danuar memang ada pada istrinya itu.
"Kamu tenang saja, Pa danuar. Kondisi istrimu akan aman selama kamu mau bekerja sama dengan kami. Istrimu kami bawa dulu sampai kamu menyelesaikan apa yang kami minta." ucap Dimas.
Dimas kemudian menoleh ke arah anak buahnya. "Kalian bawa wanita itu dari sini. Dan kalian bisa melepaskannya, setelah aku perintahkan. Paham kalian!" titah Dimas.
Namun anehnya empat pria itu sama sekali tidak mau bergerak dari tempat mereka berdiri. Hingga membuat wajah Dimas memerah, karena marah.
"Apa lagi yang kalian tunggu! Cepat bawa wanita itu dari sini!" suara Dimas kini semakin meninggi. Namun lagi-lagi empat pria itu tidak mau bergerak dari tempat mereka berdiri.
"Mereka tidak akan mematuhi perintahmu, Dimas!" tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang terdengar dari arah pintu.
__ADS_1
Dimas dan Damian sontak melihat ke arah pintu. sudut alis mereka tertarik ke atas, demikian juga dengan rahang bawah tertarik ke bawah, terkesiap kaget, begitu melihat sosok yang baru saja datang.
Tbc