Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Bab 100


__ADS_3

"Apa yang kamu cari?" tanya Aditya pura-pura tidak tahu, ketika melihat Dona istrinya yang sibuk mencari sesuatu di laci.


"Aku cari flashdisk berwarna merah di sini. Apa kamu melihatnya?" tanya Dona dengan tangan yang masih sibuk mengacak-acak isi laci.


"Aku tidak pernah melihatnya. Bahkan aku juga tidak tahu kalau kamu menyimpan flashdisk. Emangnya ada apa di dalam flashdisk itu? Apa ada yang sangat penting di dalamnya?" lagi-lagi, Aditya bersikap benar-benar tidak tahu. Pria paruh baya itu bersikap senatural mungkin, agar istri yang lama-lama sangat menyebalkan baginya itu, tidak curiga.


"Flashdisk itu tentu saja berisi hal penting. Kalau tidak, buat apa aku sampai segusar ini," sahut Dona ketus.


"Emangnya apa sih isinya? dari tadi kamu tidak menjawab pertanyaanku,"


"Isinya photo-photo dan video vulgar Tsania dan Dimas. Aku tadi melihat kalau di ponselku sudah tidak ada. Aku ingat aku sama sekali tidak pernah menghapus photo-photo dan video itu. Aku juga bingung kenapa bisa tidak ada. Makanya aku mencoba untuk mengamankan flashdisknya, karena aku juga sengaja menyimpan di dalamnya,buat cadangan,"jelas Dona.


"Sekarang aku mau tanya, kalau kamu menemukan benda yang kamu cari, kamu mau apa?" Aditya memicingkan matanya saat bertanya. Ekspresi pria itu juga terlihat sedang menuntut penjelasan.


"Ya, aku ingin memanfaatkan video itu sekarang. Rencana A ku sudah gagal, jadi aku harus melakukan rencana B. Aku ingin menyebarkan foto-foto dan video asusila mereka. Aku akan pakai fake akun agar tidak ada yang tahu kalau aku yang melakukannya. Aku akan menyebarkan kalau sebenarnya Tsania itu adalah wanita yang tega. Ia merebut calon suami kakaknya sendiri dengan memanfaatkan tubuhnya," Sudut bibir Dona, tersenyum sinis saat mengutarakan rencana gilanya.


"Dasar gila kamu ya! Kamu harus ingat, yang akan kamu permalukan itu, anak kamu sendiri. Ibu macam apa kamu?" suara Aditya meninggi. Dia begitu murka mendengar rencana gila wanita yang pernah membuatnya lupa diri itu. Dia sebenarnya tahu kalau rencana gila sang istri tidak akan terjadi, tapi entah kenapa dia begitu marah, mengingat kalau wanita di depannya itu punya pemikiran yang tega menjatuhkan anak sendiri.


"Aku memang gila. Dan aku gila karena kalian-kalian juga!" suara Dona tidak kalah tinggi.


"Tadi kamu mengatakan aku tega? kalau tega emangnya kenapa? Tsania juga tega kan ke mamanya sendiri? Awalnya aku masih mempertimbangkan untuk tidak menyebarkannya, tapi begitu tadi dia mau melakukan klarifikasi, demi membantu wanita selingkuhan Dimas itu, aku merasa kalau dia tidak peduli dengan mamanya. Dia bahkan lebih senang mamanya dihujat dibandingkan dengan wanita itu. Jadi stop mendikteku!" lanjut Dona lagi dengan napas yang memburu.


"Arghhhh terserah kamu lah. Aku capek meladeni kamu. Lebih baik aku pergi!" pungkas Aditya seraya berlalu pergi.


"Hei, kamu mau kemana?" teriak Dona.


"Mau mulung. Dari pada di sini aku tidak dapat apa-apa!" sahut Aditya, lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Sepeninggal Aditya, Dona kembali mencoba mencari flashdisk di laci. "Aku ingat betul kalau aku menyimpan flashdisk itu di sini. Tapi kenapa bisa hilang ya? yang di handphoneku juga kemana perginya ya?" Dona menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Terima kasih ya, kamu sudah membantu membersihkan nama baik adikku. Padahal yang terlibat di sini adalah mama kamu," ucap Samudra dengan tulus.


"Sama-sama, Kak. Boleh kan aku panggil Kakak juga?" sebelum melanjutkan ucapannya, Tsania meminta kebenaran lebih dulu Karena mengenai panggilan juga baginya sedikit sensitif.


Samudra tidak langsung menjawab. Pria itu malah membeku terlihat seperti patung. Entah apa yang membuat pria itu seperti itu, hanya dialah yang tahu.


"Kak Sam!" Bella menyikut pinggang Samudra, membuat pria itu tersentak kaget.


"Eh, i-iya boleh kok," sahut Samudera akhirnya.


"Masalahnya sekarang, aku khawatir kalau mama marah dan akhirnya menyebarkan foto-foto dan video asusilaku dengan Dimas dan membuat rumor yang aneh-aneh tentang hubungan kami sebelum kami menikah," Tsania sudah tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya lagi. Wajah wanita itu kini sudah terlihat sendu.


"Kamu tenang saja, itu tidak akan terjadi, karena semua photo-photo dan video itu tadi sudah aku berikan pada Arsen untuk dimusnahkan.Yang ada di handphone mamamu juga sudah terhapus sempurna," jelas Samudra dibarengi dengan senyum tipis.


"Tadinya aku ingin menemui Bella dengan cepat karena khawatir dengan kondisinya. Namun di tengah jalan, Arsen mengabari kalau semuanya sudah teratasi dengan baik. Rencananya aku ingin balik lagi ke kantor, tapi aku melihat papamu sedang memulung di jalanan,"


"Hah? P-papaku memulung?" sambar Tsania dengan cepat.


Samudra menganggukkan kepalanya, membenarkan. "Aku hampiri beliau dan ajak kerjasama. Beruntungnya beliau mau, karena katanya beliau juga sudah jengah dengan semua yang dilakukan mamamu. Jadi, Papamu pulang, dan menghapus semuanya tentang kamu dan Dimas dari handphone mamamu, lalu mengambilkan flashdisk, tempat mamamu menyimpan cadangan photo-photo itu," jelas Samudra.


Tsania mengembuskan napas lega. Namun, walaupun dirinya lega, raut wajah wanita itu masih melukiskan kesedihan, mengetahui papanya jadi pemulung.


"Kenapa, Nia? Apa kamu tidak senang mendengar kabar ini?" Bella buka suara, seraya menaikkan sudut alisnya ke atas.


Tsania lagi-lagi menghela napasnya, dan tersenyum tipis. "Bukan tidak senang. Aku sangat senang, justru sangat bersyukur. Masalahnya aku sedih mengingat papaku yang dulunya gagah dan berwibawa dengan jasnya, sekarang jatuh sejatuhnya jadi pemulung," tanpa bisa dibendung, air mata Tsania punya luruh membasahi pipi putih milik wanita berbadan dua itu.


"Kamu tidak usah khawatir, tadi aku sudah memberikan sejumlah uang yang cukup banyak untuk papamu sebagai imbalan. Awalnya papamu tidak mau terima, karena katanya yang dia lakukan juga untuk anaknya sendiri. Tapi, aku tetap memaksa untuk dia menerimanya. Aku berharap papamu bisa memanfaatkan uang itu dengan baik," tutur Samudra dengan panjang lebar tanpa jeda.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di lain sisi, tepatnya di bawah gedung apartemen yang ditempati Bella, tampak Arsen dak Aozora bersiap hendak masuk ke dalam mobil. Namun belum benar-benar masuk, Niko sudah mencegah lebih dulu.


"Sen, aku mohon agar kamu bantu menjelaskan pada orang tuanya Bella, tentang yang sebenarnya terjadi, agar mereka tidak salah paham!" sepertinya Niko belum puas. Ia masih berusaha untuk meminta Arsen untuk membantunya.


Arsen menyunggingkan senyum. Dan di dalan senyumnya itu mengandung ledekan.


"Sayang, kamu masuk duluan ke mobil, ya!" Aozora menganggukkan kepalanya dan masuk ke mobil. Setelah Arsen menutup pintu mobil, pria itu pun kembali menoleh ke arah Niko.


"Sudahlah Nik. Tidak ada salahnya mencoba. Toh, Bella itu cantik kan?" ucap Arsen, seraya mengerlingkan matanya.


"Bukan masalah cantik. Tapi, dia itu cerewet. Aku bisa pusing kalau bersamanya. Kalau boleh sih, aku ingin yang seperti Aozora. Atau Aozora saja kamu kasih ke aku," Niko mulai menggoda.


"Kamu sudah bosan hidup ya, makanya berani bicara seperti itu? Sekali lagi kamu bicara seperti itu, aku akan robek mulutmu!" tegas Arsen, dengan mata mendelik tajam.


Niko sontak tertawa lepas. Tidak takut sama sekali dengan tatapan sahabat sekaligus atasannya itu.


"Oh ya, jangan sok jual mahal, tidak menginginkan Bella! karena yang aku lihat, kalau sebenarnya kamu sudah mulai menyukainya, iya kan?" tukas Arsenio dengan sangat yakin.


"Jangan sok tahu! Bagaimana mungkin kamu bisa yakin aku menyukai si cerewet itu?" sangkal Niko dengan cepat.


Arsen berdecih dan tersenyum mengejek. "Aku yakin kalau aku tidak salah menilai. Mataku melihat jelas kalau kamu merasa ada yang kurang ketika Bella tidak masuk kantor. Sudahlah akui saja! Aku dan Aozora pulang dulu ya!" bisik Arsen seraya menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu. Kemudian pria itu berjalan mengitari mobilnya dan langsung duduk di bangku supir.


"Hei, aku belum selesai bicara, Sen. Aku __" belum selesai Niko bicara, mobil yang dikemudikan oleh Arsen sudah melaju meninggalkan asistennya itu.


"Dasar Arsen sialan!" umpat Niko, mengembuskan napas kesalnya.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2