Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Cerita Arsen


__ADS_3

Sementara itu, di tempat lain tepatnya di kediaman Arsen. Pasangan suami-istri yang tidak lain Aozora dan Arsen baru saja tiba di rumah dan langsung masuk ke dalam kamar.


"Ahh, capek!" Arsen langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, dengan cara telungkup.


"Eh, jangan baring dulu! Sekarang waktunya kamu menjelaskan semuanya!" Aozora berusaha menarik tubuh Arsen yang menurutnya sangat berat.


Arsen tiba-tiba berbalik, sehingga membuat Aozora kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat ke dada sang suami.


Mata mereka sontak terkunci. Sumpah demi apapun, walaupun mereka sudah sering bersama dan bahkan sudah melakukan lebih, tetap saja Aozora merasa grogi jika bertatapan lama dengan suaminya itu. Karena Arsen memiliki mata elang yang benar-benar bisa menghipnotisnya.


"Ma-maaf," Aozora mencoba untuk menjauhkan tubuhnya dari sang suami, namun dengan cepat tangan Arsen menangkap kembali tubuh Aozora dan mendekapnya.


"Kamu mau kemana, Hem?" tanya Arsen dengan nada menggoda. Mata pria maskulin itu juga mengerling manja ke arah Aozora, hingga membuat pipi wanita itu merona.


"Tolong singkirkan tanganmu, Mas! Aku mau duduk," mohon Aozora dengan suara yang lirih.


"Kamu baring di dadaku saja, tidak apa-apa. Kamu tenang saja, aku tidak akan memakanmu, meskipun aku sangat menginginkannya. Tapi kalau kamu bersedia sih, aku nggak masalah!" goda Arsen lagi.


Aozora berdecih dan kembali berusaha lepas dari Kungkungan suaminya. Namun lagi-lagi wanita itu harus menyerah karena dia kalah tenaga.


Keheningan seketika tercipta di antara mereka berdua. Arsen terlihat memejamkan matanya, dan Aozora meletakkan kepalanya ke dada pria itu. Namun, detik berikutnya, Aozora kembali mengangkat kepalanya dan berusaha membuka mata suaminya.


"Mas, buka matamu. Jangan tidur! Kamu belum memberikan aku penjelasan tentang aku yang wanita di masa kecilmu. Jangan membuatku penasaran!" Aozora memaksa membuka mata Arsen dengan tangannya.


Merasa tidak bisa lagi menghindar, Arsen pun membuka matanya, lalu melepaskan pelukannya. Aozora pun menggunakan kesempatan untuk menjauhkan tubuhnya dari pria itu dan duduk di samping Arsen. Arsen pun kini sudah ikut duduk dan menghadap ke arah Arsen.


"Kita ini dulu satu sekolah di SD, walaupun hanya sebentar. Aku di sekolah itu sampai di kelas 3 saja. Kita berdua berbeda kelas, aku kelas tiga sedangkan kamu baru kelas satu. Kita pernah berkenalan, tapi aku tidak tahu pasti kamu masih mengingatnya atau tidak. Aku sering dipanggil Nio, apa kamu mengingatnya?" Arsenio memulai ceritanya.


"Nio?" Aozora mengernyitkan keningnya, berusaha mengingat nama yang baru disebutkan pria itu.


"Iya, namaku kan Arsenio, tapi dulu aku tidak suka dipanggil Arsen, apalagi hanya 'Sen'. Karena dulu aku merasa kalau Sen itu menyebutkan jumlah uang yang yang paling kecil. Makanya aku tidak suka. Selain itu aku merasa kalau panggilan Nio itu lebih keren," ucap Arsen, kembali melanjutkan penjelasannya


Aozora mengernyitkan keningnya, lalu menggaruk-garuk dagunya. Dia sama sekali masih belum paham, arah pembicaraan Arsen.

__ADS_1


Arsen mengembuskan napas, paham dengan ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh istrinya itu.


"Baiklah, akan aku jelaskan sedetail-detailnya. Aku harap setelah ini kami benar-benar mengerti," pungkas Arsen.


Flashback


Di sebuah sekolah elit, yang hampir 90 persen penghuninya dari kalangan atas, tampak sedang ramai oleh anak-anak yang sedang bermain di lapangan, karena memang posisinya sedang jam istirahat.


Namun, di antara anak-anak itu, ada seorang anak laki-laki yang duduk diam saja di bawah rindangnya pohon, menonton anak-anak yang sedang bermain sepak bola. Anak laki-laki itu sepertinya sangat ingin ikut bermain, tapi tidak ada sama sekali yang mau mengajaknya, karena postur badannya yang gemuk. Ya, anak laki-laki itu adalah Arsenio. Anak yang wajahnya menggemaskan, tapi memiliki postur yang gemuk, berbeda dengan teman-temannya.


Saat sedang asik menikmati tontonan bola, salah satu dari siswa yang bermain bola itu, sengaja menendang bola ke arah Arsen dan tepat mengenai kepalanya. Arsen kecil sontak meringis karena merasakan sakit dan pusing di kepalanya.


"Hei, anak kingkong, tendang bolanya ke sini!" titah anak yang menendang bola tadi.


Dengan menahan rasa sakit, Arsen mencoba menendang, namun tendangannya meleset. Bahkan kakinya tidak menyentuh bola sama sekali. Anak laki-laki itu hanya menendang angin'.


Kejadian itu, sontak membuat Arsen ditertawakan oleh anak-anak yang ada situ dan tidak sedikit yang menyoraki dengan kata ejekan.


"Dasar gajah!


"Dasar sapi!"


Banyak hinaan yang dilontarkan padanya, yang tentu saja tidak jauh dari bentuk tubuhnya. Hinaan-hinaan yang dilontarkan anak-anak itu, membuat Arsen ingin menangis, namun dia berusaha untuk menahan karena dia tidak ingin terlihat lemah.


"Hei, kalian semua apa-apa sih? Kenapa suka ngejek-ngejek teman? Benar-benar tidak baik tahu. Emangnya kalian semua sudah sempurna?" tiba-tiba terdengar suara kecil dari seseorang anak perempuan yang menggemaskan dengan rambut yang dikuncir dua. Anak kecil perempuan itu berdiri tepat di depan Arsen dengan menatap garang anak-anak yang mengejek Arsen.


"Hei, kamu sok berani deh!"ucap seorang anak kecil yang memiliki kulit coklat, sawo matang khas Indonesia.


"Aku tidak takut! Kalian kan yang ngejek-ngejek teman sendiri. Padahal mengejek teman itu kan tidak baik," anak kecil perempuan itu terlihat tidak takut sama sekali.


"Hei, kamu sepertinya anak kelas satu ya? Beraninya kamu sama kami. Sana pergi! Kalau tidak kami akan memukulmu!"


"Kalian kira aku takut? Aku nanti akan ngadu ke guru," anak perempuan itu terlihat menantang, membuat nyali anak-anak itu sedikit ciut mendengar ancaman yang dilontarkan oleh adik kelas mereka itu.

__ADS_1


"Kalian ini katanya sudah sekolah, tapi tidak tahu membedakan yang mana manusia, yang mana, binatang. Kakak ini manusia bukan binatang seperti yang kalian panggil tadi," lanjut anak perempuan itu.


"Ah, ayo teman-teman kita pergi saja dari sini. Kita lanjut main bola saja," akhirnya karena merasa tidak bisa adu mulut dengan anak perempuan itu, sekaligus takut dilaporkan ke guru, anak-anak yang tadi mengganggu Arsen itu pun memilih untuk beranjak pergi.


Setelah anak-anak lain itu menjauh, anak perempuan itu berbalik dan menatap Arsen dengan senyum manisnya.


"Sudah, Kak. Mereka sudah pergi. Lagian kakak harus berani melawan, jangan diam saja," ucap akan perempuan itu tanpa menanggalkan senyumnya.


"Terima kasih, ya!" sahut Arsen, berusaha untuk tersenyum. Senyum yang mirip seperti seseorang yang sedang meringis.


"Sama-sama, Kak!" anak perempuan itu, kembali melemparkan senyum termanisnya.


"Oh ya, aku Nio. Aku kelas tiga dan kelasku di sana. Kalau kamu namanya siapa?" tanya Arsen.


"Namaku __"


"Rara!" belum sempat anak perempuan itu menyebutkan namanya, terdengar seorang wanita memanggil anak perempuan itu.


"Eh, itu mamaku! Aku pulang dulu ya, Nio,bye!"


"Pulang? Bukannya belum jam pulang?" tanya Arsen sebelum Rara kecil beranjak pergi.


"Hari ini aku lebih dulu pulang, karena lagi ada acara keluarga. Aku pulang dulu ya! Bye!" Rara kecil melambaikan tangannya, lalu berlari ke arah mamanya.


Arsen mengernyitkan keningnya, melihat wanita cantik yang dipanggil mama oleh Rara barusan. Ia merasa sering melihat wanita itu.


"Oh iya, itu kan Tante Sekar, temannya Mama. Jadi dia anaknya Tante Sekar?" gumam Arsen seraya tetap menatap ke arah perginya ibu dan anak itu.


"Rara? Jadi namanya Rara?" gumam Arsen.


Flashback end


tbc

__ADS_1


__ADS_2