
"Itu ada klinik. Kalau sudah ada USG nya, berarti ada dokternya. Kita periksa di situ aja!" Aozora menunjuk ke arah tempat yang bertuliskan klinik ibu dan anak Pelita.
"Nggak! Kita harus tetap ke rumah sakit. Aku tidak mau kena maki sama suami nanti," tolak Daren tegas, sembari tetap mengemudi mobilnya.
"Kalau ke rumah sakit tempat kamu, kejahuan Daren. Lagian klinik itu juga ada dokternya. Please kita periksa di sini saja!" Aozora memasang wajah memelas.
Daren memejamkan matanya sekilas, lalu menghela napasnya. Kemudian, pria itu memutar balik mobilnya untuk kembali ke klinik yang sudah sedikit terlewat.
Setelah mobil berhenti, Aozora pun turun ditemani oleh Hanum. Lalu kedua wanita itu melangkah masuk, sementara Daren juga menyusul ikut masuk untuk memastikan ada dokter atau tidak.
Seperti bisa, kalau di klinik kedatangan kita akan langsung disambut oleh admin yang biasanya ada basic pendidikan dari kesehatan. Demikian juga dengan Aozora, Hanum dan Daren.
Beruntungnya dokter yang memang dokter kandungan ada di tempat, dan juga tidak ada antrian. Aozora, langsung dipersilakan masuk ke ruangan dokter untuk langsung dilakukan pemeriksaan, sementara Daren menunggu di luar.
Tidak perlu menunggu lama, akhirnya pemeriksaan sudah selesai, dan hasilnya semua baik-baik saja. Bibir Aozora akhirnya full senyum dan wanita itu. bisa bernapas lega. Hal yang sama juga dirasakan oleh Hanum. Wanita itu sekarang bisa bernapas lega mendengar sendiri kaya dokter tadi.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Daren begitu Aozora dan Hanum ke luar dari dalam ruangan dokter tadi.
"Semuanya baik-baik saja, iya kan, Num?" Aozora menoleh ke arah Hanum meminta pendapat.
Hanum tersenyum dan menganggukkan kepala, mengiyakan.
"Tuh, kamu sudah lihat kan kalau aku baik-baik saja? Kalau kenapa-napa, perutku juga pasti akan terasa sakit," ucap Aozora.
"Ya Udah. Kalau begitu, mari aku antar kamu pulang," pungkas Daren to mau berdebat dengan istri dari sahabatnya itu.
"Aku tidak mau? Aku mau kamu membawaku ke Arsen," tolak Aozora.
"Tidak! Nanti __"
"Permisi, bidan Desi ada?" belum sempat Daren menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba dari arah pintu masuk, tampak dua orang pria bertubuh tinggi dan terlihat gagah dengan jas hitamnya, muncul dan berdiri di ambang pintu.
"Kalian?" Aozora mengernyitkan keningnya melihat dua pria yang merupakan pengawal yang diperintahkan suaminya untuk menjaganya selama ini.
"Iya, Nona Zora!" dua pria itu sebenarnya kaget dengan keberadaan istri dari tuan mereka ada di tempat itu, tapi mereka dengan cepat bisa menguasai keadaan, hingga mereka kini sudah bisa bersikap biasa. Bahkan nada bicara mereka sama sekali tidak terdengar gugup.
__ADS_1
"Untuk apa kalian berdua ke tempat ini? Dan kenapa kalian mencari bidak Desi?" alis Aozora semakin bertaut, menyelidik.
"Maaf, Nona. Ini bukan tanah kami untuk memberitahukan pada anda. Kami hanya diperintahkan oleh Tuan Arsen untuk menjemput bidan yang namanya Desi yang setelah diselidiki lama, baru-baru ini bekerja di sini," sahut salah satu dari anak buah Arsen itu.
"Mas Arsen menyuruh untuk menjemput bidan Desi? Untuk apa? Apa dia __"
"Jangan pikir yang aneh-aneh! Tidak mungkin Arsen melakukan hal seperti yang kamu pikirkan itu!" celetuk Daren, seakan mengerti apa yang dipikirkan oleh Aozora.
"Emangnya apa yang aku pikirkan? Sok tahu kamu!" Aozora mengerucutkan bibirnya.
"Kamu kira aku sebodoh itu, nggak tahu apa yang kamu pikirkan? Kamu pasti mengira ada wanita lain, yang mengandung anak Arsen diam-diam dan sekarang akan melahirkan. Jadi, Arsen memanggil bidan untuk menolong persalinan wanita itu, iya kan?"
Aozora terdiam tidak membantah sama sekali karena memang, wanita itu sempat berpikir seperti itu. Tapi, setelah dia ingat kalau suaminya itu sekarang sedang berhadapan dengan Dona mama tirinya, Aozora pun langsung menepis kecurigaannya.
"Tuan, ini bidan Desi!" salah seorang perawat yang tadinya, sempat masuk untuk memanggil bidan bernama Desi, sekarang sudah muncul kembali, bersama dengan seorang wanita yang usianya tidak lagi muda. Mungkin hanya berbeda beberapa tahun dengan mamanya Aozora.
"Ada apa mencariku, Tuan?" bidan bernama Desi itu bertanya dengan kening berkerut karena merasa tidak mengenal siapapun orang-orang yang sedang mencarinya itu.
"Kami diminta oleh Tuan kami untuk menjemput anda, yang berkaitan dengan peristiwa 27 tahun yang lalu di rumah sakit Permata. Sekarang anda ikut kami, tidak ada penolakan!" sahut salah satu anak buah Arsen itu dengan tegas.
"Baiklah, aku ikut kalian. Sebenarnya aku datang ke kota ini lagi, untuk menemui wanita itu dan mengakui semuanya," ucap bidan Desi dengan raut wajah sendu.
Sementara Aozora, semakin terlihat bingung mendengar pembicaraan antara wanita paruh baya berprofesi bidan itu dengan dua pengawalnya.
"Non, kami pamit pergi dulu!" sebelum beranjak pergi dua pria itu lebih dulu membungkukkan badan mereka ke arah Aozora.
"Ayo!" dua pria itu melangkah lebih dulu, dan diikuti oleh bidan itu.
"Tunggu, aku ikut kalian!" cegah Aozora dengan cepat.
Dua pria itu sontak menghentikan langkah dan berbalik. "Tapi ,Non. Nanti __"
"Kalian tenang saja. Nanti aku yang akan bicara pada suamiku. Kalian tidak akan kena marah," ucap Aozora meyakinkan.
"Ayo Daren, kita ikut mereka!" Aozora menoleh ke arah Daren.
__ADS_1
"Tidak bisa! Aku tidak mau terkena murka suami gila mu itu. Ayo, aku antarkan kamu pulang sekarang!" Daren dengan tegas menolak ajakan Aozora.
"Kalau kamu tidak mau, ya udah. Aku akan ikut mereka," pungkas Aozora sembari melangkah pergi. Sumpah demi apapun, Aozora benar-benar penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ya udah, ya udah. Aku ikut kamu. Tapi, aku hubungi Arsen dulu!" pungkas Daren akhirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di tempat yang berbeda tepatnya di tempat Arsen sedang berhadapan dengan Dona, tampak senyum smirk khas pria itu, menghiasi bibir pria itu, melihat ekspresi kaget dari wanita paruh baya itu melihat kemunculan Aditya suaminya dengan tiga orang lainnya yakni Samudra, Amber dan Niko.
"Papa? Kenapa kamu bisa ada di sini?" ucap Dona dengan mata yang membesar.
"Aku dibawa oleh Nak Samudera atas permintaan Arsen. Aku penasaran kejahatan apa yang ingin mereka bongkar dan aku tidak tahu sama sekali," sahut Aditya.
"Emangnya, kejahatan apa? Aku sama sekali tidak pernah berbuat apapun yang tidak kamu tahu," ucap Dona berusaha untuk tetap terlihat biasa saja. Namun, sumpah demi apapun, hati wanita itu sudah sangat tidak tenang sekarang. "Apakah yang dimaksud Arsen, kejahatanku yang itu? Ahhh, tapi tidak mungkin Arsen bisa tahu masalah itu. Selain sudah bertahun-tahun semua bukti sudah aku hancurkan," batin Dona, menenangkan dirinya sendiri.
"Oh ya? Jadi benar anda tidak merasa kalau tidak ada kejahatan yang anda sembunyikan dari suamimu sendiri? Baiklah, mungkin anda lupa. Aku akan membantumu ingat sebentar lagi. anak buahku akan datang membawa tiga orang yang membuat kamu ingat dengan kejahatan kamu itu,"
Wajah Dona semakin pucat mendengar ucapan Arsen, walaupun bayangan wajah tiga orang yang disebut oleh Arsen itu masih abu-abu di kepalanya.
Di saat ponselnya berbunyi, Arsen mengalihkan pandangannya sejenak dari Dona. Ia pun merogoh ponselnya dan melihat Daren menghubunginya.
"Ada apa? istri dan anakku baik-baik saja kan?" tanya Arsen to the point.
"Iya, mereka berdua baik-baik saja. Masalahnya sekarang, dia ingin ke tempat kamu sekarang, apakah boleh?" Daren kemudian menceritakan alasan kenapa Aozora bersikeras untuk ikut ke tempat Arsen sekarang berada
"Baiklah, kalian datang saja ke sini. Karena dia juga berhak tahu dengan apa yang terjadi sebenarnya. Tapi, benar dia dan anakku tidak kenapa-napa kan?" tanya Arsen, memastikan.
"Aku dan anakmu tidak apa-apa, Mas. Kamu tenang saja!" sepertinya handphone Daren kini sudah berpindah tangan ke Zora istrinya.
"Baguslah kalau begitu! Kalian ikut saja ke sini!" pungkas Arsen akhirnya.
"Tapi, tolong hati-hati bawa mobil, Daren. Jangan sampai istri dan anakku kenapa-napa," lanjut Arsen lagi.
"Iya, kamu tenang saja. Aku akan memperlakukan istri dan anakmu seperti kaca yang mudah pecah. Aku akan hati-hati agar tidak pecah. Puas kamu!" ucap Daren, keki.
__ADS_1
Tbc