Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
bab 116


__ADS_3

Hari-hari yang ditunggu oleh Arsen dan Aozora kini sudah tiba. Di mana hari ini adalah perayaan resepsi pernikahan mereka. Awalnya, Arsen ingin menunda, mengingat istrinya yang sedang hamil. Namun, Aozora berusaha meyakinkan suaminya itu, kalau dia baik-baik saja.


Ruangan ball room hotel tempat diadakannya resepsi kini sudah terlihat mulai ramai, karena para tamu sudah mulai berdatangan. Kurang dari lima menit lagi acara akan segera dimulai.


"Sayang, kenapa sih kamu cantik sekali? Kalau sudah begini, rasanya aku ingin membawamu langsung ke kamar dan memakanmu," bisik Arsen tepat di telinga Aozora. Embusan napas Arsen dan bau mint yang tercium dari mulut suaminya itu, mendatangkan sensasi indah, hingga membuat bulu kuduk Aozora meremang.


"Apaan sih, Mas. Jangan yang aneh-aneh deh. Aku tidak ingin acara ini rusak karena pikiran me*summu," Aozora mendelik tajam ke arah Arsen, yang tentu saja dibalas dengan kekehan dari pria itu.


Tidak menunggu lama lagi, terdengar suara MC yang mengumumkan kalau acara akan segera dimulai. Terdengar juga, MC memerintahkan pasangan suami istri itu untuk memasuki ruangan.


"Selain mama, istriku dan tukang cukur, hari ini aku terpaksa harus mau menuruti perintah seorang MC. Ayo, masuk, Sayang!" ucap Arsen, membuat Aozora terkekeh geli.


"Tapi, cukup hari ini aja dia perintah-perintah aku. Dia suruh masuk, aku masuk. Dia suruh duduk, aku akan duduk. Tapi, besok-besok aku tidak mau diperintah dia lagi," Arsen masih asik berceloteh, walaupun sekarang dirinya dan Aozora sudah berdiri di ambang pintu.


Sementara itu, Aozora sudah tidak fokus lagi mendengar ocehan suaminya, karena pemandangan di depan matanya lebih menarik dibandingkan dengan ocehan sang suami.


Bagaimana tidak, dekorasi pilihan sang suami terlihat sangat indah, bak berada di negeri dongeng. Dekorasi resepsi mereka benar-benar sesuai dengan apa yang dia impikan selama ini.



"Mas, ini benar tempat resepsi kita?" tanya Aozora dengan tatapan berbinar mengitari segala penjuru ruangan.


"Menurutmu? Apa kamu menyukainya?" bisik Arsen.


Aozora menoleh ke arah Arsen dan menganggukkan kepala, mengiyakan.


"Tidak ada alasan untukku tidak menyukainya. Tempat ini benar-benar terlihat amazing sekarang. Dan ini seperti yang aku impikan selama ini. Terima kasih ya, Mas!" ucap Aozora dengan mata yang berembun.


Arsen tersenyum dan membawa tangan Aozora ke bibirnya. "Aku senang kalau kamu benar-benar menyukainya, Sayang. Sekarang, ayo kita lanjut jalannya. Di depan sana kamu juga akan melihat sesuatu yang sangat indah," ucap Arsen, membuat mata Aozora semakin berbinar, penasaran.


Keduanya pun kini melangkah diiringi lagu 'I wanna grow old with you' dan juga tepuk tangan dari para tamu undangan.

__ADS_1


Sesampainya di panggung, benar saja Aozora semakin kaget dan terpesona melihat dekorasi pelaminan yang sangat indah. Bak sebuah sayap bidadari.



Di depan pelaminan tepatnya di bagian kanan tampak juga wedding cake raksasa berbentuk sebuah istana yang didesign sangat indah.



"M-Mas ini semua kamu yang buat?" tanya Aozora dengan suara bergetar.


"Bukan. Tapi, Wedding organizer. Tidak mungkin aku yang buat, karena aku tidak sehebat itu. Tapi, tentu saja idenya dariku," sahut Arsen, merasa bangga melihat kalau istrinya sepertinya sangat menyukai kejutan yang dia buat.


"Aku pun tahu kalau bukan kamu yang buat ini semua, karena itu tidak mungkin. Yang aku tanya itu ya, apa ini ide kamu atau tidak," cetus Aozora seraya mengerucutkan bibirnya.


Di lain sisi tepatnya di barisan kursi tamu tampak Dinda yang merasa risih duduk di antara keluarga besar Samudra. Terlebih tatapan Bella yang terlihat seperti kesal kepadanya. Kesal karena apa, wanita berparas manis itu tidak tahu. Hanya Samudra yang tahu, apa yang membuat adiknya itu kesal.


"Mas, kenapa Bella menatapku seperti itu? Apa dia tidak menyukaiku? Kalau iya, sepertinya kamu batalkan saja niatmu untuk melamarmu," bisik Dinda, yang merasa benar-benar terganggu dengan tatapan Bella. Apalagi akhirnya dia tahu kalau wanita itu ternyata bukanlah adik kandung dari Samudra. Bukan bermaksud berpikiran negatif, tapi dia tidak bisa memungkiri kalau dirinya takut, kalau Bella ternyata memiliki perasaan cinta pada Samudra, sebagai mana layaknya seorang wanita pada laki-laki, bukan perasaan antara kakak dan adik.


"Apa yang kalian berdua bisik kan? Kalian lagi membicarakanku ya?" celetuk Bella dengan mata memicing, curiga.


"Idih, emangnya sepenting apa kamu, sampai kami berdua membicarakanmu? Kami hanya membahas bagaimana dekorasi pernikahan kami nanti. Karena Dinda sangat mengagumi dekorasi ini. Kamu juga sebaiknya sudah mulai membicarakan seperti yang kami bicarakan dengan Niko. Kasihan dia dari tadi kamu anggurin," elak Samudra, yang dengan sengaja menyisipkan sebuah ledekan.


"Yang enak itu makan buah anggur, kalau dianggurin, nggak enak. Iya kan, Niko?" lanjut Samudra lagi, membuat Niko yang duduk tepat di samping Bella langsung gelagapan.


"I-iya," sahut Niko refleks seakan mengamini pernyataan Samudra.


"Aku izin ke toilet dulu ya, Mas. Tante, Om," Dinda buka suara dan berdiri dari tempat duduknya.


"Aku juga," ucap Bella, berdiri juga dari tempat dia duduk dan menyusul Dinda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Baru saja Dinda keluar dari dalam toilet setelah menuntaskan hajatnya, wanita itu langsung dihadang oleh Bella.


"Ada apa, Bel?" Dinda menautkan kedua alisnya.


"Aku mau tanya, kenapa kamu dan Kak Samudra tiba-tiba memutuskan untuk menikah? Apa yang sudah dijanjikan oleh Kakakku itu padamu?" mata Bella memicing curiga.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu sedang mencurigai kakakmu sendiri, atau kamu sedang curiga padaku?" Dinda balik bertanya.


"Kenapa kamu malah tanya balik sih? Kamu harusnya tinggal jawab. Tidak susah kan?" ucap Bella ketus. Sumpah demi apapun, wanita itu benar-benar memiliki rasa takut kalau wanita yang dia tahu sekretaris kakaknya itu, mau menikah dengan sang kakak hanya demi harta, bukan karena cinta. Jadi, sebagai seorang adik, ada baiknya dia bersikap waspada agar sang kakak tidak merasakan sakit nantinya jika tahu wanita yang dia nikahi tidak pernah mencintainya.


Dinda menghela napas dan helaan napasnya terdengar sangat berat. "Bella, aku justru tidak tahu apa alasan kakakmu itu tiba-tiba mau menikahiku. Aku sudah menolak, tapi kakakmu tetap memaksa. Bahkan dia sudah mengutarakan niatnya pada kedua orangtuaku. Melihat wajah papa dan mamaku yang bahagia, aku menerima lamaran kakakmu, karena tidak ingin papa mamaku kecewa. Tapi, sumpah demi apapun, Kakakmu tidak pernah menjanjikan sesuatu dan aku juga tidak pernah meminta apapun pada kakakmu," jelas Dinda panjang lebar, tanpa jeda.


"Emm, jadi Kak Samudra sendiri yang meminta wanita ini jadi istrinya? Kalau sudah begitu, itu berarti Kak Samudra menganggap wanita ini istimewa," bisik Bella pada dirinya sendiri.


"Sekarang aku mau tanya. Apa kamu keberatan kalau aku menikah dengan kakakmu? Kalau iya, kenapa? Apa karena kamu menaruh perasaan pada kakakmu itu?" kini Dinda balik bertanya dengan beruntun.


"A-apa maksudmu? bagaimana mungkin kamu bisa mengatakan kalau aku ...."


"Karena aku sudah tahu, kalau kamu dan mas Samudra bukan saudara kandung. Bisa saja kan kamu__"


"Jangan asal bicara! Aku menyayangi Kak Samudra murni sebagai seorang adik. Walaupun kami tidak sedarah , aku sudah menganggap dia kakak kandungku," sangkal Bella dengan cepat. "Aku hanya tidak ingin Kakakku menikah dengan wanita yang hanya mengincar uangnya, itu saja. Lagian kamu kan lihat sendiri kalau aku sudah punya calon suami," sambung Bella lagi.


Dinda tersenyum kalem. "Tapi, yang aku lihat sepertinya kamu dan Pak Niko seperti orang asing. Kalau kamu memang menyukai mas Samudra, aku tidak apa-apa kok, Bel. Aku bisa __"


"Eh, tidak, tidak! aku tidak mencintai kak Samudra selayaknya seorang wanita pada laki-laki. Aku berani bersumpah untuk itu!" sangkal Bella lagi dengan sangat meyakinkan. Karena pada kenyataannya, memang seperti itu. Dia hanya takut sang kakak mendapatkan wanita yang salah.


"Untuk masalah hubunganku dengan Niko, yang kamu lihat tadi itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Kami hanya punya sedikit masalah tadi, makanya sedikit canggung," lanjut Bella lagi, terpaksa berbohong guna meyakinkan Dinda.


"Sekarang aku percaya kamu, bukanlah wanita yang hanya mengincar uang Kakakku. Aku minta agar kamu bisa mencintai Kakakku dengan tulus ya," Bella akhirnya melemparkan senyum termanisnya untuk pertama kali pada Dinda.


"Sekarang, ayo kita kembali. Kalau kita kelamaan di sini mereka nanti semua akan kecarian," ucap Bella lagi, seraya meraih tangan wanita yang sebentar lagi akan jadi kakak iparnya itu.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2