
Hanum melangkah dengan anggun, memasuki lobby perusahaan yang dulu hampir setiap hari dia datangi. Tempat itu tidak lain adalah perusahaan Arsenio.
Wanita itu begitu dia masuk, sudah banyak karyawan yang berbaris rapi dan menatapnya dengan tatapan yang berbeda-beda. Di barisan para karyawan itu juga tampak ada Niko yang dia ketahui asisten pribadi Arsen
"Wah, apa mereka sudah melihatku tadi begitu keluar dari mobil dan langsung berbaris menyambutku? ini pasti ide Niko. Dia pasti yakin kalau Arsen sangat mencintaiku dan ingin melakukan penyambutan untuk wanita yang dicintai sahabatnya itu," batin Hanum yang begitu bahagia dan merasa punya kesempatan untuk mendapatkan Arsen kembali dengan memanfaatkan rasa sayang para karyawan-karyawan itu padanya.
"Hanum, kamu sudah kembali? Untuk apa kamu ke sini?" tanya Niko dengan mata menyipit.
"What? tidak salah dia bertanya seperti itu? bukannya seharusnya dia sudah tahu, makanya dia mempersiapkan penyambutan ini? Atau pemikiranku kalau ini semua dia yang lakukan, salah?" bukannya menjawab pertanyaan Niko, Hanum malah sibuk bermonolog pada dirinya sendiri.
"Kenapa Mbak Hanum datang lagi ya? Bukannya Pak Arsen sudah menikah dengan Mbak Aozora?" terdengar bisikan salah satu karyawati kepada rekannya.
"Iya kan? Kalau kamu lebih dukung siapa?" bisik yang lainnya.
"Kalau aku sih, tim istri sah. Walaupun mbak Hanum baik sama kita selama ini, tapi kan Mbak Aozora juga baik. Dia tidak sombong dan selalu memberikan kita semangat untuk bekerja. Dan lagi ... Mbak Aozora tetap menerima dan merawat Pak Arsen waktu koma dan lumpuh,"
"Iya juga ya? Takutnya Mbak Hanum muncul lagi karena tahu Pak Arsen sudah sembuh. Kalau iya, itu berarti, Mbak Hanum hanya mau senangnya saja," sahut yang lainnya.
"Ah, pokoknya kalau mbak Hanum sampai macam-macam, kita harus melindungi Mbak Zora dari pelakor. Ingat, dia sudah berjasa membiarkan kita tetap bekerja di perusahaan ini, padahal kita sudah berbicara jelek tentangnya. Kalau tidak kita sudah kehilangan pekerjaan saat Pak Niko mau memecat kita," ternyata dua wanita yang sedang berbisik-bisik itu adalah dua wanita yang dulu suka membicarakan Aozora di belakang.
"Apa maksudnya ini semua? Mereka berdua dulu bukannya selalu baik dan ramah padaku? Kenapa sekarang mereka lebih membela Aozora? sepertinya wanita itu sangat pintar mengambil hati karyawan-karyawati di sini. Aku harus hati-hati!" ucap Hanum pelan. Lebih tepatnya dia berbicara pada dirinya sendiri.
"Hanum, kenapa kamu tidak menjawabku?" Niko kembali buka suara, menyadarkan wanita itu dari alam bawah sadarnya.
"Emm, aku ...."
"Nanti saja deh. Sekarang aku mohon untuk tidak berdiri di sana. Tolong kasih jalan untuk Arsen," belum sempat Hanum menyelesaikan ucapannya, Niko sudah kembali menyela.
__ADS_1
"A-Arsen? Gumam Hanum seraya memutar tubuhnya, menoleh ke belakang. Tampak Arsen berjalan dengan tangan yang menggandeng tangan Aozora. Hanum seketika merasa hatinya sakit seperti tertusuk pisau begitu melihat tautan tangan Arsen yang begitu erat di sela-sela jari Aozora.
"Ternyata sambutan ini bukan untukku, tapi untuk Arsen dan Aozora. Apa kamu benar-benar sudah jatuh cinta pada istrimu Sen. Kamu begitu erat menggenggam tangan Aozora, dan hal itu sama sekali tidak pernah kamu lakukan padaku," Hanum menyingkir memberi jalan. Raut wajah wanita itu kini tampak sendu menatap pasangan suami istri itu.
"Selamat datang kembali Pak Arsen!" sambut para karyawan seraya sedikit membungkukkan badan.
"Terima kasih!" sahut Arsen, singkat.
Sementara itu Arsen terlihat biasa saja melihat kehadiran Hanum. Berbeda dengan ekspresi Aozora yang langsung mengernyitkan dahi saat melihat kehadiran Hanum di tempat itu.
"Kenapa Hanum ada di sini? Apa Mas Arsen memintanya datang ke sini?" batin Aozora seraya menoleh ke arah Arsen.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh! Aku sama sekali tidak memintanya ke sini. Aku juga bingung kenapa tiba-tiba dia ada di sini," bisik Arsen, seakan mengerti apa yang ada di pikiran istrinya itu.
"Siapa yang berpikir aneh-aneh? Kamu jangan sok tahu!" Aozora balik berbisik.
Hanum kembali merasakan sakit melihat interaksi yang ditunjukkan oleh Aozora dan Arsen barusan, yang seakan menunjukkan kemesraan.
Tidak menunggu lama, Arsen kemudian mulai menyampaikan hak yang sangat diinginkan dan ingin dicapai agar perusahaan semakin maju. "Aku harap kalian bisa mengerti dan tetap semangat demi kemajuan perusahaan. Sekarang kalian semua boleh kembali bekerja dan sekali lagi aku ucapkan terima kasih!" pungkas Arsen mengakhiri ucapannya.
Semu para karyawan pun mulai membubarkan diri, untuk kembali ke tempat masing-masing. Sementara Hanum masih tetap setia berdiri di tempatnya.
"Hai,Arsen!" Hanum mencoba tersenyum dan menyapa pria yang dicintainya itu.
"Niko, di mana Dimas? Kenapa aku tidak melihatnya tadi?" bukannya membalas sapaannya Hanum, Arsen malah sengaja mengajak Niko untuk berbicara. Hanum pun tersenyum kecut merasa diabaikan.
"Hai, mbak Hanum!" karena tidak tega pada Hanum, akhirnya Aozora yang berinisiatif untuk menyapa wanita itu.
__ADS_1
"Cih, dasar wanita bermuka dua! sok mau menunjukkan di depan Arsen kalau dia baik dengan menyapaku. Padahal aku yakin kalau sekarang dia pasti sedang menertawakanku karena diabaikan Arsen," Hanum membatin seraya tersenyum sinis ke arah Aozora.
"Emm, aku juga tidak tahu, Sen. Padahal jelas-jelas tadi aku sudah menginformasikan kalau semuanya berkumpul di lobby untuk menyambut kedatanganmu, tapi sepertinya dia tidak mengindahkan perintahku," Niko menjawab pertanyaan Arsen.
"Pak Dimas sedang mengerjakan sesuatu hal penting, Pak Arsen, makanya tidak ikut berkumpul di lobby. Tadi dia sudah memintaku untuk menyampaikan pada Pak Niko, tapi aku lupa. Maaf!" tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang tidak lain adalah Bella.
"Jangan mencoba membantu menutupi kesalahan Dimas, Nona Bella! Aku yakin kalau dia memang sengaja tidak mau ikut dalam penyambutan ini," Cetus Niko, menatap sinis ke Arah Bella.
"Saya tidak berbohong, Pak Niko. Pak Dimas memang sedang mengerjakan sesuatu," sahut Bella masih berusaha untuk berbicara dengan sopan. Padahal dalam hatinya dia benar-benar sudah jengkel dengan asisten Arsen itu.
"Sudahlah! Jangan dibahas lagi! Ayo Zora kita ke ruanganku!" Arsen meraih tangan Aozora dan beranjak pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun untuk Hanum.
"Arsen, boleh aku ikut masuk ke ruanganmu! Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan!" Hanum dengan cepat menyusul langkah Arsen dan Aozora.
"Mau bicara apa? Bukannya yang sudah aku katakan kemarin sudah jelas?" ucap Arsen dingin.
"Tapi, yang mau aku bicarakan ini bukan tentang hal kemarin, tapi hal lain. Please izinkan aku ikut masuk ke ruanganmu ya!" mohon Hanum seraya menangkupkan kedua tangannya di depan mukanya.
"Mas, sudahlah! Izinkan saja Mbak Hanum ikut ke ruanganmu! Kasihan Mbak Hanum.Mungkin memang ada yang ingin disampaikannya dan tidak enak di sampaikan di sini," Aozora buka suara, ikut membujuk sang suami.
"Cih, benar-benar wanita bermuka dua! Aku tidak bui rasa kasihanmu!" umpat Hanum yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati.
"Baiklah! Ini karena Istriku yang minta makanya aku membiarkanmu ikut masuk!" pungkas Arsen akhirnya.
Sementara itu, di belakang mereka tampak Niko melirik sinis ke arah Bella.
"Yang kamu katakan tadi bohong kan? Jangan kamu pikir aku tidak tahu kalau dan Dimas ada affair," bisik Niko, seraya tersenyum sinis.
__ADS_1
Tbc