
Selesai cuti,Bu Sarah kembali bekerja dikediaman Alexander.Wajahnya terlihat lebih bersemangat dari sebelumnya,mungkin karena dia baru saja menghabiskan hari liburnya dengan orang orang terkasih.
Anin merasa senang,akhirnya dia bisa bebas dari pekerjaan rumah yang seolah tidak pernah ada habisnya itu.Anin dibayar mahal hanya untuk melahirkan seorang anak,bukan untuk menjadi seorang asisten rumah tangga.
"Nona,apa Anda betah dirumah ini?"Tanya Sarah.
"Lumayan,kalau saja pria tua itu bisa bersikap sedikit manis pada saya pasti saya akan betah tinggal disini,"ucap Anin asal.
"Kalian berdua,sudah lama menjadi suami istri masih saja sering bertengkar!"Sindir Sarah.
"Majikan Anda yang memulainya lebih dulu,"Anin membela diri.
"Nona,mau saya buatkan apa?Teh atau susu hangat?"Tanya Sarah.
"Teh saja,sekalian rotinya ya dua potong ada di kulkas,"pinta Anin.
Selagi Bu Sarah pergi kedapur untuk mengambil minuman dan kudapan,Anin pergi keruang tengah untuk menonton televisi.Anin baru menyadari kalau dirumah sebesar itu tidak ada foto keluarga,mungkinkah hubungan Alex dan keluarganya tidak terjalin dengan baik?Anin mulai berpikir yang macam macam.
Bu Sarah kembali,dia menaruh minuman dan kudapan itu diatas meja.
"Bu,apa pria itu tidak memiliki keluarga?"Tanya Anin penasaran.
"Orangtua Tuan Muda sudah meninggal,dia masih punya seorang paman dan saat ini pamannya itu tinggal di panti jompo,"sahut Sarah.
"Kenapa tidak tinggal dengan Alex saja?Lagi pula Alex tinggal dirumah sebesar ini sendirian,"celoteh Anin.
"Pamannya tidak mau,di panti dia memiliki banyak teman tapi kalau dirumah ini dia kesepian,"jelas Sarah.
"Benar juga,apa lagi Alex jarang ada dirumah,"gerutu Anin lirih.
"Kenapa Nona tiba tiba ingin tau soal keluarga Tuan Alex?"Sarah menatap curiga.Tatapan itu membuat Anin sedikit grogi.
"Ah,saya hanya penasaran saja sedikit,"sahut Anin santai.
"Penasaran atau mulai tertarik dengan pria tua yang tampan itu hah?"Sarah menggoda Nona mudanya.
"Idih,Ibu apa apaan sih.Tentu saja saya tidak tertarik padanya,pria itu terlalu galak untuk saya!"Ucap Anin kesal.
__ADS_1
"Benarkah?"Sarah menatap ragu.Meski hanya sedikit,Sarah bisa menangkap rasa suka di wajah Anin untuk majikanya itu.
"Bu,berhenti menggodaku!"Anin mengomel.Ngeri dengan tatapan mematikan seorang Anin,Bu Sarah akhirnya pergi meninggalkan wanita muda itu seorang diri.
"Aku tertarik pada si bangkok tua?Tidak mungkin!"Gumam Anin dalam hati.
Jenuh tidak melakukan aktifitas lain selain makan,tidur dan main handphone.Anin memutuskan untuk membantu Bu Sarah bersih bersih,kali ini wanita itu mau membersihkan ruangan pribadi dari tuan Alex.Ruangan yang menjadi favorit dari Alex dirumah itu diantara ruangan ruangan yang lain.
Sebenarnya tuan alex tidak pernah mengizinkan orang lain masuk ke ruangan pribadinya itu selain Bu Sarah dan Inggrid mantan istrinya,tapi Anin bukanlah orang lain,Bu Sarah memperbolehkan Anin masuk sekedar untuk melihat lihat.
Ruangan itu terlihat seperti sebuah perpustakaan,memiliki banyak rak kayu yang dipenuhi oleh berbagai jenis buku.Tak hanya itu,sebuah foto pernikahan berukuran besar terpampang jelas disana.Anin sedikit cemburu,jelas sekali kalau suaminya itu belum bisa move on dari mantan istrinya.
"Astaga,apa yang terjadi dengan hatiku?Tolong sadar diri Anin,kamu itu siapa!"Gerutu Anin pada dirinya sendiri.
"Anda kenapa Nona?"Tanya Sarah.
"Ah,saya tidak kenapa kenapa."Sahut Anin sambil menyunggingkan senyum kecil.Senyum untuk menutupi rasa sakit dihatinya karena melihat foto lama Alex dengan mantan Istrinya.
***
"Kakak kenapa?"Tanya Cika.
"Aku sedang kesal pada pria tua itu,"sahut Anin.
"Kesal kenapa?"Tanya Cika lagi.Dia memperhatikan wajah Anin lekat lekat.
"Bisa bisanya dia masih memajang foto mantan istrinya diruang pribadinya,padahal dia tidak memasang foto pernikahan kami.Jangankan diruang tamu,diruang pribadi,atau diruang manapun,dikamar sendiri saja tidak!"Tutur Anin penuh emosi.
"Cie,Kakak.Cemburu ya?"Goda Cika.
"Tidak,Kakak tidak cemburu.Hanya sedikit kesal saja,"celoteh Anin lirih.
"Itulah resiko menikah dengan duda Kak,Kakak harus bisa terima segala konsekuensinya.Sudah lah,jangan terlalu dipikirkan.Yang penting saat ini cinta Kakak Ipar hanya ada untuk Kakak seorang,"ucap Cika sambil menepuk pundak sang Kakak pelan.
"Cinta?Cinta macam apa?Dia bahkan akan menceraikan aku setelah aku berhasil melahirkan seorang anak untuknya.Cika,andai saja aku bisa berkata jujur padamu,"batin Anin.
Alex pulang kerja,dia langsung masuk kedalam kamar.Karena takut mengganggu,Cika melarikan diri dari kamar itu.Melihat wajah Alex secara langsung membuat Anin kesal,dia menyusul Cika keluar kamar dan mengabaikan kepulangan suaminya.
__ADS_1
Alex sedikit bingung,kenapa wajah wanita itu ditekuk dan lecek seperti kardus bekas.Mungkin ada sesuatu yang mengganggunya dirumah ini dan Alex harus segera mencari tahu.
Selesai mandi,Alex langsung mencari Bu Sarah.Dia bertanya tentang aktifitas yang seharian ini Anin lakukan dirumah.Semus terlihat normal dan biasa saja,sampai Bu Sarah bercerita Anin telah membantu Bu Sarah membersihkan ruangan pribadinya dilantai atas.
"Sial,dia pasti melihatnya.Kenapa aku lupa tidak menurunkan foto itu!"Gerutu Alex lirih.
Alex pergi mencari keberadaan Anin,dikamar Cika Anin tidak ada,di taman belakang tidak ada,di dapur juga tidak ada.Kemana perginya wanita itu?Alex mulai kesal.
Lelah mencari,ternyata Anin sedang makan bakso di abang abang gerobak yang sering mangkal didepan rumahnya.Akhirnya Alex memilih untuk duduk di kursi teras sambil menunggu istrinya selesai makan.
Anin nyelonong masuk kedalam rumah,seolah dia tidak melihat Alex sendang menunggunya disana.
"Tunggu,"ucap Alex.Anin menghentikan langkahnya.
"Kamu kenapa?"Tanya Alex to the poin.
"Saya tidak kenapa kenapa,untuk apa Tuan khawatir pada saya?Saya kan bukan orang penting bagi Tuan?"sahut Anin ketus.
"Jaga ucapan mu Anin!"Bentak Alex.
"Kenapa?Apa ada yang salah dengan ucapan saya?Memang kenyataanya begitu kan?Saya hanyalah wanita yang rahimnya dibayar untuk menghasilkan anak,setelah itu ya dicerai!"Anin meninggikan suara.
Pertengkaran itu membuat Cika dan Bu Sarah takut untuk keluar dari kamar mereka.Mereka bersembunyi seperti cacing yang takut dipatuk oleh ayam.
"Ayo masuk ke kamar,"ajak Alex.
"Tidak mau!"Anin menolak.
Dengan amat sangat terpaksa Alex membopong Anin seperti karung beras dan membawanya masuk ke kamar pribadi mereka.Sampai dikamar,Alex melempar tubuh Anin keatas ranjang.
Wajah Alex memerah,jelas sekali pria itu sedang menahan marah.Tanpa banyak bicara,Alex langsung membuka kaos oblong yang dia kenakan dan merangkak mendekati Anin.
"Apa yang mau Anda lakukan Tuan?"Anin bergerak mundur.
"Memberikan kamu sebuah hukuman!"Alex menatap Anin dengan tatapan mematikan.
Bersambung...
__ADS_1