
Beberapa tahun berlalu...
Laura tumbuh menjadi anak yang pintar,cantik dan lucu.Saat ini umurnya sudah empat tahun,sudah bersekolah di paud.
Jika Laura berangkat ke sekolah,Anin kesepian dirumah.Cika dikirim ke Singapura oleh Farel untuk menimba ilmu disana.Gadis itu bahkan tidak pernah mau pulang kerumah walaupun sedang libur panjang.Semua karena dia patah hati,Heru menolak cintanya mentah mentah meskipun Cika sudah menunjukan ketulusan hatinya.
Sementara Heru entah bagaimana kabarnya,dia tidak pernah mengunjungi rumah Alex lagi semenjak Cika lulus dari SMA.Dia juga telah mengundurkan diri dari kantor Alex.
Kehidupan rumah tangga Anin dan Alex berjalan sangat mulus.Aman dan damai karena Soni telah berhenti mengganggu Anin,dan Inggrid telah berhenti mengejar ngejar Alex.
Anin berharap keluarga kecilnya akan selalu seperti itu.Adem ayem tanpa terpaan masalah yang berarti.
Malam itu,Alex berdandan lebih rapih dari biasanya.Anin merasa sedikit curiga karena akhir akhir ini pria itu sering pulang terlambat,dari mulut dan tubuhnya tercium aroma alkohol yang menyengat.
"Anda mau kemana?"Tanya Anin.Dia sedikit menaikan alisnya.
"Aku mau pergi bersama teman teman sebentar,"sahut Alex.
"Janji hanya sebentar?"Anin setengah menuntut.
"Iya,hanya sebentar kok,"
"Baiklah,hati hati dijalan,"
Alex pergi dari rumah,Anin terus menatap bayangan tubuh pria itu hingga hilang dari balik pintu.Anin memasang wajah sedih,pria yang dulu selalu mencintainya dengan penuh gelora kini berubah menjadi cuek dan dingin.
Tak hanya Anin yang merasakan perubahan dalam diri Alex,Bu Sarah juga ikut merasakannya.Pria itu jadi mudah marah,sering mengomel bahkan hanya karena hal sepele sekalipun.
"Nona,bisakah Anda menghubungi Dimas?"Bu Sarah mengajak Anin berbincang serius.
"Dimas asisten pribadi Tuan Alex di kantor?"Tanya Anin balik.
"Iya,betul.Siapa tau Tuan ada masalah di kantornya,dan itu yang menyebabkan dia berubah,"ucap Bu Sarah.
"Baiklah,saya akan mencoba menghubungi Dimas nanti,"
***
Waktu telah menunjukan pukul 23.00 malam,Alex belum juga pulang kerumah.Anin mondar mandir diruang tengah menunggu kepulangan pria itu.
Samar samar,Anin mendengar suara mobil parkir dihalaman.Anin membuka pintu lebar lebar dan berdiri didepan teras.Alex pulang diantar oleh seorang pria asing,seperti biasa Alex pulang dalam keadaan mabuk.
__ADS_1
"Siapa kamu?"Tanya Anin.
"Aku pelayan bar yang biasa Tuan Alex kunjungi,"
"Terimakasih,kamu sudah mau mengantarnya pulang kerumah,"
"Sama sama Nona,"
Setelah memberikan sejumlah uang pada pria itu untuk ongkos dia pulang naik Taxi,Anin memapah Alex dan membawanya masuk kedalam kamar.
Anin mencopot sepatu suaminya,kaus kaki,serta pakaian yang melekat ditubuhnya.Hatinya terkoyak saat melihat banyak tanda merah dileher jenjang suaminya itu.Tanda bekas ciuman seorang wanita.
Air mata Anin menetes,dia menangis tersedu sedu.Sebenarnya apa salah dan kurangnya Anin,sampai sampai Alex mencari hiburan lain diluar sana.
Anin menyeka air matanya,dia berusaha untuk tetap tenang meskipun jiwa dan raganya hancur berantakan.Anin menyeka tubuh kotor Alex dengan handuk basah,mengganti pakaiannya dan menutupi tubuhnya dengan selimut.Setelah itu,Anin merebahkan tubuh lelahnya disisi suaminya.
Mentari bersinar,Anin membuka mata dan mendapati Alex tidak ada disisinya.Anin melirik kearah jam yang telah menunjukan pukul 07.30 menit.Anin kesiangan,Alex sudah berangkat ke kantor.Dia gagal mewawancarai suaminya pagi ini,tak mengapa,dia bisa melakukanya sore nanti.
***
Alex pulang,Laura langsung menyambutnya dengan riang dan pelukan hangat.Anak itu selalu menempel dengan Ayahnya hingga Anin tidak memiliki kesempatan untuk berbicara empat mata dengan suaminya.
Sore berganti malam,Laura mengantuk dan pergi ke kamarnya untuk tidur.Kesempatan bagus untuk Anin mewawancarai suaminya dan mengajukan beberapa pertanyaan yang selama ini mengganggu pikirannya.
"Teman,"sahut Alex malas.
"Apa dia seorang wanita?"Anin berusaha menyudutkan Alex.
"Apa maksudmu?Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Semalam,aku melihat leher Anda ada banyak tanda merah bekas kecupan,"tutur Anin.Dia memasang wajah sedih.
"Sudah lah,aku sedang malas berdebat denganmu,"Alex mencoba menghindar dari Anin.
"Apa Anda berselingkuh dibelakang saya?"Tanya Anin lagi.
Alex mengabaikan pertanyaan terakhir Anin,dia keluar kamar dan masuk kedalam ruangan pribadinya.Anin merasa sakit hati,tapi apa yang bisa dia lakukan?Dia hanya seorang wanita biasa yang lemah dan tak berkuasa.
Anin mencoba mengingat ingat pelayanannya pada Alex pasca Laura masuk ke sekolah.Dia lebih fokus mengurus Laura daripada Alex,dia juga lebih banyak menghabiskan waktu dengan Laura.Apa mungkin karena itu Alex merasa diabaikan dan tak diperhatikan?
Tiba tiba,Anin mengingat saran dari Bu Sarah untuk menghubungi Dimas.Anin menyalin nomor ponsel Dimas dari ponsel Alex,lalu menghubungi pria itu lewat nomor pribadinya.
__ADS_1
Tut...Tut...Tut...
Suara telfon tersambung,setelah menunggu beberapa waktu akhirnya telfon Anin dijawab.
"Hallo,"sapa Anin ramah.
"Iya,Hallo.Ini siapa?"Tanya Dimas penasaran.
"Ini saya,Anin.Istri Tuan Alex,"sahut Anin.
"Oh...Iya Nona.Ada perlu apa malam malam begini menelfon?"Tanya Dimas lagi.
"Ada yang ingin saya tanyakan padamu,saya harap kamu bisa menjawab dengan jujur,"pinta Anin.Dia sangat berharap banyak pada Dimas.
"Oke,saya akan menjawab pertanyaan Anda dengan jujur."Ucap Dimas.
Dimas sedikit penasaran ada masalah apa antara istri dan Bosnya,sampai sampai Anin menaruh kecurigaan pada Alex dan mencoba mengorek informasi dari anak buahnya.
"Apa Tuan Alex ada masalah di kantor?Akhir akhir ini dia sedikit berubah,"cerita Anin.
"Semua pekerjaan dikantornya baik baik saja,tidak ada masalah,"sahut Dimas singkat dan jelas.
"Lalu,apa kamu tau dengan siapa dia pergi ke klub malam?"
"Maaf,Nona.Saya tidak tau soal itu,"
"Dia selalu pulang pagi dalam keadaan mabuk,bahkan ada banyak bekas ciuman ditubuhnya,"Anin menangis.Suara tangisannya terdengar begitu menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.
"Nona,jangan bersedih.Saya akan membantu Anda mencari tahu semua itu,"Dimas mencoba menenangkan Anin.
"Benarkah?"
"Iya benar,"
"Terimakasih,saya akan menunggu kabar baik darimu,"
"Oke,saya akan segera memberi kabar kepada Anda Nona,"
Percakapan berakhir,Anin menutup telfonnya.Dia sedikit bisa bernafas lega,akhirnya ada orang yang bersedia membantunya.Semoga kedepannya pria itu bisa selalu diajak bekerja sama.
Dirumahnya.
__ADS_1
Dimas berpikir dengan keras,kenapa pria baik seperti Alex bisa berubah.Pria itu selalu menasehati anak buahnya jika sedang salah jalan,kenapa sekarang jadi dia yang salah jalan?Mungkinkah dia memiliki teman baru yang membawa pengaruh buruk padanya?
Bersambung....