
Keesokan harinya,Cika beralasan mengajak Laura untuk berjalan jalan diluar.Padahal dia ingin menemui Heru tanpa ketahuan oleh Alex dan Anin.
Kalau mereka berdua sampai tau Cika menemui Heru,mereka pasti tidak akan pernah berhenti untuk menggodanya.Pagi,siang,malam,selama berhari hari bahkan berminggu-minggu.
Cika menyetop Taxi,dia mengajak Laura bersamanya.Sepanjang perjalanan bocah itu selalu mengoceh seperti burung beo,ingin rasanya Cika mencubit mulut lemes itu tapi dia takut Laura akan menangis.
Tiba dihalaman rumah Heru,Cika mengajak Laura turun dari Taxi kemudian membayar ongkos Taxi sesuai dengan tarif.
"Bibi,rumah siapa itu?"Tanya Laura.
"Rumah calon pamanmu,"sahut Cika sekenanya.
"Maksudnya,itu rumah pacar Bibi?"Tanya Laura penasaran.
"Yes,"
"Pasti dia orang biasa,rumahnya saja sederhana.Kenapa Bibi tidak mengencani pria kaya saja?Apa bibi tidak takut kesulitan ekonomi dimasa depan?"Celoteh Laura asal.
"Ya...Tuhan.Bagaimana bisa anak seusia kamu bicara seperti itu?Belajar dari mana kamu?"Cika mendengus kesal.
"Dari Mama,"ucap Laura jujur.
"Pantas saja,dia memang wanita matre!"Umpat Cika lirih.
Mendengar ada suara ribut ribut,Heru keluar rumah dan membuka pintu.Dia melihat Cika sedang beradu mulut dengan seorang anak kecil.Matanya berbinar binar melihat wanita itu,setelah sekian lama akhirnya Heru bisa melihat wanita itu lagi.
Dia sudah tumbuh besar,tubuhnya meninggi dan semakin seksi.Wajahnya yang dipoles make up natural membuatnya jadi semakin cantik dan juga lucu.Heru tersenyum kecil,muncul rasa menyesal karena dulu telah menolak cinta wanita itu.
"Cika,"panggil Heru.
Cika menoleh,dia terkejut saat mendapati Heru terduduk di kursi roda.
"Kenapa dia jadi seperti itu?Dan kenapa dia masih bisa bergerak?Katanya dia sekarat.Alex pasti sudah membohongi aku!"Batin Cika.
Cika menyunggingkan senyum kecil,dia menggandeng tangan Laura dan mengajaknya masuk ke teras rumah itu.
"Apa kabar?"Sapa Cika ramah.
"Baik,kamu sendiri bagaimana?"Tanya Heru balik.
"Kabarku baik.Ngomong ngomong,kenapa kamu bisa jadi seperti itu?"Cika terlihat sedih.
"Aku mengalami kecelakaan tunggal,untung saja aku masih selamat,"tutur Heru.
"Apa kakimu masih bisa disembuhkan?"Cika menatap kedua kaki Heru lekat lekat.
"Masih,tapi mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama."
__ADS_1
Cika dan Heru asyik mengobrol,mereka lupa kalau ada seorang anak berada disisi mereka.Merasa diabaikan,Laura mencubit lengan sang Bibi kuat.
"Awh...Laura,kamu nakal sekali!"Sentak Cika.
"Kalian mengabaikan aku,"Laura cemberut.
"Siapa dia?"Heru menatap wajah Laura.Sekilas wajahnya mirip dengan Anin dan Alex.
"Apa dia Laura?"Tebak Heru.
"Betul,dia Laura keponakanku,"
"Dia cantik sekali,sudah besar ya,"Heru mengelus kepala Laura lembut.
"Om,apa benar Om itu adalah calon Pamanku?"Tanya Laura polos.
"Siapa yang mengatakan hal itu?"Heru sedikit kaget.
"Bibi Cika yang mengatakannya,"Laura menunjuk kearah Cika.Cika reflek membuang wajahnya kearah lain dan menyembunyikan reaksi malunya.
"Anak itu,lemes sekali mulutnya!"Gumam Cika lirih.
"Benarkah dia yang mengatakannya?Kalau begitu aku memang calon Pamanmu."Celoteh Heru.
Lolita mendelik,dia terkejut karena Heru tidak marah padanya.Malah mengeluarkan kalimat yang membuatnya salah tingkah.
"Jangan membual,"Cika kesal.
"Apa kamu serius?"Cika seolah tidak percaya.
"Iya,aku serius.Aku menyesal karena sudah menolak mu waktu itu,aku merindukanmu dan..."
Cup,,
Cika mencium pipi Heru.
"Cika,ada Laura didepan kita.Kamu tidak takut dia akan mengadu pada Alex?"Omel Heru.
"Aku tidak takut,lagi pula dia sudah tau kalau aku menyukai kamu."Cika meringis.
***
Pertemuannya dengan Heru kali ini benar benar menyenangkan.Dia masih saja terlihat mempesona walaupun sudah berumur.Cinta memang buta,bisa membuat siapa saja lupa pada perbedaan usia yang terpaut jauh.
Cika senyum senyum seperti orang gila,diruang tv,di teras rumah,di dapur,di manapun dia berada.Hal itu membuat Anin penasaran,apa yang sebenarnya sedang terjadi padanya.
"Kamu kenapa?Sudah seperti orang yang sedang kesurupan,"sindir Anin Halus.
__ADS_1
"Wajah menyeramkan seperti ini mana mungkin bisa kesurupan,setan setan itu takut kepadaku,"Cika cekikikan.
Laura datang,dia ikut nimbrung dengan Bibi dan Mamanya.Cika gemetar,anak itu pasti akan menceritakan hal yang dia lihat tadi.Segera Cika membekap mulut Laura agar tidak bicara macam macam pada Anin.
"Laura,dengarkan Bibi.Jangan ceritakan masalah tadi ke siapapun,termasuk Mama dan Ayah kamu.Mengerti?"Bisik Cika ditelinga Laura.Bocah itu mengangguk,Cika akhirnya melepaskan bekapan tanganya.
"Sayang,kamu tadi habis jalan jalan kemana dengan Bibi?"Tanya Anin merayu.
"Rahasia,"sahut Laura.Cika mengacungkan kedua jempol nya keatas karena Laura sudah mau diajak kerja sama.
"Oh,begitu.Kamu sudah berani main rahasia rahasiaan dengan Mama nih,"ucap Anin.
"Bibi bilang,Laura tidak boleh cerita kalau kami habis main ketempat Om Heru,"celetuk Laura.
Anin tertawa terbahak bahak,dia mengasihani Cika yang telah dikhianati oleh keponakannya sendiri.Mungkin Cika lupa,kalau anak anak tidak mungkin akan berbohong.
Cika menendang lantai berkali kali,dia kesal karena Laura membocorkan rahasia yang harusnya dia jaga.
"Mama tau tidak,Bibi tadi mencium pipi Om Heru,"celetuk Laura lagi.
Anin membuka kedua matanya lebar lebar,dia kesal pada sang adik karena telah sembarangan bertindak.Anak seusia Laura paling suka meniru,Anin takut Laura melakukan hal yang sama seperti yang telah Cika lakukan.
"Cika,tolong berhati hati.Aku tidak mau anakku jadi anak nakal dan mesum seperti kamu!"Omel Anin.
"Aku tidak mesum!"Sanggah Cika.
"Wanita yang mencium pria terlebih dahulu itu namanya Mesum!"
"Sekarang zaman modern Kak,wanita mencium prianya terlebih dahulu bukan hal yang tabu,"Cika kekeh pada pendiriannya.
"Laura,ayo ikut Mama ke kamar,"ajak Anin.
"Oke."
Anin menggandeng Laura,dia membawa putrinya masuk kedalam kamar pribadinya.Didalam kamar,Anin menasehati Laura agar tidak mencontoh kelakuan dan gaya bicara Cika,karena menurut sang Mama hal itu tidaklah baik.
Laura mengangguk,dia akan mematuhi perintah Mamanya.Dia tau membantah perintah Mama dan Ayahnya adalah hal buruk,dan Tuhan akan marah padanya.
"Ma,memangnya Om Heru benar benar pacar Bibi?"Laura penasaran.
"Entahlah,Mama tidak tahu,"ucap Anin sambil menggelengkan kepalanya.
"Masa Bibi memacari pria yang sudah tua,seperti tidak ada yang muda saja,"seloroh Laura.
"Nah itu,jangan dicontoh ya.Besok kalau kamu besar,kamu harus cari suami yang seumuran dengan kamu,"perintah Anin.
"Tapi Ayah juga jauh lebih tua dari Mama tuh,"sindir Laura.
__ADS_1
"Kamu ini,bawel sekali ya!"Anin mencubit pipi putrinya.Laura hanya tertawa renyah.
Bersambung...