
Apa yang terjadi setelah pengakuan cinta yang konyol itu?Anin dikira gila oleh alexander.Karena Anin memiliki mimpi yang terlalu tinggi dan mustahil untuk bisa digapai.Jangan mengharap balasan cinta dari seorang pria kaya yang selalu menganggap dirinya bermartabat,itulah inti dari keributan besar yang terjadi semalam antara Anin dan Tuan Alex.
Sakit memang,tapi mau bagaimana lagi?Toh cinta memang tidak bisa dipaksakan.
Disisi lain,Alex terlalu gengsi untuk mengakui jika dia memiliki perasaan yang sama dengan Anin.Hatinya berdebar,tapi mulutnya sulit sekali untuk diajak berkata jujur.Bukan karena Alex memiliki kebiasaan berbohong,dia hanya ingin lari dari kenyataan.Terlebih Alex belum sembuh 100% dari luka yang disebabkan oleh Inggrid.
Pagi itu,Anin pergi ke taman kota.Bukan untuk berolahraga,melainkan untuk menenangkan diri sekaligus mencari sarapan.
Disalah satu sudut taman,Anin melihat seorang wanita sedang menangis terisak.Dia terlihat kacau dengan rambut acak acakan,mata bengkak dan ujung bibir yang berdarah.
Sepertinya dia baru saja mengalami tindak KDRT dari orang terdekatnya.Merasa iba,Anin berjalan mendekati wanita itu.
"Ini,pakailah,"ucap Anin sambil mengulurkan sebuah sapu tangan berwarna abu abu.
"Terimakasih,"ucap wanita itu.Dia segera mengelap wajahnya dan menyeka air matanya.
Anin duduk di samping wanita itu,alangkah terkejutnya dia saat menyadari wanita itu adalah Inggrid mantan istri Alex.Tapi Inggrid belum tau kalau wanita yang memberikan sapu tangan kepadanya adalah istri baru Alex.
"Siapa namamu?"Tanya Inggrid.
"Saya Anin,"
"Kamu pasti gadis yang baik,jarang sekali ada seorang gadis muda yang mau peduli pada lingkungan sekitarnya.Terlebih pada orang asing yang belum kita kenal,"seloroh Inggrid.
"Saya wanita,sama seperti Anda.Saya berharap saat saya sedih nanti,akan ada orang yang mau peduli pada saya.Karena saya sudah tidak memiliki orangtua yang bisa dijadikan sandaran hidup,"tutur Anin.
"Ternyata,masih ada orang lain yang memiliki problem besar selain aku,"ucap Inggrid.
"Semua yang bernafas memiliki problem Nona,hanya jenis dan kadarnya saja yang berbeda,"Anin tersenyum pelit.
Inggrid membalas senyuman Anin,dia merasa termotivasi dan dikuatkan oleh wanita muda itu secara tidak sengaja.
"Bisakah kita berteman?"Tanya Inggrid.Anin hanya diam dan melongo.Berteman dengan wanita yang sering membuatnya cemburu tanpa pernah bertemu?Apa tidak akan memberikan dampak buruk pada mentalnya nanti?
Tapi,Anin tak enak hati menolak keinginan seorang wanita yang sedang berduka itu.Anin dilanda kebimbangan hingga akhirnya dia membuat sebuah keputusan final.
"Bisa,mari kita berteman,"Anin mengulurkan tangan.Inggrid menyambut,dia menyunggingkan sebuah senyum manis yang bisa mengurangi tingkat kesedihan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Namaku Inggrid,"ucap wanita berbodi seksi itu memperkenalkan diri.
"Aku sudah tau!"Batin Anin.
"Kenapa Anda menangis di taman sendirian?Dan kenapa dengan wajah Anda itu?"Tanya Anin penasaran.
"Pacarku selingkuh,aku mencoba untuk menasehatinya tapi malah mendapat bogem mentah,"sahut Inggrid.
"Tinggalkan pacar Anda,pria seperti itu tidak hanya akan membuat hidup Anda susah,tapi juga akan membunuh Anda secara perlahan,"Anin mencoba untuk sopan pada Inggrid.Secara kasat mata,Inggrid adalah wanita yang lebih tua dan jauh lebih kaya darinya.
"Mungkin ini karma,aku pernah menyia-nyiakan yang setia hanya untuk pria kasar ini,"ucap Inggrid.Dari wajahnya tersirat jelas kalau wanita itu sedang menyesal.
"Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri,tiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan.Anggap saja semua yang terjadi dalam hidup Anda adalah takdir dari Tuhan,"Anin mencoba untuk memberi sebuah masukan positif.
"Kamu bijak sekali,"puji Inggrid.
"Bukan bijak,saya hanya sudah berdamai dengan diri saya sendiri,"sanggah Anin.
"Andai aku bisa seperti kamu,"ucap Inggrid.Dia menatap dengan tatapan setengah iri.
Usai bercerita panjang lebar pada Anin,Inggrid merasa lega.Dia merasa siap untuk bertemu orang orang lagi dan melangkah mengarungi hari.
Rupanya kalimat rezeki tidak memululu hanya soal uang,memiliki teman yang baik juga termasuk rezeki itu benar.Inggrid merasa pertemuannya dengan Anin adalah sebuah Rezeki yang harus dia syukuri kejadiannya.
Berbeda dengan Anin,dia merasa pertemuannya dengan Inggrid adalah pertanda dari Tuhan agar dia sadar diri dan tau diri.Dia tidak pantas untuk Alex,begitu juga sebaliknya.
Anin harus profesional,dia harus bisa membedakan urusan pekerjaan dengan urusan pribadinya.Mulai detik ini juga dia akan menjaga jarak dengan Alex,dia akan berusaha dengan keras membuang rasa sukanya pada Alex.
"Aku pamit dulu,semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi,"ucap Inggrid.
"Oke,hati hati di jalan ya!"Pesan Anin.Keduanya pun berpisah secara baik baik.
Kini tinggallah Anin seorang diri,meratapi kesedihan dan kepedihan yang tengah dia rasakan.Dia harus bangkit dan tidak boleh mengeluh,karena semua yang terjadi padanya adalah suratan dari Tuhan.
Lama bersedih membuat perut Anin keroncongan,dia bergegas pergi menuju Cafe yang terletak disebelah jalan taman.
Cafe itu terlihat sederhana dari luar,tapi pengunjungnya banyak.Sepertinya makanan dan minuman yang dijual ditempat itu rasanya enak.
__ADS_1
"Permisi,"ucap Anin.
"Silahkan Kakak,mau pesan apa?"Tanya pemilik cafe padanya.
"Anin,"Panggil pria itu.
"Loh,Mas Soni?"Anin mengarahkan jari telunjuknya pada pria itu.
Rupanya pemilik Cafe dipinggiran taman kota itu adalah Soni,anak dari teman almarhum orangtuanya.
"Apa kabar?"Tanya Anin sambil tersenyum ramah.
"Kabarku baik,kabar kamu sendiri bagaimana?"Tanya Soni balik.
"Kabarku baik juga.Mas tidak kuliah?"Tanya Anin lagi.
"Kuliah kok,tapi malam hari.Dari pagi sampai sore aku jualan disini,"sahut Soni.
"Hebat,sekarang Mas sudah menjadi pengusaha sukses,"puji Anin.
"Ah,biasa saja.Kamu juga kelihatanya sudah jadi orang sukses,"sindir Soni sambil memperhatikan barang branded yang melekat ditubuh Anin.
"Sukses jadi peliharaan Paman Tua!"batin Anin.Anin hanya tersenyum kecil mendapat sindiran halus dari pria berwajah manis itu.
Puas berbasa basi,Anin langsung memesan satu porsi roti bakar dan satu cangkir kopi susu panas.Tak lupa dia juga memesan satu botol air mineral agar kesehatan tubuhnya tetap terjaga.
Pesanan datang,Anin langsung memakan makanan itu dengan lahap dan menenggak minumannya sampai habis.Dia harus segera pergi dari hadapan Soni,sebelum pria banyak bicara itu datang menghampirinya lagi untuk melanjutkan sesi wawancara.
"Kamu mau kemana?Buru buru sekali,"Soni menahan kepergian Anin.
"Aku masih ada urusan penting diluar,"Anin mencari sebuah alasan.
"Kita ngobrol dulu sebentar,sombong sekali.Kita sudah lama loh tidak bertemu,"celoteh Soni asal.Celotehan itu membuat Anin kesal.
"Mau ngobrolin apa?"Anin kembali duduk di kursi.Meski terlihat santai,sebenarnya Anin merasa sangat gugup.Dia merasa seperti seorang pencuri yang akan di interogasi oleh seorang polisi.
Bersambung...
__ADS_1