Rahim Bayaran Mr.Alex

Rahim Bayaran Mr.Alex
Bab 38


__ADS_3

Cika turun dari mobil Heru.Seperti biasa,teman teman di sekolahnya sibuk memperhatikan sosok pria dewasa yang berdiri disisinya.


Hari ini Heru terlihat tampan dengan setelan kemeja dan celana panjang.Andai saja dia juga memakai jaket dan kacamata hitam,mungkin dia akan terlihat seperti anak band masa kini.


"Bisa tidak,jangan tebar pesona,"gerutu Cika lirih.


"Tebar pesona?Maksud Nona?"Heru memasang wajah bingung.Dia merasa tidak melakukan apapun selain berdiri sambil mengawasi gadis itu,tapi Cika bersikap seolah olah dia baru saja melakukan kesalahan.


"Lihat para gadis itu,mereka menatapmu sambil menjerit jerit seperti cacing kepanasan.Jadi bersikaplah dingin kepada mereka,jangan terlalu ramah pada mereka,"ucap Cika kesal.


"Itu mah mereka saja yang terlalu genit,tidak bisa melihat pria tampan dan keren seperti saya,"Heru merapihkan kemeja yang melekat ditubuhnya.


"Astaga,baru kali ini aku bertemu pria terlalu percaya diri seperti kamu!"Celoteh Cika kesal.


Cika melangkah menuju sekolahnya,meninggalkan Heru yang masih berdiri mematung mengawasinya.Bahkan,meskipun Cika sudah berada diambang pintu kelas.Pria itu masih enggan mengalihkan pandangannya dari cika,seolah takut gadis itu akan pergi melarikan diri.


Cika pikir,hanya kakaknya saja yang akan merasakan buruknya hidup seperti seekor burung didalam sangkar.Ternyata dia juga merasakannya,semua itu karena ulah Kakak Iparnya yang galak dan arogan itu.


Sebenarnya,Cika lebih memilih untuk dihukum dan dikurung didalam kamar daripada harus mengulang kelas disekolah.Tapi Alex tidak memberinya pilihan lain selain harus melanjutkan bersekolah,alasannya demi masa depan.Padahal,dia tidak mau menanggung malu karena memiliki adik Ipar putus sekolah dan hanya menjadi beban keluarga seperti Cika.


***


Dikediaman Alexander.


Hari ini Alex bolos ke kantor lagi.Dia bermain dengan peri kecilnya,tertawa dan menyanyi seperti badut Ancol.Suara Alex jauh dari kata merdu,bahkan tawanya terdengar garing dan menekan telinga.


Semenjak memiliki Laura,Alex jadi betah tinggal dirumah.Dan dampaknya tingkat stres yang dialami Anin meningkat karena lebih sering bertemu dengan Alex.


"Tuan,apa Anda tidak memiliki pekerjaan di kantor?"Anin menatap dengan tatapan kesal.

__ADS_1


"Kenapa memangnya?Kamu tidak suka melihat aku lebih banyak menghabiskan waktu didalam rumah?"Tuduh Alex tanpa ampun.


Tuduhan pria itu benar,Anin memang tidak suka melihat dia berada dirumah.Tapi Anin hanya diam,dia tidak berani berkata jujur.Selain takut pria itu tersinggung,Anin juga takut Alex marah dan menghukumnya.Apa lagi Bangkok Tua itu hobi menghukum orang lain yang berani menganggu kesenangannya.


"Bukan begitu,Anda seorang pemimpin.Dan seorang pemimpin harusnya memberi contoh yang baik untuk anak buahnya,"ucap Anin.


"Justru karena aku seorang pemimpin,jadi terserah aku dong mau masuk kantor atau tidak,"sahut Alex santai.


Rasa kesal Anin naik ke ubun ubun,sikap arogan Tuan Alex kembali muncul kepermukaan.Memang kalau orang punya jabatan dan uang banyak,hobi sekali menganggap remeh sesuatu.Menyebalkan!


Kring...Kring...Kring...


Bunyi telfon berdering.Alex menaruh Laura diatas kasur dan beranjak pergi untuk mengangkat telfon yang masuk.


"Hallo,"sapa Alex.


"Bos,nanti siang ada rapat dengan klien.Bos tidak lupa kan?"Tanya Dimas.


"Aku akan segera datang ke kantor,siapkan berkas berkasnya,"perintah Alex.


"Oke,"Dimas menutup telfon.


Anin tersenyum senang,akhirnya pria itu akan segera pergi dari hadapannya.Dan Anin bisa bersantai melakukan segala hal yang dia suka dirumah ini tanpa ada yang mengganggu.


"Nanti malam aku pulang telat,jangan tidur sebelum aku pulang!"Seloroh Alex.


"Maksud Tuan saya harus begadang menunggu Anda pulang?"Tanya Anin.


"Iya,tunggu aku pulang.Kalau kamu tidur,siapa yang akan melayani aku?Masa Bu Sarah?"Alex menyipitkan kedua matanya.

__ADS_1


Anin menarik nafas berat.Meskipun dia merasa malas,Anin terpaksa harus menuruti permintaan suaminya.


***


Tiba di kantor,Alex langsung menaruh tasnya diatas meja dan meraih berkas berkas yang telah dipersiapkan oleh Dimas sebelumnya.


Dimas menyusul keruangan Alex sambil membawa secangkir kopi.Entah apa posisi Dimas di kantor itu,terkadang dia jadi OB,terkadang jadi asisten pribadi,tapi terkadang jadi tukang foto copy.


"Aku perhatikan,anda jadi jarang masuk kantor setelah istri anda kembali,"celoteh Dimas.


"Benar,rasanya berat sekali mau meninggalkan Laura.Dia sangat lucu dan menggemaskan,"ucap Alex.


"Laura atau Ibunya?"Goda Dimas.


"Dua duanya.Ha..Ha..Ha..."


"Lama tidak bertemu,sekalinya bertemu lengket seperti pengantin baru,"


"Ah,lengket apanya.Dia marah marah terus setiap hari,kalau diminta melayani aku pasti cemberut.Sudah seperti anak onta yang tidak dikasih makan dan minum berhari hari,"Alex merubah raut wajahnya.


"Kasihan sekali Anda Bos.Tapi mau bagaimana lagi?Mood Ibu baru memang gampang naik turun,mungkin karena mereka masih menyesuaikan diri dengan profesi menjadi Ibu baru,"Dimas mencoba menenangkan pria itu.


"Entahlah,aku sendiri tidak tau.Tapi dia memang lebih menyebalkan dari sebelumnya,"seloroh Alex.


"Ngomong ngomong,bagaimana kabar Inggrid?Setelah Istri Anda kembali,apa dia masih mengejar ngejar Anda?"Dimas memasang wajah penasaran.


"Sepertinya kabarnya baik,kemarin dia mengunjungi kami dirumah.Dia sudah lebih anteng,mau menerima kenyataan kalau aku tidak bisa kembali kepadanya lagi,"tutur Alex.


"Bagus lah,jadi tidak ada lagi alasan bagi Nyonya untuk kabur dari rumah karena cemburu.Kami pusing kalau harus membantu Anda mencari mereka lagi,"ceplos Dimas asal.Alex dan Dimas tertawa bersama.

__ADS_1


Begitulah jika dua pria dewasa satu frekuensi sudah berkumpul,apa saja bisa jadi topik pembicaraan.Tidak kalah serunya dari kaum hawa.Jadi,jangan pernah mengira kalau kaum pria tidak pernah ngerumpi seperti kaum hawa ya!


__ADS_2