Rahim Bayaran Mr.Alex

Rahim Bayaran Mr.Alex
Bab 24


__ADS_3

Puas membuang waktu senggangnya dengan bersenang senang,Inggrid kembali kerumah.Rumah yang kini lebih mirip dengan ruang penyiksaan bawah tanah,dingin,hampa,tanpa adanya cinta kasih didalamnya.


Rini sudah menunggunya sejak tadi.Dia duduk manis diatas sofa,melipat kedua tangannya dan memasang wajah garang.Jelas sekali kalau wanita tua itu ingin segera memarahi putrinya karena telah menyebabkan calon menantu kesayangannya cedera dan dirawat dirumah sakit.


Rini tau kalau Inggrid sangat marah,kecewa dan benci pada Theo.Tapi dia tidak menyangka kalau gadis penurut itu akan bertindak liar seperti harimau yang sudah dua bulan tidak diberi makan.Ganas dan menakutkan.Rini sangat khawatir karena tindakan konyol anaknya itu dia akan kehilangan calon menantu idamannya.Pria mana yang tahan ditindas dan dimaki terus menerus oleh pasangannya?Kecuali kalau pria itu adalah pria bodoh.


"Akhirnya,kamu pulang juga,"ucap Rini.


"Untuk apa Ibu menungguku?"Inggrid menatap sinis.


Rini bangkit dari duduknya dan berjalan pelan menghampiri Inggrid.


"Tentu saja untuk memarahi kamu.Bisa bisanya kamu mengerjai Theo hingga cedera dan masuk rumah sakit.Ingat Inggrid,sebentar lagi kalian berdua akan menikah!"ucap Rini sambil mengacungkan jari telunjuknya dan mengarahkannya pada Inggrid.


"Batalkan saja pesta pernikahan itu,aku tidak mau menikah denganya,"ucap Inggrid tegas.


"Apa kamu sudah gila?Undangan sudah disebar,apa kata orang orang kalau pernikahan ini sampai batal?"Rini semakin naik darah dan pusing dibuatnya.


"Kalau Ibu peduli dengan apa kata orang,Ibu saja yang menikah dengan Theo,"celetuk Inggrid asal.Rini tak kuasa menahan emosinya dan sebuah insiden kecil pun terjadi.


Plak...


Sebuah tamparan kecil mendarat di pipi Inggrid.Kini sang Ibu tidak hanya telah menyakiti hatinya,tapi dia juga sudah berani menyakiti fisiknya.Kalau sudah begini,apa Inggrid akan menjadi anak durhaka jika melawan Ibunya?Harusnya tidak kan?Inggrid merasa tidak tahan dengan sikap dan kelakuan wanita tua itu.


"Aku mendidik kamu untuk menjadi patuh,menjadi wanita anggun yang lemah lembut.Bukan untuk menjadi wanita liar yang kasar!"ucap Rini dengan nada tinggi dan penuh emosi.

__ADS_1


"Mendidik?Dengan cara apa Ibu mendidik aku?Dengan tipuan dan muslihat yang memuakkan itu?"Sentak Inggrid.Mata Rini dibuat melotot oleh kalimat yang keluar dari mulut Inggrid.


"Cukup inggrid! Atau aku akan..."


"Akan apa?Mau menamparku lagi?Tampar aku,tampar,"Inggrid mendekatkan wajahnya kepada sang Ibu.


"Mulai detik ini juga,jangan pernah memanggil aku dengan sebutan anakku.Aku tidak sudi memiliki Ibu sepertimu!"Teriak inggrid.


"Inggrid,kamu apa kamu mau jadi anak durhaka?"Rini mulai berkaca kaca.Kalimat dari putri semata wayangnya itu terasa begitu menyayat dan menusuk jantungnya.


"Ibu yang membuatku seperti ini,jadi jangan salahkan aku jika aku jadi seperti ini.Mengerti?"Inggrid menatap Ibunya tanpa berkedip untuk beberapa saat.Setelah itu dia melangkah pergi menuju kamarnya.


Rini menangis tersedu sedu,dia merasa sedih karena diperlakukan buruk oleh putrinya.Apapun yang Rini lakukan didunia ini semua untuk kebaikan anaknya,tapi apa yang dia dapat saat ini?Cacian dan makian.


Inggrid memasukan semua barang barangnya kedalam koper.Seperti pakaian,handuk,selimut dan peralatan mandi.Dia juga memasukan make up beserta perawatan kecantikan tubuhnya yang lain.Besok pagi,Inggrid berniat untuk pergi dari rumah.Dia sudah tidak tahan tinggal seatap dengan Ibunya.


Inggrid tidak memikirkan apa yang akan terjadi pada wanita tua itu jika dia pergi dari rumah.Yang dia pikirkan hanyalah ingin mencari ketenangan jiwa,hati juga pikiran.Dia bisa gila kalau terus menerus tinggal dirumah itu,bertengkar setiap hari dan menahan emosi sepanjang waktu.


Inggrid tau,kalau surga ada dibawah telapak kaki Ibu.Tapi Ibu yang seperti itu apa masih memiliki surga dibawah telapak kakinya?Apa Ibu yang seperti itu masih pantas untuk dihargai dan dihormati keberadaanya?Dua pertanyaan itu sering mondar mandir dibenak Inggrid.Pertanyaan yang tidak tau kapan bisa terjawab.


Rini menyusul Inggrid ke kamarnya.Dia syok saat mendapati Inggrid sedang memasukan barang barangnya kedalam sebuah koper.


"Kamu ingin pergi meninggalkan Ibu?"Rini berdiri lemas sambil berpegangan pada sisi pintu.Dia merasa otot otot dikakinya mengendur hingga dia tidak sanggup untuk berdiri dengan tegap.


"Iya,aku mau tinggal di apartemen lamaku,"sahut Inggrid.

__ADS_1


"Setega itu kamu pada Ibumu ini Nak?"Rini menatap sendu wajah putrinya.


"Tega?Ibu yang tega pada anak sendiri.Ibu tega menghancurkan rumah tanggaku dengan Alex,"Inggrid menangis.Rasa kecewa didalam hatinya telah memaksa air matanya untuk mengalir keluar dengan derasnya.


"Maafkan Ibu,tolong jangan tinggalkan Ibu sendirian,"Rini terduduk dilantai.Dia terus menangis tanpa henti,dia terlihat sangat menyesali perbuatan buruk yang telah dilakukanya.


Penyesalan memang selalu datang terlambat,semua orang tau itu.Tapi Inggrid tidak mau memakluminya,sekalipun Rini adalah Ibu kandungnya sendiri.Seorang wanita yang telah mengandungnya dan membesarkannya dengan susah payah.Begitu susah,karena Rini adalah seorang janda dan tidak memiliki keluarga lain didunia ini.


"Bu,aku mau memaafkanmu.Tapi.."ucap Inggrid terpotong.Dia sengaja menahan setengah omongannya agar sang Ibu penasaran.


"Tapi apa nak?Katakan pada Ibu,apapun akan Ibu lakukan agar kamu mau tetap tinggal dirumah ini bersama Ibu,"Rini terus memohon.Dia tidak ingin kehilangan putri semata wayangnya.


"Benarkah?"Inggrid menatap ragu


"Iya,benar,"Rini mencoba untuk meyakinkan Inggrid.


"Aku mau tetap tinggal bersama Ibu,memaafkan Ibu,tapi jangan paksa aku untuk menikah dengan Theo,"Inggrid mengajukan permintaan yang terlihat sederhana tapi sangat berat diterima oleh Rini.


"Kenapa nak?Dia pria baik,dia sangat mencintaimu.Dia bahkan jauh lebih kaya dan terhormat daripada Alex,"Rini terus memuji Theo dengan versinya.Begitu memujanya Rini pada Theo,hingga kedua matanya tidak bisa melihat dengan jelas keburukan keburukan yang dimiliki oleh pria itu.


"Pandanganku terhadap Theo berbeda Bu,dia pria yang rela melakukan segala cara untuk mendapatkan sesuatu yang dia mau.Dan dia pria yang kasar,dia pernah menghajar wajahku karena aku memergokinya berselingku.Apa Ibu mau aku hidup menderita bersama pria brengs*k seperti itu?"Inggrid menatap Rini lekat lekat.Wanita tua itu menundukkan wajahnya untuk berpikir.


Beberapa menit kemudian,Rini kembali mengangkat wajahnya keatas.Dia menarik nafas panjang nan berat,sepertinya dia sudah mengambil sebuah keputusan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2