
Tiba di mall,Cika langsung menggandeng Heru dan membawa dia masuk kesebuah toko pakaian.Dia memilih beberapa model pakaian pria yang ukuranya cocok dengan Heru dan memintanya untuk mencobanya.
"Cika,katanya kamu membeli sesuatu untuk Kakak perempuanmu.Kenapa jadi membeli pakaian pria?"
"Itu bonus untukmu karena sudah mau menemani aku pergi ke mall,"
"Tidak perlu,aku..."
"Aku tidak suka penolakan!"
Akhirnya Heru mencoba pakaian pakaian itu dan memilih satu yang dirasa cocok dengannya.
Usai membelikan Heru hadiah,saatnya bagi Cika berbelanja pakaian untuk dirinya sendiri.Cika mengambil dua buah kemeja,dua buah dres dan dua buah celana jeans panjang.Uang jajan pemberian Kakak iparnya tiap bulan cukup banyak,sayang jika tidak dimanfaatkan dengan baik.
Namanya juga wanita,tidak mungkin tidak memiliki hobi belanja terutama soal Fashion dan pernak perniknya.
Selesai membayar semua barang belanjaannya,Cika pindah ke toko lain.Dia meminta Heru untuk membawa semua barang yang tadi dia beli,Heru sedikit kesal karena dirinya dijadikan pesuruh hari itu.Tapi mau bagaimana?Sudah menjadi bagian dari pekerjaannya.
Cika menyeret Heru masuk kedalam toko tas.Dia memilah milih model tas yang cocok untuk Anin.Tas berukuran kecil,simpel dengan warna gelap.Karena Anin sangat suka dengan tas lucu dan imut imut.
"Kenapa lama sekali?Memilih tas saja sudah seperti memilih bahan makanan di pasar,"
"Apa kamu tidak pernah menemani seorang perempuan berbelanja?"
"Belum,"
"Pantas saja,baru diajak berdiri beberapa menit sudah mengeluh,"
Beberapa orang mulai memperhatikan pasangan beda usia itu.Mungkin mereka mengira kalau Heru adalah Om Om hidung belang yang sedang dimarahi oleh sugar Baby nya.
untuk menghindari prasangka buruk dan tatapan mata aneh dari orang disekitarnya,Heru menepi mencari tempat duduk.Lebih nyaman mengawasi gadis cerewet itu berbelanja dari jauh,kedua kakinya juga bisa beristirahat dengan baik.
Tiba tiba,seorang pria datang menghampiri Cika.Dia terlihat gagah tapi genit.
"Nona,apa anda berbelanja sendiri?"Tanya pria itu.
"Tidak,aku ditemani asistenku,"sahut Cika.
"Asisten yang mana?Aku tidak melihatnya,"pria itu menganggap Cika sedang membohonginya.
Cika mencari kesana sini tapi tidak menemukan sosok Heru.
"Pria itu,kenapa pergi tidak bilang bilang sih!"Cika menggerutu kesal.
__ADS_1
"Bagaimana jika saya temani kamu?Kebetulan saya sedang senggang nih tidak ada kegiatan,"pria itu menawarkan diri dengan senyum dan tatapan mata mesum.
"Tidak perlu Om,"tolak Cika.
"Ah,jangan sok menolak.Gadis seperti kamu pasti sudah biasa jalan dengan Om Om kan?"Pria itu memandang remeh.
"Hey,jaga bicaramu.Sudah tua,bicara tidak memakai sopan santun!"Cika terbawa emosi.
"Galak sekali,"pria asing itu mencoba meraih pipi Cika.Sebuah tangan berukuran besar tiba tiba muncul menghalanginya.
"Jangan coba coba menggoda wanitaku,atau aku akan mematahkan tanganmu itu!"Ancam Heru sambil melotot.
"Dia bilang apa?Wanitaku?"Batin Cika.
Blush...
Gumpalan angin segar menerpa hati Cika,dia merasa senang sekaligus malu mendengar pernyataan dari Heru.Jantungnya berdegup kencang,darahnya juga mengalir dengan deras.Ini kah yang dinamakan gelora asmara?
"Pergi dari sini!"usir Heru.
Pria itu segera pergi karena takut dihajar oleh Heru didepan umum.Wajah Heru sangat menyeramkan jika sedang marah,jangankan manusia,hantu saja takut padanya.
"Kenapa tidak memanggil namaku?"Heru menatap Cika.
"Aku pikir kamu pergi jauh,"Cika memajukan bibirnya beberapa senti kedepan.
***
"Tuan,apa saya boleh bertanya sesuatu?"Anin memberanikan diri untuk membuka obrolan saat Alex sedang sibuk bermain ponsel.
"Tanya saja langsung,kenapa harus meminta izin dulu?"Alex mengalihkan perhatiannya pada Anin.
"Kenapa Anda memperkerjakan Heru untuk menjadi pengawal Cika?"Anin memasang ekspresi wajah serius.
"Karena dia pembuat masalah,aku takut dia membuat onar dan keributan yang bisa merugikanku.Seperti saat dia membawa kamu pergi dari rumah,"sahut Alex.
"Apa Anda khawatir saya akan kabur dari rumah lagi?"
"Tentu saja aku khawatir,terlebih saat ini aku sudah punya anak.Jika kamu pergi,kamu juga akan membawa anakmu pergi.Aku jadi rugi dua kali,"
"Rugi?"Anin membulatkan kedua matanya.Bukan itu kalimat yang ingin dia dengar dari mulut Alex,Anin benar benar merasa kecewa.
Anin beranjak pergi,meninggalkan Alex sendirian diruang tamu.Alex kebingungan,dia merasa tidak melakukan kesalahan apapun tapi Anin kenapa terlihat marah?
__ADS_1
Alex menyusul Anin dengan langkah terburu buru.
"Anin,kamu kenapa marah?Apa ada yang salah dengan kata kataku?"
"Tentu saja ada yang salah,Anda bilang rugi kalau saya keluar dari rumah ini.Rugi ya tidak ada yang melayani Anda dan tidak ada orang yang bisa diperintah ini itu oleh Anda?"
"Bukan itu maksudku.Maksudku adalah aku cinta padamu,aku takut kamu dibawa kabur oleh adikmu yang sedikit gila itu!"
Anin terdiam,dia mencoba mencerna ocehan suaminya.Alex mencintainya,tapi dia tidak bisa mengungkapkannya dengan kata kata yang tepat.Alex memang romantis dan perhatian tapi dia tidak pandai merangkai kata kata manis.
Alex memeluk tubuh Anin,dia mengelus kepalanya pelan.
"Kamu itu kenapa jadi sensitif sekali?Sedikit sedikit marah,sedikit sedikit ngambek.Kamu lelah ya mengurus si kecil?"Tanya Alex dengan nada santai.
"Maaf,saya juga tidak tau kenapa mood saya jadi mudah naik turun seperti ini,"Anin sedikit menundukkan wajahnya.
"Sudahlah,mungkin pengaruh hormon dan kurang tidur saja.Ayo kita ke kamar,kita istirahat lebih cepat malam ini,"aja Alex.Anin mengangguk pelan.
***
Sementara itu di Mall.
"Maaf soal tadi,aku sembarangan memanggilmu wanitaku,"Heru menatap cika dengan tatapan sedikit malu.
"Tidak perlu meminta maaf,aku tidak keberatan.Malah aku merasa senang,"Cika menggoyangkan sedikit tubuhnya.
"Senang?"Heru sedikit bingung.
"Jangan dipikirkan,anggap saja omonganku tadi hanya angin lalu,"Cika membalik tubuhnya lalu melangkah ketempat lain.Heru mengikutinya dari belakang tanpa membuka suara.
Cika melangkahkan kakinya ke supermarket,dia membeli perlengkapan mandi,skincare wajah dan lain sebagainya.Tiba disebuah rak berisi berbagai merek parfum khusus pria,Cika menghentikan langkahnya.
Gadis itu membuka satu persatu tutup botol parfum dan mencium wanginya.Dia sedang mencari aroma yang cocok dipakai oleh pria berumur 40 tahun seperti Heru.Lagi lagi untuk Heru.Cika sendiri juga bingung,kenapa akhir akhir ini dia jadi lebih peduli pada pria itu.
"AX* warna coklat,"ucap Heru.
"Yang itu?"Cika menunjuk ke suatu arah.
"Iya,"
"Beli merek lain saja ya,aku bosan mencium aroma itu setiap hari,"seloroh Cika.
"Jadi selama ini kamu selalu menikmati aroma tubuhku?Eh,maksudku aroma parfum yang aku pakai?"Heru sedikit menahan tawa.
__ADS_1
Kedua pipi Cika bersemu merah,jelas sekali kalau dia sedang merasa sedikit malu pada pria yang sedang berdiri dihadapannya.Tapi,kenapa juga dia harus malu?Menikmati aroma parfum pria yang dia sukai bukanlah sebuah kesalahan.
Bersambung...