
Prosesi lamaran Cika dan Heru berjalan dengan lancar,tidak ada penghalang atau kendala apapun.Anin merasa lega,karena sebentar lagi akan ada yang menjaga adiknya menggantikan dirinya dan Alex.
Cika terlihat sangat cantik hari itu,pesonanya membuat Heru tidak bisa memalingkan wajahnya sebentar saja dari wanita itu.Paman dari Heru berkali kali mencubit lengan Heru,agar pria itu menjaga pandangan dari wanita yang belum dinikahinya itu.Tapi Heru tidak peduli dan mengabaikan permintaan sang paman.
Anin dan Alex cekikikan melihat tampang Heru yang seolah sedang dihipnotis oleh Cika.Begitulah seseorang jika sedang dimabuk asmara,bisa bersikap konyol bahkan terkadang seperti orang gila.
Heru mengajak Cika berbicara empat mata di teras rumahnya,sementara yang lain melanjutkan berbincang bincang sambil menikmati suguhan yang telah Anin dan Alex persiapkan.
"Ada apa?Kenapa tiba tiba mengajak aku keluar?"
Heru tidak menjawab pertanyaan Cika,dia malah langsung memeluk tubuh Cika yang terlihat seksi memakai kebaya pres body.Pria itu juga mencium kening Cika dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Sayang,disini banyak orang.Nanti kalau ada yang melihat bagaimana?"
"Jangan pedulikan orang lain,nanti pikiranmu ruwet terus,"
"Is,dikasih tau malah jawabnya asal,"
"Kamu terlihat cantik dan menggemaskan malam ini,aku tidak tahan ingin segera melahap kamu sampai habis,"
"Sabar,hanya seminggu lagi,"
Selesai berbincang,Heru mengajak Cika kembali masuk kedalam rumah.Dia tidak enak jika mengajak Cika berbincang diluar terlalu lama.
Heru dan keluarganya pamit pulang,rumah besar itu kembali sepi.Cika masuk kedalam kamar dan Laura membuntutinya dari belakang.
"Bibi,"panggil Laura.
"Iya,ada apa?"Sahut Cika malas.
"Apa Bibi akan pindah dari rumah ini setelah menikah dengan Om Heru?"
"Tentu saja,aku akan ikut tinggal bersama Heru dirumahnya.Kenapa memangnya?
"Kalau Bibi pergi,rumah ini jadi sepi.Aku tidak memiliki teman untuk bertengkar lagi,"
"Kata siapa kamu tidak punya teman untuk bertengkar,kamu kan masih punya Ayah yang kelakuannya sama menyebalkan dengan kamu,"
Laura cemberut,begitulah ekspresinya jika ada orang yang berani menjelek-jelekan Ayah tercintanya.
__ADS_1
Melihat Cika dan Laura bertengkar,Anin langsung menghampiri mereka berdua.Dan seperti biasa Anin akan membela anaknya dengan alasan dia masih anak kecil.
"Cika,mengalah saja pada Laura,dia masih anak anak,"goda Anin.
"Mengalah?Tidak ada kata mengalah dalam kamus ku apa lagi pada keponakanku sendiri,"Cika memasang wajah kesal.
"Lihat Mama,adikmu itu menyebalkan sekali.Laura jadi heran kenapa Om Heru mau menikah denganya,"celoteh Laura asal.
"Laura,jangan bicara sembarang.Nanti Bibi mu itu naik darah!"Anin balik memarahi Laura.
***
Cika tidak bisa tidur semalaman.Dia terus terbayang bayang hari dimana dia dan Heru akan bersanding.Tak hanya itu,dia juga membayangkan tentang malam pertama yang akan dia lakukan bersama suaminya nanti.
Bulu kuduk Cika berdiri,belum apa apa saja pikirannya sudah kotor.Apa lagi nanti kalau dia sudah resmi menikah dengan Heru?Bisa bisa dia dulu yang menyerang suaminya itu.
Memalukan,seorang wanita sepertinya bisa bisanya memiliki pikiran seperti itu.Tapi,tidak ada salahnya bukan?Toh yang kita pikirkan adalah calon suami kita sendiri,bukan orang lain?
Anin membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.Cika kaget,kalau kalau ada orang asing masuk.Dia memang ceroboh,suka tidur tanpa mengunci pintu dan jendela dengan baik.
"Kamu belum tidur?"Tanya Anin.
"Aku sudah tidur,tapi tadi Alex menggangguku jadi aku terbangun dan tidak bisa tidur lagi,"
"Ada apa kakak malam malam begini mencari aku?Cika menatap dengan tatapan penasaran.
"Pakailah baju pengantin ini besok,"menyerahkan kepada Cika.
"Ini bukanya..."
"Iya,ini pernah aku pakai saat pernikahanku dengan Alex.Gaun ini berkesan,aku ingin kamu memakainya.Tapi kalau kamu tidak mau ya tidak apa,"
"Aku mau,aku akan memakainya.Terimakasih ya,"
Anin membelai rambut adiknya,mencubit pipinya dan mencubit lengannya.Dia masih tidak percaya kalau wanita itu telah bertunangan dan hendak menikah dengan seseorang.
Mata Anin berkaca kaca,rasanya baru kemarin dia mendaftarkan bocah itu masuk SD.Waktu memang cepat berlalu,dan dia belum bisa melakukan apa apa untuk membahagiakan adik semata wayangnya itu.
Cika tau apa yang sedang Anin rasakan sekarang,darah jauh lebih kental daripada air.Dia memeluk Anin,mencoba untuk menenangkan suasana hatinya yang sedikit memburuk.
__ADS_1
"Aku hanya menikah,bukan mengakhiri hidup.Kakak tidak boleh bersedih,"
"Saat seperti ini kamu masih bisa saja bercanda!"
"Rumahku tidak jauh dari sini,kalau Kakak rindu Kakak bisa main kesana.Atau aku yang main kesini.Jadi,apa yang membuat Kakak menangis?
"Aku hanya teringat pada mendiang Ayah dan Ibu,jika mereka masih hidup pasti mereka akan senang sama seperti kita,"
"Mereka masih hidup,hanya beda alam dengan kita saja.Mereka pasti bisa melihat kebahagiaan kita dari surga,"
Tiba tiba,Cika meletakan kepalanya dipangkuan Anin.Anin mengusap rambut wanita itu dan bersenandung lirih.Saat kecil,Cika sering tidur dipangkuan Anin.Tidurnya mendengkur,ileran karena terlalu nyaman.
Ternyata saat itu Cika juga tertidur dipangkuan Anin,terpaksa dia begadang terlebih dahulu sambil menunggu adiknya pulas.Anin mengenang masa masa kecilnya dengan Cika,sering bertengkar dan sering saling memaki.Dia menyesal karena pernah bersikap tidak baik pada adik yang sebentar lagi akan diambil orang itu.
"Cika,aku sangat menyayangi kamu.Kamu tau tidak,rumah tangga itu penuh dengan cobaan?Jika kamu memiliki masalah dengan Heru kakak harap kamu mau berbagi denganku,jangan memendamnya sendiri seperti yang sudah sudah,"ucap Anin lirih.
Anin mencium ujung kepala adiknya,menaruhnya di bantal dan pergi meninggalkan kamarnya.Cika tiba tiba membuka mata,rupanya dia tidak benar benar tertidur.Dia hanya ingin tau apa yang ingin Anin utarakan padanya.
Cika suka memendam masalahnya sendiri,dia tidak ingin membebani siapapun.Tapi sepertinya dia harus merubah kebiasaan itu karena masalah rumah tangga yang sepertinya cukup berat dan rumit untuk dipendam sendirian.
Anin kembali ke kamarnya,Alex baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kamu dari mana?"Tanya Alex.
"Dari kamar Cika?"
"Dia belum tidur?"
"Belum,mungkin karena terlalu senang,"seloroh Anin.
"Dulu kamu senang tidak saat menikah denganku?"
"Tidak,karena tujuan awal mu menikahi aku hanya untuk menjadikan aku mesin penghasil anak,"
"Oke.Itu dulu.Kalau sekaran kan lain,aku jatuh cinta padamu dan sangat mencintaimu,".
"Berhenti menggombal! Pria kalau sudah mendapatkan apa yang dia mau jadi pandai bicara manis,"sindir Anin.Alex tertawa geli mendengar omongan Anin.
Bersambung...
__ADS_1