
Pagi itu,mentari bersinar cerah.Anin memutuskan untuk berjalan jalan kecil disekitar tempat tinggalnya.Dia melakukan hal itu agar otot ototnya tidak tegang,juga agar deru nafas dan peredaran darahnya lancar.
Anin mulai diserang rasa takut saat mendekati hari perkiraan kelahiran.Wajar saja,melahirkan adalah sebuah pertarungan antara hidup dan mati seseorang.Anin khawatir kalau dia mati saat melahirkan,siapa yang akan merawat anaknya kelak?Bayi itu jauh dari Ayahnya,seorang ABG labil seperti Cika mana mungkin bisa merawat bayi dengan baik.
Hati Anin tiba tiba bergetar,ada rasa rindu yang muncul untuk Alex.Bagaimana kabar pria dengan sejuta pesona itu ya?Apa dia dan mantan istrinya sudah rujuk?Anin tersenyum getir,dia merasa hidupnya selalu jauh dari keberuntungan khususnya soal cinta.
Lelah berjalan jalan,Anin memutuskan untuk kembali kerumah.Dia melihat seorang pria sedang menyambangi warung Cika.Tatapan mata pria itu terlihat nakal,sepertinya dia bukanlah seorang pria yang baik.
"Cika,tutup warungnya.Kakak mau minta ditemani ke suatu tempat,"ucap Anin.Dia sengaja melakukan hal itu agar pria mencurigakan itu pergi.
"Iya Kak,"Cika mengangguk patuh.Cika bersiap menutup warung,tiba tiba pria berkepala plontos itu menahan lengan Cika.
"Tunggu dulu dong Non,aku belum punya nomor ponsel kamu,"ucap pria itu.
"Maaf Mas,aku tidak punya ponsel,"Cika menolak secara halus.Dia tidak mau menyinggung pria asing itu karena takut dia akan marah.
"Masa sih?Aku tidak percaya.Non jangan coba coba membohongi aku ya,"ucap pria itu lagi.
"Maaf,Mas tidak boleh memaksa kalau adik saya tidak berkenan,"Sambung Anin.
"Diam kamu janda bunting!"Bentak pria itu kasar.Bentakan pria itu membuat Cika naik darah dan emosi.
"Sembarangan saja kalau bicara,dia masih punya suami tau!"Bentak Cika balik.
"Aku tidak peduli padanya,aku hanya peduli padamu saja Nona manis,"menyentuh dagu Cika.
"Jangan sembarangan menyentuhku ya!"Cika melotot kesal.
"Alah,sok jual mahal.Paling juga sudah tidak perawan lagi,"celoteh pria itu dengan nada remeh.
"Pria jelek,jaga mulutmu itu!"Maki Cika marah.
"Nona mengatai aku jelek?Beraninya kamu ya,"pria itu melotot.
Pria setengah mabuk itu mendorong tubuh Cika hingga menempel ke tembok,dia bersiap untuk mencium bibir Cika secara paksa.
__ADS_1
"Tolong...Tolong..."Teriak Anin.Dia sangat berharap ada orang yang mau membantu mereka berdua.
Tak lama,seorang pria datang membantu.Dia menarik pria jahat itu dan menghajarnya hingga babak belur.Cika menangis,dia terduduk dipojokan karena takut.Sementara Anin menutup kedua matanya dengan telapak tanganya.
"Ampun bang,ampun!"Ucap penjahat mesum itu memelas.Pria itu terlihat buruk karena sekujur tubuh dan wajahnya penuh dengan luka lebam.
"Pergi kamu dari sini! Jangan pernah kesini lagi,atau aku akan membunuhmu!"Ancam pria penolong itu.
Sang penjahat lari tunggang langgang.Cika menarik nafas lega saat pria rusuh itu pergi,dia langsung mengalihkan pandangannya kearah pria yang telah menolongnya tadi.Ternyata,pria itu adalah si pria Ultraman yang pernah menolongnya tempo hari.
"Dia lagi?Kenapa bisa kebetulan seperti ini?"Cika terdiam membisu.
"Sayang,kamu tidak apa apa kan?"Anin memegangi pipi adiknya dan memeluk tubuhnya erat.Cika menggeleng tanpa melepaskan pandangan matanya dari pria Ultraman itu.
"Terimakasih,Anda sudah menolong Adik saya,"ucap Anin.Dia menyeka air mata yang keluar membasahi pipinya.
"Sama sama Nyonya,"Heru menunduk hormat kepada istri Bosnya itu.
"Saya mengenal Anda.Anda Heru,anak buah suami saya kan?Sedang apa Anda disini?"Anin menatap Heru dengan tatapan penuh selidik.
Didalam sebuah ruang tamu berukuran mini,Anin mengintrogasi Heru tanpa henti.Sementara Cika hanya menjadi pendengar setia sambil mengamati.
Pembawaan Heru yang tenang dan santai meski tengah dimarahi Anin,telah menarik seluruh perhatian Cika.Sepertinya Heru adalah tipe pria penurut,pria seperti itu sangat langka diakhir zaman seperti sekarang ini.
Meski sudah berumur,penampilan kulit wajah Heru masih terlihat kencang.Tidak ada kerutan,apa lagi noda hitam.Rambut di kepalanya juga belum beruban.Hal itu membuat Heru masih memiliki daya tarik yang cukup besar dimata lawan jenis,termasuk dimata Cika.
"Cika,tutup mulutmu.Air liur mu itu sudah hampir menetes keluar kelantai,"goda Anin.
Cika reflek mengelap mulutnya,dia mendengus kesal saat sadar sang Kakak sedang membodohi dirinya.
"Kakak,tidak bisa melihat orang lain senang,"gerutu Cika lirih.
Fokus Anin kembali pada pria bertubuh tinggi langsing yang sedang duduk dihadapannya.
"Jadi,sejak kapan Anda mengawasi gerak gerik kami?"Tanya Anin.
__ADS_1
"Sejak beberapa hari lalu,"sahut Heru jujur.
"Nyonya,tolong jangan marah padaku.Aku hanya menuruti kemauan Bos saja,"ucap Heru.Ucapan itu terdengar seperti sebuah permohonan yang tulus dan keluar dari lubuk hati yang paling dalam.
"Pria itu,bagaimana bisa dia menemukan keberadaan kami?"Gumam heran.
"Dia mengerahkan banyak pasukan untuk mencari keberadaan kalian,termasuk aku.Dia melakukan hal itu karena menghawatirkan keadaan kalian berdua,"Kisah Heru panjang lebar.Dia sedang berusaha menunjukan sisi baik seorang Alex agar hati kedua wanita yang membeku itu mencair.
"Setelah kalian pergi,Bos sering sakit.Bahkan sampai terkena struk ringan,"lanjut Heru.
"Pria tidak berpendirian sepertinya memang pantas mendapatkan semua itu,"sambung Cika asal.Jelas sekali,kalau Cika masih menyimpan rasa benci dan dendam kepada Kakak Iparnya itu.
"Nona,jangan seperti itu.Bagaimanapun dia adalah Kakak Ipar mu,Ayah dari calon keponakan mu,"protes Heru.Dia tidak suka dengan sikap Cika yang menghujat Bosnya secara berlebihan.
Alex memang salah,tapi dia adalah manusia biasa yang pasti akan melakukan kesalahan.Saat ini Alex sudah berubah,dia telah memetik hikmah dari kesalahan yang pernah dibuat dimasa lalu.
Dia layak diberi kesempatan kedua.Oleh karena itu Heru akan berusaha membantu Alex sekuat tenaga untuk membujuk Anin dan Cika kembali kekediaman Alexander.
"Nyonya,kembalilah kerumah.Kasihan Bos Alex,dia tidak bisa tidur nyenyak dan makan enak selepas kepergian Anda,"bujuk Heru.Dia memasang tampang memelas.
"Untuk apa saya kembali kesana?Untuk menyaksikan keromantisan dirinya bersama istri pertamanya itu?"Seloroh Anin kesal.
Ingatan Anin melayang pada kejadian beberapa bulan lalu,saat Inggrid mengajak Alex rujuk.Saat itu Alex tidak memberi penolakan,malah berkata kalau dia masih mencintai Inggrid.
Kalimat yang keluar dari mulut Alex saat itu terasa seperti pisau yang memotong urat saraf di seluruh tubuh Anin.Dia tidak bisa berkedip,berbicara,apa lagi bergerak.Anin hidup,tapi seperti orang mati.Semua karena jiwa dan raganya tidak kuat menahan rasa sakit serta kecewa.
"Apa maksud Anda Nyonya?"Heru kebingungan.
"Bukankah mereka berdua rujuk?"Ucap Anin sinis.
"Tidak,Nyonya.Mereka berdua tidak rujuk.Mana mungkin Tuan mau memiliki istri dua,punya istri satu saja sudah membuat pusing kepala,"cicit Heru dengan nada setengah bercanda.
Seketika ruangan itu berubah menjadi hening,bahkan lebih hening dari kuburan baru.Anin dan Cika saling menatap satu sama lain,seolah mereka sedang berbincang tanpa membuka mulut masing masing.
Bersambung...
__ADS_1