
Anin terpaksa harus menuruti permintaan Alex untuk berhenti bekerja.Pria itu tidak mau Anin terlalu lelah dengan aktifitasnya dan menghambatnya untuk segera mengandung seorang anak.Hari itu,Alex langsung membawa Anin pulang ke kediaman pribadinya.
Saat turun dari mobil,Anin dibuat takjub dengan penampakan rumah yang akan dia huni selama menjadi istri Alex.Besar,megah dan indah.Bangunan itu lebih mirip dengan istana daripada sebuah rumah.
"Mulai sekarang,kamu dan adikmu akan tinggal dirumah ini,"ucap Alex.
"Tapi rumah lama saya sayang kalau dibiarkan kosong begitu saja,"gerutu Anin lirih.
"Kamu bisa menyewakannya pada orang lain.Tapi ngomong ngomong apa Cika tau pernikahan kita hanya sekedar pernikahan kontrak belaka?"Tanya Alex serius.
"Tentu saja tidak,saya tidak mau dia menganggap saya sebagai wanita nakal yang rela menjual diri untuk mendapatkan sejumlah uang,"sahut Anin ketus .
"Kakak yang baik,"Alex tersenyum.
Anin dan Alex melangkah kedalam rumah,disana mereka disambut secara hangat oleh Sarah juga Cika yang baru saja pulang sekolah.
Cika langsung memeluk tubuh Anin,dia rindu pada kakaknya padahal mereka hanya tidak bertemu semalam saja.Anin dan Cika memang selalu bersama,mereka tidak pernah berpisah satu sama lain sejak kecil.Kecuali saat Cika sekolah dan Anin bekerja saja.
"Kenapa tidak langsung ganti baju?Kamu masih harus memakai seragam itu besok,"ucap Anin.
"Tidak perlu,Kakak Ipar sudah menyediakan banyak seragam putih abu abu dan Pramuka didalam lemari,"sahut Cika.
"Perhatian sekali,"celoteh Anin.
"Tentu saja aku harus perhatian,adikmu juga adiku bukan?"Ucap Alex.
"Terserah Anda saja Tuan,saya mau istirahat ke kamar,"Anin melangkah pergi.
"Tunggu,aku ikut,"Alex mengikuti dari belakang.
Didalam kamar pribadi Alex.
Anin merebahkan tubuh lelahnya diatas ranjang,dia menggeliat seperti cacing kepanasan untuk merenggangkan otot otot tubuhnya yang terasa kaku dan pegal.Tak sengaja bagian dres yang Anin kenakan tersingkap,menunjukan kulit bersih mulus tiada cela terlihat.
Sesuatu yang sedang tertidur akhirnya bangkit karena melihat pemandangan bagus didepannya.Tanpa bertanya terlebih dahulu pada Anin,Alex langsung melancarkan aksi nakalnya.
Anin berontak,sekuat tenaga dia mencoba melawan kuncian Tuan Alex.Dan akhirnya Anin menyerah,tenaga pria itu bahkan jauh lebih besar dari sepuluh ekor kuda.
Alex tersenyum saat Anin menghentikan aksi perlawanannya,kini Anin diam membisu membiarkan Alex leluasa melakukan segala hal yang dia mau.
__ADS_1
Ada rasa aneh menjalar ditubuh Anin,dia tak lagi merasa risih dengan apa yang dilakukan oleh Alex.Malah dia merasa ketagihan dan menuntut untuk diperlakukan lebih.
"Ah.."Suara keramat lolos dari tenggorokan Anin.Alex merasa senang,akhirnya wanita itu bisa sedikit men!kmat! permainan ganasnya.
"Sreeekkkkhhhh...."
Alex merobek dres yang Anin pakai secara kasar,Anin segera menarik selimut dan bersembunyi didalamnya.Dia masih saja merasa malu pada Alex,padahal semalam pria itu juga sudah melihat segalanya.
"Buang selimut itu!"perintah Alex.
"Tidak mau,"sahut Anin.
"Kalau begitu,kita main dibawah selimut saja."Alex masuk kedalam selimut menyusul istri kecilnya.
Pertempuran semalam akhirnya terulang lagi,tak hanya sekali melainkan berkali kali hingga Anin kewalahan,kelelahan dan kehabisan tenaga.
Anin merasa Tubuhnya tersengat aliran listrik,dia merasakan ada sesuatu hendak keluar dari dalam tubuhnya untuk kesekian kalinya.
"Alex,ah....."Anin mencakar punggung suaminya kuat.Anin kembali mencapai puncak langit ke tujuh.
Tak lama,Alex menyusul.Sepasang suami istri itu terkapar lemah,deru nafas lelah mereka terdengar keras seperti suara knalpot motor.
"Kamu luar biasa sekali sayang,aku benar benar ketagihan untuk melakukan aktifitas menyenangkan ini bersamamu,"bisik Alex ditelinga Anin.Segera Anin menutup wajahnya dengan bantal agar sang suami tidak melihat kedua pipinya yang bersemu merah karena malu.
***
Keesokan harinya..
Anin menuruni anak tangga,dia berjalan menuju kamar Cika yang ada dilantai satu.Anin merasa Alex sengaja menaruh kamar Cika dilantai bawah agar dia tidak bisa mendengar suara keramat yang bisa saja menggema saat sedang terjadi pertempuran sengit.
Di kamar pribadi Cika.
Cika cekikikan sambil menatap layar ponsel,seolah dia sedang melihat sesuatu yang lucu dan menggelitik hasratnya untuk tertawa secara lepas.
"Kamu sedang melihat apa?"Tanya Anin.Dia berjalan mendekati adiknya.
"Aku sedang melihat komen teman temanku Kak,semalam aku mengunggah foto pernikahan Kakak,"sahut Cika.
"Apa kamu gila?Untuk apa kamu mengunggah foto pernikahan kami?"Anin sewot.Dia kesal karena Cika mengunggah foto pernikahannya ke media sosial tanpa izin.
__ADS_1
"Apa salahnya membagikan foto bahagia saudara sendiri?Lagi pula pose kalian terlalu gemas untuk disimpan di memori ponsel saja,"Cika membela diri.
"Berikan ponselmu padaku,"pinta Anin.
"Tidak mau!"Cika menolak.
"Cepat berikan!!"Anin memaksa.
"Tidak!"Cika tetap menolak.
Anin dan Cika berlarian,mereka saling kejar kejaran seperti seekor kucing dan tikus.Kelakuan konyol kakak beradik itu telah menimbulkan sebuah keributan yang memancing Ibu Sarah untuk memeriksa.
Tok...Tok...Tok...
Ibu Sarah mengetuk pintu,karena merasa tidak ada jawaban wanita itu nyelonong masuk kedalam kamar Cika.
"Kalian berdua hentikan!"Ucap Sarah dengan nada tinggi.Anin dan Cika langsung menghentikan aksi kejar kejaran mereka.
"Apa kalian berdua mau membuat rumah ini roboh?"Tanya Sarah.Anin dan Cika menggelengkan kepala berbarengan.
"Tuan Farel sedang menunggu kalian untuk sarapan bersama,cepatlah keruang makan.Dia paling tidak suka disuruh menunggu,"ucap Sarah.
"Baik Bu,"sahut Anin dan Cika kompak.
Anin baru tau dibalik sikap ramah seorang Sarah tersembunyi sikap tegas sekaligus galak.
Ruang makan.
"Dari mana saja kalian?"Tanya Alex.Pria itu memasang wajah sedikit kesal.
"Bermain di kamar,"sahut Cika enteng.
"Bermain?Ini sudah pukul 06.30 pagi,sudah waktunya untukmu berangkat ke sekolah.Tapi jam segini kamu bahkan belum sarapan malah sibuk bermain di kamar!"Alex menatap Cika tajam.Dia memang paling tidak suka dengan seseorang yang tidak bisa hidup disiplin.
"Kenapa jadi galak seperti itu?Apa dia punya dua kepribadian?"Ucap Anin dalam hati.
Selesai menceramahi dua wanita dihadapannya Alex bersiap untuk bersantap pagi.Begitu juga dengan Anin dan Cika.Kedua wanita itu hanya bisa saling menatap sambil saling mengejek tanpa mengeluarkan suara.
Acara sarapan bersama selesai,Alex meminta salah seorang pengawal pribadinya untuk mengantar Cika ke sekolah.Sementara Anin hanya bisa berdiam diri didalam rumah sambil menunggu kepulangan adiknya.
__ADS_1
Dirumah besar itu hanya Cika satu satunya teman bercerita Anin,meskipun dia tidak bisa menceritakan segalanya kepada Cika tapi adiknya itu adalah seorang pendengar yang baik dan setia.
Bersambung...