
Beberapa hari kemudian...
Cika kembali dari luar negri,dia tidak memberi tahu kalau dia akan pulang baik itu pada Anin atau kepada Alex.Seisi rumah dibuat geger olehnya.Tidak hanya karena kepulangannya yang tiba tiba,tapi juga karena penampilan baru Cika yang jauh lebih menawan dari sebelumnya.
"Cika,ini benar benar kamu kan?"Anin seolah tak percaya kalau wanita cantik yang berdiri didepannya adalah adiknya.
"Iya,ini aku.Aku kembali,"Cika membentangkan kedua tanganya kesamping.Anin mendekat dan memeluk tubuh Cika erat erat.
"Aku rindu padamu Cika,"ucap Anin.
"Sama,aku juga,"
Anin melepaskan pelukannya.Dia menatap wajah Cika lekat lekat dan memegang pundaknya.
"Apa yang membuatmu ingin pulang ke Negara ini?"Tanya Anin serius.
"Tentu saja karena aku rindu pada kalian,"Cika berbohong.
"Bohong,kamu pasti ingin melihat keadaan Heru kan?"Tebak Anin.
Cika meringis,menjadi isyarat kalau tebakan Anin itu benar.Anin merasa kecewa,wanita itu ternyata lebih sayang dan peduli pada orang lain daripada dirinya.Tapi hal itu menjadi pertanda kalau Cika sudah besar dan tumbuh dengan sempurna.
"Ayo masuk,kita bahas masalah itu nanti saja,"Anin membantu Cika membawakan beberapa kopernya kedalam.
***
Siang hari,Laura pulang sekolah.Dia melihat Mamanya sedang asyik berbincang dengan seorang wanita asing.
"Siapa dia?Kenapa wajahnya sedikit mirip dengan Mama?"Batin Laura.
Laura menghampiri dua wanita itu.Cika langsung tau kalau anak itu adalah Laura,keponakan tercintanya.Meski wajah Laura mirip Mamanya,mata besar berlensa coklat itu mirip dengan Alexander.
"Sayang,kamu sudah besar,"Cika mencubit gemas dua pipi Laura.
"Tante siapa?"Tanya Laura polos.
"Dia adik Mama,alias Bibi kamu,"sahut Anin.
"Hallo Bi,apa kabar?"Sapa Laura ramah.
"Jangan panggil aku Bibi,sebutan itu tidak keren.Panggil aku Tante saja,atau Inces,"seloroh Cika.
"Inces?Mirip dengan nama anj!ng peliharaan temanku.He..He..He..."Celetuk Laura tanpa ekspresi rasa bersalah.
"Kakak,lihat putrimu.Dia sama menyebalkan dengan bangkok tua itu!"Maki Cika kesal.
__ADS_1
"Wajar kalau sama,mereka kan anak dan Ayah.Kamu ini,digoda anak kecil saja marah,"sindir Anin halus.
Cika cemberut,dia memajukan bibirnya beberapa senti kedepan.Laura tertawa geli melihat ekspresi Cika yang seperti anak bebek itu.Laura berpikir,memiliki Bibi muda seperti wanita itu pasti akan sangat menyenangkan.
***
Malam hari,Alex pulang terlambat.Dia melihat Cika dengan Laura sedang asik menonton televisi bersama sambil ngemil.
"Cika,kapan datang?"Alex pura pura terkejut.
"Tadi siang,"sahut Cika malas.
"Libur kuliahnya?"Tanya Alex lagi.
"Tidak,aku akan pindah kuliah disini saja,"
"Pindah?Kenapa pindah?Bukanya enak kuliah diluar Negri?"Alex pura pura bodoh.
"Kakak pasti sudah tau alasan aku kembali ke Negara ini,jadi berhentilah bersikap konyol seperti itu!"
"Bibi galak sekali,cantik cantik kok galak?Nanti jadi perawan tua loh!"Celetuk Laura.Dia seolah tidak terima Ayahnya dimarahi oleh Cika.
"Kakak,lihat anakmu itu.Dia seperti duplikat mu,"ucap Cika.
Hari itu cika sadar,dia harus lebih berhati hati dalam berkata khususnya tentang Alex.Pria itu memiliki pahlawan dirumah ini,yaitu Laura.Bocah itu selalu siap siaga selama 24 jam untuk membela Ayahnya dan memarahi siapa saja yang menyinggungnya.Benar benar menyebalkan!
Alex masuk kedalam kamar,dia melihat Anin sedang bersantai sambil bermain ponsel.
"Senang ya,adikmu pulang.Jadi ada yang momong Laura,"sindir Alex.
"Asik dong,apa lagi dia sama sekali tidak mencari saya.Jadi saya bisa menonton drakor dengan tenang tanpa ada yang mengganggu,"Anin tersenyum lebar.
"Dari pada tidak ada yang kamu kerjakan,mending kamu siapkan air hangat untuk aku mandi,"cicit Alex.
"Itulah Anda,tidak bisa melihat istrinya bersantai dan senang sedikit,"
Anin bangkit dari pembaringan.Meski dia kesal kesenangannya diganggu,tapi dia tetap melakukan perintah Alex dengan baik.Bagaimanapun,melayani suami adalah perioritas.Yang lain nomor dua.
Selesai mandi,Alex berbaring disisi Anin.Dia memeluk sambil mencium tengkuk wanita itu berulang ulang.Anin dibuat merinding disko olehnya,pria itu memang paham betul titik sensitif ditubuh pasangannya.
"Aku mau,"bisik Alex.
"Sekarang?"Tanya Anin.
"Ya iyalah sekarang,masa besok.Keburu karatan dong dongkrak super milikku,"celetuk Alex.
__ADS_1
"Oke,pergi kunci pintu dulu,"perintah Anin.
"Tumben kamu langsung meng iyakan ajakan ku?"Alex penasaran.
"Saya ingin hamil lagi,"sahut Anin sambil senyum malu malu.
"Aku juga sudah ingin memberi adik untuk Laura,mari kita bekerja sama dengan keras,"ucap Alex penuh semangat.
"Siap,Pak!"Sambung Anin Lantang.
Alex mengunci pintu,wajahnya yang kalem tiba tiba berubah seperti seekor serigala yang lapar.Anin mengkerut takut,dia hapal dengan ekspresi wajah Alex yang seperti itu.Permainan mereka pasti baru akan berakhir jika sudah genap tiga ronde.
Anin harus siap mental,dia juga harus siap uang untuk membayar tukang urut.Tidak hanya lelah,sekujur tubuh Anin juga akan terasa pegal dan linu setelah digempur berulang kali oleh suaminya itu.
Waktu telah menunjukan pukul 21.30 menit.Anin tidak kunjung turun untuk menengok anaknya dan menidurkannya.Cika mendengus kesal,wanita itu pasti sedang bersenang senang dengan suaminya.Apa lagi sekarang ada dia,secara tidak langsung Anin memasrahkan rutinitas malam mengurus anaknya itu pada Cika.
"Bibi,tidurlah bersamaku malam ini,"rengek Laura.
"Iya,aku akan tidur bersamamu.Malam ini Mama kamu sedang mabuk asmara,jadi dia lupa pada anaknya sendiri,"oceh Anin kesal.
"Mabuk asmara itu apa?"Anin bertanya tanya.
"Em...Bagaimana menjelaskannya ya?Mabuk asmara itu adalah kepala pusing berkunang-kunang karena kurang tidur setelah berolahraga malam,"jelas Cika asal.
"Kasihan sekali Mama,apa perlu aku panggilkan Dokter?"Laura memasang wajah polos.
"Tidak perlu,mari kita pergi ke kamarmu saja."
Cika menggandeng Laura,dia mengajak anak kecil itu masuk kedalam kamarnya.
Jika dilihat lebih teliti,Laura sangat menggemaskan.Sifat ingin tahu,banyak bertanya dan keras kepalanya sama dengan dirinya.Dia merasa bangga karena sifat menjengkelkannya itu menurun pada keponakannya,jadi dia memiliki teman sefrekuensi didalam rumah itu.
"Bibi,kapan kamu akan menikah?"Tanya Laura tiba tiba.
"Entahlah,jodoh saja belum ketemu,"sahut Cika.
"Bibinya teman temanku sudah menikah dan punya anak,kenapa Bibi belum?"Tanya Laura lagi.Anak itu benar benar membuat emosi Cika naik ke ubun ubun.
"Karena Bibi mu yang cantik ini belum laku.Cepat berdoa,tutup matamu dan tidur.Jangan bertanya yang tidak tidak!"Ucap Cika dengan nada yang cukup tinggi.
"Pantas tidak laku laku,galak sih!"Gerutu Laura pelan.
"Hey,kurcaci.Aku bisa mendengar ocehan mu!"Cika mendengus kesal.
Bersambung...
__ADS_1