Reinkarnasi Cinta

Reinkarnasi Cinta
Sebuah Pencarian


__ADS_3

Desa Ajung berjarak sekitar lebih kurang 33 kilometer dari Bandara Internasional Minangkabau, sejauh perjalanan menuju desa ini, mata Rahmania terpukau dengan sisi kiri-kanan jalan dengan lambaian pohon nyiur yang menjulang tinggi, hamparan sawah nan hijau, kolam ikan para petani dan perkebunan-perkebunan yang heterogen di sela-sela rumah penduduk.


Ketika sudah menemui sebuah masjid nan megah bernama Mesjid Raya Sei Asam, maka hanya beberapa saat lagi akan sampai di lokasi rumah Dai dan Doa. Menempuh sedikit jalan menanjak lalu bertemu Simpang Empat dan mengambil arah ke kanan lalu berjalan lagi sejauh lebih kurang 100 meter.


Rahmania tak percaya dengan bangunan super megah dan besar bak istana raja di hadapannya. Walau tak semegah rumah orangtua Dai yang di Jakarta. Tetap saja rumah ini sangat mengesankan.


Betapa besarnya curahan kasih dari ayah mereka, kasih sayang dari seorang ayah terhadap anak mereka yang telah kehilangan ibunya.


“Pak. Nyalakan klakson mobilnya!” perintah Rahmania terhadap sopir taksi.


Sopir taksi mengangguk, segera saja tangannya mendarat di klakson taksi yang dikendarainya.


Tak selang berapa lama seorang lelaki berumur keluar dari rumah. Wajahnya terkesan alim dengan jenggot panjang yang dibiarkan tumbuh liar di dagunya. Dia mengintip lewat celah-celah pagar sebelum memutuskan menggeser pagar yang menjadi pintu gerbang rumah mewah itu.


Rahmania menebarkan senyum pada lelaki berjenggot. Lelaki berwajah kharismatik itu balas tersenyum.


“Ondeh! Sia iko9,” katanya dalam bahasa padang.


Rahmania yang tidak tahu arti pertanyaan itu. Memalingkan wajahnya pada sopir taksi.


“Dia tanyakan kamu siapa?” sopir taksi menerjamahkan dengan teriakan pelan. hampir setengah berbisisik. Tapi cukup jelas tertangkap oleh pendengaran Rahmania dan lelaki berjenggot.


“Oh. Kamu tak pandai berbahasa urang awak,10


kata lelaki berjenggot memahami makna yang terlihat olehnya antara wanita yang belum dikenalnya dengan sang sopir taksi.


“Iya, Pak. Kenalkan saya Rahmania dari Jakarta. Teman Dai dan Doa,” Rahmania memperkenalkan diri sambil ulurkan tangannya.


“Saya Mamak11 mereka,” balas lelaki berjenggot itu. “Tapi Dai sedang tidak di rumah. Kalau Doa ada di dalam. Saya akan panggil sebentar.”


Bapak berjenggot itu masuk ke dalam rumah dengan cekatan.


Di lantai dua rumahnya yang megah, Doa sedang menyelesaikan tugas kuliah di ruang belajar,   menghentikan pekerjaannya demi didengarnya ada detak langkah yang mendekati. Tak selang berapa lama pintu kamar belajar terbuka. Lelaki berjenggot itu segera menghampiri Doa. Dia adalah adik kandung dari Almarhumah Ibunya.


“Mak Angah12!” kata Doa menyebut orang itu begitu memasuki ruang belajarnya.

__ADS_1


“Ada orang bertamu dari Jakarta,” bisik Orang yang dipanggil sebutan Mak Angah itu oleh Doa.


“Dari Jakarta Mak Angah. Siapa?” kata Doa penasaran. Dia tak mungkin dikasih kabar sebelumnya jika ada tamu dari Jakarta.


 


 


Biasanya ayahnya yang sekali sebulan mengunjunginya dengan beberapa kerabat dan orang kepercayaan dari ayahnya ke Pariaman.


“Katanya, kau dan Dai adalah temannya. Mari lihatlah ke bawah!” ajak Mak Angah


Doa yang penasaran segera meninggalkan ruang belajar. Hatinya tak dapat menduga-duga sama sekali siapa yang sedang bertamu ke rumahnya. Hanya ada segelintir temannya yang mengetahui keberadaannya di Ranah Minang ini. Rasanya tak mungkin di antara mereka nekat datang tanpa membuat janji terlebih dahulu.


Di ruang tamu Rahmania menunggu dengan gelisah. Sesekali dia pejamkan matanya menenangkan diri. Dia merasa waspada kalau kedatangannya tak di respon baik oleh Dai dan Doa.


Dai yang menerima kenyataan pahit oleh tingkah otoriter ayahnya yang tak segan memisahkan mereka berdua dengan memaksanya kawin dengan orang yang tidak ia cinta, tentu kenyataan pahit itu akan berimbas juga kepada kembarannya Doa.


Sampai mereka memutuskan kuliah di tempat yang jauh di Pulau Sumatera di kampung ibu mereka, tempat yang belum mereka kenal sama sekali.


Menuruni anak tangga, Doa sudah menangkap siapa yang datang. Darahnya tiba-tiba terkesiap. Tak dia sangka yang bertamu itu adalah Rahmania. Dari mana ia tahu tentang keberadaan mereka bersaudara di sini. Selama ini hubungan mereka terisolir dan terputus sama sekali.


Ada maksud apa kedatangannya ke sini. Di saat luka Dai baru saja sembuh. Di saat Dai sudah menemukan cinta barunya yang sedang bersemi dengan Saidah. Dai bisa saja terluka lagi bila melihat Rahmania. Dan luka itu akan rawan sekali terulang.


Memandang Rahmania, Doa juga terkesima dengan kecantikan alami rahmania yang masih sama seperti dulu. Walau dia sudah bersuami, bahkan setelah lama tak bertemu kecantikannya lebih terlihat lagi.


Doa tak kuasa menuruni anak tangganya. Perasaan benci pada Rahmania tiba-tiba menyelip di sanubarinya. Mengingat apa yang terjadi dengan Dai selama ini. Dia hendak memutar langkah dan berbalik ke ruang belajar. Namun, tiba-tiba saja suara Rahmania memanggil namanya.


“Doa!” panggil Rahmania.


Suaranya masih saja merdu dan sangat indah untuk didengar. Suara manja saat mereka sering bersama menghabiskan waktu luang di Jakarta dulu. Membuat Doa sedikit melunak. Namun tak langsung dia memutuskan melanjutkan langkahnya. Barulah demi mendengar perintah dari Mak Angah membuatnya bergerak secara refleks menuruni anak tangga.


“Doa, ayo turunlah ke sini. Tamu dari jauh. Harus sangat kita hargai,” kata Mak Angah demi melihat sikap Doa yang agak sedikit canggung.


“Sudah lama datang?” agak sedikit kecut Doa menyapa Rahmania yang selalu mengembangkan senyum manisnya yang khas.

__ADS_1


“Doa, Maafkan kedatanganku yang tanpa diundang ini.”


“Tahu dari mana alamat rumah ini?” Doa masih bersikap ketus


“Aku tahu dari Berlin. Maaf.. aku yang memaksanya memberi tahu alamat ini.” Rahmania menundukkan kepalanya. Ada rasa bersalah yang membuat bulir matanya jatuh tanpa dia sadari. Cepat-cepat dia membalikan badannya ke arah tas yang ditaruh di sampingnya. Dan menyambar tisu basah di dalamnya.


Bukan hanya rasa bersalah yang membuatnya meneteskan airmata, tapi hatinya yang semakin hiba tatkala mendapati sikap ketus Doa terhadapnya.


Doa bukannya tak melihat rembesan air mata Rahmania. Beberapa pertanyaan baru menyeruak di benaknya. Apa sebenarnya yang terjadi dengannya. Kenapa dia datang jauh-jauh ke Padang. Kenapa dia sendirian dan hanya ditemani dengan sopir taksi.


“Aku permisi dulu,” tangis Rahmania tak terbendung lagi. Ia segera berlari menuju taksi yang masih setia menantinya.


“Rahmania!” Doa mencoba memanggil. Namun teriakkannya sia-sia belaka. Taksi yang menunggu di tepi jalan berlalu dengan mudahnya, meluncur meninggalkan Doa yang berusaha mengejarnya.


Doa merasa bersalah. Nada suaranya yang ketus telah membuat Rahmania berlalu secepat itu.


 


 


 


 


Ket:


8 Mencari siapa Adik


9 amboi! Siapa ini


10 Sebutan untuk orang Minangkabau


11 Paman


12 Panggilan untuk saudara laki-laki Ibu

__ADS_1


__ADS_2