Reinkarnasi Cinta

Reinkarnasi Cinta
Episode 34


__ADS_3

Naila telah selesai mandi, Erni membantunya untuk memilihkan pakaian yang cocok untuknya.


"Apa ini tidak terlalu berlebihan menggunakan pakaian yang anggun seperti ini?" tanya Naila.


"Iya juga ya, kalau begitu coba pakai model sabrina ini sangat cocok di kenakan dengan celana pendek!" kata Erni memilihkan pakaian.


"Baiklah, akan aku coba!" kata Naila.


'Aku hampir lupa kalau hari ini bukan hari spesialnya,' batin Erni.


"Apakah ini cocok untuk aku?" tanya Naila setelah berganti pakaian.


"Sangat cocok, kamu sangat cantik menggunakan pakaian itu. Sekarang tinggal menata rambutmu," kata Erni.


Erni mulai menata rambut Naila menjadi lebih cantik.


"Sepertinya kamu bisa melamar sebagai penata rias deh Er," kata Naila ketika melihat kelincahan Erni menata rambutnya.


Terlebih lagi make up Erni sangat enak untuk di pandang.


"Kamu ini banyak sekali pujianmu. Kemarin menjadi penulis dan motivator, sekarang justru mengarah ke sesuatu yang lebih tak mungkin!" kata Erni.


"Salahkan dirimu sendiri yang memiliki begitu banyak bakat namun di pendam tidak di kembangkan," kata Naila menjawab perkataan Erni.


"Sudah nih, sekarang tinggal menunggu Angkasa bukan" kata Erni.


Tak lama setelah Erni menyebut namanya, Angkasa kembali mengetuk pintu kamarnya.


"Angkasa sudah datang, kamu saja yang bukakan ya! Tiba-tiba aku sakit perut," kata Erni meninggalkan Naila.


"Ehhh!" Naila ingin menahan Erni namun tak bisa karena Erni lebih cepat berjalan ke kamar mandi.


'Semoga berjalan lancar ya Naila,' batin Erni yang pura-pura sakit perut.


Naila memberanikan diri untuk menghadapi Angkasa sendirian. Meskipun sangat malu berdandan yang heboh, tetapi Naila berharap Angkasa menyukainya.


Saat Naila sudah membukakan pintunya, Angkasa sedikit terkejut dengan penampilannya Naila.


"Apa itu terlihat,,, jelek?" tanya Naila ragu-ragu.


Angkasa menggelengkan kepalanya, dia masih terpana melihat kecantikan yang di miliki oleh Naila.


"Kamu sangat cantik Naila," puji Angkasa setelah tersadar dari lamunannya.


"Itu untuk siapa?" tanya Naila menunjuk bunga yang begitu besar di tangan Angkasa.


"Untuk kamu, agar tidak marah lagi. Apa kamu suka?" tanya Angkasa sambil menyodorkan bunga tersebut kepada Naila.


"Tentu, aku sangat suka bunga!" sahut Naila.


"Syukurlah! Jadi, bisakah kita pergi jalan-jalan hari ini? untuk menebus waktu kemarin-kemarin!" kata Angkasa.


"Hanya berdua?" tanya Naila.


"Yah, jika Erni tidak ikut!" sahut Angkasa.


Angkasa berharap Erni memang berhalangan hadir karena dia ingin berduaan dengan Naila.


"Erni masih sakit perut, mungkin kita bisa jalan berdua dan biarkan dia menyusul nanti!" kata Naila dengan hati yang berdebar-debar.


Naila menaruh bunga yang di berikan oleh Angkasa terlebih dahulu sebelum pergi bersamanya.


Angkasa menggandeng tangan Naila yang membuat Naila menjadi sangat gugup berjalan di sampingnya.


"Kamu mau pergi kemana?" tanya Angkasa.


"Aku hanya ingin jalan-jalan saja sih. Sesekali jalan kaki tidak apalah untuk kesehatan," kata Naila.


Alasan yang benar adalah agar Angkasa tidak melepas tangannya meskipun dia sendiri merasa gugup namun juga senang. Alasan lainnya agar dia bisa lebih dekat dengan Angkasa dengan waktu yang lama.


"Baiklah, jika kamu lapar bilang saja. Aku yakin kamu tak akan kuat untuk berjalan jauh," ucap Angkasa yang telah hafal dengan kebiasaan Naila.


Setelah lama berjalan, Angkasa melihat sebuah wahana liburan. Angkasa penasaran dan mengajak Naila untuk datang kesana melihat-lihat.

__ADS_1


Ternyata di sana ada pentas seni, dan ada banyak orang yang berjualan makanan yang membuat Naila menelan ludahnya. Tempatnya sangat ramai pengunjung dan juga ada banyak permainan di sana salah satunya adalah kereta meluncur.


"Apa kamu mau bermain?" tanya Angkasa.


"Boleh, di sana ada game lempar kaleng susun. Aku pernah mencobanya," kata Naila.


Angkasa mengajaknya ke sana untuk bermain, dan di sana dia menerima sebuah bola.


Naila melempar bola tersebut dan menjatuhkan semua kaleng yang di susun tersebut.


"Yey aku menang!" pekik Naila kegirangan.


Naila menerima hadiah dari orang yang memiliki game tersebut. Sebuah boneka gurita kecil yang lumayan berharga.


"Kita main pancing ikan yuk!" ajak Naila penuh semangat.


Angkasa pun menuruti permintaan Naila, dia tidak pernah melihat Naila sesenang ini sebelumnya. Hati Angkasa menjadi adem setelah melihat Naila tertawa.


Beberapa jam Naila terus mengajak Angkasa banyak permainan. Hingga akhirnya Naila sudah lelah dan merasakan perutnya yang lapar.


Angkasa mengajak Naila untuk membeli cemilan yang ada di sana untuk mengganjal lapar sementara.


"Wahhh ada banyak makanan! aku ingin mencobanya satu-satu!" kata Naila.


"Awas nanti tidak habis," ujar Angkasa mengingatkan.


"Tentu saja habis!"


Naila memilih makanan satu persatu, dia belum pernah mencoba makanan yang ada di sana.


"Bungkus saja semuanya, aku bayarin!" kata Angkasa yang membuat Naila menoleh ke arahnya.


Naila menolaknya dengan sopan, dia tahu keadaan ekonomi Angkasa tidak begitu baik. Meskipun Angkasa memiliki uang yang cukup banyak itu mungkin hasil kerja kerasnya. Naila tak bisa menerima tawaran tersebut.


"Uangnya lebih baik kamu simpan untuk dirimu sendiri saja!" kata Naila.


"Baiklah kalau begitu," ujar Angkasa.


'Aku lupa peranku saat bersamanya hanyalah orang miskin yang tak memiliki apa-apa,' kata Angkasa dalam hati.


'Ternyata wanita ini cukup pemaksa,' batin Angkasa.


"Nai, kita duduk di sana yuk!" ajak Angkasa menunjuk ke arah kursi yang berada di bawah pohon.


Naila menyetujuinya, mereka datang ke sana untuk menikmati makanannya.


"Tuan Yuda!"


seorang pria mengenali wajahnya Angkasa dan menyapanya dengan ramah.


"Maaf, apakah Anda salah orang? saya Angkasa!" kata Angkasa yang tampak dingin.


"Benarkah? saya rasa itu Tuan Yuda yang populer di negara C!" kata pria tersebut.


"Saya mohon maaf atas itu ya, permisi!" ucap Pria tersebut langsung meninggalkan Angkasa.


"Aku kira Tuan Yuda, wajahnya sama persis. Ternyata hanya pria miskin, sia-sia aku menyapanya dengan ramah," gumam pria tersebut saat meninggalkan Angkasa.


"Kurang ajar banget sih!" ucap Naila yang hendak memarahi pria tersebut, namun Angkasa menahannya.


"Sudah, sudah. Jangan hiraukan dia, makan saja makanannya nanti keburu dingin loh," kata Angkasa.


"Tapi dia begitu sombong, sudahlah salah orang setelah itu berkata seperti itu!" kata Naila dengan emosi yang meluap-luap.


"Biarkan saja, jangan sampai itu membuat suasana hatimu rusak hanya masalah kecil itu," kata Angkasa.


Namun di balik itu, Angkasa tersenyum dalam hati. Dia suka melihat Naila membelanya, tetapi dia tidak akan membiarkan Naila turun tangan sendiri.


*Kelvin, batalkan kerjasama dengan perusahaan Tio!*


Angkasa memberikan perintah lewat pesan kepada Kelvin. Padahal client tersebut baru menandatangani kontrak kemarin saat sedang di restaurant.


"Apa kita akan melanjutkan perjalanan setelah makan?" tanya Angkasa.

__ADS_1


"Tidak, tidak! aku harus pulang karena aku sudah lelah!" sahut Naila.


Angkasa hanta tertawa kecil, sesuai dugaannya Naila tak akan sanggup untuk berjalan jauh itu sebabnya dia mengajaknya ke wahana. Selain dapat bermain juga bisa menikmati makanan.


"Nanti malam, apa kamu ada waktu? aku ingin mengajakmu makan malam, hanya berdua saja," ajak Angkasa.


"Boleh!" sahut Naila.


Sedangkan di sisi lain, Erni mengetuk pintu kamar Kelvin. Dia tahu Kelvin tidak akan ikut karena dia tahu rencananya.


"Ada apa Erni?" tanya Kelvin setelah membukakan pintunya.


Erni buru-buru masuk ke kamar dan menutup pintunya. Kelvin semakin bingung di buatnya, terlebih lagi ini pertama kalinya dia berduaan dengan wanita yang membuatnya semakin gugup.


"Hei Kelvin, aku memiliki satu permintaan untuk kamu!" kata Erni.


Kelvin mendengarkannya dengan seksama dan manggut-manggut pertanda mengerti.


"Jadi kamu sampaikan kepada Angkasa ya! aku tidak memiliki kontaknya. Ingat, semuanya harus berjalan sesuai rencana, melenceng sedikit boleh asal masih sesuai dengan tujuannya!" ucap Erni.


"Oke siap, itu pasti akan berjalan sempurna. Lagipula dengan karakter Angkasa dia pasti sudah mempersiapkan sesuatu yang lebih bagus untuk Naila!" kata Kelvin.


"Kamu, sudah kenal dengan Angkasa berapa tahun?" tanya Erni penasaran.


"Saat Angkasa berusia 5 tahun!"


"Wow, berarti kalian sudah bersahabat dari kecil? itu luar biasa untuk mempertahankannya sampai sekarang," kata Erni yang takjub dengan persahabatan mereka.


"Aku juga berharap aku bisa menjadi sahabat Naila selamanya," Erni mencurahkan isi hatinya kepada Kelvin.


Tentu saja Kelvin mendukungnya karena itu pasti akan menjadi lebih baik dengan adanya Erni di samping Naila. Dengan begitu Angkasa tak lagi begitu khawatir tentang Naila.


"Aku akan keluar sekarang, sebentar lagi pasti Naila datang!" ucap Erni.


Erni terburu-buru keluar sehingga kakinya tersandung dengan sebuah meja yang ada di dekat televisi. Untungnya Kelvin bertindak cepat dan menangkapnya.


"Ma-makasih Kelvin, aku pergi dulu!" ucap Erni gugup.


Kelvin hanya terdiam, dia baru saja merasakan hati yang berdebar-debar saat menatap wajah Erni dari dekat.


'Walaupun itu hanya 10 detik, tapi terlihat jelas wajah cantik Erni,' batin Kelvin.


Namun Kelvin mengalihkan pikirannya, tidak mungkin baginya untuk berpacaran. Hidupnya sudah di serahkan kepada Angkasa dan juga dia sudah berjanji dengan orang tuanya Angkasa bahwa Kelvin akan setia mengikuti Angkasa sebagai asistennya.


Kejadian 5 tahun yang lalu...


Ayah Angkasa hampir sekarat, saat itu Angkasa baru berusia 16 tahun. Kelvin sudah menjadi sahabat Angkasa selama bertahun-tahun. Orang tuanya sudah meninggal dan akhirnya di temukan oleh orang tuanya Angkasa saat dia berumur 3 tahun.


Sejak saat itu Kelvin berjanji untuk menyerahkan hidupnya kepada Angkasa. Dan menjaga Angkasa saat berada dalam masalah. Janjinya ini hanya dirinya sendiri yang tahu. Perlahan Saat Angkasa mulai mewarisi perusahaan, Kelvin rela tidak melanjutkan pendidikan demi menjadi asisten Angkasa.


Angkasa tidak mengizinkannya namun Kelvin kekeh, dia ingin membantu Angkasa mengurus perusahaan saat Angkasa sedang berada di kampus. Selain itu, Kelvin juga sadar diri karena tidak memiliki biaya apapun untuk sekolah. Meskipun telah di angkat oleh orang tuanya Angkasa, namun mereka bukan orang tua yang asli.


Sejak saat itu Kelvin bersedia menjadi pengikut Angkasa hingga selamanya. Meskipun beberapa kali Angkasa memberikan perintah yang sulit namun Kelvin tetap senang. Karena di dalam diri Angkasa masih menganggap Kelvin sebagai sahabatnya.


Kembali ke masa sekarang, kini Naila telah kembali ke hotel bersama dengan Angkasa. Dia mengucapkan banyak terima kasih karena telah meluangkan waktu untuk dirinya.


"Nanti jangan lupa ya jam 7 aku cari lagi!" kata Angkasa sebelum Naila masuk kamar.


"Iya," sahut Naila singkat.


Sejujurnya Naila grogi saat menatap mata Angkasa. Mau gimanapun dia berusaha untuk menyembunyikannya tetap saja tidak bisa.


Setelah berbincang Naila dan Angkasa akhirnya masuk ke kamar masing-masing.


"Kelvin, kenapa kamu melamun?" tanya Angkasa yang baru saja masuk ke dalam kamar.


Angkasa melihat Kelvin merebahkan dirinya dengan tatapan kosong ke atas.


"Eh Tuan sudah pulang!" sahut Kelvin basa-basi.


"Ada apa? apa ada yang kamu pikirkan?" tanya Angkasa.


"Tidak, hanya saja tadi Erni datang ke sini dan memberikan sebuah rencana kepada Tuan," kata Angkasa.

__ADS_1


Kelvin menyampaikan semua rencana yang di berikan oleh Erni.


__ADS_2