Reinkarnasi Cinta

Reinkarnasi Cinta
Episode 74


__ADS_3

"Tuan, apa tidak berlebihan untuk membuat Naila seperti itu?" tanya Kelvin yang tampak khawatir dengan perbuatan sahabatnya itu.


"Tidak, biarkan dia belajar sendiri untuk menjadi lebih kuat saat dirinya dihina oleh orang lain. Agar kelak saat dia menikah denganku, aku tidak perlu khawatir dia tidak bisa melawan orang yang menyakitinya," sahut Angkasa yang tampak sudah mempersiapkan rencana tersebut dengan matang.


Angkasa sengaja tidak memberikan kesempatan pada Peter untuk bekerjasama dengannya lagi meski Naila telah memohon kembali. Angkasa ingin melihat apa yang di lakukan oleh Naila, tapi juga tetap di awasi oleh Angkasa.


...***...


Di sisi lain, Naila masih bingung mencari jalan keluar untuk masalahnya sendiri. Pasalnya Naila tak begitu mengerti dengan keadaan perusahaan. Terlebih lagi mencari investor untuk investasi di perusahaannya itu sangat susah.


"Oke! kalau aku tidak bisa mencari pengganti Angkasa aku hanya bisa bekerja untuk ayah tanpa gaji!" ucap Naila bertekad.


Naila melihat satu produk baru yang baru saja dikeluarkan oleh perusahaan Ayahnya. Dia mengambil produk tersebut yang terletak di meja riasnya. Sejenak dia meneliti dan membaca manfaatnya dalam kemasan.


"Mari kita mulai!" ucap Naila yang telah siap dengan kameranya.


Benar, hari ini juga Naila melakukan live di sosial medianya.


"Halo teman-teman semua! kembali lagi bersama Naila, apa kabar kalian semua?" ucap Naila pada teman-teman onlinenya yang sedang menontonnya.


Agar suasana tak membosankan, Naila perlu berbasa-basi terlebih dahulu kepada para penonton live nya. Sambil membaca komentar penonton, juga sambil menjawabnya.


Setelah di rasa cukup, kini Naila mulai mempromosikan produk barunya.


"Teman-teman, kalian sudah tahu belum kalau perusahaan Cahaya Gempita sudah mengeluarkan produk barunya berupa cream wajah?" tanya Naila kepada penontonnya.


Berdasarkan komentar yang di baca Naila, ternyata masih banyak orang yang belum tahu mengenai produk baru yang baru saja di keluarkan oleh perusahaan ayahnya.


Bahkan ada yang ingin agar Naila menunjukkan produk baru tersebut karena sangat penasaran.

__ADS_1


"Kenapa banyak yang belum tahu? padahal kemarin sudah di sebar brosur loh dan juga ada diskon besar-besaran yaitu 70%" ucap Naila menarik perhatian pelanggannya kembali.


Naila pun mulai mereview produk tersebut, dan memberikan informasi kepada penontonnya.


"Jadi, produk ini cocok banget untuk kalian yang memiliki masalah kulit berjerawat!. Untuk lebih jelasnya kalian bisa baca kandungannya di kemasan ya. Silahkan di screenshoot dalam waktu 3, 2, 1 "


Naila memperlihatkan kandungan bahan-bahan yang ada dalam cream tersebut agar penontonnya percaya. Dan bisa mencocokkan skincare mereka.


"Sudah kan? jadi bagi kalian yang ingin membeli produk tersebut bisa langsung datang ke sana ya. Buruan deh, mumpung diskon 70% nya masih ada!" ucap Naila.


Setelah selesai mempromosikan produk, Naila berpamitan kepada penontonnya untuk mengakhiri live.


"Huft! semoga saja banyak orang yang membeli produk. Tanpa Angkasa juga aku bisa membuat ayah untung banyak," ucap Naila.


Di sisi lain, Angkasa yang baru saja selesai menonton live Naila merasa cukup bagus. Naila memanfaatkan dirinya yang sebagai selebgram untuk menarik para pelanggannya.


...***...


"Kenapa ada banyak kerumunan orang di perusahaan?" tanya Peter pada satpam yang berjaga di depan pintu perusahaan.


"Mereka menanyakan tentang produk baru kita Tuan, dan saya mencoba untuk membiarkan mereka mengantri!" ujar Satpam tersebut.


Peter memerintahkan salah satu karyawannya untuk mengambilkan sebuah Toa. Beberapa menitnya Karyawan tersebut datang dengan Toa yang di minta oleh Peter.


"Mohon antre ya teman-teman sekalian! untuk pembelian produk cream wajah yang baru saja rilis ini harus mengantri dulu ya. Kami akan meminta data diri kalian seperti alamat dan nomor telepon. Nanti saya kirim satu persatu menggunakan jasa kurir, sistem pembayaran bisa COD atau transfer dan cash juga bisa ya!" ucap Peter dengan keras.


Sekitar 200 orang yang berkerumun di depan perusahaan Peter akhirnya tenang. Orang yang lewat berlalu lalang di jalan raya merasa bingung tentang apa yang terjadi di sana.


"Lalu di mana kami harus menuliskan alamat kami?" tanya salah satu dari 200 orang tersebut.

__ADS_1


"Sebentar kami akan memberikan secarik kertas, kalian bisa menuliskan nama kalian, alamat, nomor telepon dan produk yang akan di order!" ucap Peter.


Peter kembali memerintahkan salah satu staf yang berdiri di sampingnya untuk mengambilkan kertas yang di potong-potong. Peter juga menyuruh Erni untuk membeli alat tulis pulpen di depan perusahaanya sebanyak 5 kotak untuk di bagikan kepada orang-orang tersebut.


"Mohon maaf ya jika lama, karena kami belum ada persiapan. Kami tidak menyangka kalian akan datang berbondong-bondong ke sini!" ucap Peter yang merasa tak enak hati.


Setiap menit orang-orang yang datang justru semakin bertambah. Peter tak bisa menanganinya, dan tidak bisa memberikan tempat duduk untuk mereka. Jadi Peter hanya bisa menunggu stafnya untuk membawakan peralatan yang di butuhkan.


Beberapa menit kemudian, Erni datang bersamaan juga dengan staf yang di suruhnya memotong kertas.


Peter dan Erni membagikan pulpen dan kertas tersebut. Untuk pulpen mereka harus menggunakan secara bergantian. Jika sudah selesai, Erni akan menerima kemudian mengecek isi kertas tersebut untuk memastikan isinya sudah lengkap.


Orang-orang yang telah mengisi kertas tersebut langsung pulang. Jika mereka membayar secara cash maka mereka akan menyerahkan uangnya kepada Erni.


Namun kebanyakan orang memilih untuk sistem COD, karena menurut mereka lebih aman.


Setiap 3 menit sekali jumlah orang berkurang sekitar 10 orang. Hingga menjelang sore hari perusahaan Peter yang tadinya sangat ramai kini hanya tersisa 2 orang saja.


"Terimakasih ya Bu! semoga setelah mencoba, bisa berlangganan!" ucap Peter pada orang terakhir yang mencatat.


"Iya Tuan, banyak-banyakin mengadakan diskon pasti ramai. Karena kami para ibu-ibu kadang susah untuk berdandan karena uang dapur yang memadai!" ucap wanita tersebut yang sepertinya sudah berumah tangga.


"Di usahakan!" ucap Peter tersenyum ramah.


Setelah selesai berbasa-basi, wanita terakhir yang ada di sana pun pulang. Peter mulai mengumumkan kepada karyawannya mulai besok mereka akan lembur untuk merekap dan mem-packing semua produk yang akan di kirim.


Terlebih lagi untuk staf yang bertugas mengirim. Beberapa staf menyarankan untuk menggunakan jasa kurir lain yang terkenal dan menjualnya di marketplace tertentu. Tujuannya agar jangkauannya lebih luas, bahkan di luar daerah pun bisa memesannya.


Tentu saja Peter setuju dengan hal itu, namun dia masih menunggu riview dari pelanggan yang mencobanya.

__ADS_1


__ADS_2