
Naila memutuskan untuk mengantar Erni pulang ke rumahnya sekalian ingin tahu rumahnya Erni.
"Naila rumahku tidak semewah dan sebesar rumahmu, jadi jangan terlalu terkejut ya. Apalagi tadi sempat di buat berantakan oleh kedua preman sewaan Fernando," kata Erni yang merasa kurang percaya diri dengan keadaan rumahnya.
"Jadi kamu buru-buru pulang karena preman itu datang ke rumahmu? lalu apa yang terjadi sampai kamu di sana?" tanya Naila yang tampak mengkhawatirkan keluarga Erni.
Erni menceritakan semua kejadian yang di alaminya tadi, meskipun singkat tapi cukup untuk mematahkan hatinya. Terlebih lagi dia belum tahu keadaan ayahnya bagaimana setelah di dorong keras oleh preman tersebut. Ayahnya sudah tua, sudah pasti memiliki tenaga yang lemah. Erni menceritakan semua itu sambil menangis ketika dia teringat kejadian tersebut.
"Dasar Biad@b! kamu tidak perlu khawatir Erni Ayah kamu pasti baik-baik saja!"
Naila mencoba menenangkan Erni sambil fokus menyetir mobilnya. Erni sangat berterimakasih kepada Naila karena telah datang menolongnya melawan bahaya.
Naila juga ikut berterimakasih karena telah memberi kode kepada Naila.
"Kamu paham kode ku?" tanya Erni terkejut.
"Tentu saja! lagipula aku belum percaya 100% dengan Safira. Dan tadi kamu sempat menggelengkan kepala, aku mengartikannya sendiri kalau ada hal yang tidak beres sedang terjadi di sana!" sahut Naila.
"Syukurlah kamu mengerti dan siap siaga membawa polisi datang ke sana,"
"Awalnya ingin memaafkan mereka untuk kedua kalinya, namun mereka sendiri yang meminta mengulur waktu hingga polisi datang dan menangkap mereka. Dan lebih parahnya lagi, mereka justru ikut mengikatku di sana," kata Naila tersenyum.
"Kamu sungguh hebat Nai, bahkan masih bisa berakting dalam situasi seperti itu," kata Erni yang tak henti-hentinya memuji kehebatan Naila.
"Kamu juga sangat hebat. Sudah-sudah jangan bahas ini lagi, sebentar lagi bukankah sudah akan sampai di rumahmu!" kata Naila menghentikan percakapan mereka.
Beberapa menit kemudian, Naila dan Erni telah sampai di rumah Erni. Erni mengajaknya masuk karena tahu pasti Ibu dan Ayahnya sedang berada di dalam.
__ADS_1
"Bu, bagaimana keadaan Bapak? tadi Erni lihat Bapak di dorong oleh preman itu!" kata Erni bergegas menghampiri ayahnya yang terbaring di atas ranjang yang terbuat dari kayu beralaskan tikar saja.
"Bapak baik-baik saja Erni, hanya pinggangnya yang di rasa sakit karena terjatuh di lantai!" sahut Ibunya yang bernama Ratna.
"Maaf Bu, apa perlu di bawa ke rumah sakit? kalau gitu saya antar sekarang,"
Naila menawarkan diri untuk mengantar sekaligus membayar pengobatannya nanti di rumah sakit. Lagipula ini semua terjadi karena dirinya, Fernando sengaja menggunakan Erni untuk memancing kedatangannya karena Fernando tahu kalau Erni sangat dekat dengan dirinya.
"Ini siapa Erni?" tanya Ratna kepada Erni yang belum sempat memperkenalkan temannya.
"Kenalin Bu, ini Naila anak bos aku!" ucap Erni memperkenalkan Naila kepada Ibunya.
"Oh maaf tadi belum tahu nama kamu. Bapak tidak perlu di bawa rumah sakit nanti kalau di urut sama Ibu juga bakalan sembuh kok," kata Ratna dengan sopan.
"Lebih baik ke dokter saja Bu lebih cepat sembuh nanti juga di tangani dengan tepat oleh Dokter!" kata Naila menawarkan sekali lagi.
Naila masih tidak enak hati, dia tidak dapat membantu apa-apa kalau mereka menolak bantuannya. Dengan terpaksa Naila menggunakan uang sebagai pertanggungjawabannya.
"Maaf Bu, saya tidak bermaksud merendahkan atau bagaimana. Tapi saya merasa sangat bersalah jika Ibu dan Bapak tidak menerima bantuan dari saya," kata Naila memberikan beberapa lembar uang berwarna merah muda kepada Ratna.
Ratna menoleh ke arah suaminya dan juga Erni, dia masih belum mengerti apa maksud Naila.
"Jadi gini Bu, preman tersebut hanya preman suruhan. Mereka menculik Erni karena Erni teman dekat saya. Saya telah merugikan Ibu sama Bapak bahkan Erni sendiri, saya merasa tidak enak hati kepada kalian jika kalian terus menolak bantuan saya. Karena mereka menargetkan saya justru kalian yang terkena imbasnya. Jadi mohon di terima ya Pak, Buk!" kata Naila kembali menyodorkan uang dengan kedua tangannya.
"Nak Naila tidak perlu seperti itu. Kamu membawa Erni pulang dengan selamat sudah lebih dari cukup kok," ucap Randi yang merupakan ayah Erni.
"Yang di katakan Bapak benar Nai, kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu!" kata Erni yang ikut menolak.
__ADS_1
"Lalu, apa yang harus saya lakukan kalau kalian menolak niat baik saya?" tanya Naila yang bingung cara membantu keluarganya Erni.
"Kamu cukup menjadi teman baik Erni. Erni tak pandai berteman dari dulu dan sangat pemalu, dengan kamu menjadi temannya Erni sudah pasti tidak kesepian di kampus," kata Randi.
"Udah-udah jangan di lanjutin sedih-sedihnya. Lebih baik Naila bantu aku bersih-bersih saja!" kata Erni yang melihat sekeliling rumahnya belum sempat di bereskan oleh Ibunya.
"Oke siap Buk Bos!" kata Naila penuh semangat.
Naila sangat suka dengan pekerjaan bersih-bersih. Dia tidak suka melihat kamar yang berantakan ataupun kotor.
"Naila sangat baik ya Bu, bersyukur Erni memiliki teman yang baik seperti Naila!" kata Randi kepada istrinya yang duduk di sampingnya.
Kedua orang tua itu memandangi Erni dan Naila membersihkan rumah. Mereka tampak membagi tugasnya agar cepat selesai.
"Aku masak dulu ya Pak, kasihan mereka pasti lelah!" kata istrinya.
Randi hanya tersenyum dan mengangguk. Selain bersyukur memiliki anak yang baik Randi lebih bersyukur memiliki istri seperti Ratna. Ratna mau bertahan dengannya meskipun dirinya tidak memiliki banyak uang.
'Menyesal aku Rat kalau aku tidak bisa membahagiakan kamu. Melihat kamu murung sedikit saja aku sudah merasa bersalah, aku lebih suka melihat lamu yang tersenyum manis. Selama ini aku sudah cukup menyusahkan kamu,' kata Randi dalam hati sambil menatap istrinya yang hendak pergi ke dapur.
"Untung saja mereka tidak masuk sampai ke kamar, mereka benar-benar tidak memiliki hati nurani," kata Naila yang terus mengoceh sejak tadi.
"Kenapa kamu memiliki keluarga yang begitu baik sih Erni? aku mau ganti rugi gak mau, aku mau bertanggungjawab juga gak di bolehkan. Lalu aku ngapain agar bisa bantu kamu? ini sudah rusak parah loh barang-barang kamu yang ada di ruang tamu," kata Naila yang terus mengoceh menyalahkan dirinya sendiri.
Erni hanya tersenyum ke arah Naila, dia tidak bisa menjawab semua pertanyaan tersebut. Bahkan dirinya tidak tahu kenapa selalu menolak setiap pemberian orang lain.
'Mungkin aku lebih mementingkan harga diri, begitupula dengan orang tuaku,' kata Erni dalam hati.
__ADS_1