Reinkarnasi Cinta

Reinkarnasi Cinta
Episode 39


__ADS_3

Angkasa tak bisa tenang ketika dia sampai di perusahaannya. Dia masih teringat dengan Naila yang menjadi kekasihnya kemarin malam. Angkasa ingin tahu aktivitas apa yang akan di lakukan oleh Naila saat ini. Akhirnya Angkasa memutuskan untuk meneleponnya, dia tidak ingin rasa penasarannya membunuhnya.


"Ada apa Angkasa?" tanya Naila ketika telepon sudah di jawab.


"Kamu lagi apa?" tanya Angkasa berbasa-basi.


"Lagi scroll sosmed aja, ada apa?" tanya Naila lagi.


"Tidak ada apa-apa, aku cuma iseng aja nelpon kamu," kata Angkasa grogi.


"Kalau gitu aku lanjut kerja ya!" imbuhnya kemudian.


"Kerja? kerja apa kamu?" tanya Naila.


Angkasa kebablasan karena saking groginya bicara dengan Naila.


"Ammm aku kerja biasa lah kerja sama orang untuk biaya kuliah," kata Angkasa mencari alasan.


"Emm kasihan ya kamu, kalau gitu semangat ya!" ujar Naila.


"Pasti kok, udah dulu ya. Bye sayang," kata Angkasa lalu menutup telepon.


Naila sampai bingung kenapa Angkasa buru-buru mematikan teleponnya. Bahkan dia belum menjawab kata terakhir dari Angkasa.


"Ya udahlah mungkin dia sibuk!" ujar Naila.


Naila merasa iba dengan keadaan Angkasa namun dia tidak berani membantunya seperti dia membantu Fernando dulu. Naila takut Angkasa seperti Fernando meskipun Naila menganggap itu tidak mungkin. Namun Naila percaya dengan sedia payung sebelum hujan, dia tidak ingin mengulangi masalalunya lagi.


Naila melanjutkan scroll sosmed di handphonenya. Dia menemukan postingan Angkasa di instagramnya. Angkasa telah mengakui secara resmi bahwa Naila adalah kekasihnya. Banyak komentar yang bersedih karena idolanya telah memiliki pasangan. Namun banyak juga yang mendukung mereka.


Naila menjadi khawatir tentang fans Angkasa, dia takut fans nya mencari masalah kepada dirinya.


Sebuah postingan yang menandai dirinya, Naila membaca banyak komentar di kolom komentarnya. Para fans-nya juga memberinya selamat, dengan senang hati Naila membalas dan mengucapkan terimakasih.


Beberapa saat kemudian, ada sebuah telepon masuk dari Erni.


"Halo, ada apa Er?" tanya Naila.


"Nai, kamu beneran udah pacaran sama Angkasa? bukannya dia kemarin bilang gak jadi makan malamnya?" tanya Erni dengan tergesa-gesa.


Dapat di pastikan Erni menelepon Naila setelah dia melihat postingan Angkasa di instagram.

__ADS_1


"Iya, kemarin malam waktu di taman! bukannya kamu juga ada di sana?" kata Naila mengingatkan sahabatnya.


"Iya memang, tapi aku kira rencananya gak jadi!"


Erni menjadi tidak mengetahui apapun dari kemarin karena rasa cemburunya terhadap Naila dan Kelvin. Dia mengira Kelvin jatuh cinta terhadapnya, tapi ternyata pikiran buruknya salah besar..


" Maksud kamu? rencana apa? kamu udah tahu dari awal ya kalau Angkasa suka sama aku? " tanya Naila.


"Iya sebenarnya saat Angkasa mencari kamu di pagi hari. Aku juga merasa kalau Angkasa suka sama kamu, jadi aku langsung kasih kode saja tanpa ragu!" sahut Erni.


Erni tak sengaja keceplosan mengenai rencana yang dia rancang bersama Kelvin.


"Untung saja Angkasa memang suka sama aku, coba kalau enggak mau taruh di mana muka aku Erni," ucap Naila dengan nada bicara yang sedang geram dengan Erni.


"Feeling aku gak mungkin salah sih Naila. Tapi selamat ya, aku kemarin gak dapat lihat deh. Pasti romantis ya?" tanya Erni yang menyesal.


"Iya bagi aku cukup romantis kok! Dan juga Angkasa beri aku cincin sebelum aku masuk kamar kemarin," kata Naila sangat senang.


"Hah! serius?" tanya Erni terkejut.


"Serius! ini Cincinnya masih aku pakai. Apa menurutmu Angkasa serius ya?" tanya Naila kepada Erni.


"Sudah pasti sih itu, meskipun Angkasa belum melamar kamu tetapi dengan keadaan ekonominya dia sekarang pasti tidak mungkin tidak serius. Dia pasti sudah menabung berbulan-bulan untuk membelikan kamu cincin itu," kata Erni meyakinkan sahabatnya.


"Oke buk bos! kalau gitu aku lanjut bekerja dulu," ucap Erni.


Naila mematikan teleponnya setelah Erni selesai berbicara. Naila sangat ingin seperti Erni dan Angkasa, memiliki waktu sibuk dan jarang bersantai. Namun apa daya, Naila masih mencari cara untuk mendapatkan jati dirinya. Naila masih bingung harus melakukan hal apa.


......***......


Sore hari jam 5, Erni telah sampai di rumah Naila. Dia datang bersama dengan Peter atas permintaan Naila.


"Kamu langsung saja cari Naila di kamar, dia biasanya selalu di kamarnya dan jarang keluar!" kata Peter kepada Erni saat sudah masuk ke dalam rumahnya.


"Baik Pak, terimakasih ya Pak atas tumpangannya!" kata Erni.


"Sama-sama!" sahut Peter.


Erni izin untuk masuk ke kamar Naila yang ada di lantai atas. Dia menaiki anak tangga, sampai menemukan kamar Naila.


"Masuk!" sahut Naila dari dalam kamar saat Erni mengetuk pintunya.

__ADS_1


"Udah pulang Er? kok gak ngabarin, aku belum siap-siap loh!" kata Naila yang langsung bangkit dari tempat tidurnya.


"Iya nih gak sempat soalnya! kamu mandi saja dulu sana!" kata Erni kepada Naila yang masih duduk saja di atas ranjangnya.


"Kamu tunggu sini ya, gak lama kok!" ujar Naila.


Erni menjawabnya dengan sebuah anggukan. Saat Naila mandi, Erni menikmati pemandangan yang ada di luar jendela Naila. Terlihat sangat indah karena bisa melihat suasana kota yang sedang ramai saat itu.


'Suatu saat kalau aku sudah sukses pasti aku membuat rumah seperti ini juga untuk Ayah, Ibu dan Reno. Agar mereka dapat melihat suasana indah yang seperti ini,' batin Erni.


Erni tersenyum ketika dia membayangkan bagaimana bahagianya ibu dan ayahnya saat dia sudah sukses nanti. Terlebih lagi mulai besok Erni sudah menjabat sebagai manager di perusahaan. Gaji dan tunjangan pasti akan lebih besar, namun pekerjaan juga akan semakin berat. Erni tidak sabar ingin menyampaikan kabar bahagia itu kepada orang tuanya.


"Kenapa kamu senyum-senyum? apa ada hal yang membuat kamu bahagia hari ini?" tanya Naila yang telah selesai mandi dengan handuk yang melipat di badannya.


"Ada Nai, aku ingin berterimakasih banyak sama kamu sama ayah kamu!" kata Erni menghampiri Naila yang sedang bersiap mengenakan pakaiannya.


"Kenapa begitu?" tanya Naila sambil mengambil baju yang ada di dalam lemari.


"Karena aku naik jabatan menjadi manager," sahut Erni.


Sontak Naila terkejut sekaligus senang mendengar kabar bahagia tersebut.


"Selamat ya Erni, aku tidak menyangka kamu sehebat itu!" kata Naila memegang tangan Erni dengan sangat terharu.


"Iya Nai, ini semua karena kamu dan ayah kamu!" kata Erni.


"Tidak! ini semua berkat kerja keras kamu selama ini. Kamu bisa menjadi seperti ini atas usahamu sendiri, aku benar-benar kagum sama kamu Er!" kata Naila yang kemudian mengubah ekspresinya menjadi sedih.


"Kamu kenapa Nai?" tanya Erni yang menyadari perubahan raut wajah Naila.


"Aku kagum sama kamu sekaligus iri. Kapan ya aku bisa memulai hidupku, menggali potensiku. Aku ingin seperti kamu bisa bekerja keras, tapi sampai hari ini aku masih bingung akan melakukan apa!" kata Naila dengan raut wajah sedih.


"Jangan berkecil hati. Sekarang kamu coba tanyakan pada diri kamu sendiri, apa yang paling kamu minati maka itu yang kamu lakukan," kata Erni.


"Dan lebih penting adalah kamu sering-sering mengobrol dengan ayah kamu. Karena bisa jadi itu salah satu solusi untuk kamu mendapat kebahagiaan!" lanjut Erni.


"Nai, aku juga pernah iri dengan kamu. Kamu tinggal di rumah mewah, sepanjang hari bisa bersantai tanpa memikirkan uang. Tapi aku sadar, aku memiliki perekonomian yang tidak bagus tapi aku punya bakat. Sekarang kamu tinggal berusaha untuk menerima atau tidaknya kekurangan dan kelebihan kamu. Dan yang pasti kamu jangan terlalu takut untuk mencoba," kata Erni menasehati Naila.


Naila kembali bersemangat setelah Erni berkata itu.


"Makasih ya Erni," kata Naila sambil memeluk Erni.

__ADS_1


Tanpa di sadari Naila sudah selesai dengan persiapannya, mereka pun akhirnya berangkat setelah minta izin kepada Peter untuk pergi.


__ADS_2