
“Mengapa dia berayun-ayun di setiap khayalanku. Mengapa setiap mengingatnya, aku seperti menemukan sosok Ibu. Membuyarkan Rahmania yang selama ini menyertai dalam setiap denyut nadiku. Kesakitanku selama ini akan pernikahan Rahmania terbayar sudah di negeri ini. Negeri leluhur Ibu,” ucap Dai sendirian setengah berbisik.
Setapak demi setapak Dai menginjakan kakinya di halaman depan parkiran gedung Fakultas Budaya Minang. Parkiran masih sepi, tak terlalu banyak kendaraan yang berjejer di pelataran parkir Gedung Fakultas Budaya. Hanya ada beberapa mobil yang terlihat di halaman parkir yang sangat luas.
Dai, entah mengapa kedatangannya hari ini terlalu pagi. Semenjak dia mengenal Saidah, entah mengapa dia sedikit berubah. Semangatnya seperti tergenjot ke titik yang lebih cepat. Kini, perlahan-lahan bayangan wanita itu seperti mengikuti langkahnya.
Pagi ini keyakinan Dai akan Saidah sepertinya akan terwujud, ada sesuatu yang benar-benar diharapkannya. Matanya mulai mencari-cari menuju area parkir kalau-kalau wanita itu sudah datang.
“Da!” sebuah tangan mendarat di bahu Dai, membuatnya menoleh ke belakang. Sedari tadi langkah kaki orang yang berusaha menyusul langkahnya teracuhkan begitu saja. Karena pikiran terlalu sibuk terhadap Saidah, wanita yang mulai menari-nari di hatinya.
“Kamu Bing,” sapa Dai
“Kamu pagi sekali datangnya hari ini. Tidak seperti biasanya.”
“Lebih pagi lebih baik, bukankah ada istilah jikalau kita telat bangun rezeki kita bakal dipatok ayam. Ha.ha,” kilah Dai dengan tawanya yang khas.
“Nah. Kamu sendiri sepagi ini juga sudah datang?” balas Dai yang bertanya.
“Aku ada tugas yang tidak bisa aku kerjakan di rumah. Aku minta bantuan Saidah,” kata Ibing.
“Kamu akrab dengan Saidah,” tanya Dai penasaran
“Saidah itu masih sepupuku, dia anak pisang1 dari ibuku.”
“Anak pisang, berarti beda suku dong,” Dai penasaran, jikalau seandainya ada hubungan khusus antara Ibing dengan Saidah, maka akan dikemanakan perasaan yang menari-nari selama ini di hatinya. Tentu semua akan pupus.
“Iya. Aku bersuku panyalai2 sedangkan Saidah adalah sikumbang3.”
“Dalam suku Minang, agaknya boleh menjalin hunbungan dengan anak dari pihak Paman sendiri,” kata Dai penuh selidik.
“Maksudmu saya ada hubungan asmara dengan Saidah! Ha ha..” Ibing tergelak sendiri menanggapi perkataan Dai. Sementara Dai hanya terdiam, dalam diam ia merasa lega dengan tawaan Ibing yang bernada mengelak akan apa yang ia sangkakan tadi.
“Da. Awak sama sekali tidak ada hubungan dengan Saidah. Dia terlalu dekat bagiku. Ha.ha,” kalimat Ibing disertai tawanya yang renyah kembali berlanjut, lalu sesaat kemudian ia melanjutkan perkataannya lagi.
__ADS_1
“Emang ada di adat rang Minang, istilah pulang ka bako4. Artinya boleh kawin denga anak paman sendiri karena beda suku, tapi jaman sudah jauh berjalan. Peristiwa itu sudah sangat langka sekarang.”
“Kalau perasaan yang berbicara, bagaimana Bing. Walau jaman sudah berubah perasaan manusia pasti tetap sama. Bisa saja cinta akan terjalin dengan indahnya,” pancing Dai.
“Kalau aku dengan Saidah tak akan terjadi hal yang demikian. Kami waktu kecil sudah sangat dekat. Bukan hanya dekat hubungan sebagai saudara, juga dekat secara jarak rumah.
“Mamak ambo5 kawin dengan tetangga yang hanya dipisahkan oleh beberapa langkah saja.”
Dai mengangguk-angguk pertanda paham.
“Akan berbeda apabila kondisinya bila seseorang yang pulang ke bako. Apabila tadinya mereka saling berjauhan, dan ketika dewasa baru terjadi pertemuan. Cinta bisa saja saling tumbuh subur di antara mereka berdua,” Ibing tak melanjutkan ucapannya sebaliknya ia memperhatikan Dai yang begitu serius menyelidiki tentang Saidah.
“Dai. Kau seperti sangat ingin mengetahui tentang Saidah. Apakah ada perasaan sukamu terhadapnya,” goda Ibing
Ditanya seperti itu Dai jadi serba salah. Dia menghela nafas sedalam mungkin. “Aku hanya ingin tahu adat dan budaya saja,” elak Dai santai
“Itu. Dia Saidah,” Ibing memonyongkan mulutnya ke arah parkiran motor, di sana nampak Saidah sedang mengunci jok motornya dan mengkaitkan helmnya di bagian depan kanan stang motor.
“Eh. Aku ke Saidah dulu ya,” kata Ibing minta permisi pada Dai. Langkahnya nampak terbirit-birit mengejar Saidah.
Dai hanya bisa melongo dengan dada sedikit berdebar tak karuan, matanya pun tak berkedip memandang ke arah perempuan itu, sulit untuk dialihkan seolah terpaku. Lalu ia susul langkah Ibing yang mendekati Saidah.
Saidah benar-benar menepati janjinya pagi itu, dia datang lebih awal ke kampus menjumpai Dai. Entahlah, kenapa dalam sekejap saja dia ingin Dai segera tiba di hadapannya?
“Aku hanya bisa memberikan ini, Bing,” Saidah memberikan sebuah buku pada Ibing yang mendekatinya.
Ibing mengambil buku itu, sambil mengangkat bahunya, aku butuh penjelasan!”
“Tak usah khawatir, di sana aku sudah menggoreskan penaku berisi penjelasan yang mudah dimengerti,” kata Saidah meyakinkan Ibing.
Saidah lalu mendekati Dai, memulai obrolannya, dan tanpa sadar Ibing berlalu dengan muka bersemu seraya geleng-geleng kepala lalu bergumam pelan, “Kalian sudah jadian!”
“Maaf. Aku membuat dia pergi,” kata Dai selepas Ibing berlalu dari hadapan mereka.
__ADS_1
“Dia sepupuku!” jawab Saidah. Dai mengangguk dengan senyum sumringah, “Aku sudah tahu dari Ibing sebelumnya. Entahlah! Aku tak tahu mengapa begitu besar keingintahuan ini tentang Minangkabau.”
Saidah memang selama ini sering ditanya teman-teman dari luar Minangkabau, menanyakan segala hal yang jadi asing dan terasa berbeda di Indonesia pada umumnya, seolah-olah itu jadi daya tarik Minangkabau itu sendiri bagi orang-orang di luar sana.
“Minangkabau memang membuat orang banyak penasaran, saya banyak mendengar tentang pertanyaan-pertanyaan orang di luar sana tentang uang jemputan6-nya lah, matrilineal7-nya lah, ….” kata Saidah.
“Aku juga ingin tahu tentang Minangkabau di Negeri Sembilan,” kata Dai.
“Aku juga ingin semua orang tahu tentang Minagkabau di Negeri Sembilan. Aku pernah bermimpi mengajak teman-teman untuk studi tur di sana, tapi….”
“Tapi kenapa…? Bukahkah itu ide yang bagus!” Dai menanggapi ucapan Saidah yang terputus.
“Butuh sponsor yang banyak, kita sedang mencari sponsor untuk membiayai perjalanan studi tur itu,” jawab Saidah.
“Aku bersedia mensponsori biaya perjalanan tersebut,” kata Dai.
Saidah memandang mata Dai, dia memang melihat Dai sebagai anak kampus yang tajir, ke sekolah bermobil mewah, tapi dia belum pernah mengetahui keluarga Dai dan latar belakangnya.
“Hmmm, tidak usah, itu tak akan mudah, cukup bantu sebagai tim pencari sponsor saja,” kata Saidah kemudian.
“Tidak usah cari sponsor, aku serius ingin membiayai, aku punya tabungan,” kata Dai meyakinkan.
“Jangan pakai tabungan, itu untuk masa depan,” ujar Saidah. Dai merasa Saidah main-main dengan ucapannya. “Oh ya sebentar,” kata Dai sambil mengambil HP di dalam saku bajunya. Dia membuka SMS banking dan mengecek saldo tabungannya. “Ini lihat saldoku,” kata Doa menyodorkan SMS banking yang memuat saldo tabungannya.
Saidah memperhatikan dengan seksama akan keseriusan Dai, maka tak sadar Saidah sampai ternganga gelagapan. “Bu..bukan itu maksud saya, saya percaya saya percaya..tapi…kamu pikirkan lagi rencana pakai uang itu.”
“Baik, kalau kamu tidak mau, aku akan cari sponsor dengan mudah, Ayah saya pasti dengan senang hati membiayai studi tur kita nanti,” kata Dai tak putus asa.
Dai mengeluarkan kartu nama ayahnya, di situ tertera nama perusahaan dan alamat website perusahaan. “Ayah saya sangat suka membiayai ini semua, percayalah!” lanjut Dai.
Lagi-lagi Saidah terkesima dengan ucapan Dai, dia tak mampu berkata apa-apa lagi.
Hatinya begitu yakin akan kata-kata Dai. Dengan senyum penuh kehangatan ditatapnya mata Dai sambil mengangguk pertanda setuju. Daipun membalas senyuman itu dengan sangat indahnya. Hati mereka terasa damai dan begitu tentramnya, terlebih Dai, semua ini seolah pengobat luka hatinya di masa lalu yangluka teramat dalam. Sedangkan Saidah kini menatap masa depan tentang rencana penelitian ke Malaysia.
__ADS_1