
Setelah berlama-lama pelukan, Angkasa menyuruh Naila untuk duduk di kursi. Bersama dengan Erni menyanyikan lagu ulang tahun untuk Naila sampai pada tahap Naila meniup lilinnya.
Naila memotong kue-nya dan menyuapi Angkasa potongan kue yang sudah dia potong. Erni dengan sigap mengabadikan moment tersebut. Dia langsung mengambil handphonenya dan memfoto keromantisan mereka.
Meskipun sedikit iri namun Erni juga merasa sangat senang karen Naila memiliki pasangan yang sangat romantis dan juga baik seperti Angkasa. Tidak seperti dulu, Naila justru tersiksa saat dia masih pacaran dengan Fernando.
"Erni, sini aku suapi!" kata Naila yang melihat Erni sibuk memfoto dirinya bersama dengan Angkasa.
CEKREK!
Suara kamera saat di tekan berbunyi dari arah Angkasa. Dia memfoto dua gadis yang ada di depannya saat Naila menyuapi Erni.
"Makasih Angkasa!" ujar Naila sambil tersenyum.
Dua wanita tersebut langsung menghampiri Angkasa untuk melihat hasil foto mereka. Malam itu mereka bertiga bersenang-senang. Naila telah beruntung memiliki pasangan yang sangat romantis, bahkan saat dia tidak mengharapkannya.
Keesokan harinya saat Naila sudah sampai di kampus, dia dapat melihat beberapa orang berlarian ke arahnya. Saat itu dia berjalan sendirian dan di interogasi oleh Fans Angkasa sekaligus pria misterius tersebut.
"Bagaimana perasaan kamu setelah berpacaran dengan Angkasa?"
"**Apa sebelumnya kamu sudah tahu kalau Angkasa adalah pria misterius?"
"Atau apakah kamu mau berpacaran dengan Angkasa karena kamu dari awal sudah tahu bahwa Angkasa adalah pria misterius**?"
Beberapa pertanyaan di lemparkan oleh para mahasiswi. Bahkan ada yang meminta berfoto dengan Naila.
Naila dengan pelan mengatur wanita-wanita yang ingin berfoto dengannya. Sekaligus dia menjawab dengan hati-hati dari pertanyaan para wanita tersebut.
Setelah puas dengan jawaban dari Naila, para mahasiswi yang bertanya tersebut mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan Naila.
Naila menghirup udara segar saat terbebas dari kerumunan tersebut. Sepasang mata telah memperhatikannya dari jauh dengan tatapan yang penuh dengan kebencian. Orang itu adalah Vania, dia merasa cemburu karena saat berpacaran dengan Angkasa dia tidak mendapat hal romantis apapun.
Di depan Vania, Angkasa hanya bersikap seperti orang miskin dan lemah. Vania tidak mengira kalau Angkasa adalah orang yang romantis, bahkan dia adalah pria misterius yang sangat di kagumi oleh banyak orang.
__ADS_1
Vania sudah tidak sabar dengan kebahagiaan yang di miliki oleh Naila, dia memutuskan untuk melabrak Naila secara langsung.
"Eh lo pakai pelet apa sih buat memikat Angkasa? lo pakai dukun dari mana?" tanya Vania dengan mata yang melotot menatap ke arah Naila.
"Astaga Van, jaga bicaramu ya! aku tidak memakai pelet apapun!" kata Naila yang masih bisa bersabar menghadapi mantan sang kekasihnya.
"Jangan sok alim deh! gue tahu lo pasti pakai pelet atau sejenisnya untuk memikat Angkasa kan? makanya saat Angkasa bertemu dengan Lo, dia langsung mutusin gue!" tuduh Vania sangat kesal hingga dia memfitnah Naila.
"Mbak mohon maaf ya sebelumnya. Saya juga kalau menjadi pasangan Mbak pasti akan putusin langsung. Mana ada pria yang mau sama Mbak kalau Mbak sendiri gak bisa jaga sikap dan juga bicara!" sahut Naila dengan kata sopan namun menyakitkan.
"Gue gak mau tahu! lo harus putusin Angkasa sekarang juga!" kata Vania sambil menunjuk-nunjuk ke arah dada Naila.
"Kita gak kenal satu sama lain, kenapa saya harus nurut perkataan Mbak?" tanya Naila dengan nada jengkelnya.
"Lo berani ya sama gue!"
Vania mendorong Naila hingga membuat Naila tak seimbang dan hampir jatuh. Seseorang menangkapnya dari belakang, saat Naila menoleh ke arahnya ternyata pria itu adalah Angkasa.
"Bu-bukan seperti Angkasa, aku hanya tidak terima kamu jadian sama dia. Dan aku yakin dia pasti menggunakan sesuatu yang membuat kamu tiba-tiba terpikat dengan Dia," kata Vania yang ketakutan namun tetap dengan tuduhannya.
"Jaga ucapanmu, Naila tidak seperti yang kamu katakan! Naila adalah wanita yang baik, lebih baik dari kamu!" kata Angkasa dengan nada tinggi.
"Baik? merebut pacar orang apakah itu baik?" kata Vania yang mulai berani menghadapi Angkasa.
"Merebut? dia tidak termasuk merebut. Karena kita pacaran beberapa hari yang lalu," jawab Angkasa.
"Udah Angkasa lebih baik kita pergi saja. Tidak ada gunanya juga kita berdebat di sini," ajak Naila dengan wajah was-was.
"Tidak apa-apa Naila, serahkan sama aku!" ujar Angkasa sambil menepuk bahu Naila.
"Apalagi yang ingin kamu lampiaskan kepada Naila? lampiaskan saja semuanya sama aku!" kata Angkasa dengan tegas.
"Untuk apa aku melampiaskan kepada kamu? yang aku benci adalah Naila, bukan kamu!" kata Vania mengelak.
__ADS_1
"Kalau kamu membenci Naila itu sama saja kamu membenci aku!" sahut Angkasa yang tak ingin kalah.
"Kalau tidak ada lagi lebih baik kami pergi. Kalau kamu masih berani mencari masalah dengan Naila, siap-siap berhadapan sama aku!" ucap Angkasa lalu pergi meninggalkan Vania yang berdiam diri di sana.
"Ihh! kesel, kesel, kesel. Apa sih yang di sukai Angkasa dari dia? jelas-jelas dia tidak semenarik aku, aku juga gak kalah cantik daripada dia," ucap Vania dengan rasa kesalnya.
Vania hanya bisa menahan amarahnya terlebih dahulu sampai dia menemukan kesempatan untuk membalas Naila kembali. Meskipun sudah mendapatkan ancaman dari Angkasa, Vania tak akan tinggal diam. Sakit hati yang dia rasakan, Naila juga harus mendapatkannya. Itulah prinsip Vania saat ini.
Di sudut lain, Erni yang baru tampak batang hidungnya menghampiri Naila dan Angkasa.
"Aku sama Erni ke kelas duluan ya!" ucap Naila.
"Ya udah, semangat belajarnya ya!" kata Angkasa sambil mengangkat tangan dan mengepalkan jarinya.
"Iya, kamu juga semangat. Bye!" kata Naila yang langsung mengakhiri obrolannya.
Naila dan Erni pergi ke kelasnya, dia sangat menyesal kenapa dia tidak bisa memiliki kelas yang sama dengan Angkasa. Padahal Naila ingin sekali melihat wajah tampan Angkasa setiap hari bahkan setiap menit atau setiap detik.
"Hari-hari berikutnya mungkin nama kamu akan populer lagi di kampus. Angkasa selalu membuat kamu menjadi wanita yang diirikan oleh semua mahasiswi!" kata Erni saat berjalan menuju ke kelas.
"Tidak apa! lagipula para fans-nya juga sudah mengikhlaskan. Tapi ada satu yang harus aku waspadai," kata Naila kepada Erni.
"Siapa?"
"Vania, tadi pagi aku sudah di labrak. Tapi untungnya Angkasa datang tepat saat dia mendorongku," tutur Naila.
"Vania bukannya mantannya Angkasa ya? dia berani bersikap seperti itu setelah tahu semuanya?" tanya Erni yang tampak tak percaya.
Naila mengangguk dengan raut wajah yang masih menampakkan kekhawatiran.
"Benar-benar tidak tahu malu. Kedepannya kamu jangan banyak berurusan lagi dengan Vania. Dia wanita yang pemberani bahkan mengambil resiko yang berbahaya pun dia tidak akan mundur selama orang yang dia benci terjatuh sesuai yang dia harapkan!" kata Erni menasehati Naila.
Naila hanya meresap nasehat-nasehat dari Erni. Dia merasa selain memiliki pasangan yang romantis juga memiliki sahabat yang sangat peduli terhadapnya.
__ADS_1