Reinkarnasi Cinta

Reinkarnasi Cinta
Episode 48


__ADS_3

Lama berbincang-bincang sambil tetap melukis, Angkasa akhirnya telah menyelesaikan lukisannya dalam waktu 45 menit. Dia menunjukkannya pada Naila yang sedang duduk di sampingnya.


"Wah! bagus banget Sayang! memang pelukis yang handal!" puji Naila kepada sang pacar.


"Makasih sayang," sahut Angkasa senang.


Ini bukan pertama kalinya Angkasa melukis wajah Naila. Di apartemennya ada beberapa lukisan wajah Naila yang dia simpan saat dia belum menyatakan perasaannya.


"Kamu hebat Angkasa! sedangkan aku sampai hari ini belum menemukan jati diriku. Aku ingin membantu ayahku mengurus perusahaannya tapi aku tidak memiliki skill!" kata Naila dengan raut wajah yang sedih.


"Tidak apa! kamu harus mencobanya meskipun itu sulit. Pertama ambil alih bagian yang mudah dulu, bekerjalah seperti karyawan biasa. Nanti biarlah ayahmu yang menilai apakah kamu sudah pantas memegang jabatan yang lebih tinggi atau belum. Nanti saat Ayahmu sudah waktunya pensiun kamu juga sudah siap menggantikan posisinya!" ujar Angkasa memberikan solusi kepada Naila.


Naila hanya mengangguk sambil mencerna apa yang Angkasa katakan.


"Ngomong-ngomong katanya Erni kerja di perusahaan Ayah kamu. Dia ambil di bidang apa?" tanya Angkasa tiba-tiba.


"Dia sekarang sudah naik jabatan menjadi manager!"


"Hati-hati loh, nanti Ayah kamu lebih percaya sama Erni daripada sama kamu. Meskipun kalian sahabatan, tapi dalam bisnis tidak ada yang namanya sahabat. Mereka bisa menusuk kamu dari belakang saat mendapatkan kesempatan,"


"Iya. Nanti aku akan bicara sama Ayahku!" kata Naila.


Naila dan Angkasa berencana untuk pergi dari tempat tersebut. Naila membawa lukisan yang di berikan oleh Angkasa sedangkan Angkasa membawa peralatan lukisnya.


Di sisi lain, terlihat Tasya dan Ranza yang sedang duduk termenung. Sesekali Ranza melihat ke arah jendela seperti sedang menunggu seseorang.


"Kamu yakin teman kamu akan datang menyelamatkan kita?" tanya Tasya yang masih cemas menunggu.


"Kita tunggu saja!" sahut Ranza dengan wajah lesunya.


Mereka telah menahan rasa lapar sejak tadi. Berkali-kali perut di cacingnya telah berbunyi namun mereka tak dapat menemukan makanan di dalam kamarnya.


Beberapa menit kemudian, seseorang datang dengan berusaha mendobrak pintunya. Saat pintu terbuka terlihat seorang pria dengan beberapa anak buahnya berdiri di depan pintu kamar tempat Tasya dan Ranza di sekap.


"Untunglah kalian datang dengan cepat. Aku sudah lapar banget," kata Ranza kepada temannya yang bernama Panji.


"Yuk keluar! mumpung penjaganya belum sadar!" ajak Panji kepada Tasya dan Ranza.


Mereka pun keluar dengan sangat hati-hati. Mereka sama-sama melihat situasi di dalam apartemen tersebut dan memastikan situasinya aman.


Setelah keluar dari apartemen tersebut, Tasya dan Ranza masuk ke dalam mobil Panji. Sedangkan anak buah Panji menggunakan kendaraan umum untuk kembali.


"Thank you ya Panji, kalau gak ada lo gue gak tahu gimana gue nanti!" ujar Ranza kepada Panji.


"Sama-sama! by the way, cewek di samping lo itu siapa! selingkuhan baru lo?" tanya Panji sambil melirik ke arah spion yang ada di atasnya.


"Ya lo tahu sendiri lah! gara-gara dia gue kehilangan uang 6M dan juga di ceraikan sama Valen!" sahut Ranza mengeluh.


"Kok gue sih? jelas-jelas kita sudah membuat kesepakatan untuk itu," kata Tasya dengan nada tinggi.


"Ya memang karena lo! kita benar masih memiliki kesepakatan, dan yang terakhir adalah lo mau menyerahkan seluruh hidup lo termasuk tubuh lo untuk membayar 6M itu kan?" ucap Ranza sambil menatap wajah Tasya dengan amarah.


Meskipun begitu Tasya tidak takut untuk menghadapinya.


"Lo pikir kesepakatan itu masih berlaku setelah lo di tinggalin istri lo dan tidak punya uang sepeserpun? tentu tidak lah!"

__ADS_1


"Jangan kurang ajar lo ya! semua yang lo miliki saat ini punya gue," kata Ranza sambil mendorong tubuh Tasya ke kaca mobil.


"Terus kalau gue gak mau lo bisa apa? lo gak punya bukti kan?" ucap Tasya yang masih tidak takut dengan raut wajah Ranza yang telah memerah karena menahan kesal.


"Sudah-sudah! daripada kalian ribut lebih baik kita makan saja dulu!" kata Panji yang telah memarkirkan mobilnya di sebuah restaurant mewah.


Panji adalah anak dari keluarga yang berpunya. Meskipun tidak sebanding dengan kekayaan Valen, tetapi dia tidak semiskin Ranza yang sama sekali tidak memiliki apa-apa. Ayahnya Panji masih memiliki dua restaurant di negara E meski tidak selalu populer. Dan tempat yang dia kunjungi hari ini adalah salah satu restaurant ayahnya. Sehingga Panji tidak perlu melakukan pembayaran setelah makan di restaurant ini.


Setelah memasuki area restaurant, mereka di arahkan ke tempat duduk yang sedang kosong. Para pelayan di sana sangat menghormati Panji dan memberikan pelayanan yang sangat baik.


"Bawakan beberapa menu spesial ya masing-masing 3 porsi!" ucap Panji kepada Pelayan yang membawakannya menu.


"Baik Tuan!" sahut Pelayan tersebut lalu pergi meninggalkan Panji.


"Ran, lo udah sah cerai sama Valen?" tanya Panji secara tiba-tiba.


"Belum, bahkan gue belum terima surat gugatan cerainya!" kata Ranza yang masih santai.


"Gimana sih, harusnya lo keluar dari apartemen itu setelah lo tandatangan surat cerai. Dengan begitu lo gak akan ketahuan kalau kabur dari apartemen itu. Sekarang pasti Valen sudah curiga dan mencari keberadaan lo!"


"Mau gimana lagi Panji, baru saja beberapa jam di sana perut gue udah lapar. Dia gak menyediakan makanan dan mau mengurung gue selama 7 hari tanpa makan dan minum. Bisa-bisa gue mati di sekap!" kata Ranza menjelaskan kesusahannya.


Panji tak mampu berkata-kata lagi. Dia ketakutan kalau Valen akan mencurigainya atas kebebasan Ranza. Bisa-bisa Valen akan membatalkan semua investasinya di restauran milik ayahnya.


"Silahkan di nikmati Tuan!" ucap seorang pelayan yang sudah selesai menata makanan di atas meja.


"Terima Kasih!" ucap Panji.


Mereka bertiga menikmati makanan mereka dengan lahap kecuali Panji. Dia masih memikirkan nasibnya sendiri.


"Sekarang gue antar kalian kemana nih?" tanya Panji yang sudah pusing dengan kedua orang yang numpang di mobilnya.


"Lo kan tahu gue udah gak punya uang, atm juga pasti sudah di blokir sama Valen. Gue numpang di rumah lo ya," pinta Ranza kepada Panji.


"Enggak, enggak! gue gak mungkin bawa kalian berdua ke rumah gue, nanti yang ada gue di marahi sama Ayah!" kata Panji menolak dengan cepat.


"Atau gak lo cobak aja pakai dulu Atm nya siapa tahu saja belum di blokir!" kata Panji memberikan solusi.


Akhirnya setelah Ranza setuju, Panji mengantarkannya ke sebuah toko pakaian. Panji menyuruh Ranza untuk cepat-cepat memilih satu produk saja dan setelah itu membayar ke kasir.


"Kita lihat, masih bisa atau tidak!" kata Panji berbisik kepada Ranza setelah Ranza memberikan kartu ATM-nya untuk di gesek.


Ternyata kartunya masih bisa di pakai. Tentu saja iru membuat Ranza sangat senang.


"Meskipun itu belum di bekukan, lebih baik lo cepat-cepat ke ATM untuk tarik uangnya deh," kata Panji memberikan saran.


Dengan terburu-buru, Ranza menyuruh Panji untuk mengantarnya ke sebuah ATM terdekat.


Sedangkan Tasya hanya berdiam diri saja, dia rindu rumah. Dan telah menyesal meninggalkan rumah, bukan karena menyesal meninggalkan orang tuanya melainkan menyesal karena kehidupannya semakin berantakan.


"Cepat sana tarik!" kata Panji setelah sampai di mesin ATM.


Ranza masuk ke sana dan mengecek saldo dan ternyata uang yang tersisa masih banyak. Dengan mata yang berbinar-binar, Ranza segera menarik jumlah uang yang banyak.


Namun dia hanya bisa menarik 10 juta, dia tidak bisa menariknya kembali.

__ADS_1


"Gimana? udah kan?" tanya Panji dengan cemas.


"Sudah, tapi hanya 10 juta!" kata Ranza.


"Apa sudah di blokir?" tanya Panji kembali.


"Kemungkinan sih!"


"Ya udah, itu juga sudah lumayan hitung-hitung sebagai pegangan. Lo bisa mulai mencari pekerjaan sekarang," kata Panji sambil menepuk punggung Ranza.


"Ah, gue tahu!" kata Ranza tiba-tiba.


"Gue lupa kalau orang tua gue punya dua rumah, gue akan tinggal di sana untuk sementara waktu!" kata Ranza.


"Kalau gitu gue antar ke sana ya!" kata Panji.


"Bro, by the way bisa niu bagi-bagi cewek lo! lagipula jarang-jarang gue dapat yang gratis," bisik Panji sebelum masuk ke dalam mobil.


"Tenang! lo pasti kebagian kok!" sahut Ranza.


...****...


"Udah kamu bekukan ATM-nya?" tanya Viona.


"Sudah! untung ada kalian yang ingatin," kata Valen kepada kedua sahabatnya.


Valen telah mendapatkan surat cerai untuk di tandatangani oleh Ranza. Dia di temani Viona dan Arzani pergi ke apartemen tempat Ranza dan selingkuhannya di sekap.


"Valen, lo yang kuat ya! gue benar-benar gak nyangka Ranza akan se brengsek itu untuk selingkuh dari lo. Padahal lo terima dia apa adanya, dan juga lo yang tiap hari banting tulang untuk menghidupi dia," kata Viona yang merasa prihatin dengan kondisi sahabatnya.


"Lo sih terlalu baik jadi orang Val! di butakan oleh cinta," imbuh Arzani.


"Tidak apa-apa. Tapi gue bersyukur karena gue tahu sebelum gue punya anak. Jika kami sudah memiliki seorang putri ataupun putra, mungkin aku akan memilih untuk bertahan demi anakku,"


"Udah, kamu jangan terlalu sedih lagi! toh juga selingkuhannya tidak lebih bari dari kamu. Sudahlah dekil, jelek pula, di lihat dari tampangnya aja udah bisa di tebak kalau dia wanita rendahan. Tidak bisa di bandingkan sama seorang CEO Valen," kata Viona menghibur sahabatnya.


"Makasih ya kalian, selalu ada di samping aku dan semangati aku terus!" kata Valen bersyukur.


Sesampainya di apartemen, dia melihat para penjaganya sedang duduk sambil menahan rasa sakit. Valen dan kedua sahabatnya turun dari mobil dengan segera untuk mengecek situasinya.


"Ada apa dengan kalian? kenapa wajah kalian babak belur seperti itu?" tanya Valen kepada kedua penjaganya.


"Maaf Nyonya, kami tidak berhasil mencegah seseorang yang menerobos masuk ke dalam apartemen. Kemungkinan mereka menyelamatkan dua orang yang ada di dalam," kata Salah satu penjaganya.


Viona dengan cepat menuju ke arah kamar dimana Ranza dan Tasya di sekap. Dan benar saja, pintu menjadi rusak dan kedua orang tersebut juga sudah pergi.


"Sialan! belum sempat aku hajar lagi mereka sudah kabur saja!" kata Viona sambil mengepalkan tangannya.


"Kita pasti menemukan mereka kemnali," kata Valen kepada Viona.


Valen mengajak kedua sahabatnya untuk pergi ke depan menemui penjaga. Dia telah mencurigai seseorang yang melakukan hal ini.


"Pak apakah Bapak ingat dengan wajah mereka?" tanya Valen.


"Tidak, saat itu mereka memakai topeng dan menaburkan merica bubuk ke mata kami. Dan akhirnya kami merasa perih dan dihajar oleh mereka," kata Penjaga tersebut.

__ADS_1


"Ya sudah! Tapi kalian harus mendapatkan obat! saya akan panggilkan dokter ke sini. Kalian masuk saja ke dalam dan tunggu dokternya," kata Valen kemudian mengajak kedua sahabatnya pergi untuk merencanakan sesuatu.


__ADS_2