Reinkarnasi Cinta

Reinkarnasi Cinta
Langkah Mulus


__ADS_3

Kata-kata Dai tadi, tentang Ayahnya yang bersedia mensponsori perjalanan penelitian budaya Minangkabau ke Negeri Sembilan, Malaysia terus menari-nari dalam pikiran Saidah. Kalau orang tua pemuda itu serius mensponsori pembiayaan perjalanan studi tur. Maka dalam waktu dekat mimpi membawa teman-temannya ke Negeri Sembilan akan segera terwujud.


Saidah memang gadis yang lugu dan tak jeli melihat keadaan ekonomi seorang teman kuliah, seperti gadis kebanyakan.


Saidah tak memerlukan itu, yang diperlukannya adalah teman yang bisa diajak maju untuk berbuat banyak untuk kepentingan studi, berhubungan dengan kepentingan orang banyak dan mencakup keperluan semua orang. Hal tulah yang dijumpai pada pemuda bernama Dai.


Bukan karena harta Saidah menerima seorang teman, tapi karena kesan dan kewibawaan yang melekat pada sosok temannya tersebut.


Teristimewa pada Dai, dia tak menduga sosok pemuda yang baru mulai akrab dengannya tersebut mempunyai tabungan melimpah di luar nalarnya.


Dia sudah menebak pemuda asal Jakarta itu memilki orangtua yang sangat kaya raya.


Sepanjang hari itu di kampus, Saidah tak pernah berhenti memikirkan Dai, ada semacam pertanyaan yang menggebrak hatinya tentang pemuda itu. Punya kekayaan melimpah, tapi memilih kuliah di daerah dan mengambil mata kuliah yang tak populer.


Orang kaya biasanya menimba ilmu di negeri asing, mempunyai pergaulan kelas dunia, orang jenis ini sukar diajak kompromi apalagi tentang masalah kebudayaan.


Saidah hari itu benar-benar memikirkan Dai, seusai kuliah jam terakhir dia bergegas menyeret kakinya menuju ruang perkuliahan sepupunya, Ibing.


Siapa tahu Ibing sepupunya itu bisa menjelaskan siapa Dai sebenarnya.


Sesampai di depan ruang kelas 201, Ibing terlihat sedang berbincang dengan teman-temannya di kursi tak jauh dari pintu masuk kampus.


Ibing yang melihat kedatangan Saidah segera menghampiri sepupunya tersebut.


“Ayo! Mau minta bukunya kembali ya! Aku belum selesai,” kata Ibing menebak.


“Tidak, kamu pakai saja sampai kamu bisa,” jawab Saidah.


“Tumben! Kamu ke sini. Biasanya langsung sama anak-anak pecinta Nesa di ruang 128.”


“Kamu adalah sepupuku, segala sesuatu yang membutuhkan pertolongan, kamulah yang pertama,” kata Saidah.


“Hah! Kamu butuh pertolongan apa?” tanya Ibing memandang dengan kocak dari ujung kaki sampai ujung kepala. Apa yang menimpa anda!”

__ADS_1


“Ini bukan masalah kriminal atau kerugian lainnya, tapi,,,,” ucapan Saidah terputus, seorang Dosen yang lewat membuatnya menekan volume suara setengah berbisik sambil memberikan sapaan.


“Ta..tapi apa?” tanya Ibing latah, matanya pun jelalatan mengikuti langkah dosen muda nan cantik yang disapa Saidah.


“Huh!” Saidah mengibas tangannya di muka Ibing, sontak sepupunya itu langsung mengalihkan pandangan padanya.


“Kamu masih menyukai Dosen itu, dia sudah tunangan,” hardik Saidah.


“Aku sudah tahu,” jawab Ibing bersungut.


“Lagian, naksir ke dosen, ngak boleh jatuh cinta ke guru sendiri, bisa kualat.”


“Yaah. Begini sepupu kalau sudah punya pacar baru, sombong!” kata Ibing balik menyindir Saidah.


Wajah Saidah langsung merona merah mendengar ucapan Ibing, dia pandang berkeliling kalau-kalau ada yang lewat dan mendengar ucapan Ibing. Lalu mengusap dadanya menenangkan diri.


Saidah dan Ibing memang sering bercanda sedari kecil, tapi ucapan Ibing barusan entah mengapa terasa berbeda, sebuah firasat yang aneh dan tak biasa.


Berkali-kali Ibing memang mendapatinya sedang mengobrol dengan lelaki itu. Semenjak Dai menyatakan niatnya untuk mensponsori penelitian singkat di Negeri Sembilan, Malaysia, entah mengapa setiap ada orang yang membicarakan nama itu, dadanya seperti berdegup membuncah tak karuan.


“Wah! segitunya ekspresinya,” kata Ibing melihat Saidah tertegun.


“Maksudmu pasti, Dai,” kata Saidah


“Iya. Siapa lagi. Dia lelaki yang baik dan tajir serta rajin beramal,” sambung Ibing dengan cepat.


“Kita tidak berpacaran seperti pradugamu? Saya hanya mengagumi kedermawanannya. Itu yang kami bicarakan selama ini.”


“Dia memang anak pengusaha kaya, orangtuanya banyak membantu mahasiswa miskin di kampus ini. Apa itu yang kamu maksud?” tanya Ibing kemudian.


“Tidak. Soal itu saya baru tahu sekarang, tapi ini masalah tawaran Dai yang ingin mensponsori penelitian singkat sejumlah mahasiswa ke Negeri Sembilan,” jawab Saidah.


“Haah! Ya sudah terima saja, memang dia orang kaya yang suka beramal. Di rumahnya yang sangat mewah di kampungnya, setiap Jumat Ungku Angah selalu megumpulkan anak yatim, fakir miskin untuk memberikan santunan.”

__ADS_1


“Begitu, Alhamdulillah! mulia sekali,” ujar Saidah.


“Tunggu apa lagi, terima saja Dai.”


“Maaf, saya tak memburu kekayaan orang, tapi kami memang sudah menjalin komunikasi cukup lama tanpa tahu dia yang sebenarnya,” ucap Saidah seraya membalikan badannya untuk segera berlalu pergi.


Ibing hanya melongo melihat langkah tergesa dan panjang Saidah, tak lama kemudian dia hanya tersenyum sendirian, keyakinannya mengatakan bahwa sepupunya itu telah jatuh cinta pada anak konglomerat bernama Dai.


Tergesa-gesa berjalan membuat Saidah menubruk tubuh seseorang. Saidah tak tahu bahwa di depannya ada Dai.


“Maaf!” kata Dai pada Saidah.


“Tidak apa-apa, Dai,” jawab Saidah tersipu malu.


“Kok berjalannya secepat itu?”


“Ohhh…, kebetulan saya sedang mencarimu Saidah,” Dai mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Lalu memberikan pada Saidah.


“Surat pemberitahuan,” Saidah membaca pelan selembar kertas yang disodorkan Dai.


    “Iya. Ini surat pemberitahuannya. Saya yang secara pribadi membuat permohonan pada Ayah saya rencana penelitian itu dan langsung diproses oleh manajemen perusahaan.


 Saidah melonjak kegirangan menerima surat berisikan surat pemberitahuan dari perusahaan milik ayahnya bahwa penelitian tentang budaya Minangkabau di Negeri Sembilan, Malaysia itu layak dan patut untuk dapat pembiayaan dari salah satu anak perusahaan milik Pak Indra, ayah Dai.


“Mari kita berdua menyampaikan pengumuman ini ke seluruh kelas!”


“Mari,” jawab Saidah.


Mereka pun kemudian berdua berjalan menelusuri ruang-ruang di setiap fakultas kampus itu memberitahukan pada mahasiswa dan mahasiswi yang tentunya akan menyambut dengan sangat antisias.


 


 

__ADS_1


__ADS_2