
Rencana Fernando dan Rebecca telah di gagalkan oleh Angkasa. Kini rencana awal perusahaan Peter kembali berjalan seperti biasa.
Sore ini, tim packing telah menyelesaikan tugasnya untuk mem-packing 115 pcs paket. Mereka langsung menyerahkan kepada para kurir setelah di catat di dalam laptop.
Setelah kurir berangkat, Peter melihat catatan-catatan paketnya yang telah di bawa oleh masing-masing kurir.
"Loh, di sini kok ada nama Erni?" tanya Peter pada tim packing.
"Iya Tuan, beliau ingin membantu pengiriman agar lebih cepat katanya," ucap salah satu karyawan team packing.
"Sudah Yah, biarkan saja. Tadi Erni juga sudah bilang kok sama Naila," ucap Naila yang sedang membantu team packing.
"Kenapa kamu gak larang? kamu kan tahu sendiri kalau dia itu manager. Ayah jadi gak enak hati sama dia," ucap Peter merasa bersalah.
"Ayah tenang saja, lagipula Erni tidak memiliki pekerjaan di perusahaan. Itu sebabnya dia beralih ke kurir. Ini untuk menyelamatkan perusahaan dulu, nanti kalau keuntungan kita banyak Ayah bisa kasih gaji yang lebih besar untuk Erni. Dengar-dengar saat ini Erni telah merenovasi rumahnya. Mungkin saat ini kesempatan baginya untuk menunjukkan pada Ayah kalau dia wanita yang pekerja keras," jelas Naila.
"Baiklah, kamu tolong bantu urus di sini dulu ya. Ayah mau ke bagian produksi dulu," ucap Peter.
"Siap Bos!" ucap Naila menghormat pada ayahnya.
Peter pun pergi dari sana, sedangkan Naila berbaur kepada team packing.
"Non Naila sangat rajin ya, tidak sombong juga. Tidak seperti anak orang kaya yang lainnya, kalau orang lain melihat perusahaan ayahnya terkena masalah pasti tidak mau tahu," puji salah satu karyawan team packing yang bernama Ina.
"Iya, asik lagi di ajak bicara. Kenapa sih Non bisa tidak terpengaruh dengan harta?" tanya teman lainnya.
"Kalian ini ada-ada saja. Sebenarnya aku sama kok seperti mereka, cuma baru-baru ini aku mulai sadar. Ayahku sudah semakin tua, dan aku ingin Ayahku selalu ada di sisiku. Kalian tahu? penyesalan dalam hidupku adalah tidak pernah mendekat pada ayahku dan membuat ayah kesepian," kata Naila bercerita masalalunya kepada team packing.
"Tapi Non Naila sangat hebat. Memang benar orang tua yang baik akan menghasilkan didikan yang baik untuk anaknya," ucap Ina.
"Kalian bisa aja, tapi jangan panggil Non panggil Naila aja lebih enak di dengar," kata Naila.
"Gak enak lah, Non kan anak bos kita jadi kita harus hormat juga seperti kami bersikap pada Tuan Peter!" ucap team packing yang lainnya.
"Aku di sini teman kalian, bukan bos kalian. Jadi berbicaralah seperti kalian berbicara dengan teman-teman kalian. Aku justru merasa asing tahu kalau aku di perlakukan berbeda dari yang lain," kata Naila.
"Baik banget sih Naila!" puji Ina.
Ina teru-menerus memuji Naila, karena dia merasa sangat kagum dengan sikap Naila. Terlebih lagi paras Naila yang cantik, postur tubuh yang bagus dan bergelimang harta sedari kecil tak membuatnya sombong sama sekali.
"Naila, kamu sudah dengar belum gosip di kantor?" tanya Ina.
Naila mengernyitkan keningnya, dia baru tahu jika di dalam perusahaan pun masih bisa bergosip. Naila pikir semua karyawan akan fokus pada pekerjaannya dan setelah itu pulang ke rumah masing-masing.
"Gosip apa?" tanya Naila.
"Tapi kamu jangan tersinggung ya, team packing hanya mendengar saja!" ucap Ina yang wanti-wanti.
"Iya, cerita aja aku gak akan marah kok," ucap Naila sambil tersenyum kepada mereka.
Melihat Naila tersenyum, Ina tanpa ragu menceritakan gosip ayahnya dengan Erni. Mereka berkata akhir-akhir ini Erni di gosipkan menggoda Peter di perusahaan. Terlebih lagi saat istirahat terakhir kali, Peter dan Erni duduk berduaan di meja.
'Ada gosip seperti ini apakah Ayah dan Erni sudah tahu?' pikir Naila.
"Naila!" panggil Ina sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Naila.
"Eh iya, ada apa?" tanya Naila yang tersadar dari lamunannya setelah mendengar gosip tersebut.
"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Ina khawatir.
"Gak kok. Ngomong-ngomong gosip yang kamu katakan tadi, kira-kira Erni dengar gak ya?" tanya Naila yang mengkhawatirkan kenyamanan sahabatnya.
"Sepertinya dia mendengar, tapi tenang saja Naila Manager Erni tidak menjadi lemah saat di gosipkan seperti itu. Dia justru menjawab perkataan-perkataan dari orang yang menyebar gosip tersebut," ucap salah satu teman Ina yang lainnya.
"Darimana kamu dapat informasi itu?" tanya Ina pada rekan kerjanya.
"Tentu saja aku melihat dengan mata kepala sendiri!" ujar temannya.
__ADS_1
"Bagus kalau begitu, itu artinya Erni tak tertekan bekerja di sini. Kalau kalian tiba-tiba melihat gosip yang tak masuk akal lagi segera rekam dan laporkan saja sama Ayahku ya. Orang-orang yang suka menyebar fitnah tak layak untuk bekerja di perusahaan ayahku," ucap Naila memberikan pesan kepada teman team packing.
..._________๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ__________...
Tak terasa hari sudah malam, Erni sudah selesai mengirim paket yang dibawanya sekitar 50 paket. Dia mendapat beberapa customer yang komplain karena paketnya sangat lama datang dari waktu yang telah di tentukan. Erni mewakili perusahaan untuk meminta maaf untuk itu.
"Baru jam 7, masih sisa waktu 1 jam. Sepertinya aku masih bisa kirim paket beberapa," ucap Erni.
Erni pun datang kepada team packing dengan mengendap-endap seperti pencuri, tapi di sini Erni bukan mencuri melainkan untuk menghindari Peter.
Sampai di team packing, Erni melihat ada Naila yang duduk di lantai bersama team packing.
"Naila, ayah kamu kemana?" tanya Erni dengan suara pelan.
Kedatangan Erni yang secara tiba-tiba membuat Naila sedikit terkejut.
"Kenapa cari ayahku? dan kenapa kamu bicara sangat pelan?" tanya Naila.
"Aku mau kirim paket lagi, tapi takut gak di bolehin sama ayah kamu. Makanya Ayah kamu di mana?" tanya Erni sekali lagi.
"Ayah di ruang produksi, kamu istirahatlah dulu besok lagi saja kirimnya," ucap Naila melarang sahabatnya yang telah bekerja keras untuk mengirim lagi.
"Kamu mau pelanggan kita protes? cepat ambilkan aku paket yang mau di kirim berdasarkan tanggal orderan. Langsung di foto ya biar gak lama aku menunggu untuk catat di laptop," ujar Erni.
"Kamu masih bisa kirim berapa paket lagi?" tanya Naila yang sudah siap mengambil paket yang siap kirim ke gudang.
"15 paket aja!" ujar Erni.
"Oke, tunggu di sini ya!" ucap Naila.
Naila pun pergi ke gudang untuk mengambilkan Erni paket. Tidak butuh waktu lama, Naila kembali membawakan paket-paket tersebut untuk Erni.
"Sudah kamu foto kan? taruh sini dalam tas!" ujar Erni.
"Sudah, semua aman!" ucap Naila sambil melingkarkan jari telunjuk dengan ibu jari membentuk huruf 'O'.
"Aku pergi ya!" ucap Erni.
Erni pun mencari pintu keluar secara mengendap-endap sambil membawa tasnya.
Sedangkan Naila menyuruh salah satu team packing yang biasa mencatat pengiriman paket di laptop untuk mencatatnya. Naila menyerahkan handphonenya untuk melihat alamat dan pemilik paket tersebut yang sudah dia foto di dalam gudang.
"Ina tolong kamu bantu untuk mencoret data-data pesanan pelanggan yang sudah di kirim ya!" ucap karyawan yang bertugas mengutak-atik pengiriman paket.
"Baik Kak!" sahut Ina.
Ina bergegas mengambil berkas-berkas tersebut. Bersama dengan moderator team Packing melaksanakan tugasnya.
'Ternyata cukup ribet ya kalau ada paket yang keluar,' batin Naila.
Di sisi lain, Angkasa telah mengurung Fernando dan Rebecca setelah melakukan interogasi. Saat proses interogasi, Rebecca terus menerus memberikan kode agar Fernando tak mengakui perbuatannya. Bahkan mereka tak mengatakan bos di belakang mereka.
"Rebecca, situasi sudah seperti ini. Angkasa pasti telah menaruh curiga terhadap kita tentang pembunuhan tersebut. Kenapa kita tidak mengaku saja sih sebelum kita di tangkap basah nanti?" tanya Fernando kepada Rebecca.
Fernando tak mengerti dengan apa yang di lakukan Rebecca. Entah Rebecca tidak takut mati atau memang dia tidak tahu kekuasaan Angkasa di negara E itu seperti apa.
"Kamu diam saja! selama kita bisa pergi dari sini kita tidak akan dipenjara," ucap Rebecca.
"Bagaimana kita bisa keluar? kita sedang diikat dan kemungkinan penjagaan di luar sangat ketat. Jika kita nekat untuk keluar, takutnya akan di tangkap kembali!" ucap Fernando yang sudah ketakutan.
Rebecca hanya diam tak menjawab Fernando yang dia anggap sebagai team paling b0doh yang pernah dia dapatkan.
"Huh, akhirnya....," ucap Rebecca menarik nafas lega setelah berhasil membuka ikatan di tangannya.
Fernando yang melihat hal itu merasa terkejut dengan keahlian Rebecca.
"Bagaimana kamu bisa melakukan itu?" tanya Fernando bingung.
__ADS_1
"Hah! hanya ikatan longgar seperti ini tidak akan bisa menghalangiku!" ujar Rebecca dengan nada sombongnya.
Rebecca kemudian membantu Fernando melepaskan ikatan di tangannya. Setelah itu, dia mencoba mencari jalan keluar dari ruangan gelap tersebut.
Rebecca melihat ada lubang yang cukup besar namun sedikit tinggi. Sehingga jika orang yang bukan ahlinya tidak akan bisa kabur melalui lubang tersebut.
Rebecca menggunakan kursi yang dia duduki tadi untuk membantu naik ke atas menuju lubang tersebut.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Fernando.
"Jika kamu ingin selamat, ikuti aku. Ketinggian seperti ini tidak mungkin kamu akan merepotkan ku kan?" tanya Rebecca.
Fernando melihat ketinggian yang di maksud, dengan bantuan kursi Fernando merasa sanggup untuk naik ke atas sana.
Rebecca pun memulai aksinya dan melompat ke atas, suasana sangat gelap. Untung saja di luar ruangan ada lampu yang di pasang sehingga Rebecca bisa melihat situasi di bawah sana. Ketika di rasa cukup aman, Rebecca menyuruh Fernando untuk naik dan dia pun terjun ke bawah.
Giliran Fernando yang naik ke atas, dia pikir akan gampang melakukannya seperti Rebecca. Ternyata sangat susah, Fernando bersusah payah untuk naik ke atas meski sudah menggunakan kursi sebagai tumpuan.
Rebecca menjadi sangat kesal karena Fernando sangat aman, dia sangat takut jika tiba-tiba ada orang yang menjaga dan aksinya akan gagal.
"Kemana sih Fernando, lama sekali!" gerutu Rebecca kesal.
Yang di tunggu-tunggu akhirnya datang, Fernando bersiap untuk meluncur ke bawah.
"Lama banget sih!" ucap Rebecca kesal ketika Fernando sudah berdiri di sampingnya.
"Ya maaf, susah tadi naiknya!" ucap Fernando.
Rebecca kembali melihat situasi, dia masih ingat pintu keluar dari gedung tersebut. Rebecca tak melihat satu penjaga pun di sana, hingga akhirnya menganggap remeh Angkasa.
"Baru kali ini aku melihat orang b0doh, menyekap orang tanpa penjaga!" ucap Rebecca.
Fernando juga melihat di sekelilingnya dan memang benar kalau Angkasa tak menyiapkan satu orang penjaga di sana.
"Mungkin dia mengira kita tidak akan bisa kabur karena pintu di kunci dan tidak ada jendela di sana, Hahaha!" ucap Fernando tertawa.
"Jangan keras-keras! secepatnya kita keluar dari sini!" ucap Rebecca.
Mereka menarik nafas lega setelah sampai di luar halaman gedung tersebut. Mereka bergegas untuk pulang ke rumah Angel agar bisa memberikan informasi mereka.
..._____๐บ๐บ๐บ๐บ_____...
"Tuan, kenapa Tuan melonggarkan tempat penyekapan? bukankah itu akan mempermudah mereka untuk kabur?" tanya Kelvin yang merasa was-was.
"Bagus kalau mereka kabur, kita tidak susah-susah mencari siapa pembvnuh sebenarnya!" ucap Angkasa diiringi dengan senyum miring.
"Maksud Tuan, Tuan sudah curiga jika mereka pelakunya?" tanya Kelvin memastikan.
"Tentu saja, apa kamu percaya dengan semua perkataan mereka?. Bagaimana mungkin secara tiba-tiba mereka menemukan paket yang di kirim oleh kurir tersebut. Jika ada orang yang menemukan paket tersebut sudah pasti warga yang membawa ke rumah sakit," ucap Angkasa.
"Benar juga. Mereka sudah pasti suruhan Angel. Karena sebelum pergi, mereka telah keluar dari rumah Angel!" ucap Kelvin.
"Tapi Tuan, apa rencana selanjutnya untuk menyelidiki Fernando dan wanita itu?"
"Serahkan pada bawahan lainnya yang sudah menyamar di sekitar gedung kumuh itu. Biarkan mereka yang mengurus hal itu!" ucap Angkasa dengan tenang.
Sebelumnya Angkasa sudah menyuruh dua orang bawahannya untuk mengawasi gerak-gerik Fernando dan Rebecca. Mereka menyamar sebagai warga yang sedang nongkrong di sekitar sana agar tidak di curigai oleh Rebecca dan Fernando. Dengan adanya mereka, Angkasa tak perlu khawatir lagi tentang mereka.
"Kamu kirim 20 paket ini ke perusahaan Naila menggunakan kurir. Sisanya kita akan kembalikan setelah melapor pada polisi karena mereka sudah termasuk dalam pencurian!" ucap Angkasa.
"Baik Tuan, serahkan tugas itu pada kami!" ucap Kelvin.
Angkasa kembali teringat dengan Fernando, sebelumnya dia di beritakan masuk penjara bersama mantan kekasihnya yaitu Safira. Angkasa tidak percaya jika Fernando telah bebas. Alasan satu-satunya yang dapat di tebak oleh Angkasa adalah Fernando masih menyimpan dendam kepada Naila. Karena Naila adalah orang yang menyebabkan dia masuk dalam penjara.
"Sekarang Naila memiliki banyak musuh, tidak tahu kedepannya tapi aku harus melindunginya dengan baik!" ucap Angkasa pada dirinya sendiri.
"Oh ya Tuan, saya sempat menyelidiki sahabat Naila yang masuk penjara dengan Fernando itu. Polisi berkata bahwa dia telah di bebaskan beberapa bulan yang lalu oleh pria tua. Namun mereka tak berani memberikan informasi yang lebih dalam tentang pria tersebut takut melanggar privasi," ucap Kelvin.
__ADS_1
"Benarkah? semoga saja bukan Michael orangnya. Karena jika dugaanku benar itu artinya Safira dan Ruby adalah orang yang sama. Akan semakin susah jika melawan Michael saat ini," ucap Fernando yang sangat khawatir.
...๐น๐น๐น๐นBersambung๐น๐น๐น๐น...