
"Kenapa bisa gagal? Aku sudah katakan jangan sampai gagal apalagi ketahuan oleh Angkasa! apa kalian tahu artinya apa?" tanya Angel yang sangat marah setelah mendengar berita yang di sampaikan oleh dua anak buahnya.
Rebecca dan Fernando menggelengkan kepalanya dengan rasa takut.
"B0doh! Tidak berguna! untuk beberapa hari ke depan kalian jangan keluar masuk di rumahku!. Apa kalian mengerti?"
"Mengerti Bos!" sahut serempak dadi Fernando dan Rebecca.
'Sial, kalau sudah seperti ini tidak mau ikut-ikutan,' batin Fernando kesal.
Fernando dan Rebecca pergi setelah di perintahkan untuk pergi dari rumah Angel. Rebecca di perintahkan untuk tinggal bersama Fernando, Rebecca bersedia meskipun Fernando sempat menolak.
Bagi Rebecca tidak ada yang perlu di takutkan oleh sosok b0doh seperti Fernando. Sebaliknya Fernando justru merasa sangat takut karena harus tinggal sama pembvnuh. Nyawanya bisa melayang kapan saja jika sudah membuatnya marah. Apalagi Rebecca memiliki kesabaran yang setipis tisu.
"Kamu tidur di lantai, jangan pernah menyentuh kasur ini sedikitpun!" ucap Rebecca ketika sudah sampai di rumah Fernando.
"Di mana-mana Tuan rumah yang paling berkuasa. Aku gak mau tidur di lantai, kamu tidur saja yang tidur di lantai!" ucap Fernando tak terima.
"Aku ini pembvnuh loh!" ancam Rebecca yang seketika dapat membuat Fernando ketakutan.
"Ya, ya udah kamu tidur di kasur biar aku yang tidur di lantai!" ucap Fernando mengalah.
'Lebih baik aku mengalah daripada nyawaku sendiri melayang,' batin Fernando merinding.
'Pria ini cukup lucu, bisa aku kerjain kalau aku sedang gabut. Lagipula susah jadi orang yang terlihat serius dan kaku setiap hari,' batin Rebecca jahil.
Meskipun tampilannya sangat tomboy dan memiliki raut wajah yang tanpa ekspresi, namun Rebecca adalah seorang manusia biasa. Dia bisa merasa sakit, sedih dan juga bahagia seperti manusia lainnya. Namun Rebecca tak pernah memperlihatkan hal itu kepada orang lain.
Rebecca selalu menyembunyikan perasaan-perasaan tersebut. Karena baginya untuk menjadi orang yang di takuti, dia harus menyingkirkan perasaan itu di depan orang lain.
"Aku mau mandi, kamu jangan berani-beraninya ngintip ya!" ucap Rebecca yang telah merasakan keringat di dalam tubuhnya.
"Dih! siapa juga yang mau ngintip cewek galak dan tomboy seperti kamu!. Udah kayak punya body bagus aja," ucap Fernando mengejek Rebecca.
"Awas saja ya kamu!" ucap Rebecca kesal.
"Apa? bahkan tel*nj*ng pun aku tidak akan tertarik dengan tvbuhmu itu!" ucap Fernando.
"Heh! siapa juga yang mau tel*nj*ng di depanmu. Ngarep banget," ucap Rebecca kembali.
Rebecca masuk ke kamar mandi Fernando, dia sangat j!jik jika memakai satu sabun dengan orang lain. Namun keadaan yang membuat dia melakukan hal itu dengan terpaksa.
"Harum juga sabun yang di pakai sama orang b0doh itu!" ucap Rebecca sambil mencium bau sabun batang yang ada di tangannya.
Sedangkan Fernando masih asik bermain handphone. Dia tidur di lantai sesuai kesepakatan sambil menonton video. Beberapa menit kemudian, Fernando telah tertidur dan handphonenya telah terjatuh ke atas perutnya.
Meski dirasakannya sakit, namun rasa ngantuk-nya tak dapat di kalahkan oleh rasa sakit tersebut. Fernando kembali tertidur di atas lantai setelahnya.
Menit berikutnya, Rebecca telah selesai mandi dan bersalin di kamar mandi. Dia pun langsung keluar dari kamar mandi dan menanyakan tisu kepada Fernando untuk mengelap wajahnya yang masih basah.
Badannya pun terlihat masih basah karena tidak mau memakai handuk yang sama dengan Fernando.
"Ish, anak ini malah langsung tidur. Hei Fernando! bangun!" ucap Rebecca membangunkan Fernando yang tergeletak di lantai.
"Emmmm...apa sih!" ucap Fernando sambil menggeliat di lantai.
"Bangun! mandi dulu!" ucap Rebecca kesal.
"Enggak ah! gue malas mandi!" ucap Fernando tanpa membuka matanya.
"Tunggu aja ya!" gumam Rebecca dengan kesal.
Rebecca mengambil air satu gayung dan menyiramnya kepada Fernando yang membuat wajah Fernando basah beserta lantainya.
"Ahhh apa-apaan sih Rebecca?" ucap Fernando yang langsung terbangun dari tidurnya.
"Hahahaha! makanya jangan malas jadi orang!" ucap Rebecca tertawa puas.
Fernando baru kali ini melihat Rebecca tertawa lepas. Yang biasanya dia lihat hanyalah wajah Rebecca yang tanpa ekspresi.
'Ternyata cantik juga nih cewek kalau tertawa,' batin Fernando.
'Gawat, aku malah kelepasan tertawa! Nanti dia gak bakalan takut lagi sama aku,' batin Rebecca.
"Ngapain lihat-lihat?" tanya Fernando ketika Rebecca menatap ke arahnya.
"Aku tanya, kamu punya tisu gak?"
"Gak ada! lagipula untuk apa cowok simpan tisu!" ucap Fernando.
"Hais, apa-apa gak punya. Dasar!" ujar Rebecca kesal.
__ADS_1
Fernando tak menghiraukan Rebecca lagi, dia langsung pergi ke kamar mandi dengan pakaian yang basah.
"Eh, tolong bersihin tuh lantainya, basah! kalau gak mau nanti kita tidur berdua!" ucap Fernando sebelum sepenuhnya badannya masuk ke kamar mandi.
"Ishh, nyusahin banget sih!" gumam Rebecca kesal.
Rebecca sangat kesal tanpa menanyakan letak lapnya, dia mengambil satu baju Fernando masih terpakai untuk mengelap lantai dengan bantuan kakinya.
Setelah selesai, Rebecca melemparnya ke luar pintu baju tersebut.
"Gak kering-kering nih, kira-kira dia bisa gak ya tidur di sini? takutnya kedinginan," ucap Rebecca yang merasa peduli tidak seperti biasanya.
Rebecca mengambil kembali satu pakaian dari sebuah ember lalu menggunakannya sebagai lap lagi.
"Nah, kalau gini baru bisa!" ucap Rebecca yang telah selesai mengeringkan lantai.
Kini Rebecca merebahkan dirinya di atas kasur. Sedangkan Fernando yang baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk di bagian belakang.
Fernando melempar baju yang basah di ember tadi tempat Rebecca mengambil baju.
"Loh, kok baju hitam ku hilang dua?" tanya Fernando pada Rebecca.
"Kamu tadi lap lantai pakai apa?" tanya Fernando kembali.
Rebecca melihat ke arah Fernando yang tanpa pakaian dan sedikit terkejut melihat otot-otot Fernando.
"Wee! malah bengong di tanya!" ucap Fernando yang tanpa sadar sudah berada di depan Rebecca.
"Kamu pakai saja dulu pakaianmu!" ucap Rebecca mengalihkan wajahnya ke samping.
'Wanita ini imut juga kalau sedang malu,' batin Fernando.
Fernando pun mengambil pakaian baru di dalam lemarinya dan mengganti pakaian di dalam kamar mandi. Setelah keluar, Fernando mengulangi pertanyaan yang sama.
"Anu... tadi baju yang di ember itu aku ambil dua!" ucap Rebecca sambil tersenyum lebar-lebar.
"Hah? yang benar saja!" ucap Fernando terkejut.
"Itu bajunya masih ada di teras," kata Rebecca menunjuk keluar.
Fernando pun bergegas keluar dan melihat pakaiannya. Benar saja seperti tang di katakan oleh Rebecca, kedua baju kesayangannya sudah di jadikan lap oleh wanita tersebut.
"Kamu kenapa pakai baju itu sih? kenapa gak tanya aku dulu?" ucap Fernando dengan raut wajah sedihnya.
Fernando maju ke depan Rebecca melalui lantai yang masih basah.
Bruk!!!
"Aduh sakit!" keluh Fernando ketika terpeleset dari lantai.
Fernando merasakan sakit pada p*ntatnya. Rebecca yang melihat hanya tersenyum malu tanpa menolongnya.
"Kamu gimana sih lapnya? kenapa masih basah gini? mana udah pakai dua baju ku lagi," ucap Fernando merasa sedih.
"Bukannya itu sudah kering ya? hehe," ucap Rebecca nyengir.
"Kalau udah kering aku gak mungkin jatuh! kalau masih basah gini gak mungkin aku tidur di sini!" kata Fernando marah.
"Terus mau tidur di mana?" tanya Rebecca lugu.
"Di perutmu! ya di kasur lah pake nanya lagi!"
"Kenapa sekarang jadi kamu yang b0doh? aneh banget, nyesel aku tinggal sama cewek yang punya dua kepribadian yang berbeda kayak kamu!" kata Fernando.
Niat hati ingin menangis, tetapi sangat malu untuk seorang Fernando mengeluarkan air matanya. Namun kesialan yang bertubi-tubi ini membuat dirinya sangat marah sampai tidak bisa berkata-kata.
"Aku gak mau tidur bareng kamu! pokoknya kita tidur dengan terpisah!" ucap Rebecca menolak.
"Kalau gitu kamu saja yang tidur di lantai!"
Rebecca berfikir ulang, jika dirinya tidur di lantai mungkin akan sangat kedinginan. Terpaksa Rebecca tidur bersama Fernando. Rebecca mengatur garis untuk batas mereka masing-masing.
"Lebay banget, cewek kayak kamu juga aku bisa temukan banyak!" ucap Fernando yang masih kesal.
"Siapa tahu saja kamu tiba-tiba tergoda!" ucap Rebecca yang tak peduli dengan perkataan Fernando.
..._____๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ_____...
Keesokan harinya, Angkasa telah mendapat kabar bahwa Fernando dan Rebecca tinggal di tempat yang sama setelah keluar dari rumah Angel.
"Kemungkinan Angel sudah curiga denganku! Tapi itu tidak akan membuatku susah sedikitpun!" ucap Angkasa.
__ADS_1
Angkasa saat ini masih di rumahnya, dia memang sengaja untuk pergi ke perusahaan agak siang untuk mengatur rencana kembali.
Lagipula Angkasa juga merasa rindu dengan sang Mama yang jarang dia temui akhir-akhir ini. Angkasa menyadari jika Almira selama ini telah melakukan banyak perubahan, dia tak lagi menuntut ataupun membahas pertunangan Angkasa dengan Angel.
Hanya saja, Almira akhir-akhir ini sedikit menjaga jarak dengannya. Hal itu membuat Angkasa sedikit khawatir jika tiba-tiba ibunya membencinya.
Angkasa menemui ibunya yang belum keluar dari kamar sejak tadi, namun sarapan sudah ada di atas meja untuknya. Siapa lagi jika bukan Almira yang menyiapkannya?.
TOK! TOK! TOK!
Angkasa mengetuk pintu kamar Almira, orang yang ada di dalamnya pun langsung membukakan pintu tersebut.
Almira melihat sang anak yang telah berdiri di depannya.
"Apa ada yang di butuhkan Angkasa?" tanya Almira.
Karena tak biasanya putranya mendatangi kamarnya sebelum berangkat ke perusahaannya.
"Aku butuh pelukan Mama dan juga dukungan dari Mama," ucap Angkasa yang tanpa ragu mengungkapkan pada ibunya.
Mendengar hal itu, Almira menjadi sangat terharu. Sudah lama dia merindukan putranya, namun mengingat kesalahannya Almira belum berani menemui anaknya.
Almira menuruti perkataan putranya dan memeluknya. Dalam pelukannya, Almira tak bisa berkata-kata lagi. Hanya tangisan yang ada, sambil memeluk erat Angkasa.
"Maafin aku ya Ma! aku bersikap dingin kepada Mama!" ucap Angkasa yang saat ini merasa bersalah.
..._____๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ_____...
Kembali ke perusahaan Cahaya Gempita. Pengiriman di lakukan secara cepat demi kepuasan pelanggan.
Saat ini adalah hari yang di janjikan Peter untuk Naila mengajak makan bersama. Namun melihat situasinya yang masih sibuk seperti ini, Naila membiarkan ayahnya untuk menunda makan bersamanya meskipun dia ingin.
"Maaf ya Naila, Ayah tak menepati janji Ayah lagi," ucap Peter merasa bersalah.
"Tidak apa-apa Ayah, kepuasan pelanggan lebih penting," sahut Naila memaklumi ayahnya.
'Akhir-akhir ini ada banyak pertanyaan dari Netizen terutama para pelanggan yang mengetahui produk ayah dari aku. Mereka banyak yang komplain karena produksi yang sangat lama. Semoga saja dengan semua kerja keras dari karyawan di sini tidak sia-sia,' batin Naila.
Hari ini Naila kembali membantu di perusahaan ayahnya. Begitupula dengan Erni yang harusnya jadwal libur memilih untuk bekerja sebagai kurir membantu pengiriman.
Meski tak enak hati, tapi Peter berjanji pada dirinya sendiri untuk memberikan Erni bonus suatu saat nanti.
Detik demi detik, menit demi menit dan setiap jamnya penuh proses. Beberapa orderan kembali masuk dari aplikasi online. Mereka yang tidak ingin keluar rumah cukup mengandalkan jarinya untuk memesan produk dari perusahaan Peter.
Semua karyawan di perusahaan sangat sibuk, terutama Peter yang membantu mengatur karyawannya agar pekerjaan cepat selesai. Selain itu juga, Peter menjawab beberapa panggilan yang masuk dari pelanggan.
Berbagai macam bentuk percakapan di antara mereka, ada yang komplain masalah produk yang telat sampai. Ada juga yang memesan produk lewat telepon whatsapp.
Semakin hari Peter di buat kewalahan oleh banyaknya pelanggan tersebut. Dia memutuskan untuk mencari admin baru lagi untuk menjawab atau menerima telepon dari para pelanggan. Dengan begitu Peter tidak akan terlalu pusing memikirkan hal ini.
..._____๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ_____...
Kembali pada Hendra yang akhir-akhir ini telah terus kepikiran tentang keluarganya. Meskipun Alice dan Darell baik terhadapnya, namun Hendra merasa seperti ada sesuatu yang mereka sembunyikan darinya.
Hendra memiliki sebuah ide untuk mencari nama sosmednya yang lama dengan menggunakan nama dirinya sendiri. Biasanya akan ketemu jika di lacak di mesin pencarian aplikasi jika akunnya tidak di hapus.
Hendra mulai mengetik dan melakukan pencarian, dan menemukan hasil pencariannya. Karena Hendra sama sekali tak mengingat dengan foto profil yang digunakannya waktu terakhir kali, dia menelusuri orang-orang tersebut satu persatu.
"Yang mana ya wajahku? apakah akan ada perubahan dari foto dan wajahku yang sekarang?" tanya Hendra pada dirinya sendiri.
Setelah sekian menit mencari foto wajahnya, Hendra akhirnya menemukan foto profil dirinya. Sangat bersyukur sekali ketika Hendra menemukan akunnya kembali karena dia tidak menggunakan akun privat seperti yang sekarang. Jadi Hendra bisa stalking akun lamanya melalui akun barunya.
Setelah sekian lama mencari, Hendra menemukan sebuah foto yang pernah di tunjukkan oleh wanita yang mengaku sebagai adiknya. Hendra menatapnya dengan teliti karena dia takut salah ingat.
Setelah dia berusaha mengingat, dia membenarkan bahwa wajah mereka tampak sama. Tapi Hendra masih belum percaya, dia kembali menggeser layar handphonenya berharap menemukan foto lainnya.
"Lagi? apakah dia memang adikku?" tanya Hendra yang masih ragu.
Dia melihat senyum ruby yang membuat dirinya sangat nyaman. Bahkan saat melihat senyum itu, Hendra merasakan kenyamanan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Rasa bahagia juga tersirat dalam hatinya, Hendra pun tak tahu apa maksud dari perasaan itu sendiri.
"Sepertinya aku harus menyeliki ini semua," ucap Hendra.
Hendra berniat untuk menghubungi Ruby secara diam-diam. Hendra mulai mempercayai Ruby sedikit demi sedikit dan berinisiatif untuk mengajak Jayanti untuk melakukan tes DNa.
'Aku tidak percaya jika Mama Alice akan menipuku dengan cara seperti ini,' batin Hendra.
Melakukan kebohongan ini tidak akan membuat Hendra merasa bersalah, apalagi jika Alice terbukti membohonginya. Hendra tak ingin dirinya dihantui rasa penasaran yang terus menerus bermunculan di benaknya. Dia ingin mengungkap kebenaran yang ada, untuk hasilnya apapun akan dia terima.
Hendra mempasrahkan dirinya dengan keadaan, jika dia memang terlahir dari rahim Alice maka dia akan membuang rasa penasaran itu. Tapi jika dia lahir dari rahim Jayanti, Hendra sudah siap untuk melepas semua harta kekayaan yang di berikan oleh Alice.
Karena bagi Hendra, keluarga sangat penting untuk dirinya yang sudah lupa dengan kenangan-kenangan itu. Meskipun Hendra tak lagi dapat mengingat kenangan itu, tapi setidaknya Hendra masih bisa bersama dengan orang yang ada dalam kenangannya. Itulah prinsip hidup Hendra saat ini yang tidak dapat di ganggu gugat kembali oleh siapapun.
__ADS_1
๐น๐น๐น๐นBersambung๐น๐น๐น๐น