Reinkarnasi Cinta

Reinkarnasi Cinta
Sebuah Euforia Cinta


__ADS_3

Kursi di ruang duduk BAAK mulai dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswi yang akan melakukan penelitian kebudayaan Minangkabau ke Negeri Sembilan.


Mereka yang terpilih sengaja dikumpulkan di sana dalam rangka mendapatkan penjelasan tentang bantuan keuangan dan uang saku yang akan didapatkan selama masa penelitian nanti.


Ada seorang dosen dan staf BAAK yang memasuki ruangan yang disambut oleh Saidah dan Dai.


Tak lama berselang juga datang humas dari perusahaan Pinba yang menjadi sponsor pembiayaan keuangan selama melakukan penelitian di Negeri Sembilan. Perusahaan Pinba merupakan salah satu anak cabang grup perusahaan orangtua Dai dan Doa.


Saidah sebagai ketua dari penelitian tersebut mempersilahkan dosen tadi memberikan sambutan pembukaannya pada acara tersebut.


Mahasiswa menyambutnya dengan penuh antusias. Sementara Dai dan Saidah yang keduanya duduk terpisah dari para mahasiswa lainnya tersebut saling berbincang satu sama lainnya.


“Negeri Sembilan akan menanti mereka,” kata Dai memulai percakapan itu dengan Saidah.


“Aku bisa merasakan nuansa kedatangan itu, ini adalah impian kita semenjak lama,” jawab Saidah tersenyum.


“Aku juga merasakan hal yang sama,” kata Dai beberapa saat kemudian.


“Aku dulu pernah berambisi seperti ini, namun gagal karena tidak adanya sponsor yang mau membiayai perjalanan,” kata Saidah mengenang masa lalunya.


Dai mau menanggapi pernyataan Saidah, namun dosen yang memberi sambutan sudah selesai, Saidah lalu maju ke depan mempersilahkan Pak Samudro Humas Pinba untuk menyampaikan hal terkait bantuan perjalanan.


“Aku waktu itu hampir putus asa,” kata Saidah setelah duduk kembali dekat Dai. Dia melanjutkan obrolan sebelumnya  dengan Dai yang terputus saat Pak Samudro sudah memulai pembicaraannya tadi.


“Aku bisa merasakan keputusasaan itu saat ini,” sambung Dai. Entah mengapa dia teringat pada pernikahan Rahmania yang membuat seluruh waktunya sepanjang hari memikirkan hal tersebut.


“Terimakasih, aku sekarang hanya bisa bernafas lega, kejadian hari ini bagiku terlalu cepat datangnya. Bahkan semua ini mampu menutupi rasa hampir putus asa masa lalu itu.”


Entah kenapa Dai merasakan hal yang sama, dia merasa senasib dengan Saidah, hanya saja dia benar-benar telah putus asa karena cinta di masa lalu, sekarang rasanya ingin dia memiliki cinta yang baru bersama wanita yang duduk di sampingnya tersebut.


“Kita senasib, seandainya kita bisa bersama berdua,” kata Dai bergumam dalam hati.


“Apa yang kau pikirkan,” tanya Saidah tiba-tiba saja.


Dai hanya terkaget, kalau-kalau Saidah tahu jalan pikirannya.


“Aku hanya memikirkan acara ini sukses besar dan bermanfaat nantinya, dan aku ingin acara seperti ini diregenerasi oleh mahasiswa selanjutnya,” jawab Dai mencoba menyamarkan rasa terkejutnya.


“Baiklah, kita akan menggiring acara ini bersamaan sampai ada regenarasi berikutnya,” sambung Saidah kemudian.


Dai tertegun mendengar jawaban Saidah, seperti jawaban penuh makna, jawaban yang mengisyaratkan Saidah juga sedang memikirkan dirinya.


Apalagi Saidah menatapnya penuh arti dengan sebuah senyum ketulusan, Dai lalu menatap mata itu teramat dalam dan saling bergetarlah hati mereka.


Sementara itu acara juga sudah selesai, euforia para mahasiswa yang ada di sana menyambut penuh kehangatan ketika nama-nama mereka diumumkan berangkat ke Negeri Sembilan beserta fasilitas yang akan didapatkan selama masa-masa di sana.


Dai dan Saidah saling senyum melihat aksi teman-teman mereka, senyum kepuasan.Senyum yang sangat membuat mereka merasakan kedamaian satu sama lain.


                                                                                 ****

__ADS_1


 


Di keramaian air terjun Lembah Anai, Rahmania menghentikan taksi blue bird yang ditumpanginya. Taksi menepi di pinggir jalan raya yang cukup sempit dan berliku itu. Sang sopir taksi yang merupakan langganannya itu disuruh menunggu di dalam taksi. Bukan hanya sekedar keindahan sungai tanpa alas sehingga terjun dengan bebasnya ke bawah itu yang membuat berhenti. Menurut keterangan beberapa teman Dai yang bisa dipercaya di Jakarta. Dai di Minangkabau tak jauh bermukim dari air terjun Lembah Anai. Dia membangun sebuah vila di Pariangan dan membangun sebuah rumah mewah di Pariaman.


Di tepian jalan yang dibatasi tebing-tebing cukup terjal di sisi kiri dan sungai penuh hutan di sisi kanan itu, beberapa penjaja makanan menghampiri taksi yang ditumpangi Rahmania. Mereka dengan jeli menawarkan makanan yang dijajakan. Rahmania kembangkan senyumannya menghadapi mereka.


“Pak, ke sini!”


Akhirnya Rahmania menjatuhkan pilihan pada lelaki yang paling tua di antara mereka. Tergopoh-gopoh lelaki tua itu mendekati Rahmania. Dengan nampan berisi makanan di atasnya segera disodorkan ke hadapan Rahmania.


“Mau beli berapa, Dek?” penjaja tua itu mengeluarkan kantong bening berwarna biru sebagai pembungkus makanan. Dengan cekatan sekali beberapa potong kue meluncur ke dalam plastik, walau pembeli belum memberi aba-aba.


“Makanan ini namanya apa ya, Pak?” Rahmania yang memang belum pernah melihat makanan itu sebelumnya memperhatikan dengan seksama bentuk makanan itu. Terlihat seperti kue dengan ukuran telapak tangan dan cara masaknya seperti dipanggang. Lebih uniknya lagi, masing-masing kue itu beralaskan daun waru. Sehingga menambah aroma wangi kue tersebut.


“Bika namanya, Dek” jawab penjaja itu. Matanya sekilas memperhatikan penampilan rahmania. “Bukan orang Padang ya, Dek?” lanjut lelaki itu dengan sebuah pertanyaan.


“Saya dari Jakarta, Pak.”


“Oh.. Bika ini masakan khas Padang. Di wilayah ini orang-orang sangat mengemarinya dan cukup terkenal. Jadi beli berapa, Dek?”


“Saya borong yang ada di nampan itu ya, Pak,” kata rahmania memutuskan dan tangannya segera merogoh dompet yang tersedia dalam tas yang dijinjingnya.


“Banyak ini,” kata penjaja itu kegirangan. Segera saja ia mengambil kantong yang lebih besar yang terselip di atas nampan.


“Buah tangan buat saudara, Pak. Ini saya sedang mencari-cari alamatnya,” Rahmania menyodorkan kertas putih bertuliskan alamat Dai, yang didapatnya dari temannya di Jakarta. Namun kurang lengkap. Bahkan sopir taksi yang dibawanya dari Padang pun tak tahu alamat yang ia maksudkan.


“Desa Pariangan.”


Rahmania bergegas masuk ke dalam taksi yang sedari tadi menunggunya. Keterangan alamat yang diberikan oleh penjaja bika cukup membuatnya merasa puas. Rincian detail alamat itu dia tuliskan dalam selembar kertas, dan memberikannya ke sopir taksi.


Taksi meluncur di aspal jalanan yang licin dan basah. Udara khas pegunungan yang dingin menyergap tubuh Rahmania begitu taksi semakin menapaki jalan yang menanjak dan berliku dengan tikungan yang cukup tajam. Semakin menanjak udara semakin dingin. Rahmania menyambar jaketnya yang telah disediakan dari rumah.


Dari dalam kaca mobil, Rahmania tak henti-hentinya mengamati keadaan alam di sekitarnya. Pohon-pohon pegunungan yang rimbun dengan beruk-beruk bergerombolan bergelayutan dari ranting yang satu ke ranting yang lain. Bahkan beruk-beruk itu ada yang berani duduk duduk di pinggir jalan sambil mencibir ke arah pengendara yang menatapnya.


Pariangan. Taksi yang ditumpangi oleh Rahmania telah mengantarkan mereka ke gerbang desa itu. Desa yang sangat elok dan rupawan sudah tergambar dari kejauhan tadi. Desa yang berada di sebuah kaki Gunung Merapi. Pelan-pelan taksi menapaki jalan desa yang rumah-rumahnya berasitektur rumah gadang tersebut.


Tepat di depan warung kecil, Rahmania menghentikan taksi yang ditumpanginya. Di dalam warung perempuan paruh baya sibuk dengan jahitan di tangannya. Demi melihat kedatangan Rahmania perempuan berkerudung itu hentikan jahitan di tangannya.


“Beli apa dik?” sapa perempuan itu ramah.


“Beli minuman, Bu. Yang dingin ada.”


Rahmania agak tergagap. Sebenarnya dia turun hanya sekedar ingin bertanya. Tentang keberadaan Dai dan Doa. Demi melihat keramah-tamahan penunggu warung itu, dia putuskan membeli beberapa minuman kemasan, seraya bertanya.


“Bu. Apa Mengenal pemuda-pemuda ini?” foto kembaran Dai dan Doa di serahkan pada perempuan penjaga warung itu.


Penjaga warung memperhatikan dengan seksama. Lalu dia menggelengkan kepalanya. “Maaf mata saya agak kabur kalau melihat dari dekat,” sahut perempuan itu sambil mengusap-usap matanya.


“Saya ambil kacamata dulu di dalam laci. Biar jelas,” kata perempuan itu sambil menarik gagang laci yang ada di hadapannya.

__ADS_1


“Wah. Kenal saya orangnya,” kata perempuan itu serius setelah memakai kacamatanya.


“Anak ini siapanya mereka?” tanya perempuan itu penasaran. Kacamatanya kemudian dilepas kembali dan menempatkannya ke tempat semula.


“Saya saudaranya dari Jakarta,” sahut Rahmania bernafas lega. Walau sedikit berbohong tentang jatidirinya yang sebenarnya. Toh, tak baik juga dia berterus terang kalau dia adalah mantan kekasihnya pada setiap orang yang ditanya. Bisa tak baik jadinya. Apalagi di negeri orang, yang adat dan istiadatnya masih kental dan tabu untuk membicarakan sesuatu hal tertentu.


“Vilanya tak jauh dari sini. Naik tanjakan sedikit, sebelah kanan ada tingkat dua berwarna coklat tua. Berpagar hitam. Vila paling bagus di desa ini,” urai penjaga warung itu.


Mendengar keterangan ibu itu Terbersit pikiran yang timbul pada Rahmania. Alangkah besarnya keinginan Dai bersaudara untuk tinggal di Minangkabau ini. Bukan masalah untuk membangun vila mewah yang dengan mudah dilakukan ayah mereka di desa ibunya sendiri. Yang menjadi persoalannya adalah tentu banyak kembang-kembang desa yang menarik perhatian Dai. Dengan sekejap saja tentu dia akan terlupakan.


“Vila mereka Bu.”


Ibu itu mengangguk. “Almarhumah Ibu mereka kawin dengan konglomerat dari Jakarta. Makanya dengan gampang bisa membangun rumah gedung di Pariaman dan vila mewah di sini. Anak-anak itu sering mampir ke sini sekedar berbelanja atau membagi-bagikan sedekah pada orang yang tak mampu yang dia jumpai di sini,” lanjut penjaga warung, sambil memalingkan senyum pada seorang bapak yang baru saja mampir ke warungnya.


Melihat ada pembeli lain yang datang. Rahmania pamit pada penjaga warung. Selangkah lagi dia akan sampai di vila Dai. Dua ratus meter taksi meluncur dari warung. Tak sulit mengidentifikasi vila mewah seperti yang dicirikan oleh penjaga warung tersebut.


Rahmania menghampiri pintu gerbang vila mewah tersebut. Lalu ada seorang lelaki yang tergopoh-gopoh menghampirinya.


“Mancari sia adiak8?” tanya lelaki itu berbahasa minang.


Rahmania hanya kebingungan dengan bahasa lelaki berumur tiga puluh tahunan tersebut, namun secepatnya dia menayakan tentang Dai dan Doa. “Saya Rahmania dari Jakarta sedang mencari Dai dan Doa.”


“Oh.. Saya penjaga vila ini,” kata lelaki itu.


“Dai dan Doa ada Pak?”


“Mereka sedang tidak di sini, mereka sedang libur kuliah. Jadi sedang pulang ke Pariaman,” kata penjaga vila itu berbahasa Indonesia dengan logat minang nan kental.


“Boleh saya tahu alamat rumahnya di Pariaman?” tanya Rahmania. Ia tak tahu jika Dai dan Doa punya rumah di Pariaman, kabar yang ia dapat secara rahasia dari temannya mereka hanya tinggal di sebuah vila megah di Desa Pariangan.


Penjaga lalu menceritakan secara detail lokasi rumah yang ditempati Dai dan Doa di Pariaman. Tak lupa ia memberikan sebuah kartu nama yang berisi alamat Dai dan Doa di Pariaman.


 


Bersambung.....


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2