
Akhir-akhir ini Naila pulang kuliah langsung pergi ke perusahaan ayahnya bersama Erni. Naila membantu Ayahnya untuk promosi-promosi dari online hingga offline. Tujuannya agar masyarakat mengenal produk baru dari perusahaan Ayahnya.
"Nai, kamu tidak capek habis kuliah bantu ayah seperti ini?" tanya Peter yang merasa khawatir dengan kesehatan putrinya.
"Gak kok Ayah, aku justru bosan kalau tiap hari di rumah!" ucap Naila dengan wajah yang ceria.
Melihat raut wajah Naila dan juga perkataannya, Peter menjadi lebih tenang. Peter dan Naila memulai rencana promosinya dengan membuat pengumuman bahwa di perusahaannya sedang memberikan diskon 70% untuk pembelian pertama produk barunya. Selain itu, dia juga menuliskan di pengumuman tersebut bahwa jika di temukan bahan-bahan berbahaya di dalam produknya dan membuat wajah pelanggan rusak Peter siap mengganti rugi semua biaya.
Namun, Peter memgecualikan untuk customer yang memang kulitnya tidak cocok dengan bahan-bahan yang ada di dalamnya namun tetap memaksa untuk menggunakannya. Karena bagi Peter itu adalah kesalahan customer bukan perusahaan. Ibarat sebuah kata sudah tahu bahaya tapi tetap di lakukan juga yang pada akhirnya merugikan diri sendiri.
Setelah selesai membuat papan pengumuman, Peter memajang Papan besar tersebut di depan perusahaan.
"Semoga saja ada yang berkenan mampir ya Yah?" ucap Naila dengan penuh harap.
"Iya, semoga saja!" sahut Peter.
"Kalian jangan merendah terus dong, nama perusahaan kalian sudah sangat cukup terkenal di kalangan masyarakat pasti akan ada banyak orang yang akan membeli produk baru kita. Apalagi bantuan dari Naila yang promosi lewat online, pasti bisa semakin laris!" ucap Erni memberikan pendapatnya sekaligus semangat untuk ayah dan anak itu.
"Yah kan roda berputar Erni, siapa tahu saja tiba-tiba mereka tidak ingin membeli produk dari perusahaan ayahku kan?. Kita gak tahu kapan kita berada di atas dan di bawah," ucap Naila.
"Iya juga sih," sahut Erni yang merasa malu.
"Sudah-sudah, lebih baik kita siap-siap untuk promosi di luar ruangan yuk. Sekarang kita tinggal membagikan brosur pada orang yang berlalu lalang. Tapi usahakan jangan sampai mengganggu perjalanan mereka ya," ajak Peter kepada Erni dan Naila.
"Siap Pak Bos!" sahut Naila dan Erni serentak serta menghormat pada Peter.
"Kalian berdua semakin hari seperti saudara saja, sangat kompak!" ucap Peter sambil tersenyum ke arah Naila dan Erni.
"Kita memang saudara Yah, cuma beda ibu dan ayah saja!" kata Naila melawak.
Tak ingin membuang-buang waktu lagi, Peter segera menyuruh Naila dan Erni untuk mengambil brosur. Peter akan menemani Erni dan Naila menyebar brosur tersebut.
"Maaf ya Erni, kamu saya angkat sebagai manager tapi saya kasih tugas kamu bagikan brosur," ucap Peter yang merasa tak enak hati.
"Tidak apa Tuan, lagipula ini kemauan saya sendiri. Saya memang sengaja menghandle semua pekerjaan saya dan menyelesaikan dengan cepat agar bisa bantu kalian," kata Erni yang merasa terpuji oleh Peter.
"Nanti saya pasti kasih bonus tambahan untuk kamu Erni," ucap Peter.
"Oh bukan itu maksudnya Tuan! Saya di sini sekedar bantu saja kok Tuan. Saya hanya ingin menunjukkan rasa terimakasih saya kepada Tuan Peter, dan berharap Tuan tidak pecat saya karena saya sudah nyaman bekerja di sini," kata Erni yang buru-buru menolak tawaran Peter.
Erni tak ingin Peter salah paham terhadapnya, karena ini atas kemauan Erni jadi Erni tak ingin mengharap sebuah imbalan.
"Baik hati sekali kamu Erni, bersyukur saya memiliki karyawan seperti kamu!" ucap Peter.
Naila yang memperhatikan percakapan mereka yang terlalu formal, Naila bertolak pinggang menatap ke arah mereka.
"Kalian ngobrol terus, yuk kerja, kerja!" ucap Naila yang secara langsung mencairkan suasana canggung itu.
Peter dan Erni tertawa melihat raut wajah Naila yang menurut mereka sangat menggemaskan.
...***...
"Tuan, saya dengar perusahaan Tuan Peter mengeluarkan produk baru. Mereka siang ini menyebar brosur di jalanan dan ada Naila juga di sana," ucap Kelvin yang ahlinya mendapat informasi dengan cepat.
"Kita ke sana sekarang!" ucap Angkasa yang langsung mengambil jas yang dia selimutkan di kursinya.
Kelvin dengan senang hati mengantar Angkasa ke sana karena dia juga akan bertemu dengan pujaan hatinya yaitu Erni.
Beberapa menit kemudian, Angkasa telah sampai di depan perusahaan Peter. Dia sengaja berhenti di depan Naila dan Peter untuk menerima brosur.
"Eh ternyata Tuan Peter. Tuan Peter akan mengadakan apa menyebar brosur?" tanya Angkasa yang berpura-pura tidak tahu apa-apa.
__ADS_1
Angkasa pun turun dari mobil, sedangkan Kelvin memarkirkan mobilnya lalu setelahnya menyusul Angkasa bertemu Peter.
"Ini Tuan Yuda, saya telah mengeluarkan produk baru. Dan juga saya akan mengadakan diskon untuk produk baru saya. Siapa tahu Tuan Yuda berkenan untuk membelikan Ibu atau tunangannya boleh mampir dan lihat-lihat dulu Tuan," sahut Peter.
"Wah, selamat ya Tuan Peter. Semakin berkembang saja bisnisnya," puji Angkasa.
Naila yang melihat Angkasa merasa muak, sebenarnya dia tidak ingin melihatnya lagi di sini. Namun, melihat ayahnya yang penuh hormat dan masih meminta dukungan kepada Angkasa akhirnya Naila juga menunjukkan sikap sopan santunnya.
Lagipula Peter juga tak tahu kalau Naila sempat menjalin hubungan dengan Angkasa. Dan Naila juga tak ingin Peter tahu hal itu karena takut mengganggu kerjasama mereka di dunia bisnis.
"Wow, diskon sampai 70% ya? berarti murah banget ya!" ucap Angkasa.
"Iya Tuan, apa ingin melihat produknya terlebih dahulu?" tanya Peter.
"Tidak usah, soalnya tunangan saya saat ini masih marah dan tidak ingin melihat saya. Jadi saya tidak bisa mengajaknya ke sini," kata Angkasa sambil melirik ke arah Naila.
Naila dengan cepat memalingkan wajahnya dari Angkasa, dia sungguh j!jik menatap seluruh tubuh Angkasa.
'Awas aja kalau dia sampai macam-macam!' batin Naila yang khawatir.
"Tuan, sepertinya saya akan berinvestasi untuk produk ini. Apakah Tuan bersedia bekerjasama dengan saya? Saya akan menyediakan biaya bahan-bahan produknya. Sedangkan Tuan tinggal mengerjakan semuanya sampai menjadi produk. Keuntungannya kita bagi 2, Tuan 70% saya 30%. Bagaimana Tuan?"
Angkasa menawarkan untuk bekerjasama dengan Peter. Tujuan sebenarnya adalah untuk mendekati Naila.
"Be-benarkah? produk ini belum laku satupun loh Tuan. Takutnya saya tidak bisa menjual banyak Tuan," ucap Peter mengkhawatirkan usahanya.
"Apakah anda tidak percaya dengan produk Anda sendiri? kalau Anda saja tidak percaya bagaimana dengan masyarakat yang anda tuju?" tanya Angkasa dengan tatapan yang serius.
"Percaya Tuan, hanya saja saya takut mengganti rugi jika produk tidak laku!" ucap Peter.
"Itu tidak perlu karena saya yang telah mengambil resiko ini dan Anda juga sudah menjelaskan resikonya terlebih dahulu!" ucap Angkasa.
"Kalau begitu, saya siap bekerja sama dengan Tuan Yuda. Selamat bekerjasama ya Tuan," ucap Peter yang langsung menyetujui kerjasama tersebut.
Peter yang tadinya hanya fokus pada Angkasa, kini memalingkan wajahnya ke arah putrinya dengan raut wajah yang bingung.
"Ada apa Naila?" tanya Peter.
"Ayah tidak bisa terima begitu saja kerjasamanya. Bagaimanapun juga Tuan Yuda tidak membawa surat perjanjian kontrak, bagaimana nanti kalau Tuan mengingkari janjinya?. Dan kita tidak memiliki perjanjian itu?" ucap Naila dengan penuh kekhawatiran.
Peter memegang bahu anaknya dan berkata ,"bagaimana mungkin kamu meragukan sifat Tuan Yuda?. Tuan Yuda tidak pernah ingkar dengan janjinya, tanpa surat kontrak pun semua orang akan percaya!" ucap Peter.
"Tuan Yuda maaf ya, anak saya kurang pengalamannya," kata Peter mewakilkan Naila untuk meminta maaf.
"Tidak apa Tuan, nanti sering-sering saja ceritakan hal-hal menarik tentang saya!" ucap Angkasa sambil tersenyum ke arah Naila.
"Cih, Ayah memang mudah tertipu. Jika dia bisa di percaya kenapa dia menipu pacarnya dan bertunangan dengan wanita lain? apa orang yang berbohong bisa di percaya ayah?" tanya Naila dengan sedikit kesal sambil sesekali menatap ke arah Angkasa.
"Naila, kamu tidak bisa berkata seperti itu. Itu tidak sopan lagipula, itu tidak ada hubungannya dengan kerjasama perusahaan!" ucap Peter berharap anaknya tak lagi berkata yang menyinggung Tuan Yuda.
"Tentu ada Yah yaitu, tidak bisa percaya!" kata Naila.
"Ya sudah kalau begitu besok saya akan membawakan surat kontraknya Tuan Peter. Benar yang di katakan wanita cantik ini, kita tidak bisa percaya dengan semua orang," ucap Angkasa.
"Tidak ada surat kontrak juga tak apa Tuan. Maaf jika perkataan putri saya membuat Tuan tersinggung," ucap Peter yang merasa sangat ketakutan.
"Tidak apa, biar besok asisten saya yang akan bawa ke sini. Tuan Peter jangan lupa baca terlebih dahulu sebelum menandatanganinya agar tidak ada kesalahpahaman. Nanti, jika ada yang kurang berkenan Tuan Peter bisa bilang kepada asisten saya, Kelvin!" ucap Angkasa dengan raut wajah yang tetap tenang.
"Baik, baik Tuan!" sahut Peter dengan lega.
"Tunggu Ayah!" ucap Naila lagi yang membuat jantung Peter rasanya ingin copot saja.
__ADS_1
"Ada apa lagi Nona cantik?" kini Angkasa yang langsung bertanya kepada Naila sambil mendekat ke arah Naila.
Seketika Naila menjadi gugup, namun dia harus tetap mengatakan hal yang ingin dia katakan meski jaraknya sangat dekat dengan Angkasa.
"Saya tidak setuju dengan itu, harusnya Tuan Yuda yang datang kemari bukan di wakilkan!" kata Naila.
"Tapi saya terlalu sibuk, bagaimana kalau Nona saja yang datang ke perusahaan saya menemui saya? biarkan Tuan Peter yang mengurus semuanya di sini. Benar kan Tuan Peter?" tanya Angkasa kepada Peter.
"Iya boleh-boleh saja jika itu mau Tuan Yuda. Kalau begitu biar Naila saja yang pergi ke sana ya," ucap Peter membuat kesepakatan.
"Tapi Yah?" Naila ingin menolak, namun melihat tatapan Peter seperti akan marah dia hanya bisa terdiam.
"Baik Ayah," ucap Naila muram.
Setelah membuat kesepakatan itu, Angkasa memutuskan untuk kembali ke perusahaan bersama dengan Kelvin.
'Sayang sekali, belum juga puas mengobrol dengan Erni sudah main pergi saja,' batin Kelvin tak ikhlas.
"Ayah kenapa Ayah menuruti semua permintaannya?" tanya Naila.
"Karena Tuan Yuda memiliki perusahaan yang sangat besar. Dia bisa saja menghancurkan perusahaan kita hanya dengan satu perintahnya, itu sebabnya kamu jangan lagi menyinggung perasaannya," kata Peter memperingati Naila.
"Apa sangat berbahaya untuk perusahaan?" tanya Naila ragu.
"Tentu saja, bisa bekerjasama dengan perusahaan Tuan Yuda adalah impian banyak bos besar. Sedangkan tadi, Tuan Yuda sendiri yang menawarkan kerjasama. Itu adalah kesempatan bagus untuk perusahaan Ayah," jelas Peter.
"Baik ayah, aku mengerti sekarang!" ucap Naila.
"Ya sudah kita istirahat dulu yuk, lagipula tidak ada lagi orang yang berjalan kaki!" ajak Peter.
Mereka bertiga pun kembali ke perusahaan, Erni berjalan ke samping Naila mengajaknya untuk datang ke ruang istirahat sambil memesan makanan lewat online.
"Nai, aku mengerti bagaimana kecewanya dan kesalnya kamu dengan Angkasa. Tapi kamu tolong pikirkan tentang perusahaan ayahmu, yang di katakan oleh ayahmu tadi sangat benar sekali. Hanya sekali perintah perusahaan ayahmu yang besar ini bisa rugi total dalam sekedip mata," ucap Erni memberikan pengertian kepada sahabatnya.
"Iya Er, aku benar-benar b0doh. Bahkan tidak bisa profesional saat bekerja. Sepertinya selamanya aku tidak bisa membantu ayah, yang ada justru membantu 1% merugikannya 50% ," kata Naila dengan rasa bersalahnya.
"Kamu tidak boleh bicara begitu. Aku awalnya sama seperti kamu, tapi karena keadaan aku bisa menahan diri. Jadi, kamu juga pasti bisa kok, semangat ya!" ucap Erni.
"Makasih ya Erni, kamu tidak hanya tidak menertawakan ku tapi juga mendukungku!" kata Naila yang pada akhirnya mengukir senyum untuk Erni.
Naila teringat jika tadi dia melihat Erni dan Kelvin sempat mengobrol. Naila penasaran dengan apa yang terjadi antara mereka berdua.
"Eh Er, tadi sepertinya kamu bicara sama Kelvin. Bagaimana perkembangannya? apa sudah tahap jadian?" tanya Naila.
"Belum Nai, sepertinya aku tidak suka lagi dengan dia," ucap Erni dengan raut wajah yang sedikit sedih.
"Kenapa begitu?" tanya Naila.
"Aku takut untuk menjalin hubungan Nai. Takut cinta menjadi benci, dan juga sakit hati," kata Erni.
Naila menghirup nafas panjang, lalu menjelaskan beberapa hal kepada sahabatnya yang masih polos itu.
"Kenapa? karena melihat aku sama Angkasa?" tanya Naila.
Erni menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Erni, tidak semua lelaki seperti Angkasa. Meskipun Kelvin dekat dengan Angkasa belum tentu juga Kelvin akan bersikap seperti Angkasa. Bahkan dua orang bersaudara akan memiliki sikap yang berbeda, apalagi mereka yang bersahabat tanpa hubungan darah?"
"Sekarang kamu coba teliti, apakah Kelvin pernah menyakitimu? memaksamu? atau hal-hal yang tidak menyenangkan untuk mu?" tanya Naila.
Erni menggelengkan kepalanya, dia merasa Kelvin membuatnya nyaman meskipun sangat bawel karena mengirim pesan yang sangat banyak. Tapi sebenarnya Erni sangat senang karena akhirnya dia tahu jika Kelvin sangat peduli dengannya.
__ADS_1
"Kamu jangan pikirkan hubunganku dengan Angkasa. Tapi kamu fokus dengan Kelvin, bagaimana sikapnya. Sakit hati itu pasti pernah terjadi kepada siapapun, entah dari salah paham atau putus cinta. Tapi, tanpa sakit hati kamu tidak akan pernah belajar banyak hal. Kamu hanya akan diselimuti rasa takut tanpa mencoba," kata Naila menasehati Erni panjang lebar.
"Iya Nai, aku akan pikir-pikir lagi untuk nanti," ucap Erni.