Reinkarnasi Cinta

Reinkarnasi Cinta
Episode 75


__ADS_3

Saat ini Peter bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang banyaknya orderan yang secara tiba-tiba. Bahkan perusahaannya kedatangan sekitar 200 orang secara mendadak.


Wajar saja jika Peter tak tahu alasannya karena dia tidak dapat menonton live Naila tadi siang. Tapi, meskipun tidak tahu dari mana asal pelanggan tersebut, Peter tetap mengucap syukur.


Peter kembali mengarahkan karyawannya dan mengubah jadwal mereka untuk lembur. Namun karena jadwal mendadak, Peter tidak memaksa seluruh karyawannya untuk lembur melainkan membebaskannya. Keuntungannya bagi karyawan yang lembur akan mendapat bonus dari Peter.


Mereka yang tidak memiliki acara setelah bekerja memilih untuk tetap bekerja. Bagi mereka sangat lumayan jika mendapat gaji tambahan untuk bulan ini. Terlebih lagi mereka banyak yang menyewa rumah, jadi sudah pasti pengeluarannya akan lebih banyak.


Peter dan Erni juga ikut lembur untuk mengarahkan pekerjaan mereka agar lebih cepat selesai.


"Maaf Tuan, kami kekurangan kardus packing. Tidak ada stok lagi di dalam gudang," lapor salah satu karyawan bagian packing.


"Kamu tolong beli terlebih dahulu. Beli banyakan sedikit ya!" ucap Peter sambil memberikan karyawan tersebut uang.


"Baik Tuan, saya permisi dulu!" ucap karyawan tersebut.


"Ya, hati-hati!" sahut Peter.


"Tuan kita hari ini fokuskan saja dulu ke packing. Toh juga kalau malam seperti ini tidak bisa kirim. Karyawan yang bertugas mengirim barang pindahkan tugasnya untuk membantu tim packing saja," usul Erni.


"Benar juga ya, lagipula kasihan juga kalau mereka saya suruh antar sekarang. Dan juga gak aman untuk keselamatan mereka," ucap Peter yang baru kepikiran dengan cara yang di sebutkan oleh Erni.


Peter pun menghampiri karyawan-karyawan yang bertugas sebagai kurir untuk di perintahkan membantu team packing. Tanpa ada protes apapun dari mereka, mereka langsung melaksanakan perintah Peter.


Di sisi lain, Naila yang sedang menantikan ayahnya pulang merasa khawatir. Berkali-kali Naila memastikan jam yang ada di handphonenya.


"Padahal sudah jam 11, kenapa ayah belum pulang ya?" tanya Naila pada dirinya sendiri.


Naila ingin menelepon Ayahnya tapi dia ingat kalau Ayahnya masih marah dengannya. Naila juga sempat berfikir untuk menelepon Erni, namun dia merasa malu karena tadi siang saat bertemu Naila tampak bersikap cuek terhadap Erni.


"Ahh bagaimana ini? Siapa yang harus aku hubungi?" tanya Naila bingung.


Naila menunggu dan menunggu, setiap menit dia lewati dengan rasa khawatir. Hingga akhirnya Naila mendengar suara mobil ayahnya, dia segera mengintip lewat jendela yang menampakkan pemandangan garasi mobilnya.


Benar saja jika itu adalah Ayahnya, Naila duduk kembali di sofa berpura-pura tenang. Detik berikutnya, Peter masuk ke dalam rumah menatap putrinya yang sedang memainkan handphonenya.


"Kok belum tidur Nai?" tanya Peter menghampiri Naila yang sedang duduk di sofa.


"Belum ngantuk Ayah," ucap Naila.


"Besok kamu kuliah pagi loh, awas saja kalau nanti telat bangun Ayah gak mau antar loh!" Peter memberikan ancaman kecil untuk anaknya.


"Naila bisa pesan taksi online," sahut Naila cuek.


"Kamu kenapa? Kok jawabnya gitu?" tanya Peter yang melihat tingkah anaknya tak biasa.


"Gak apa-apa!" Sahut Naila masih dengan nada tak peduli.


"Kamu kesal ya karena Ayah marahi kamu waktu di kantor?" tanya Peter lagi berusaha menyelidiki.


Naila mengangguk pelan dengan bibir yang sedikit manyun.


"Ya udah Ayah minta maaf kalau begitu. Ayah terlalu emosi tadi, maafin Ayah ya!" ucap Peter kepada anaknya.


Namun Naila masih saja cemberut yang artinya belum mau memaafkan ayahnya. Peter pun berinisiatif untuk memohon kepada putrinya dengan jongkok di depan Naila.


"Ayolah maafin Ayah. Atau kamu mau ayah lakuin apa?"


"Aku mau Ayah temani aku makan lagi," ucap Naila menatap ayahnya.

__ADS_1


"Iya juga ya, kita terakhir kali makan bersama di luar saat membahas ayahnya Safira," kata Peter.


"Jadi, kapan ayah punya waktu?" tanya Naila bersemangat.


"Kalau besok kemungkinan Ayah lembur jadi tidak bisa. Apa kita tunggu hari minggu kali ya?" pikir Peter.


"Itu terlalu lama Ayah, keburu gak mood lagi!" ucap Naila kembali mengeluarkan raut wajah yang cemberut.


"Tapi Ayah banyak kerjaan besok. Kamu tahu gak, tadi ayah dapat banyak pesanan produk yang baru keluar dari perusahaan Ayah. Gak tahu kenapa, tiba-tiba saja banyak orang yang datang ke perusahaan Ayah," ucap Peter mengalihkan pembicaraan.


"Oh ya? Bagus dong Ayah. Itu artinya mereka tertarik dengan produk baru ayah," ucap Naila yang ikut senang dengan kabar gembira yang di katakan oleh Ayahnya.


"Iya maka dari itu, tadi Ayah sama Erni sibuk banget. Bahkan Ayah terpaksa melemburkan karyawan agar pengiriman cepat di proses. Soalnya ini orderan pertama yang membludak secara tiba-tiba," kata Peter menjelaskan kepada Naila.


"Kalau begitu, besok Naila bantu-bantu ke sana ya? Siapa tahu saja ada yang bisa Naila kerjakan di sana," ucap Naila dengan semangat.


"Boleh kalau kamu mau! Tapi acara makannya di undur dulu ya sampai hari minggu. Ayah janji akan tepati janji ayah,"


"Iya Ayah, kepuasan pelanggan lebih penting," ucap Naila tersenyum.


"Ya udah kalau begitu kamu tidur dulu, besok biar lebih fit badannya kalau bangun," kata Peter yang telah bangkit dari hadapan Naila.


"Iya Ayah. Ayah juga istirahat ya, jangan kerja lagi!" pesan Naila pada Ayahnya.


"Iya sayang, Ayah ke kamar dulu ya," ucap Peter.


Setelah ayahnya pergi, Naila kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


"Apa pelanggan-pelanggan itu datang karena live ku ya?" tanya Naila penasaran.


Namun dia tidak peduli entah karena siapa, yang terpenting bagi Naila adalah produk ayahnya bisa terjual tinggi. Naila berharap semuanya berjalan dengan lancar tanpa adanya kendala.


..._____๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ_____...


Kebanyakan yang datang adalah wanita-wanita yang sudah berumah tangga. Mereka yang telah menonton live Naila merasa tergiur dan memutuskan untuk datang secara langsung ke tempat penjualannya.


Beberapa dari mereka ada yang mengeluhkan susahnya mendapat produk tersebut dari aplikasi online. Karena memang benar Peter belum menjual di aplikasi online atau toko-toko lainnya. Dia belum sempat untuk mengatur itu semua.


Selain itu, terutama kalangan anak muda yang tidak suka berdesak-desakan menyarankan untuk secepatnya menjual secara online. Agar mereka tidak repot-repot datang ke toko dan hanya memainkan jarinya di handphone barang tinggal di terima dan di bayar.


Peter menerima masukan-masukan dari para pembelinya guna memudahkan mereka untuk melakukan pembelian. Secepatnya dia akan memproses hal itu.


Seperti biasa, Peter memberikan secarik kertas dan pulpen di masing-masing pelanggannya. Menyuruh mereka untuk mencatat alamat dan nama mereka masing-masing.


"Terimakasih untuk kalian semua yang rela berdesak-desakan datang kemari. Kami akan lebih berusaha untuk mengirimkan produk yang kalian order secepatnya, paling lambat 5 hari sudah sampai di rumah kalian masing-masing," ucap Peter dengan perantara TOA.


Keadaan kembali sunyi ketika para pelanggan tersebut sudah pergi satu persatu dari perusahaan Peter. Berkali-kali Peter mengucap syukur karena dia mendapat banyak pelanggan di pagi hari.


Peter mengerahkan seluruh bagian produksi untuk membantu dalam pembuatan cream tersebut. Karena dalam seminggu ini, hanya Cream ini yang mendapat orderan paling banyak. Sedangkan produk lainnya masih ada stok yang belum terjual.


Selain itu Peter juga membuka lowongan pekerjaan di bagian packing. Menurutnya, team packing sangat kekurangan karyawan sehingga team packing merasa kewalahan dengan tugas-tugas mereka.


Peter beralih ke team packing saat ini dan memberikan beberapa pengumuman terbaru.


"Karena saat ini ada banyak orderan, saya akan memberikan kalian target perharinya untuk mem-packing 500 produk per orang sampai jam kerja kalian selesai. Bagi yang mendapat target kalian akan mendapat bonus dari saya, dan untuk yang tidak mendapat target tidak akan mendapat apa-apa kecuali lembur akan mendapat uang lembur!" ucap Peter.


Semua karyawan team packing bersorak ramai. Ada yang senang dengan penargetan yang di buat oleh Peter karena mereka merasa mampu. Di lain sisi juga ada yang tampak biasa karena mereka juga tidak diharuskan mencapai targetnya. Yang lainnya juga lebih bersemangat untuk bekerja karena adanya target yang di capai.


"Kalau lebih dari target bagaimana Tuan?" tanya salah satu karyawan team packing.

__ADS_1


"Jika lebih bonus tetap sama artinya tidak ada bonus kelebihan targetnya. Kita lihat nanti, jika semakin banyak orderan saya pasti akan menambah bonus kalian. Intinya kalian harus tetap bersemangat ya!" ucap Peter.


"Baik Tuan!" sahut mereka serempak.


Mereka tampak sangat senang sekali bekerja di perusahaan Peter. Karena selain lingkungan kerja yang nyaman juga mendapat banyak bonus.


...__________๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ____________...


Beberapa hari kemudian, berita tentang perusahaan Peter sudah tersebar luas di media sosial. Perusahaannya menjadi topik terpanas di internet. Bagaimana tidak? Perhari ada ratusan orang yang datang ke sana. Peter dan karyawan lainnya merasa kewalahan menghadapi mereka.


Namun Naila memiliki solusinya, dia melakukan live kembali di media sosialnya. Menginformasikan jika pembelian produk sudah bisa di lakukan di aplikasi orange dan juga hijau. Sehingga mereka yang ingin memiliki produk tersebut tidak perlu lagi datang berdesak-desakan ke perusahaan Cahaya Gempita.


Namun, Naila juga mengingatkan agar mereka sabar menunggu karena banyaknya pesanan dan proses produksi juga membutuhkan waktu yang cukup lama.


"Ingat untuk membeli di toko online resmi ya, jangan sampai tertipu dengan produk palsu. Promo 70% berlaku sampai hari jumat besok loh, buruan yuk!" ucap Naila pada live nya.


Sambil memperlihatkan kembali produk-produk tersebut, Naila membaca sebuah komentar yang tak sengaja terbaca.


"Kak apa benar kalau Kak Naila anak dari pemilik perusahaan Cahaya Gempita?"


Naila merasa bingung untuk menjawab pertanyaan tersebut. Karena terlanjur membaca komentar tersebut dengan sedikit keras, Naila akhirnya menjawabnya.


"Benar, perkenalkan kembali saya anak dari Tuan Peter pemilik perusahaan Cahaya Gempita. Mungkin beberapa dari kalian akan terkejut, tapi itulah kenyataannya. Semoga kalian bisa membantu meningkatkan omset penjualan Ayahku ya!" ucap Naila ramah.


Benar saja seperti yang di katakan oleh Naila barusan, mereka sangat terkejut setelah mendengar hal tersebut. Mereka tak menyangka jika Naila anak dari Tuan Peter yang merupakan orang kedua terkaya di Negara E di tahun ini.


"Wah, Kak Naila hebat. Tidak sombong meskipun memiliki Ayah yang hebat!" puji para penontonnya.


"Kak Naila rendah hati ya!" komentar penonton lainnya.


Naila hanya tersenyum-senyum membaca komentar yang berisi pujian tersebut. Ada juga orang yang mendoakan agar Naila sehat selalu. Naila mendoakannya kembali, agar apa yang di doakannya kembali kepadanya.


Itulah yang di sukai oleh followers Naila kepada Naila, dia masih bisa berbaur dengan penontonnya ketika live. Bahkan sangat ramah menyapa beberapa penonton yang menitipkan salam. Dengan kata lain para followersnya melihat karakter Naila yang baik dan juga ramah.


Dan juga Naila tak pernah berbohong dalam mereview semua produknya. Sehingga jika produk tersebut kurang cocok untuk orang A maka orang A bisa mempertimbangkannya kembali. Namun Naila juga tidak mengekangnya, jika mereka ingin memakainya juga tidak jadi masalah baginya.


...__________๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ____________...


Setelah di kira cukup untuk basa-basi nya, Naila menutup live nya. Naila merebahkan dirinya di atas kasur karena sedikit lelah. Hari ini dia sengaja tidak membantu ayahnya ke perusahaan karena sudah berencana untuk live.


Terlebih lagi Ayahnya sudah mengatur penjualan agar produknya bisa di temukan di minimarket atau supermarket. Selain itu juga, ayahnya telah membuat akun untuk menjual beberapa produknya di aplikasi online.


Naila mengusulkan agar ayahnya juga mencari reseller yang bisa menjualkan produknya di tiap daerah. Sehingga di masing-masing daerah, mereka bisa membelinya dan juga produk akan lebih populer.


Sebenarnya Peter telah menyetujui usulnya, namun Peter belum mengatur pengiriman di luar daerah. Peter belum sempat untuk mengatur kerjasama dengan kurir yang bermerk resmi seperti j&t dan sebagainya.


"Semoga dengan live ku ini bisa membantu penjualan ayah meningkat lebih banyak!" ucap Naila.


Naila merasakan lelah yang luar biasa, dai memutuskan untuk tidur.


Sedangkan di lain tempat, Peter telah mengatur pengiriman untuk ke sekian kalinya. Dari riview yang dia dapatkan dari pelanggan, mereka berkata produknya berfungsi dengan baik. Tidak ada satupun pelanggan yang komplain dengan produknya. Mereka hanya komplain karena menunggu terlalu lama, dan kurir yang mengantar sudah menjelaskan sesuai yang di arahkan oleh Peter.


"Hati-hati kalian ya, dan semangat!" ucap Peter ketika beberapa kurir yang menaiki sepeda motor akan berangkat.


"Siap Tuan!" ucap kurir serentak.


Mereka mulai mengantar paket-paket berdasarkan alamat yang di terima. Ada yang mengarah ke selatan, ada yang ke utara, barat dan timur. Mereka mendapat bagiannya masing-masing.


Dengan hati yang sangat senang sambil memikirkan bonus yang akan mereka terima. Mereka tentu sangat bersemangat untuk mengirim paket-paket tersebut.

__ADS_1


Terutama kurir yang bernama Jordy, dia sungguh bersyukur karena saat ini istrinya sedang hamil tua yang sebentar lagi akan melahirkan. Ini adalah anak mereka yang pertama, jadi Jordy sangat hati-hati menjaga istrinya sepulang dari kerja. Saat bekerja istrinya dijaga oleh orang tuanya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนBersambung๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2