Reinkarnasi Cinta

Reinkarnasi Cinta
Episode 35


__ADS_3

Setelah mendengar rencana Erni, Angkasa merasa itu cukup menarik. Bagaimanapun juga Erni bisa di bilang lebih paham Naila di bandingkan dengan dirinya.


Namun ada satu hal yang mengganjal di hati Angkasa yang membuat dia merasa bersalah terhadap Kelvin.


"Kelvin sudah lama sejak kamu menjadi asistenku. Kamu tidak pernah menceritakan keluh kesahmu lagi kepadaku. Apa karena aku yang terlalu sibuk, atau memang kamu tidak ingin bercerita?" tanya Angkasa kepada Kelvin yang duduk di sampingnya.


Kelvin berfikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Angkasa.


"Saya tidak berani mengganggu pekerjaan Tuan, saya tahu Tuan sangat sibuk mengurus perusahaan sambil kuliah," sahut Kelvin.


Kelvin masih wanti-wanti takut dia menjawab dengan jawaban yang salah. Apalagi sampai membuat Angkasa tersinggung.


"Kelvin dulu ini kita sahabat, tapi semua menjadi berbeda sejak aku memegang perusahaan. Aku tidak bisa bermain denganmu dan aku selalu sibuk dengan pekerjaanku. Sampai hari ini aku memiliki waktu luang dan aku terpikirkan, selama ini apa yang kamu rasakan? apakah kamu menyalahkan ku karena aku telah mengurung mu di sisiku?"


Angkasa kembali melontarkan pertanyaan yang membuat Kelvin susah menjawabnya.


"Tuan, saya tidak menyalahkan Anda. Saya menjadi asisten Tuan atas kemauan saya," sahut Kelvin seadanya.


"Lalu, apakah kamu tidak pernah tertarik dengan wanita lain?" tanya Angkasa.


Kelvin tak berani menjawab, dia hanya diam. Karena pertanyaan itu sangat memalukan, di satu sisi dia sangat ingin seperti pria muda pada umumnya. Namun di sisi lainnya dia telah berjanji menemani Angkasa sebagai balas budi untuk ayah dan ibunya Angkasa.


"Kenapa? apa karena kamu telah menjadi asisten itu sebabnya kamu tidak berani berpacaran? bahkan menyukai lawan jenis?" tanya Angkasa.


Kelvin mengangguk dan menunduk setelahnya, dia tidak tahu harus berbicara apalagi.


"Kenapa kamu menyiksa dirimu? Meskipun kamu telah berjanji dengan ayahku untuk setia menemani aku tapi bukan berarti kamu tidak membangun keluarga," kata Angkasa sejenak dia terdiam.


"Kelvin, sadarlah! jangan siksa dirimu lagi. Kamu bebas atas semua hak mu, ini hidupmu kamu berhak atas semuanya," imbuh Angkasa lagi.


Kelvin terharu mendengar perkataan Angkasa, dia tidak menyangka kalau Angkasa akan berkata demikian. Persahabatan yang telah di jalin bertahun-tahun sungguh awet di hati Angkasa.


"Terimakasih Tuan, saya tidak tahu harus bagaimana berterimakasih kepada Tuan!" kata Kelvin merasa sangat senang.


"Sama-sama. Aku tahu alasan kamu berhenti sekolah dan memilih menjadi asistenku. Kamu hanya takut menambah beban Ibuku bukan? apalagi setelah Ayah meninggalkan kami. Tapi karena ketulusan kamu juga aku menerimamu sebagai asisten. Bukan berarti persahabatan kita lenyap begitu saja,"


Kelvin memeluk Angkasa seperti dia memeluk Angkasa semasa kecilnya. Sudah lama dia menantikan suasana persahabatan seperti ini. Selama ini hatinya sungguh sepi, dia hanya fokus pada pekerjaan. Pantang menyerah dan tidak memperbolehkan dirinya untuk mengeluh dengan mudah. Hati yang dulunya keras sekarang bisa menjadi lembek karena Angkasa.


"Maaf Tuan, awalnya aku berpikir hanya aku yang masih menganggap persahabatan kita. Tapi tak di sangka Tuan masih mengingat persahabatan kita. Terimakasih banyak Tuan," ucap Kelvin setelah melepas pelukan tersebut.


"Aku juga minta maaf Kelvin telah melupakanmu karena terlalu sibuk dengan dunia ini. Sekarang mari kita bikin kesepakatan," ajak Angkasa.

__ADS_1


"Kesepakatan apa Tuan?" tanya Kelvin penasaran.


"Kita akan menjadi atasan dan bawahan sata berada di kantor dan bertemu klien di luar. Selain itu mari kita berhubungan seperti sahabat, seperti dulu lagi!" kata Angkasa.


"Aku setuju!" kata Kelvin dengan cepat.


"Oke, begitu saja cukup! Aku ingin istirahat sebentar karena nanti malam akan ada acara spesial. Cincin yang aku pesan tolong ambilkan jam 5 sore ya!" kata Angkasa.


"Oke Angkasa!" sahut Kelvin.


Angkasa merebahkan badannya, tatapannya menuju ke atas langit-langit atap. Begitupula dengan Kelvin yang ikut berbaring terlentang di sampingnya. Menggunakan tangan sebagai bantal dan menatap ke arah langit.


Masing-masing dari mereka mengingat masa lalu mereka yang penuh dengan kegembiraan. Kelvin dan Angkasa sering bermain bareng sebelum Angkasa mengambil alih perusahaan. Saat itu mereka masih bisa bermain seperti anak muda pada zamannya. Tetapi sekarang mereka sama-sama terhalang karena pekerjaan.


'Karena pekerjaan, aku hampir melupakan sahabat yang selalu mendampingi ku di perusahaan. Tapi untungnya tidak terlambat untuk memperbaikinya,' batin Angkasa.


Di sisi lain, Erni tampak heboh di kamarnya bersama Naila. Dia sangat penasaran dengan kedekatan Naila dan Angkasa tadi pagi saat mereka jalan berdua.


"Dia tampak biasa saja, sepertinya dia tidak suka denganku!" ujar Naila.


"Mana bisa di bilang tidak suka? bukankah dia memberikanmu bunga pagi itu?" tanya Erni dengan semangat.


"Lalu bagaimana dengan makan malam?" Erni kembali mengungkit agar Naila memiliki keyakinan.


"Argh! aku gak tahu Er. Mungkin saja hanya aku yang suka padanya atau mungkin saja kita sama-sama suka tapi tidak ada yang berani mengaku," ucap Naila gelisah.


"Sudah, sudah! lebih baik kamu beristirahat saja dulu. Nanti malam kamu ada acara makan malam loh harus terlihat cantik di mata Angkasa," kata Erni.


'Aku tidak sabar menantikan pernyataan cinta Angkasa kepada Naila. Semoga saja berjalan dengan lancar, tidak bisa di bayangkan bagaimana perasaan Naila saat itu,' batin Erni yang tak sabar ingin menyaksikan kebahagiaan sahabatnya.


"Apa aku harus berdandan saat makan makan nanti?" tanya Naila ragu.


"Tentu saja Nai. Itu akan membuat Angkasa semakin tertarik denganmu, dan mungkin menambah rasa suka," sahut Erni dengan yakin.


Namun Naila masih saja ragu, dia masih takut jika nantinya Angkasa akan berfikiran buruk terhadapnya.


...***...


Malam yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba. Naila dengan gaun cantiknya masih menunggu 15 menit untuk keluar makan malam. Hatinya sungguh merasa degdegan, dia tidak pernah merasakan ini sebelumnya.


"Er aku gak bisa tenang nih," kata Naila mengerutkan alisnya.

__ADS_1


"Sudah Nai tenang saja. sebentar lagi Angkasa datang loh, kamu tidak boleh pasang wajah panik seperti itu," kata Erni.


Naila berusaha bersikap tenang, dia tidak mau merusak penampilan yang sangat anggun itu.


'Nai kamu harus tenang. Lagipula ini hanya makan malam saja untuk apa begitu tegang, dibawa santai saja Nai!' kata Naila pada dirinya sendiri.


Berkali-kali Naila menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara kasar. Begitulah cara Naila agar tetap rileks.


Jam di tangan Naila sudah menunjukkan pukul 18.55, itu artinya 5 menit lagi ketukan pintu akan terdengar.


"Nai, semangat ya! semoga Angkasa memiliki kesan yang indah untuk kamu!" kata Erni mengepalkan jari-jarinya.


"Makasih Er," kata Naila tersenyum.


TOK!TOK!TOK!


Tiba-tiba suara pintu terketuk, Naila membuka pintu secara tergesa-gesa. Namun dia terkejut karena bukan Angkasa yang datang melainkan Kelvin yang berdiri di depan pintu.


"Angkasa mana? kenapa kamu yang jemput?" tanya Naila.


"Maaf Naila, Angkasa sedang pergi urusan bisnis dengan Ayah jadi tidak bisa makan malam denganmu. Sebagai ganti ruginya, Angkasa mengirim aku untuk menggantikannya," ujar Kelvin dengan ragu.


"Gimana sih tuh orang, sudah buat janji malah batalin gitu aja. Sudahlah dandan capek-capek, tidak menghargai orang banget sih," kata Erni dengan emosi yang meledak-ledak.


Apa yang dia rencanakan akhirnya gagal total, dia tidak menyangka Angkasa adalah tipe orang yang suka ingkar janji.


"Tidak apa Erni, kita bisa makan bersama Kelvin kok!" ucap Naila dengan sabar.


"Gak bjsa gitu Nai. Emang urusan itu sangat penting? tidak bisa lain kali saja di ambil?" tanya Erni pada Kelvin.


Erni masih belum terima Angkasa membuat sahabatnya kecewa.


"Tidak Er, itu mendesak jadi Angkasa harus ikut!" ujar Kelvin dengan keringat dingin di sekujur tubuhnya.


'Angkasa terlalu kejam merencanakan hal ini,' batin Kelvin.


"Cih! dasar sok sibuk!"


Akhirnya mau tidak mau erni mengikuti perkataan Kelvin. Mereka bertiga akhirnya berangkat menggunakan mobil di sebuah restaurant. Hati Naila sungguh kecewa dengan Angkasa namun dia tidak ingin merusak moment ini.


'Apakah dia pikir menggunakan Kelvin sebagai pengganti sudah cukup?' kata Naila dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2