
Michael yang telah keluar dari perusahaan Angkasa memutuskan untuk langsung kembali ke negara E menemui istrinya. Meskipun dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi antara Peter dan Angkasa, tetapi dia sendiri tidak berani mengusik salah satu dari mereka.
Di negara Y, Angkasa lah yang berkuasa. Michael tak berani untuk berbuat macam-macam kepada Angkasa. Beda dengan di negaranya sendiri, masalah sebesar apapun bisa di selesai kan dengan mudah karena dia yang berkuasa di negara E.
Michael langsung memesan tiket pesawat dan terbang menuju ke negara E. Di dalam pesawat dia masih memikirkan tanggapan Ruby tentang rencananya yang gagal.
Michael merasa bersalah, dia tidak ingin mengecewakan istrinya. Wanita yang sangat dia sayangi.
Di sisi lain Ruby yang belum mendapat kabar apapun dari suaminya merasa khawatir. Khawatir suaminya gagal untuk menaklukkan Tuan Yuda yang terkenal berkuasa di negaranya sendiri.
Ruby menggigit kuku jarinya sambil mondar mandir di dalam kamarnya. Beberapa kali dia mengecek handphonenya, siapa tahu ada pesan dari suaminya. Namun tidak ada satupun pesan yang masuk, bahkan Ruby sampai bosan menatap layar handphonenya.
Ruby kesal sendiri kenapa suaminya yang telah terbang ke negara Y beberapa hari yang lalu belum memberikan kabar apapun tentang rencananya.
Beberapa menit kemudian, Handphone Ruby berdering. Ruby langsung mengambil handphonenya dan melihat nama kontak yang tertera di layar handphonenya.
Ruby pikir itu suaminya namun ternyata itu telepon dari Alina, teman kampus yang beberapa hari dia kenal.
"Ada apa Alina?" tanya Ruby saat telepon sudah di angkat.
"Ruby aku sudah ada di luar gerbang rumah kamu. Kamu keluar ya, takutnya aku tidak di perbolehkan masuk karena pengamanan di sini sangat ketat!" ujar Alina dengan lantang.
"Oke, aku turun sekarang!" kata Ruby.
Setelah mematikan telepon, Ruby keluar dari kamarnya dan turun menuju pintu keluar rumahnya. Beberapa penjaga sedang berdiri di luar sana, mereka memberi hormat kepada Ruby saat Ruby membuka gerbang.
"Alina!" panggil Ruby kepada Alina yang sedang sibuk menatap layar ponselnya.
"Eh Ruby, sorry ya ganggu waktunya!" kata Alina dengan alis yang mengkerut.
"Gak apa-apa! Ya udah yuk masuk," ajak Ruby kepada Alina.
Menurut informasi yang di dapatkan oleh Ruby, Alina adalah anak orang kaya. Orang tuanya memiliki beberapa perusahaan di negara Y. Alasan dia mau berteman dengan Alina adalah karena harta yang di milikinya. Meskipun dia memiliki niat yang baik, namun tetap saja dia tidak bisa jika tidak memandang harta. Baginya harta adalah satu-satunya yang bisa membuat dia keluar dari masalah.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Ruby saat sudah sampai di dalam kamarnya.
"Aku cuma iseng aja, habisnya hari libur aku bingung mau kemana," ujar Alina.
"Aku juga bosan nih, suamiku sedang pergi ke negara E untuk mengurus pekerjaan," kata Ruby.
"Berarti pas dong, untung saja Tuan Michael tidak ada," kata Alina menarik nafas lega.
"Ruby, kamu beruntung banget bisa di nikahi oleh Tuan Michael. Dengar-dengar Tuan Michael tidak pernah bersentuhan dengan wanita manapun saat dia muda. Dan juga baru kali ini dia tertarik dengan wanita, dulu orang tuanya sangat khawatir dengannya karena takut Tuan Michael tidak menikah. Tapi sekarang, mereka sudah meninggal dan hanya bisa menyaksikan pernikahan kalian di alam sana,"
"Ya namanya juga jodoh tidak ada yang tahu kan? aku juga tidak menyangka bisa menikah dengan Tuan Michael. Entah apa yang di lihat dari aku sehingga Tuan Michael jatuh cinta denganku secara tiba-tiba," kata Ruby yang juga tak tahu alasan Michael menikahinya.
__ADS_1
Jika karena Cinta, Ruby sendiir belum percaya 100%. Terlebih lagi saat dia bertemu Michael pertama kali, dia sedang berada di dalam sel. Untuk pria normal, mereka tidak akan menikahi wanita yang telah memiliki status ataupun riwayat tindakan kriminal seperti Ruby. Tapi, apapun alasannya Ruby tidak peduli karena dirinya juga tidak mencintai suaminya. Tetapi dia tetap bersikap baik, karena Michael sendiri memperlakukannya seperti ratu di rumah ini.
Di sisi lain, Angkasa sibuk dengan pekerjaannya. Namun tiba-tiba, Kelvin datang menghampirinya.
"Kenapa kamu balik lagi?" tanya Angkasa menatap ke arah Kelvin yang berdiri di depannya.
Cukup wajar jika Angkasa bertanya seperti itu, karena Kelvin pergi 3 jam yang lalu. Biasanya bagi dirinya sendiri waktu 3 jam tidak cukup untuk pergi berkencan apalagi dengan orang yang di cintainya.
"Iya Tuan, Erni ada urusan yang mendadak!" sahut Kelvin yang terlihat sedikit kecewa.
"Oh, kenapa tidak balik ke rumah saja? bukannya hari ini kamu libur satu hari?" tanya Angkasa lagi.
"Tidak apa-apa Tuan, saya lanjut bekerja saja takutnya kalau diam di rumah saya menjadi bosan!" sahut Kelvin.
"Ya sudah kalau begitu," Angkasa mengakhiri pembicaraan mereka.
'Awalnya berniat untu lebih lama kencan dengan Erni, tapi siapa sangka dia mendapat telepon secara tiba-tiba dari perusahaan. Katanya mendadak,' batin Kelvin kesal.
Kelvin melanjutkan mengambil pekerjaan yang sudah seharusnya dia pekerjakan.
'Kenapa aku merasa kalau Ruby dan Safira adalah orang yang sama ya?' batin Angkasa yang masih memikirkan kejadian tadi pagi.
'Jelas-jelas tujuan Michael adalah untuk menghancurkan perusahaan Peter. Jika Ruby dan Safira adalah orang yang sama, maka sudah sewajarnya jika Michael membantu istrinya untuk balas dendam. Karena pasti Safira sudah mengadu yang bukan-bukan kepada Michael,' pikir Angkasa kembali.
Angkasa tidak fokus dalam bekerja, dia melirik ke arah Kelvin yang sedang fokus mengerjakan sesuatu.
"Baik Tuan!" sahut Kelvin.
"Satu lagi, tolong pantau perusahaan Tuan Peter ya! jika ada kendala di sana tolong informasikan dan hilangkan semua kendalanya. Kamu bisa menyelidikinya melalui Erni, saya dengar dia telah menjadi manager di sana," kata Angkasa lagi.
"Baik Tuan, akan saya laksanakan sekarang juga," sahut Kelvin.
Kelvin pun langsung berangkat untuk melaksanakan tugas yang di berikan oleh Angkasa.
Sedangkan Angkasa mengambil alih semua pekerjaan yang ada di kantor.
...***...
Keesokan harinya, Michael telah sampai di rumahnya dan berencana untuk memberitahu hasil rencananya. Kemarin dia sengaja untuk pulang ke rumah larut malam agar istrinya tidak bisa bertanya langsung kepadanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi, dia melihat istrinya masih tertidur lelap. Michael sengaja tidak membangunkannya karena hari ini Ruby tidak perlu ke kampus karena tanggal merah.
Michael pergi ke kamar mandi terlebih dahulu untuk menghilangkan rasa ngantuk yang masih tersisa. Sambil meregangkan badannya di dalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Ruby terbangun dari mimpi buruknya. Dengan tubuh yang menggeliat di atas kasur, dia masih mengumpulkan nyawa untuk kembali tersadar.
__ADS_1
Dia tidak melihat suaminya di sampingnya, namun dia mendengar suara percikan air di kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.
Dia melihat bayangan seorang pria di dalam kamar mandi melalui pintu kamar mandinya yang memiliki jenis frost glass.
Ruby duduk di atas ranjang dengan lutut yang di tekuk sambil menunggu suaminya. 2 menit kemudian, Michael telah keluar dari kamar mandi dan sedikit kaget karena melihat istrinya yang sudah bangun dari tidurnya.
"Kapan kamu pulang Mas?" tanya Ruby yang menatap ke arah suaminya yang hanya menggunakan handuk di bagian bawahnya.
"Kemarin malam Sayang, kamu sudah tidur jadi Mas gak berani mengganggu," sahut Michael sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
"Terus gimana Mas? apa yang di rencanakan Mas berhasil?" tanya Ruby yang sudah tak sabar menunggu jawaban Michael.
Michael menggelengkan kepalanya, lalu berkata, "Lebih baik kita tidak berurusan dengan wanita itu lagi."
"Kenapa Mas?" tanya Ruby terkejut melihat suaminya pasrah untuk pertama kalinya.
"Tuan Yuda sepertinya ingin melindungi wanita tersebut. Awalnya Mas ingin membuat perusahan ayah dari wanita itu mengalami kerugian yang besar. Tapi siapa sangka, Tuan Yuda justru menolak untuk membantu Mas," ucap Michael.
"Tuan Yuda juga sudah memutuskan kerjasama dengan kita. Seperti yang kamu tahu, kontrak tersebut bisa menguntungkan kedua belah pihak. Tetapi jika salah satu pihak memutuskan kontrak secara tiba-tiba maka dia akan memberikan biaya ganti rugi yang cukup besar," imbuhnya.
Ruby hanya terdiam, dalam hatinya dia sangat kesal karena Naila memiliki nasib yang begitu beruntung.
"Wanita itu memang memiliki banyak trik, bahkan Tuan Yuda mampu dia kelabui. Tapi untuk balas dendam bukan itu jalan satu-satunya Mas, kita bisa lewat jalur lain," kata Ruby kemudian.
"Baiklah, nanti kita pikirkan lagi! sekarang aku menginginkan istriku. Sudah lama sekali rasanya tidak dapat menyentuh tubuhmu," kata Michael yang mulai bersikap manja.
"Kamu ini Mas, kita harus pikirkan dulu rencananya," kata Ruby menolak.
"Mas sudah terlanjur kangen sama kamu Sayang," sahut Michael yang mulai menyentuh Ruby.
"Gak Mas, aku menolak!" ucap Ruby tegas yang membuat Michael menghentikan tindakannya.
"Baiklah, lalu apa rencanamu selanjutnya?" tanya Michael dengan raut wajah yang serius.
"Aku ingin kemnali ke negara E Mas, sekalian aku ingin menemui saudaraku di sana," kata Ruby.
"Kamu punya saudara? kenapa kamu tidak bilang?" tanya Michael yang baru tahu jika istrinya masih memiliki anggota keluarga.
"Keluargaku tidak memiliki apapun selain egois, kecuali kakak laki-laki ku. Aku telah menyia-nyiakan kepercayaannya, dan juga dia sangat sayang denganku. Tapi apa yang aku lakukan? demi balas dendam aku mendekam di penjara. Dan syukurlah aku bertemu kamu Mas," kata Ruby dengan raut wajah sedihnya.
"Lalu dimana kakakmu tinggal?" tanya Michael yang ikut merasakan kesedihan yang di alami istrinya.
Namun Ruby menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu dimana Hendra tinggal.
"Aku tidak tahu dia tinggal dimana, entah masih tinggal di rumah itu atau sudah keluar. Tapi aku sungguh merasa bersalah, dia berjanji akan mencari uang untuk membebaskan aku dari penjara. Tapi aku tidak ingin dia menyia-nyiakan usahanya lagi untukku. Saat aku di pukul berkali-kali oleh ayahku, hanya dia yang khawatir denganku. Bahkan Ibu kandungku sendiri seperti tidak peduli, bahkan tidak berani menghentikan ayahku," kata Ruby.
__ADS_1
Jika mengingat kenangan pahit tersebut, air mata Ruby pasti langsung menetes. Betapa berat jalan hidup yang dia alami. Dia seringkali membandingkan kehidupannya dengan kehidupan Naila yang tampak sangat bahagia meskipun tanpa Ibu.
"Jangan sedih Sayang, aku pasti akan bantu kamu cari Kakak ipar! Nanti kita cari waktu lagi untuk ke negara E ya," ucap Michael menenangkan istrinya.