Reinkarnasi Cinta

Reinkarnasi Cinta
Episode 69


__ADS_3

Satu bulan kemudian, kini waktunya Fernando untuk keluar dari penjara. Baru saja menghirup udara segar dirinya sudah di datangi oleh seorang wanita yaitu Rebecca.


"Kamu ikut aku!" perintah Rebecca pada Fernando.


"Siapa kamu? kenapa aku harus ikuti perkataanmu?" tanya Fernando.


"Ikut atau aku patahkan lehermu!" ucap Rebecca dengan tatapan dingin.


"Dih! cantik-cantik galak!" ujar Fernando.


Rebecca yang memiliki kesabaran setipis tisu mulai mencari ancang-ancang untuk mematahkan leher Fernando.


"Eh tu-tunggu, tunggu," ucap Fernando ketakutan.


"Jadi? lo mau gue bawa secara paksa atau lo serahkan diri lo?" tanya Rebecca dengan menaikkan satu alisnya.


Dengan terpaksa Fernando mengikuti Rebecca dengan cara halus, daripada dengan leher di patahkan.


'Gini amat punya hidup, baru keluar dari kandang macan udah masuk lagi ke kandang singa!' batin Fernando meratapi nasibnya.


Rebecca membawa Fernando ke rumah Angel sesuai dengan perintah Angel. Sesampainya di sana Rebecca melapor terlebih dahulu jika orang yang di minta datang sudah berada di belakangnya.


"Kerja bagus Rebecca! kamu bisa beristirahat, saya ingin berbicara berdua dengan dia!" ucap Angel sambil menatap ke arah Fernando.


Fernando sangat bingung kenapa wanita yang ada di depannya membawanya kesana. Fernando juga belum pernah melihat Angel sebelumnya.


"Hei kamu!" panggil Angel.


Fernando menatap ke arahnya tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Aku mau kamu menjadi bawahanku untuk menghancurkan Naila!" ucap Angel tanpa basa-basi.


Seketika Fernando menjadi takut, karena terakhir dia memiliki niat jahat kepada Naila berakhir di penjara. Fernando tak mau mengulangi kejadian yang sama.


"Tidak, aku tidak mau!" ucap Fernando menolak perintah Angel.


"Kamu tidak memiliki hak untuk menolak!" sahut Angel dengan tegas.


"Kenapa? saya tidak mengenalmu. Dan lebih baik kamu hati-hati dengan Naila karena dia bisa saja menjebloskan kamu ke penjara seperti saya!" ucap Fernando memberikan peringatan kepada Angel.


"Oh ya? apakah Naila semenakutkan itu?" tanya Angel yang menganggap remeh perkataan Fernando.


"Jelas, dia memiliki Angkasa sebagai tamengnya pria yang paling kaya di negara E dan juga ayahnya adalah pria kaya nomor dua di negara E!" sahut Fernando.


Membayangkannya saja Fernando sudah tidak mau apalagi untuk menyakiti Naila lagi. Jika dia berani melakukannya sekali lagi, mungkin detik berikutnya sudah tidak memiliki nyawa lagi.


"Wow, aku jadi semakin penasaran sama wanita yang bernama Naila," ucap Angel sambil menopang dagunya dengan tangan.


"Kamu wanita g!la ya, bisa-bisanya tidak memiliki rasa takut sama sekali!" ucap Fernando yang masih belum tahu status Angel.


"Kenapa aku g!la, lagipula aku pikir Naila tak menakutkan seperti yang kamu katakan. Terlebih lagi salah satu tamengnya sudah pergi meninggalkannya!" kata Angel dengan penuh tanda tanya.


"Maksudnya? ayahnya apakah sudah tiada?" tanya Fernando yang sedikit terkejut.


"Dasar b0doh, berapa tahun sih kamu di penjara? sampai-sampai 0takmu tidak berfungsi," ucap Angel dengan nada kesal.


"Lalu kenapa kamu bisa berbicara seperti itu?" tanya Fernando.


"Karena Angkasa Yuda adalah tunanganku sekarang!" ucap Angel.


Fernando baru mengerti apa yang dikatakan oleh Angel.


"Jadi bagaimana? apakah kamu masih takut untuk melawan Naila?" tanya Angel kembali.


"Kalau gitu sih gampang masalahnya. Tapi benar kan kamu tunangannya Angkasa?" tanya Fernando memastikan.

__ADS_1


Angel menunjukkan foto dirinya bersama Angkasa saat bertunangan. Barulah Fernando percaya setelahnya.


"Kamu sudah memiliki Angkasa sebagai tunanganmu, lalu kenapa kamu bisa memiliki dendam dengan Naila?" tanya Fernando penasaran.


"Kamu jangan banyak bicara! Mulai sekarang kamu sama seperti Rebecca, sama-sama bawahanku jadi harus menuruti semua perintahku. Kalau kamu berani membantah, ingat baik-baik orang tuamu!" ancam Angel.


"Kamu jangan pernah menyakiti orang tuaku, mereka telah berkorban banyak untukku!" kata Fernando.


Sampai saat ini Fernando belum bisa pulang ke kampungnya untuk meminta maaf kepada kedua orang tuanya. Fernando sangat malu karena sudah di sekolahkan tinggi-tinggi tapi justru menyia-nyiakan biaya yang di keluarkan oleh orang tuanya.


"Itu tergantung pada pekerjaan yang kamu lakukan!" kata Angel.


"Bagaimana dengan gajiku?" tanya Fernando.


"Belum apa-apa sudah tanya gaji. Nanti gaji menyesuaikan, setiap misi yang berhasil bayarannya satu juta!" ucap Angel.


'Wah mantap nih kalau dapat 3 misi aku udah dapat 3 juta. Itupun kerja gak perlu setiap hari,' batin Fernando yang sangat senang ketika Angel menyebutkan gajinya.


"Kalau tidak ada hal lain lagi silahkan pergi," usir Angel dengan raut wajah yang malas menatap kepada Fernando.


"Cih!"


Fernando pergi dari hadapan Angel setelah di usir, meskipun kesal tapi saat ini Angel adalah bosnya. Namun Fernando lupa, dia tidak memiliki uang sepeserpun dan juga tidak memiliki rumah. Lalu Fernando akan pergi kemana?.


Fernando mencari sebuah gang sepi, dia ingin mencari mangsanya di sana.


"Barangkali ada orang kaya yang lewat," ucap Fernando berharap.


Fernando tak memiliki makanan ataupun tempat tinggal, jadi Fernando memilih untuk merampok daripada dia harus kelaparan. Siksaan saat dia di penjara tidak dirasakannya lagi dan sudah tidak bisa memberikan efek jera kepadanya.


Sudah sangat lama Fernando menunggu, dia belum juga bertemu dengan satu orang pun.


"Sepi sih sepi, tapi jangan kayak gini juga!" gerutu Fernando yang tak dapat menemukan mangsanya.


Sesekali Fernando mengintip ke dalam rumah makan tersebut, melihat orang-orang makan dengan lahapnya. Fernando hanya bisa menelan ludah di luar, namun saat dia menatap seluruh ruangan Fernando melihat orang yang dia kenal.


"Bukankah itu Kak Hendra? dia makan sama siapa itu?" tanya Fernando pada dirinya sendiri.


"Ah bodoh amat ah, yang terpenting gue harus masuk ke sana dan minya tolong belikan makanan dulu!" ucap Fernando yang tak tahu malu karena perutnya sudah sangat lapar.


Fernando masuk ke dalam rumah makan yang mewah tersebut, dia melihat di sekelilingnya. Banyak orang yang memesan makanan namun tak habis, ingin sekali rasanya Fernando melahap sisa makanan tersebut tapi dalam hati dia juga merasa j!jik.


Tanpa basa-basi lagi Fernando menghampiri Hendra yang sedang makan bersama Alice.


"Kak, masih ingat aku gak?" tanya Fernando basa-basi kepada Hendra yang sedang melahap makanannya.


Alice menatap Fernando dengan perasaan khawatir, sedangkan Hendra yang merasa tak kenal dengan Fernando menatapnya dengan bingung.


"Dia siapa Hendra?" tanya Alice kepada Hendra.


"Gak tahu Ma. Maaf Mas, anda siapa ya? sepertinya saya tidak kenal dengan anda!" ucap Hendra dengan sopan.


'Kenapa Kak Hendra bilang gak kenal aku ya? jelas-jelas kita beberapa kali bertemu dengannya,' pikir Fernando.


"Kak jangan bercanda lah Kak! aku tahu Kakak masih marah sama aku karena masalalu aku dengan Safira. Tapi aku minta tolong sekali Kak, belikan aku sebungkus makanan saja. Aku baru saja keluar dari penjara dan tidak punya uang, dan sekarang perutku lapar!" ucap Fernando memohon kepada Hendra agar di belikan makanan.


"Maaf Mas, saya beneran tidak kenal dengan Mas dan juga siapa Safira?" tanya Hendra kembali.


"Safira adik Kak Hendra sendiri. Adik yang paling Kak Hendra sayang. Tolong lah Kak Hendra jangan pura-pura lupa sama aku. Perutku sangat lapar sekali," ucap Fernando membungkuk dan memohon dengan Hendra.


Hendra merasa risih karena di lihat oleh banyak orang. Dan juga Alice sangat khawatir jika pria ini memang mengenal Hendra di masalalunya. Alice tidak mau Hendra ingat kembali memori masalalunya.


"Mas, Mas! tolong dong ada orang yang menggangu kami makan kok malah diam saja sih!" ucap Alice memanggil staf di sana.


Beberapa pelayan datang menghampiri meja Alice.

__ADS_1


"Ada apa ya Bu?" tanya Pelayan tersebut.


"Ini ada orang yang tak kami kenal tapi ngaku-ngaku kenal, saya dan anak saya sangat terganggu sekali!" ucap Alice.


"Baik Bu, saya akan mengusirnya keluar!" kata Pelayan tersebut.


"Tolong jangan usir saya, saya hanya meminta makanan di sini," kata Fernando memohon.


"Minta, minta! kerja kalau mau makan!" bentak pelayan tersebut.


"Sudah Mas bungkuskan saja satu nanti masukin ke dalam bill saya. Tapi tolong setelah selesai usir dia!" ucap Alice.


Alice tak mau Fernando semakin merusuh di rumah makan tersebut. Terlebih lagi Fernando sudah menyebut adik Hendra yang bernama Safira. Alice takut jika Hendra kembali curiga terhadapnya.


"Baik Bu!" ucap pelayan tersebut.


Fernando di suruh menunggu di luar karena di anggap mengganggu kenyamanan para pelanggan.


'Siapa wanita itu? kenapa mengaku sebagai Ibunya Kak Hendra ya? perasaan Ibunya safira tidak seperti itu wajahnya. Dan juga Kak Hendra bilang dia tidak kenal dengan adiknya sendiri? sebenarnya apa yang terjadi ya?' pikir Fernando.


"Sepertinya aku harus menyelidikinya deh!" gumam Fernando.


"Nih Mas, lain kali kalau mau makan kerja, jangan ngemis-ngemis di sini!" ucap pelayan tersebut dengan sinis.


"Sombong banget sih lu, baru jadi pelayan aja!" ucap Fernando kesal.


"Lebih baik jadi pelayan daripada Mas ngemis-ngemis," kata pelayan itu lagi.


Fernando tak ingin melanjutkan perdebatan dengan pelayan tersebut. Dia memilih untuk mencari tempat untuk menyantap makanannya karena cacing dalam perutnya sudah berisik meminta makanan.


"Ah akhirnya dapat makan juga!" ucap Fernando yang duduk di emper-emper toko dekat sana.


"Tapi gimana gue cuci tangannya nih? mana minuman gak di kasih lagi," gerutu Fernando.


Fernando melihat di lahan parkir toko tersebut, barangkali ada air keran di sana. Nasib baik menghampiri Fernando, bukan hanya keran bahkan di sana juga di sediakan sabun cuci tangan.


Fernando numpang cuci tangan di sana, namun dia masih belum mendapatkan air minum.


"Ah, makan dulu lah. Haus lebih baik daripada lapar," ucap Fernando.


Fernando kembali ke tempat semula dan menyantap makanannya.


Dalam 5 menit, makanan bungkusnya sudah habis. Fernando sekarang sangat haus dan sedikit pedas di dalam mulutnya. Fernando bingung mencari air, dia pun kembali memikirkan niat jahat.


Fernando mencari toko kecil yang ramai pengunjung. Karena menurut Fernnado jika toko kecil pasti tidak memiliki CCTV atau alat keamanan lainnya. Jadi, dia bisa mencuri satu minuman saja di sana.


Fernando hanya berjalan beberapa langkah kaki dan sudah menemukan warung kecil. Dia masuk ke sana berpura-pura memilih minuman dengan pelanggan lainnya. Di saat pemilik warung dan pelanggan lainnya lengah, dia mengambil minuman dan pergi begitu saja.


"Ah akhirnya dapat minum juga, untung saja pemilik warung itu sudah tua jadi tidak ingat siapa yang sudah bayar dan belum bayar!" ucap Fernando setelah meneguk minuman yang sudah dia curi di warung kecil tersebut.


Fernando kembali memikirkan Hendra dan Alice setelah rasa hausnya hilang. Dia kembali ke restaurant tersebut dan saat dalam perjalanan tersebut dia tak sengaja menendang sebuah dompet.


"Eh apaan tuh?" ucap Fernando sambil meneliti dompet tersebut.


Saat sadar kalau itu dompet, Fernando diam-diam mengambil dompet tersebut dan membuka isinya. Beberapa lembar uang kertas berwarna biru terisi di dalamnya. Fernnado mengambilnya diam-diam dan membelakangi jalan raya, lalu menjatuhkan kembali dompet tersebut ke jalan setelah mengambil semua uangnya.


Dengan cepat Fernando menyelipkan uang tersebut ke saku celananya. Saat dia kembali berjalan, dia menemukan seorang pria tua yang sedang berjalan tergesa-gesa ke arahnya.


"Dik, Dik, lihat dompet saya gak yang jatuh?" tanya pria tua itu.


"Maaf Pak, saya gak nemu. Permisi ya," ucap Fernando.


Pria tua itu kembali menelusuri jalan yang telah di lalui Fernando. Saat beberapa langkah pria tua itu tampak senang karena menemukan dompetnya.


'Percuma juga ketemu dompetnya, isinya udah gue ambil,' kata Fernando tertawa dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2