
"Hahaha! rencana kita akhirnya berhasil!" ucap Tasya setelah menerima uang yang di berikan oleh Fernando.
"Ini belum bisa di namakan berhasil, pria tua itu masih belum mengirimkan foto mesumnya dengan Naila!" kata Fernando yang belum puas dengan hasilnya.
Bagi Fernando yang paling penting dalam aksi mereka hari ini adalah foto tersebut. Dengan foto itu dia mampu mengancam Naila sesuka hatinya. Selain itu juga membuat Angkasa menjauhinya sesuai tujuan Tasya.
Tasya asik mengibaskan uang yang ada di tangannya. Dia sungguh puas dengan hasilnya karena mendapatkan uang bahkan seratus kali lipat dari Vania. Kalaupun rencananya gagal dia hanya perlu mengembalikan uang 2 juta yang dia anggap receh itu.
"Kamu sepertinya senang, rencana kita belum tentu berhasil loh!" ucap Fernando dengan baik hati mengingatkan kepada Tasya yang terlena dengan uang.
"Nikmati dulu yang ada, bentar lagi pasti di kirim kok sama Pak Tua itu!" ucap Tasya.
Beberapa jam kemudian Tasya menerima telepon dari Jean yang dia sebut sebagai Pak Tua.
"Pak Tua telepon, apa mungkin dia puas?" tanya Tasya pada Fernando.
Fernando menyuruh Tasya tidak basa-basi lagi dan langsung mengangkatnya.
"Lama sekali angkatnya!" bentak Jean di telepon.
Tasya sangat terkejut mendengar bentakan tersebut, dia memutuskan untuk menggunakan pengeras suara agar Fernando dapat mendengar.
"A-ada apa Tuan Jean? apa kamu tidak puas dengan wanita itu?" tanya Tasya dengan gugup.
"Tentu tidak! kamu pikir saya ingin mati apa? kamu kenapa tidak cari tahu terlebih dahulu latar belakangnya sebelum memberikan kepada saya?"
"Pokoknya saya tidak mau tahu, saya mau uang saya kembali tidak kurang sepeserpun!" ucap Jean menagih kembali uang yang telah dia berikan kepada Fernando waktu di hotel.
"Memangnya ada masalah apa Tuan?" tanya Tasya yang membuat amarah Jean semakin meningkat.
"Kamu mau tahu masalahnya apa? saya telah kehilangan kerjasama kontrak dengan dua perusahaan besar. Wanita yang kamu bawa itu memiliki latar belakang yang mengerikan, kenapa kamu tidak memberitahu kepada saya?"
"Bahkan Tuan Yuda sendiri yang menyelamatkannya ke hotel. Dan ayahnya adalah pengusaha sukses nomor 2 di negara ini, saya kehilangan kerjasama karena kalian!" ucap Jean dengan marah.
__ADS_1
Mendengar nama-nama tersebut, Tasya dan Fernando sangat terkejut. Mereka sebelumnya tidak tahu kalau Tuan Yuda yang paling kaya di negara itu berteman baik dengan Naila.
Sedetik mereka saling pandang, kemudian Fernando mengambil alih handphone Tasya.
"Uang tidak bisa kami kembalikan Tuan, karena itu kesalahan Anda sendiri memilih tempat yang salah. Jadi kami tidak mau mengembalikan uang sepeserpun karena sudah ada kesepakatan!" ucap Fernando lalu mematikan teleponnya dengan berani.
"Fernando! apa yang kamu lakukan? kamu berani menutup telepon Tuan Jean?" tanya Tasya terkejut.
"Kamu lebih baik ganti nomor sekarang daripada Pak Tua itu terus menghubungimu nanti!" ucap Fernando.
"Tapi, Tapi...,"
"Kamu mau uang kan? ya udah lakukan apa yang aku suruh!" ucap Fernando.
Tasya pun menuruti perkataan Fernando demi uang yang ada di depan mata
Keesokan harinya, Vania sibuk berjalan kaki di area kampus seperti sedang mencari seseorang. Yah, dia mencari Naila ingin melihat apakah rencana Tasya berhasil atau tidak.
'Tasya tidak dapat di hubungi dari kemarin. Aku tidak sabar apakah Naila bisa masuk kampus sekarang atau tidak?. Tasya bilang rencananya ini akan membuat Naila menyesali hidupnya sampai tidak berani keluar rumah!' batin Vania.
"Hey, Wanita!" teriak Vania kepada Erni.
Vania tidak tahu nama Erni namun dia tahu kalau Erni sangat dekat dengan Naila akhir-akhir ini.
Mendengar teriakan Vania, Erni tidak menoleh sedikit pun. Dia terus berjalan, walaupun Vania berteriak beberapa kali memanggilnya dengan sebutan wanita.
'Apa dia tidak tahu namaku? atau hanya aku yang terlalu percaya diri?' batin Erni yang terus berjalan.
Tiba-tiba Vania menghalanginya dan berdiri di depan Erni. Erni sangat terkejut, dia penasaran apa yang akan di lakukan oleh Vania kali ini terhadapnya.
"Lo budek ya? di panggil-panggil beberapa kali tidak noleh. Lo udah berani sama gue?" bentak Vania dengan ekspresi kesalnya.
"Tapi saya tidak mendengar ada orang memanggil nama saya, untuk apa saya menoleh?" sahut Erni dengan cuek.
__ADS_1
Vania semakin kesal menghadapi Erni, dia langsung to the point menanyakan keberadaan Naila.
"Ada perlu apa cari Naila? kalau ada sesuatu hal yang ingin di sampaikan biar saya sendiri yang sampaikan!" kata Erni yang tak mau menyebutkan keberadaan temannya.
Tentu saja hal ini membuat Vania semakin kesal terhadap Erni. Dirinya tahu tidak mampu beradu mulut lebih lama dengan Erni jadi menggunakan cara satu-satunya.
"Lo berani sama gue? Gue bunga kampus di sini, gue wanita tercantik banyak orang yang masih memuja gue. Lo mau di labrak sama fans gue?" ungkap Vania dengan nada sombong diimbuhi dengan mata yang melotot.
Erni tertawa mendengar ucapan Vania, 'dia sampai sekarang bahkan belum sadar kalau sebagian orang telah membencinya,' batin Erni.
"Udahlah, buang-buang waktu sekali aku bicara dengan orang yang belum sembuh sudah nekat keluar rumah sakit!" sindir Erni lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Vania.
"Ihhhhh!! ini semua gara-gara Tasya yang tidak dapat di hubungi!" ucap Vania kesal.
"Awas saja ya Tasya kalau rencananya sampai gagal, gue akan kasih lo pelajaran!" gumam Vania.
...***...
Di sisi lain, Tasya sengaja absen hari ini tidak masuk kampus. Dia ingin menghindari Vania, meskipun dia memiliki uang untuk mengembalikan uangnya tetapi Tasya tahu betul karakter Vania seperti apa.
'Salah gue sendiri kenapa begitu percaya diri berbicara seperti itu. Sekarang Vania pasti sedang cari-cari gue di kampus!' batin Tasya.
Kepalanya sangat pusing memikirkan dua masalah sekaligus, Tasya akhirnya memutuskan untuk pergi ke mall.
"Mari kita memanjakan diri dulu dengan uang hasil kerja keras!" ucap Tasya.
Tasya langsung berangkat menuju mall yang sering dia kunjungi. Kali ini dia ingin memborong banyak pakaian di sana dan barang lainnya.
Sesampainya di sana, Tasya di sambut ramah oleh para petugas. Tasya dengan cuek langsung menuju pajangan barang yang menampilkan pakaian branded.
Dengan asik Tasya memilih barang-barang yang ada di depannya. Matanya berbinar-binar melihat pakaian mewah itu.
"Bahkan seumur hidup gue belum pernah sebahagia ini bisa menghamburkan uang seperti orang kaya," ucap Tasya sangat senang.
__ADS_1
Tanpa di sadarinya seseorang sedang mengintainya dari belakang. Namun Tasya masih asik melihat-lihat Tas, sepatu dan barang lainnya yang sebenarnya sudah banyak dia punya di rumah.