
Keesokan harinya...
Terlihat Ruby bersama dengan Tuan Michael yang sedang menonton video di handphone mereka masing-masing. Berita tentang seorang wanita yang mengaku sebagai istri Tuan Michael sudah tersebar di internet. Beberapa pengunjung menguploadnya di media sosial mereka masing-masing sehingga wajah wanita tersebut menjadi viral.
Ruby yang tak sengaja melihat berita tersebut merasa terkejut. Dia tidak menyangka kekuasaan suaminya di negara Y sangat berpengaruh.
"Ada apa Sayang? kenapa wajahmu tegang seperti itu?" tanya Michael yang menyadari istrinya terdiam.
"Tidak apa-apa, cuma melihat berita di internet saja!" sahut Ruby dengan gugup.
"Berita apa sampai membuat wajahmu begitu tegang?" tanya Michael penasaran.
Sesekali Michael mengintip isi ponsel istrinya, namun Ruby dengan cepat menutup layarnya agar Michael tidak dapat melihatnya.
"Berita apa sih? kok sampai diumpetin seperti itu?" tanya Michael yang semakin penasaran.
"Tidak ada Tuan, beritanya kurang penting!" ujar Ruby.
'Jika Michael tahu tentang ini apa mungkin dia akan menangkap gadis itu?' tanya Ruby dalam hati.
"Ya sudah, aku tidak akan bertanya lagi!" kata Michael memilih untuk mengalah.
"Oh ya Sayang, dua hari lagi kamu sudah mulai masuk kampus! apa yang kamu perlukan?" tanya Michael mengubah topik pembicaraan.
"Untuk saat ini masih belum ada sih Tuan, mungkin kalau sudah ada saya langsung bilang kepada Tuan," kata Ruby.
"Baiklah! Aku akan pergi ke perusahaan dulu, kamu jaga diri baik-baik di rumah ya. Kalau lapar langsung makan jangan di tahan-tahan!" kata Michael menitip pesan.
Michael mengecup kening Ruby dengan lembut, lalu turun hingga ke bibir yang membuat Ruby terkejut.
"Sebelum berpisah kita harus seperti ini ya," kata Michael mengecup kening Ruby sekali lagi lalu pergi meninggalkan Ruby.
Ruby hanya tersenyum heran melihat tingkah suaminya, meskipun sudah tua namun dia berperilaku layaknya remaja yang baru mengenal cinta.
Sesampainya Michael di perusahaan, dia di sambut oleh asistennya.
"Tuan, Rizal ingin bertemu dengan Anda!" ucap asistennya yang bertugas mengurus segala keperluannya.
"Suruh dia ke ruangan saya!" perintah Michael.
Beberapa menit kemudian, Rizal datang ke ruangan Michael.
"Ada laporan apa?" tanya Michael tanpa basa-basi.
"Tuan, mengingat dua hari lagi Nyonya kembali ke kampus saya ingin menyarankan untuk merekrut seorang wanita untuk di jadikan sahabat Nyonya," Rizal memberikan usul yang sudah dia pikirkan sejak lama.
"Untuk apa? bukankah sudah ada kamu yang mengawasi Nyonya?" tanya Michael.
"Untuk keselamatan Nyonya sendiri Tuan. Teman-teman Nyonya meskipun sudah tahu Nyonya istri Tuan, tetapi sebagian dari mereka menyerang Nyonya secara diam-diam. Seperti kejadian waktu ini, Nyonya di kunci di toilet oleh seorang wanita," kata Rizal mengutarakan pendapatnya.
"Benar juga yang kamu katakan! Kamu tidak bisa menemani Nyonya kapanpun yang kamu mau," kata Michael menerima usul dari Rizal.
Michael memutuskan untuk mencari seorang wanita yang setia terhadapnya juga terhadap Ruby. Dia mencarinya diam-diam tanpa sepengetahuan Ruby agar semua berjalan dengan normal.
...***...
Di lain tempat Naila dan teman-temannya sudah kembali ke Negara E. Mereka berangkat pagi-pagi dari Negara Y ke negara E.
__ADS_1
"Bagaimana liburannya sayang? apa menyenangkan?" tanya Peter ketika melihat anaknya telah kembali.
"Sangat seru Ayah, dan tebak apa yang membuat Naila senang?"
Peter berpikir sejenak, sebelumnya Naila belum pernah ke luar negeri dan juga Naila jarang mengungkapkan keinginannya. Peter merasa kesulitan menebaknya namun juga menjawabnya secara acak.
"Karena Ayah mengizinkan kamu pergi ke luar negeri kan?" tebak Peter.
"Ya itu juga termasuk, tapi ada yang lain Ayah," ucap Naila.
"Apa?"
Peter menyerah, dia tidak tahu jawabannya dan memang ingin segera tahu penyebab putrinya datang dari luar negeri dengan sangat bahagia.
"Aku sudah punya pacar!" kata Naila dengan raut wajah memerah.
"Kenapa kamu tidak ajak dia ke sini?" tanya Peter.
"Baru juga sehari Ayah, kan masih malu dia datang ke rumah!" kata Naila.
"Ya sudahlah! kapan-kapan ajak dia bertemu dengan Ayah ya! Ayah mau berangkat ke kantor dulu," kata Peter.
"Ya udah Ayah hati-hati ya!" ucap Naila kepada Ayahnya.
Setelah memberikan pelukan yang hangat Peter langsung berangkat ke perusahaannya. Dia masih penasaran siapa lelaki yang bisa membuat putrinya jatuh cinta. Peter tidak ingin putri kesayangannya mendapat lelaki seperti Fernando lagi.
"Ardi, menurut kamu saya harus mengecek kekasih Naila atau tidak? Dia baru saja memiliki pasangan, tetapi saya khawatir dia mendapat pria yang sama seperti sebelumnya!" tanya Peter meminta pendapat asistennya yang sedang menyetir mobil.
"Menurut saya sendiri, lebih baik biarkan saja Tuan. Percaya saja sama Nona Naila, lagipula Nona sudah dewasa dia pasti tahu mana yang benar dan mana yang salah. Justru kalau Tuan terlalu protektif dengan Nona takutnya bikin Nona risih dan tidak mendapat ruang privasi," sahut Ardi dengan panjang lebar.
Setelah mendengar perkataan Ardi yang panjang lebar, Peter sedikit memahami. Dia membenarkan perkataan Ardi, karena meskipun itu semua di lakukan untuk putrinya tapi belum tentu Naila akan menerimanya.
"Erni, tolong datang ke ruangan saya sebentar ya!" ucap Peter dengan lembut.
"Baik Pak!" sahut Erni.
Erni langsung bangkit dari tempat duduknya dan mengikuti langkah kaki Peter.
"Erni, kenapa kamu datang bekerja hari ini? bukankah kamu baru saja pergi berlibur bersama Naila?" tanya Peter menegur Erni.
"Iya Pak, saya tidak enak hati cuti terlalu lama. Lagipula jika Bapak memperlakukan saya seperti ini takutnya karyawan yang lainnya akan curiga," kata Erni dengan kepala yang menunduk.
Peter merasa kagum dengan wanita yang ada di depannya itu. Selain bekerja dengan cepat dia juga sangat rajin, bahkan tidak ingin di perlakukan secara istimewa. Karyawati yang seperti Erni sangat sulit untuk di cari si zaman sekarang.
"Baiklah! kamu lanjut bekerja saja ya!" kata Peter kemudian.
Erni pun undur diri kepada Peter dan kembali ke meja kerjanya. Saat dia sampai di meja kerja, beberapa tatapan sinis dari rekan kerjanya tertuju padanya.
Namun Erni merasa cuek saja, dia memilih untuk mengerjakan pekerjaannya daripada berfikir yang bukan-bukan.
'**Katanya dia sahabat Bos kita loh. Pantas saja dia dapat datang dan cuti seenaknya,'
'Yah, aku pikir juga seperti itu. Barusan dia di panggil sama Bos pasti ada urusan lain, apa mungkin dia sudah tidur dengan Bos**?'
Rekan kerjanya tengah berbisik-bisik menggosipkan dirinya dengan Peter. Bahkan dia di fitnah telah tidur dengan Peter sehingga dengan mudahnya masuk ke perusahaan besar yang seperti ini dan mendapat jabatan yang bagus.
Erni berusaha untuk tidak meladeni perkataan mereka, dia melanjutkan pekerjaannya. Hari ini Erni akan mempresentasikan sebuah proposal di depan kliennya. Jadi Erni harus fokus dan membuang pikiran-pikiran negatifnya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Klien sudah datang. Erni, Peter dan rekan kerja yang bersangkutan datang ke ruang meeting untuk melihat proposal yang di siapkan oleh Erni.
'Katanya klien ini paling susah di hadapi. Dia tidak akan menerima perusahaan kita kalau presentasinya tidak jelas', bisik rekan kerja yang sedang memperhatikan Erni presentasi.
"Itulah hasil dari proposal kami, sekian dan terimakasih!" kata penutup dari Erni untuk presentasinya.
"Cukup menarik, saya menerima untuk bekerjasama dengan perusahaan Bapak!" kata Klien tersebut kepada Peter.
Semua orang di ruangan bertepuk tangan untuk itu.
"Mohon tunggu sebentar Pak, saya telah menyiapkan makan siang!" kata Erni kepada kliennya dengan sopan.
Meskipun bingung Kliennya tetap menunggu Erni yang sedang keluar mengambil sesuatu.
"Saya telah memesan makanan untuk Bapak, mungkin belum sempat makan siang karena memiliki banyak pekerjaan. Mohon di nikmati ya Pak," ujar Erni.
"Wah, karyawan Bapak Peter sangat aktif ya! tidak heran perusahaan Bapak menjadi nomor 2 di negara E," puji klien Peter.
"Terimakasih Pak," kata Peter yang telah menerima pujian berkat Erni.
'Tidak sia-sia Erni bekerja di sini, prestasinya cukup tinggi. Bukan hanya itu, dia bahkan peduli dengan kondisi Klien yang bahkan saya sendiri tidak pernah peduli dengan hal itu,' batin Peter.
Usai membahas Kerja sama dan Klien sudah pergi masing-masing karyawan duduk di meja kerjanya. Beberapa menit kemudian, Peter datang untuk membawa sebuah pengumuman penting.
"Hari ini, saya ingin mengumumkan bahwa Erni akan saya naikkan jabatannya menjadi Manager di perusahaan ini," ujar Peter.
Erni terkejut mendengar pengumuman yang tak terduga itu. Dia merasa tidak pantas untuk mengambil jabatan tersebut. Erni mengangkat tangannya, mohon izin untuk berbicara.
"Pak izin bicara, sepertinya saya kurang pantas menjabat sebagai manager. Terlebih lagi saya paling junior di perusahaan ini," kata Erni menolak dengan sopan.
"Tidak masalah kamu masih junior di sini, yang penting ilmu dan keterampilan yang kamu punya sangat bagus. Dalam tiga bulan ini saya melihat skill dan hasil kerja kamu, dan sangat bagus. Bahkan melampaui yang lainnya, jadi kamu pantas untuk menerima jabatan ini," kata Peter.
Beberapa temannya menyuruh Erni untuk menerima jabatan tersebut. Namun beberapa lagi tampak tak senang dengan Erni mendapat jabatan yang lebih tinggi.
"Baiklah Pak! jika Bapak mempercayai saya, saya akan melakukan yang terbaik untuk Bapak!" ucap Erni.
"Oke itu saja pengumuman hari ini, silahkan lanjut bekerja dan jangan lupa untuk makan siang!" kata Peter lalu kembali ke ruangannya.
Setelah Peter pergi, rekan kerjanya Erni kembali membicarakannya. Mereka adalah rekan kerja yang iri dengan jabatan Erni. Sedangkan yang lainnya memberikan selamat kepada Erni karena telah menjabat sebagai manager.
'Bukankah dia masih kuliah? kenapa bisa tiba-tiba menjabat sebagai manager?' gosip yang lainnya.
'Tidak dapat di pungkiri kalau sudah dapat tidur dengan Bos. Kalau tidak, mana mungkin dia menjabat dengan mudah seperti itu,' sahut yang lainnya.
"Kalian terlalu iri dengan Erni, Pak Peter menaikkan jabatan Erni itu wajar. Karena Erni memiliki skill dan bekerja dengan cepat. Selain itu juga Erni cukup rajin dalam bekerja dan tidak pernah terlambat. Kalian beraninya bicara di belakang, kalau mampu saingi saja keterampilan Erni, jangan sibuk bergosip tidak jelas!" ujar seorang pria yang datang membela Erni.
"Sudah Fajar, jangan hiraukan dia. Mana bisa di bandingkan aku sama mereka," kata Erni menarik tangan Fajar yang duduk di sampingnya.
"Tidak bisa begitu Er, kalau di biarkan lama-lama mereka akan menyebar fitnah tentang kamu!" kata Fajar tak terima.
"Enak saja Fitnah! siapa yang tahu sih di belakang kita dia ngapain saja sama Bos," ujar salah satu penggosip tersebut.
"Iya tuh! apalagi dia sahabatnya anak Bos, pasti dia merayu anaknya Bos agar dia memberi jabatan!" serang yang lainnya.
"Kalau pemikiran kalian seperti itu, kenapa kalian tidak mencobanya? tidak mampu ya?. Kalau menggunakan cara kotor saja tidak bisa, apalagi dengan cara bersih!" sahut Erni.
"Lagipula orang yang kerjanya menebar fitnah dan sering menunda pekerjaan tidak pantas iri dengan rekan kerja yang naik jabatan karena usahanya sendiri!" kata Erni yang dapat di pastikan menampar wajah mereka sendiri.
__ADS_1
Erni tak lagi mengurusi rekan kerjanya yabg iri dengan dia. Dan mereka pun tidak berani lagi bergosip, mereka memilih untuk memendam rasa kesalnya terhadap Erni.
Erni yang mendengar bisikan-bisikan