Reinkarnasi Cinta

Reinkarnasi Cinta
Episode 43


__ADS_3

Pulang dari kampus, Angkasa langsung menuju ke kantornya untuk mengadakan meeting. Saat ini dia menjadi sebagai Yuda yang terkenal akan kejeniusan beserta kekayaannya.


Kelvin yang selalu menjadi asisten setianya melakukan tugasnya dengan baik. Dia menghandle banyak pekerjaan dan juga mengatur jadwal Angkasa.


Sampai di kantor Angkasa langsung datang ke ruang meeting. Dia membahas beberapa masalah yang ada di kantornya bersama bawahannya termasuk Kelvin.


"Oke, meeting kali ini sudah cukup sampai di sini ya. Kalau ada usul atau saran silahkan datang ke ruangan saya!" ujar Angkasa lalu pergi meninggalkan ruangan di ikuti oleh Kelvin.


Angkasa kembali ke ruangan bersama dengan Kelvin.


"Tuan, kapan Tuan akan memberitahu Naila identitas Tuan yang sebenarnya?" tanya Kelvin dengan rasa penasaran.


Pertanyaan itu sudah lama dia pendam, dia berharap sahabatnya itu segera mengungkap identitasnya sehingga dia bisa bertemu dengan Erni kembali.


"Kita lihat waktu yang tepat! aku tidak mau terburu-buru. Lagipula beberapa hari ini aku sudah memberikan banyak kejutan yang tak terduga. Dan juga di sosial media sedang rame tentang hubungan aku sama Naila, lebih baik tunggu beberapa hari lagi!" sahut Angkasa yang berakhir kecewa bagi Kelvin.


"Kenapa? apa ada hal yang ingin kamu sampaikan lagi?" tanya Angkasa.


Angkasa dapat membaca raut wajah Kelvin yang sedang kecewa. Dia ingin tahu sahabat yang dia ajak bertahun-tahun itu ada masalah apa.


"Tidak ada Tuan, saya hanya bertanya saja!" ujar Kelvin berbohong.


Tentu saja Angkasa tahu dan sudah hafal dengan gerak-gerik Kelvin. Angkasa hanya tersenyum tipis melihat Kelvin yang gugup karena berbohong.


"Apa kamu tidak sabar bertemu dengan Erni?" tanya Angkasa memancing agar Kelvin bercerita dengannya.


"Ti...tidak kok Tuan," sahut Kelvin yang semakin gugup di iringi dengan wajah yang merah.


"Gak usah bohong. Kalau kamu gak jujur aku gak akan kasih kamu kesempatan untuk bertemu dengan Erni loh," ancam Angkasa.


Ini pertama kalinya sejak Kelvin bekerja dengannya, dia merasa di balik wajah Kelvin yang begitu serius ternyata ada rasa malu dan gugup juga saat berhadapan dengan seorang wanita. Dia tidak pernah mengira hal ini dapat terjadi dalam diri Kelvin. Angkasa selalu berfikir kalau Kelvin mungkin tidak akan pernah tertarik dengan wanita. Tetapi setelah beberapa kali dia melihat Kelvin yang tampak mendekati Erni, Angkasa jadi sadar akan sesuatu hal. Kelvin menyukai Erni!.


"Iya, saya jujur Tuan! saya memang benar menyukai Erni, tapi saya juga tidak tahu bagaimana saya mengungkapkannya dan membuatnya jatuh cinta pada saya," ujar Kelvin yang tampak buntu dengan jalan pikirnya sendiri.


"Kenapa kamu tidak ajak saja dia bertemu denganmu? jalan-jalan atau makan-makan, beres kan?" kata Angkasa memberikan solusi yang termudah.


"Tapi saya ragu, takut dia menolak tawaran saya!" ujar Kelvin.


"Harus berani coba. Kalau dia tidak mau artinya dia sedang mengetes kamu, seberapa niatnya kamu, jangan langsung menyerah!"


Akhirnya dengan berbagai pertimbangan Kelvin mencoba mengikuti cara yang di berikan oleh Angkasa.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan pekerjaan saya di sini?" tanya Kelvin, dia menemukan masalah selanjutnya.


"Kamu bisa mengajaknya bertemu saat hari minggu atau tanggal merah. Saat itu aku tidak pergi ke kampus begitupula dengan Erni. Meskipun dia kerja part time di perusahaan ayahnya Naila, dia juga diberi libur pada hari minggu dan tanggal merah," sahut Angkasa.


Kelvin merasa setelah bercerita dengan Angkasa semua masalah termasuk kekhawatirannya lenyap seketika. Dia mendapatkan banyak solusi dari masalah yang dia pendam sejak lama dalam benaknya sendiri.


"Terimakasih Tuan atas saran yang di berikan!" ujar Kelvin dengan menggunakan kalimat yang masih formal.


"Sama-sama. Kamu harus bisa menaklukan hati wanita," kata Angkasa memberikan kata-kata semangat.


"Baik Tuan. Kata Tuan, Erni bekerja di perusahaan ayahnya Naila ya? kalau saya pindah ke sana gimana Tuan?"


"Enak saja! mana bisa gitu, kamu harus tetap di sini menghandle pekerjaan saya!" kata Angkasa dengan tegas.


"Bercanda Tuan, baper amat sih!" ujar Kelvin dengan nada bercanda.


Di sisi lain, Erni yang telah menjabat sebagai manager selalu sibuk dengan pekerjaannya. Dia bahkan sangat jarang mengambil waktu istirahat.


Seorang rekan kerjanya memberikan makanan untuk makan siangnya. Namun Erni sering menolaknya karena merasa tidak enak hati.


Ting..Ting...


Suara notifikasi dari handphone Erni, dia lalu membuka pesan yang masuk.


Akhir-akhir ini Erni sering menerima pesan yang sama dari orang sama. Pria yang bernama Rio selalu memberi Erni semangat. Terkadang membawakan Erni sebotol minuman sebagai penyemangat Erni.


Namun tetap saja Erni hanya menerimanya beberapa kali saja. Setelah itu dia tidak lagi berani menerima barang-barang pemberian Rio. Dia tidak mau Rio salah paham terhadapnya.


*Iya*


Erni membalas pesan Rio dengan singkat, padat dan sudah pasti sangat jelas. Dia tidak ingin berbasa-basi lagi dengan Rio. Setelah membalas pesan Rio, Erni kembali bekerja.


Setumpuk dokumen tersusun rapi di atas meja kerjanya. Erni masih memiliki sisa waktu 2 hari untuk menyelesaikan semua pekerjannya. Lusa dia sudah harus menyerahkan hasil kerjanya kepada Peter.


Beberapa menit kemudian, Erni terlihat kelelahan. Dia mengambil air putih yang di tuang di dalam gelas dan meminumnya agar tidak dehidrasi.


TOK!TOK!TOK!


Suara pintu di ketuk dari luar, Erni menyuruhnya langsung masuk karena dia mengira itu adalah karyawan yang ingin memberikan beberapa laporan kepadanya.


"Halo bestie!" sapa wanita tersebut dengan beberapa makanan yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Naila, kenapa kamu bisa datang ke sini?" tanya Erni yang terkejut dengan kedatangan sahabatnya.


"Tentu saja untuk mengajak sahabatku makan bersama!" ujar Naila dengan tersenyum lebar.


"Tapi aku masih ada banyak pekerjaan yang belum selesai!"


"Sudah makan saja dulu! mentang-mentang sudah jadi manager, sampai makan pun di lupakan!" kata Naila menggoda Erni.


Jadi mau tak mau Erni hanya bisa ikut makan bersama dengan Naila.


Beberapa gosip kembali muncul di luar ruangan saat mereka melihat Naila dan Erni makan bersama dan sangat akrab. Mereka masih meragukan kenaikan jabatan Erni yang di angkat beberapa hari yang lalu.


Banyak rekan kerja Erni yang mengira Erni hanya memanfaatkan Naila agar bisa naik jabatan di perusahaan.


"**Dia memiliki hubungan baik dengan anak Bos, siapa juga yang tidak bisa naik jabatan!"


"Pura-pura polos ternyata dukungannya anak bos toh!"


"Tidak heran sih baru kerja sudah bisa naik jabatan, ternyata dia bersahabat dengan anak bos! cukup buat hatinya putri Tuan Peter maka naik jabatan sudah ada di depan mata**!"


Beberapa gosip mulai beredar, mereka memiliki perasaan yang iri sehingga pikiran-pikiran negatif itu terus bermunculan di kepala mereka. Mereka tidak sadar, di balik kenikmatan yang di miliki seseorang ada perjuangan yang tiada habisnya dia lakukan.


Mereka hanya memandang sebelah mata dan berdasarkan pendapatnya sendiri bukan berdasarkan fakta. Ketidakmampuan membuat banyak orang merasa iri dengan mereka yang sudah sukses.


"Nai, sepertinya aku akan mendapat gosip baru setelah kamu keluar dari perusahaan!" ujar Erni yang sudah dapat menebak isi kepala rekan kerjanya.


"Kenapa begitu?" tanya Naila yang tidak tahu apa-apa tentang persaingan di perusahaan.


"Ya kamu tahu sendirilah. Kamu anak Bos, dan aku baru saja naik jabatan. Jadi apalagi yang ada di pikiran mereka?" kata Erni.


"Benar juga! aku yang terlalu gegabah dan tidak memikirkan perasaan kamu. Tapi kalau seandainya nanti ada yang berani ngatain kamu bilang saja, nanti biar Ayahku yang pecat mereka!" kata Naila penuh energik.


"Bukan gitu cara menyelesaikan masalahnya Nai. Jika seperti itu, mereka semakin mempercayai gosip-gosip itu," sahut Erni.


"Terus gimana? masa iya aku diam saja kamu di fitnah sama mereka,"


"Biar aku saja yang handle!" kata Erni tegas.


Setelah lama berbincang-bincang, Naila izin pulang. Dia tidak mau mengganggu temannya terlalu lama.


"Makasih ya Nai traktirannya. Kapan-kapan aku traktir kamu ya," ucap Erni sebelum Naila pergi.

__ADS_1


Naila keluar dari ruangan Erni, dia melihat beberapa karyawan sedang memperhatikannya.


'Benar yang di katakan Erni, sepertinya aku tidak bisa sering-sering datang ke sini untuk menemani Erni. Lebih baik kami bertemu di kampus saja daripada menambah masalah untuk Erni,' batin Naila.


__ADS_2