
Sejak hari itu, Tasya tinggal di apartemen pria itu yang bernama Ranza. Tasya masih bisa datang ke kampus namun dengan pengawasan yang ketat. Dia di antar oleh sopir Ranza dengan mobil yang mewah.
Begitulah setiap harinya, saat pulang nanti ada orang yang menjemputnya dengan mobil yang mewah pula. Tasya sangat menikmati kehidupan mewahnya, dia juga sudah mengembalikan hutang kepada Jean si pria tua yang sangat di bencinya.
Saat sampai di kampus, Tasya melihat wajah Vania yang semakin buruk. Dia telah memendam kebencian terhadapnya dan juga Naila.
'Jika aku pamer di depannya, mungkin aku bisa menambah bumbu sedap dalam diri Vania,' batin Tasya.
Tasya menghampiri Vania dengan senyuman palsunya.
"Hai Vania sahabatku!" sapa Tasya kepada Vania yang sedang berjalan pelan di koridor kampus.
"Kamu masih berani datang bertemu denganku setelah apa yang kamu lakukan?" ujar Vania kesal.
"Kenapa? ternyata kamu masih marah ya sama aku?" tanya Tasya.
"Kalau iya emang kenapa?" kata Vania dengan raut wajah yang semakin kesal.
Tasya melihat sekelilingnya, terlihat banyak mahasiswa yang sedang memperhatikan dirinya.
'Kali ini kena kamu Vania,' batinnya.
"Aku minta maaf kalau aku gagal membuat Naila dan Angkasa putus. Tapi bukannya aku sudah kembalikan semua uangnya? meskipun uang itu aku gunakan sebagai perobatan ibunya!" kata Tasya mengeluarkan ekspresi yang menyedihkan.
Tasya ingin mahasiswa yang ada di sana mendapat kesan buruk dari mantan bunga kampus.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Vania yang belum menyadari telah menjadi pusat perhatian di kampus.
"Kamu jangan mengelak lagi! jelas-jelas kamu menyuruhku untuk membuat hubungan Naila dan Angkasa retak. Sehingga Angkasa kembali ke pelukanmu. Tapi aku benar-benar tidak sanggup, mereka sepasang kekasih yang sangat romantis!" ujar Tasya lagi.
Kali ini Tasya mengeluarkan air mata untuk mendapat rasa iba dari mahasiswa yang menontonnya.
"Diam kamu!" ujar Vania yang hendak menampar Tasya.
Namun ternyata tangan Vania di halang oleh seorang mahasiswa yang sedari tadi memperhatikannya. Beberapa mahasiswi juga menghampiri Tasya dengan niat melindungi.
Saat itu Tasya hanya bisa tersenyum dalam hati melihat mantan sahabatnya terkena masalah.
__ADS_1
"Kamu wanita yang tidak memiliki hati nurani ya! Kami saja sebagai fans Angkasa tidak pernah melakukan cara licik untuk menghancurkan kebahagiannya. Tapi kamu, kamu benar-benar wanita yang sangat rendahan!" kata seorang wanita yang ada di lokasi tersebut.
"Diam kamu! kamu tidak tahu apa-apa," kata Vania sangat kesal. Dia menepis tangan pria yang tadi memegangnya.
"Kami sudah tahu semuanya. Kalau wanita ini tidak membongkarnya mungkin kami tidak tahu wanita yang kami anggap baik dan cantik memiliki sifat yang seperti ini. Kami sungguh menyesal telah mengidolakan kamu di kampus!" teriak yang lainnya.
'Hahaha! serang terus sampai mampus! saat ini aku tidak berani mengusik Naila ataupun Angkasa karena mereka sama-sama populer. Tetapi aku bisa memanfaatkan mereka untuk menjatuhkan Vania. Siapa suruh kamu begitu sombong,' batin Tasya sangat senang karena balas dendam sudah dia laksanakan.
"Kalian telah di hasut oleh wanita ini!" ujar Vania yang bersikeras membela dirinya.
Naila dan Angkasa yang dari tadi berada di belakang menyaksikan perdebatan mereka. Naila merasa gelisah karena namanya di bawa-bawa dalam permasalahan mereka.
'Berdasarkan sifat Vania, setelah pertengkaran selesai rasa benci dia terhadapku pasti akan bertambah,' batin Naila penuh dengan kekhawatiran.
Namun saat dia memperhatikan wajah Tasya, dia seperti teringat akan sesuatu.
"Bukankah itu wanita yang datang secara tiba-tiba kepadaku? kalau tidak salah namanya Tasya!" ucap Naila kepada Angkasa.
"Kamu ingat? dulu mereka sepasang sahabat, tetapi karena rencananya gagal Tasya mendapat perkataan yang kasar. Dan untuk membalas sakit hatinya terhadap Vania, dia memanfaatkan kepopuleran kita," jelas Angkasa yang sedikit mengerti alur cerita mereka.
"Benar-benar pikiran yang licik!" gumam Naila.
"Kita ke sana yuk!" ajak Angkasa.
"Mau ngapain?" tanya Naila terkejut.
"Akan ada pertunjukan bagus selanjutnya!" kata Angkasa menarik tangan Naila yang masih diam di tempat.
Beberapa orang memberinya jalan untuk sampai di hadapan Tasya dan juga Vania. Angkasa masih menggenggam pergelangan Naila di belakangnya dan datang kepada Tasya dan Vania.
'Gawat, pasangan kekasih ini datang! apa yang harus aku katakan sekarang jika mereka marah terhadapku?' batin Tasya dengan raut wajah yang panik.
"Aku sudah memperhatikan kalian sejak lama. Dan aku tidak percaya mantan kekasihku ini masih saja mencari gara-gara dengan kekasihku!" kata Angkasa dengan tatapan dingin menatap ke arah Vania.
Vania sangat gugup, dia baru saja di peringati kemarin oleh Angkasa untuk tidak mengganggu Naila.
"Tidak! mana mungkin aku berani mengganggu hubungan kalian," kata Vania dengan gemetar.
__ADS_1
"Oh ya? lalu kemarin apa yang kamu lakukan kepada Naila sudah lupa kah?" tanya Angkasa.
Vania tidak mampu lagi mengelak, dia diam dan tak mampu menjawab. Mahasiswa yang kumpul di sana menyorakinya ramai-ramai.
'Sial, rasa malu ini akan aku kembalikan sama kamu dua kali lipat Tasya,' batin Vania kesal.
"Semua orang silahkan bubar, jadikan ini sebagai pelajaran. Kita tidak bisa menilai orang dari luarnya saja, jadi jangan cepat terhasut dengan idola kalian ya," kata Angkasa memberikan pesan terakhirnya.
Vania pergi meninggalkan kerumunan, dia merasa sangat malu karena teman-temannya sudah tahu perbuatan buruknya.
Saat ini tinggal Tasya yang berada di sana bersama Naila dan Angkasa. Tasya sadar diri dengan kesalahannya, dan dia juga mencurigai di balik pembelaan yang di berikan oleh Angkasa.
"Kenapa kamu membelaku? dengan kejeniusan yang kamu miliki, aku rasa kamu tahu kalau aku memanfaatkan mu!" tanya Tasya dengan gugup.
"Syukurlah kalau kamu sadar diri. Kita saling-saling memanfaatkan, kamu memanfaatkan kepopuleran kami begitupula dengan kami yang memanfaatkan pertengkaran yang kamu buat. Jadi tidak ada satupun di antara kita berhutang budi," kata Angkasa.
"Dan ingat jangan pernah membuat masalah dengan Naila kalau tidak kamu akan berurusan denganku. Kejadian saat terakhir kali kita bertemu aku sudah maafkan, lain kali jangan sesekali mencoba kembali!" kata Angkasa lagi.
Naila hanya dia saja di samping Angkasa, dia tidak tahu kalau pacarnya begitu pintar.
Setelah berkata seperti itu, Angkasa dengan kelembutannya mengajak Naila untuk pergi dari hadapan Tasya.
"Yuk sayang," kata Angkasa.
Mereka pergi dengan sangat romantis, meninggalkan Tasya yang nyawanya hampir melayang saat berhadapan dengan Angkasa.
'Syukurlah Angkasa tidak menyalahkan ku! Dia memiliki banyak penggemar selain menjadi pria misterius dia juga menjadi pria yang paling tampan di kampus ini,' batin Tasya.
Belum juga tenang hatinya Tasya, teleponnya berdering. Dia segera merogoh tasnya untuk mengambil handphone di dalamnya. Dia melihat nama kontak di layar handphonenya dan ternyata itu dari ayahnya sendiri. Tasya enggan menjawab telepon tersebut dan juga tidak mau peduli lagi terhadap orang tuanya.
Tasya mematikan handphone-nya, dan mengabaikan telepon dari ayahnya.
...***...
"Kamu kenapa bisa tahu rencana Tasya sebelumnya?" tanya Naila kepada Angkasa.
Mereka berdiri di depan kelas sambil menunggu jam masuk.
__ADS_1
"Aku sudah hafal dengan sifat Vania, dia akan merencanakan hal jahat untuk kamu! Dan dia merencanakannya dengan tidak teliti, dan alhasil gagal" kata Angkasa.
"Ternyata kamu pintar juga ya!" kata Naila memuji Angkasa.