Reinkarnasi Cinta

Reinkarnasi Cinta
Episode 66


__ADS_3

Setelah sampai di lokasi, Hendra kembali melihat chat kurir tersebut. Kurir tersebut menyuruh Hendra untuk datang ke sebuah lapangan yang berada di depannya.


Tanpa basa-basi Hendra langsung berjalan ke arah lapangan karena sangat penasaran dengan isi paket tersebut.


Dia melihat seorang pria yang berdiri di pinggi lapangan dengan jaket hitam dan membelakanginya.


"Mas, kurir yang tadi ya?" tanya Hendra menepuk bahu pria tersebut.


"Iya Mas! ini paketnya," ucap Michael.


"Mas, tolong di buka di sini dan langsung pakai ya Mas! soalnya pengirimnya bilang barangnya harus langsung di pakai dan di foto kan!" ucap Hendra.


"Harus ya Mas?" tanya Hendra ragu.


"Iya Mas, sayang minta tolong sekali!" ucap Michael dengan raut wajah yang memelas.


Hendra pun menuruti perkataan Michael. Saat Hendra sedang fokus membuka bungkus paket tersebut, Ruby diam-diam datang dari belakang Hendra.


"Jam tangan ini kan jam yang aku suka? siapa orang yang mengirimi paket ini Mas?" tanya Hendra kepada Michael.


"Namanya Ruby, mas bisa telepon nomor yang tertera di sana!" ucap Michael.


Saat Hendra hendak menelepon, Ruby yang telah berada di belakang Hendra langsung memeluknya. Sontak perlakuan Ruby membuat Hendra kaget dan berusaha terlepas dari pelukan tersebut.


"Kamu bukannya yang video call aku?" tanya Hendra yang terkejut.


"Iya Kak, aku Safira adik kandungmu. Dan di sampingku ini Ibu kandungmu. Kami merindukan Kakak, tolong kembali bersama kami ya Kak!" ucap Ruby kembali memeluk Hendra dari depan.


"Saya tidak kenal dengan kalian, dan satu-satunya Ibu kandungku adalah Mama Alice!" ucap Hendra.


Meskipun dia merasa marah dengan Ruby, Hendra tak merasa risih dengan pelukan Ruby. Ada perasaan akrab yang di rasakan oleh Hendra sehingga dia nyaman saat di peluk oleh Ruby.


"Kalau Ibu yang Kakak bilang itu memang Ibu kandung Kakak, coba suruh tunjukkan foto Kakak sewaktu kecil!" ucap Ruby.


"Benar! orang tua angkat tidak akan memiliki foto kamu sewaktu kecil, sedangkan Ibu, Ibu masih menyimpan foto kamu!" ucap Jayanti.


Ruby dengan cepat mencarikan foto Kakaknya saat dia masih kecil dan menunjukkannya kepada Hendra. Namun, penampakan wajah Hendra dengan foto yang di ambil saat dia berusia 2 tahun sangat tidak mirip. Sehingga Hendra tidak bisa mempercayai Ruby.


"Hanya foto waktu kecil, kalian bisa saja mencarinya di google!" ucap Hendra.

__ADS_1


"Kalau begitu, coba lihat ini!"


Ruby menunjukkan foto saat mereka selfie dengan raut wajah yang sangat ceria. Di foto tersebut Hendra melihat wajah dirinya yang tersenyum dengan wanita yang ada di depannya.


"Jika kita tidak kenal dan dekat, lalu kenapa aku masih menyimpan banyak foto kita? dan kenapa kita bisa selfie berdua?" tanya Ruby.


Hendra pun tak mampu berkata apa-apa, secerca memori saat dia tinggal di rumah tiba-tiba muncul dan membuat kepalanya berdenyut sakit. Ruby dan Jayanti yang melihat Hendra kesakitan mencoba menenangkannya.


Mereka sudah tahu jika Hendra lupa ingatan, meski hanya menebak saja. Karena bagi mereka, Hendra tak mungkin tidak mengenal mereka jika dia masih baik-baik saja.


"Hendra, mungkin ini akan sakit untukmu. Tapi percayalah, kami adalah keluargamu. Dan wanita muda yang ada di depanmu adalah adik yang selalu kamu lindungi saat ayah memukulnya dengan ikat pinggang. Kamu tahu, pria yang anggap kamu kurir itu adalah ipar kamu. Safira telah menikah dengan lelaki yang sangat baik, dia mengganti namanya dengan Ruby," ujar Jayanti sambil meneteskan air matanya.


"Iya Kak, yang Ibu katakan adalah keluarga. Kita terakhir bertemu saat aku terkurung di penjara. Kakak bilang akan kembali dan menebus denda untuk meringankan hukumanku. Tetapi, suamiku Tuan Marchel lebih dulu datang dan mengajakku ke negaranya dan menikah dengannya. Aku kembali ke sini untuk menjemput Kakak, ingin melindungi Kakak seperti Kakak melindungiku;" tutur Ruby.


Ruby berharap Hendra akan mempercayainya meskipun ingatannya belum kembali.


"Maaf, saya belum bisa mempercayai kalian. Saya masih bingung, dan saya akan pulang ke rumah. Terimakasih untuk jam tangannya, tapi saya tidak bisa menerima pemberian orang lain!" ucap Hendra mengembalikan jam tangan yang telah di lepasnya kepada Ruby.


"Jangan di kembalikan Kak, tolong!. Kalau Kakak belum percaya tidak apa-apa, tapi jangan kembalikan jam ini. Aku tahu dari dulu Kak Hendra sangat suka dengan jam tangan ini, apalagi perpaduan antara biru dan merah!" ucap Ruby.


Hendra menjadi semakin bingung, dia masih sungkan untuk menerima barang dari orang lain.


'Ya udah ambil saja dulu, nanti bisa di kembalikan lagi!' pikir Hendra.


"Kak Hendra!" seru Ruby.


Hendra menoleh ke belakang ketika Ruby memanggilnya.


"Aku harap Kak Hendra bersedia untuk tetap berkomunikasi denganku. Meski tidak sebagai saudara, sebagai teman Kak Hendra pun boleh!" ucap Ruby.


"Iya!" sahut Hendra singkat, lalu kembali melanjutkan perjalanannya.


Setelah Hendra pergi, Ruby sudah tak mampu menahan air matanya.Yang dirasakan Ruby saat ini adalah antara senang dan sedih. Senang karena dia melihat keadaan kakaknya baik-baik saja, namun dia juga sedih karena Hendra tak mengingatnya.


"Tidak apa-apa Ruby, selangkah demi selangkah kita bawa Hendra kembali pulang!" ucap Jayanti menenangkan anaknya yang menangis pilu.


"Maaf Sayang, aku bisa melakukannya sampai tahap ini saja!" ucap Michael yang merasa gagal membawa Hendra kembali.


"Tidak apa-apa Mas, mungkin Kak Hendra butuh waktu untuk percaya sama kita!" ucap Ruby.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Hendra telah sampai di rumah orang tua angkatnya. Dia segera mencari ibunya untuk menanyakan hal yang sebenarnya.


"Ma, Ma!" panggil Hendra dengan tergesa-gesa.


Dia mencari ke ruang tamu hingga dapur namun tak kunjung menemukan Alice. Beberapa detik berikutnya, Alice muncul yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Ada apa sih Hendra?" tanya Alice dengan rambut basah kuyup habis keramas.


"Ma, aku mau tanya sesuatu!"


"Ma, sebelumnya Mama bilang aku amnesia karena kecelakaan. Dan saat itu aku hanya ingat namaku saja, tentang yang lainnya aku tak bisa ingat. Apa benar, aku anak kandung Mama?" tanya Hendra dengan wajah yang serius.


Bagaikan tersambar petir Alice mendengar pertanyaan Hendra yang sangat dia takuti. Namun Alice berusaha untuk bersikap tenang agar Hendra tidak semakin curiga dengannya.


"Sayang, tentu saja kamu anak kandung Mama. Kalau bukan anak kandung Mama, lalu anak siapa dong?" ucap Alice dengan senyum yang khas sebagai bentuk kasih sayang untuk Hendra.


Mendengar jawaban Ibunya, Hendra ragu untuk menanyakan pertanyaan berikutnya. Tapi rasa penasarannya semakin kuat, sehingga Hendra memutuskan untuk menanyakannya.


"Lalu, apakah Mama memiliki foto aku sewaktu kecil?" tanya Hendra.


Kembali Alice merasa takut terbongkar rencananya, karena dirinya sendiri tidak memiliki foto masa kecil Hendra. Alice dengan cepat memikirkan alasan yang tepat agar Hendra tak curiga sedikitpun dengannya.


"Mmm... Mama gak punya sayang. Kamu tahu? dulu Mama sama Ayah kamu tidak memiliki apa-apa. Bisa membeli bubur untuk kamu saja Mama sudah bersyukur, meski Mama sama Ayah kamu menahan lapar!" sahut Alice.


Hendra merasa bersalah setelah dengar alasan Alice.


'Tak seharusnya aku bertanya seperti itu pada Mama. Mama dan Ayah telah merawat aku sangat susah waktu itu!' batin Hendra.


"Sekarang giliran Mama yang bertanya!. Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu? habis ketemu sama siapa kamu?" tanya Alice berusaha menyelidiki penyebab Hendra bertanya aneh.


"Maaf Ma, Hendra berbohong sama Mama. Tadi Hendra dapat telepon dari kurir kalau ada paket. Tapi sampai di sana, justru orang yang sebelumnya yang datang. Mereka bilang kalau mereka adalah keluargaku, bahkan mereka memiliki foto aku saat umur 2 tahun. Dan salah satu di antara mereka mengaku adikku dan menunjukkan foto selfi kita!" ucap Hendra jujur.


"Nah kan! sudah Mama tebak. Lagipula foto seperti itu bisa saja di edit, apalagi kamu punya sosmed kan. Selama ini Mama perhatikan kamu memiliki banyak sosmed yang lupa sandi, mungkin mereka mencari satu foto mu dan di edit dengan foto lain kan?"


Alice mencoba mempengaruhi anaknya agar tidak percaya lagi dengan orang-orang yang baru saja di temui oleh Hendra.


"Ini yang Mama takut-takuti, kamu ketemu sama orang asing tanpa seizin Mama. Dan mereka mengaku dari orang tua kamu atau saudara kamu, tujuan mereka adalah menghancurkan Mama. Mama sudah bilang berkali-kali jika ada banyak orang yang ingin menjatuhkan Mama, jadi kamu jangan sampai terkena jebakan itu ya. Apalagi kamu anak satu-satunya Mama, penerus bisnis Mama nanti. Kamu harus semakin waspada," ucap Alice memutarbalikkan fakta seolah-olah Hendra salah.


"Iya Ma, aku minta maaf. Lain kali Hendra tak lagi membohongi Mama. Sekali lagi Hendra minta maaf ya Ma, Hendra benar-benar tidak menganggap serius masalah ini sebelumnya," ucap Hendra merasa bersalah.

__ADS_1


"Iya tidak apa-apa, lain kali jangan di ulangi ya! Mama gak mau kamu kenapa-kenapa!" ucap Alice.


'Fyuhh! akhirnya masalah selesai juga. Untung saja aku pintar mencari alasan, jadi dengan mudahnya Hendra percaya denganku. Semoga saja Hendra tak lagi percaya dengan orang-orang itu!' batin Alice lega.


__ADS_2